"Cakra, mau ngapain? Ini di kampus. Kamu jangan macam-macam!"
"Emangnya kalau di rumah Ibu mau kalau saya macemin? Saya cuma mau tanya. Apa Ibu sudah merencanakan ini sebelumnya? Ibu tau jika yang menjadi selingkuhan pacar Ibu itu Lani maka dari itu Ibu sengaja menjerat saya untuk membantu Ibu agar bisa membuat Lani sakit hati? Betul begitu, Bu?" tanya Cakra dengan suara lirih dan tatapan mengintimidasi. Jaraknya pun begitu dekat hingga membuat lawan bicaranya deg-degan. Bukan apa, hembusan nafas Cakra saja begitu terasa hingga Viola memilih memejamkan kedua matanya.
"Benar begitu? Jangan hanya diam saja, Sayang! Jawab!" sentak Cakra membuat tubuh Bu Viola terjingkat. Awalnya memang hanya asal Nemu saja tetapi setelah bertemu di cafe saat acara waktu itu, dia baru tau jika Lani adalah pacarnya Cakra. Jadi sekalian saja dan mengatakan jika Cakra adalah kekasihnya agar Lani pun merasakan sakitnya seperti apa yang ia rasakan. Namun belum apa-apa sudah berteriak seperti tak tau adab.
"Jawab, Bu!"
Kembali Viola terkejut karena Cakra yang menyentak untuk kedua kalinya. Kenapa juga begitu memaksa dan ingin tau. Namun dia salut karena Cakra cukup pintar membaca apa yang terjadi sejak awal dia meminta Cakra untuk masuk ke dalam hidupnya.
"Iya aku jawab, tapi kamunya jangan gini!" Viola mencoba memberontak tetapi tak diindahkan oleh Cakra. Entah mengapa dekat begini hingga membuat Viola ketakutan, cukup membuatnya terhibur. Kapan lagi bisa membuat Viola, si dosen cantik yang terkenal itu dan diidamkan oleh banyak mahasiswa. Kini begitu takut seperti kelinci dalam genggaman. Manis dan menggemaskan.
Namun bukannya dia sedang marah? Tepatnya ingin mencari kejujuran dari Viola. Jika benar apa yang ia pikirkan berarti memang Viola sejak awal bukan hanya ingin memanfaatkannya tetapi juga ingin membalaskan rasa sakit hatinya. Lantas kenapa juga harus diam dan tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Bisa iya bisa nggak. Aku itu nggak tau awalnya, tapi setelah tau ya udah aku akuin aja kamu sebagai pacar aku. Kamu tuh nggak tau rasanya diselingkuhi! Dan parahnya yang menjadi ani-ani justru pacar kamu sendiri. Sakit tau nggak!"
Akhirnya Viola melampiaskan kekesalannya pada Cakra. Dia memukul dada Cakra dengan kedua mata memerah. Panas setelah rasanya. Kenapa juga harus mengungkit hal yang menyakitkan.
"Kenapa? Kamu mau nyalahin saya? Kamu menyesal karena sudah menikahi saya dan menyakiti pacar kamu itu? Iya? Atau kamu baru tau jika pacar kamu itu sering tidur dengan pria lain termasuk mantan aku? Jawab!"
Emosi juga lama-lama, yang tadinya berusaha cuek dan tak mau banyak melibatkan Cakra dalam hal apapun. Mengurangi komunikasi dengan pria itu. Sekarang malah emosi sekali karena sikap Cakra yang tak terima dan tatapan Cakra yang mengintimidasi. Memang salahnya dimana jika dia membalaskan rasa sakit hatinya pada Lani. Toh yang ia lakukan tak banyak. Lani nya saja bar-bar atau memang sudah ketahuan oleh Cakra. Syukur kalau begitu.
Tatapan keduanya beradu. Setelah marah-marah dan melampiaskan emosinya pada Cakra. Keduanya terdiam sampai dimana Viola merasakan usapan lembut di kepalanya oleh tangan Cakra yang mampir diam-diam.
"Kasihan, sini peluk dulu!" Cakra menarik tubuh Viola begitu saja setelah sesaat dibuat bungkam dan kini tubuhnya seketika menegang.
"Cakra!"
Jantung Viola serasa dipecut untuk segera berlari sekencang mungkin. Cakra memang benar-benar membuatnya repot. Setelah tadi ketakutan karena sikapnya yang mengintimidasi. Sekarang dengan sesuka hati menariknya ke dalam pelukan.
"Lepas! Kamu nggak sopan!" celetuk Viola.
"Mana ada sama istri harus sopan? Mau dibeliin es kelapa nggak biar adem? Marah-marah terus. Tunggu sini!" ucap Cakra lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Viola.
Viola mengusap dadanya. Terasa sekali debaran jantung yang menggebu hingga ke ulu hati. Cakra benar-benar minta disentil sekali-kali karena sudah memporak-porandakan perasaannya dan memeluk seenak jidat.
"Cakra!"
"Astaga... Mahkluk terserah di dunia ini yang ngeyelnya mengalahkan bocah punya unyeng-unyeng dua. Dia ngampus mau apa sich? Masih aja ganggu."
Cakra yang sempat menghentikan langkahnya, kini kembali berjalan menuju kantin. Niatnya memang ingin membelikan es kelapa untuk istrinya setelah dia sadar sudah membuat Viola marah dan kembali mengingat apa yang membuat wanita itu sakit hati.
Kasihan juga karena Cakra pun merasakan hal yang sama. Jika dia masih bisa tahan, tapi Cakra yakin Viola tak sekuat dirinya. Pantas jika Viola begitu membenci Ramon dan Lani.
"Cakra tunggu!" Lani berlari hingga kini bisa meraih tangan Cakra. Sebenarnya tadi ingin pulang dan menemui Ramon tapi setelah tau jika Cakra ada bimbingan dengan Viola membuat Lani mengurungkan niatnya dan kembali ingin mencoba meminta maaf pada Cakra.
"Apa lagi?" tanya Cakra lalu menepis tangan Lani yang mampir di lengannya. Dia serasa jijik dengan Lani yang ternyata begitu murah menyodorkan tubuhnya pada pria lain.
Sementara Lani yang melihat Cakra begitu kasar padanya hanya bisa menelan kasar salivanya dan banyak bersabar karena dia akan terus mengejar.
"Aku nggak mau putus. Aku minta maaf. Aku khilaf, tapi kamu juga kan sama Bu Viola begitu."
"Begitu apa? Sama seperti kamu gitu? Iya?" cecar Cakra lalu menoleh menatap Lani dengan tatapan tajam. Serasa tak suka dia dengan yang Lain tuduhkan padanya. "Asal kamu tau ya! Viola dengan kamu itu berbeda! Dia lebih baik dari kamu yang suka diobok sana obok sini. Mengerti!" ucap Cakra tegas lalu melangkah pergi dari sana. Meninggalkan Lani yang hanya tercengang mendengarkan ucapan Cakra.
"Kusut banget, kenapa?" tanya Topan yang baru saja keluar dari gedung perpustakaan. Kesibukan mereka memang hanya sekitar buku-buku untuk materi.
"Nggak taulah, butek otak aku. Mau nge'es dulu biar adem. Kamu mau nggak? Aku beliin sekalian."
"Tumben baik."
"Aku memang selalu baik. Mana ada Cakra nggak baik? Es kelapa mau? Tapi minum sendiri, aku mau balik ke ruangan dosen."
"Minum bereng Bu Viola?" tanya Topan dengan tatapan menyelidik.
"Terserah kamu mikir apa, yang penting otakku adem."
"Nggak jelas kamu!"
"Ini lagi mau nyari kejelasan. Tuh sudah aku pesan. Tinggal ambil aja. Udah aku bayar juga. Aku mau balik ke sana dulu." Cakra membawa dua gelas es kelapa di tangannya. Dibela-belain bawa dua gelas penuh hanya ingin mendinginkan otak dan hati Viola.
Tanpa mengetuk pintu ruangan, langsung masuk saja tetapi dia justru dikejutkan dengan adegan di depan mata yang membuatnya ingin menyiramkan es kelapa itu di kepala seseorang yang lancang mendekati istrinya.
"Eheemm..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Yuliana Purnomo
Ramon kh ,,nemuin viola
2024-08-02
2
Mbing
siapa ya yg ke ruangan viola??
2024-08-01
2
Sinta Ariemartha
ehh...ehhh siapa itu kalau si Ramon harusnya langsung aja lempar pakek buah kelapa cak jangan hanya airnya biar si Ramon sadar posisinya sekarang
2024-08-01
2