Pacar Nyata Vs Pacar Kontrak

Bu Viola mengerutkan keningnya saat melihat Lani. Tak lama dari itu seseorang yang membuatnya membawa Cakra sampai di cafe itu pun datang menghampiri. Bu Viola menarik nafas dalam lalu satu sudut bibirnya terangkat ke atas saat melihat pemandangan di depannya. Berbeda dengan Cakra yang menatap tajam ke arah Lani lalu melihat tangan pria yang melingkar di pundak Lani.

"Ca... Cakra aku kesini menemani Omku," jawab Lani membuat Cakra menoleh ke arah pria dewasa yang terlihat seumuran dengan Bu Viola.

"Om?" tanya Cakra dan dianggukki oleh Lani. Sementara Bu Viola tersenyum miring melihat pengakuan dari Lani.

"Anda Omnya Lani?" tanya Cakra mencari tau. Dia mengangkat alisnya saat anggukkan Cakra dapat.

"Oh saya Cakra, Om. Saya..."

"Dia pacar baru saya!" ucap Bu Viola dengan tegas dan itu membuat Cakra memejamkan kedua mata dan Lani menganga. Kedua orang itu mendadak kaku mendengar pengakuan dari Bu Viola. Lani yang masih syok pun sontak menoleh ke arah Cakra.

"Mingkem, Lan!" bisik Cakra sontak membuat Lani menutup mulutnya. Namun dia kembali teringat akan ucapan yang membuatnya hampir sesak nafas bahkan kedua matanya sudah mulai memerah.

"Kamu..." Ucapan Lani terputus saat pria dewasa yang ada di sebelahnya membuka suara.

"Kamu sudah memiliki pacar baru? Segitu mudahnya melupakan aku? Ck, atau jangan-jangan kamu yang berselingkuh?"

"Jangan memutar balikkan fakta, Ramon! Kamu yang salah!" sahut Bu Viola dengan suara lantang. Sampai dimana ada beberapa temannya yang mengetahui kedatangannya diam-diam memperhatikan pertemuan antara mantan yang masih hangat-hangatnya.

Cakra dan Lani pun bungkam. Mereka punya masalah tetapi sepertinya masalah yang Bu Viola dan mantannya hadapi lebih parah.

"Kamu hanya salah paham!"

"Salah paham yang seperti apa hingga di hotel berduaan? Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi begitu saja!"

"Yang kamu lihat itu salah, Viola! Yang kamu lihat itu Lani! Lani ini anak dari Kakakku!"

"Kakak angkat bukan? Kakak ketemu besar. Halal untuk kalian menikah. Tidak ada yang tidak mungkin. Sekarang sudah tak ada lagi yang harus dibahas karena aku pun sudah memiliki pria yang lebih baik dari kamu." Bu Viola meraih tangan Cakra dan mengalungkannya. Dia menatap tajam wajah Lani yang tak terima dan hendak meraih tangan Cakra.

"Jangan sentuh pacar saya!"

"Tapi Cakra ini pacar saya, Bu! Ibu nggak boleh begini! Ibu itu pelakor namanya," ucap Lani tak terima sedangkan Cakra justru diam melihat keduanya berdebat memperebutkan dirinya.

"Ternyata pusing direbutin cewek-cewek cantik. Pengen misah tapi kok seru. Pacar nyata vs Pacar kontrak. Asal jangan gelud aja."

"Lalu kamu apa?" sahut Bu Viola. Wanita itu benar-benar yakin jika wanita yang ia lihat di hotel itu adalah Lani dan sudah dibenarkan tadi oleh Ramon tetapi yang ia lihat bukan hanya hal biasa. Keduanya terlihat sedang bercumbu. Salah paham yang bagaimana maksudnya.

"Saya? Jelas-jelas Ibu yang merebut Cakra!"

"Dan kamu yang..."

"Sudah!" Cakra pusing sendiri lama-lama. Dia menatap Bu Viola dan Lani bergantian. Menarik nafas dalam lalu menatap pria yang ada di hadapannya.

"Masnya nggak mau gitu buat misahin? Tolong bawa dulu keponakannya! Saya yang akan membawa..." Cakra melirik Bu Viola lalu Lani bergantian. Berat untuk mengakui tapi dia sudah berjanji dan wisuda tahun ini adalah target utamanya. "Saya yang akan membawa Viola pergi dari sini.

"Cakra kamu..."

"Kita bicarakan besok, Lan. Aku pulang dulu. Nomor ponsel aku masih aktif kalau kamu mau menghubungi dan pamit," ucap Cakra lalu meraih tangan Bu Viola dan pergi dari sana. Sudah malu, sudah banyak yang lihat keributan yang ada. Untuk apa masih di sana. Pulang adalah pilihan yang tepat.

"Cakra kok kamu malah pamit sich? Aku tuh belum nemuin teman aku di dalam sana. Dia yang ngundang kami, masa' main pulang aja. Nggak sopan tau nggak!"

"Kalau Ibu mau masuk lagi silahkan! Saya pulang." Cakra yang masih belum bisa mengerti dengan apa yang terjadi jelas pusing. Lebih memilih tidur dulu di rumah dari pada memikirkan hal yang terjadi malam ini.

Begini kado dari Lani. Entah benar atau tidak apa yang Lani katakan tetapi obrolan antar Bu Viola dan pria yang katanya Omnya Lain itu juga harus dia pertimbangkan. Otak kecilnya lelah untuk berpikir. Ditambah lagi hubungan dia dan Bu Viola yang ingin ditutupi justru diketahui oleh Lani. Butuh istirahat dulu untuk berpikir lebih jernih.

Cakra menaiki motornya, mau tak mau Bu Viola pun ikut pulang. Tak mungkin dia sendirian di sana. Bisa ditertawakan oleh Ramon nanti dan Bu Viola tak ingin apa yang ia katakan dianggap kebohongan. Sudah mengakui Cakra sebagai pacar tau-tau ditinggal pulang. Suatu hal yang akan membuatnya seperti terhina.

"Pegangan, Bu!"

"Sudah," jawab Bu Viola dengan suara yang tinggi karena jalanan masih ramai dan tak akan terdengar jika dijawab dengan suara biasa.

"Ke depan bukan di belakang! Saya bukan kang ojek!"

"Jangan banyak modus kamu, Cakra!"

"Ibu lupa jika Ibu sendiri yang bilang saya pacar Ibu. Jangan buat saya tambah pusing, Bu. Ibu harus tanggung jawab karena malam ini saya dibuat galau."

"Yang harusnya galau itu saya bukan kamu!" sahut Bu Viola.

Kini keduanya sudah kembali ke alun-alun dan terlihat Cakra membuka helmnya lalu membukakan juga helm Bu Viola hingga kedua mata mereka bertemu. Tak ada getaran apa-apa. Sama-sama agak sakit jadi nampak kurang fokus saat ini.

"Kamu pulang sana! Nggak ada tanggung jawab! Cewek kamu juga nggak jelas!"

"Jangan gitu, Bu! Dia tadi bilang jika itu Omnya. Mungkin Ibu yang salah."

"Jadi kamu menyalahkan saya? Mau saya tolak proposal kamu dan saya pastikan tidak lulus wisuda tahun ini?"

"Ngancem?" tanya Cakra santai. "Ayune kalau lagi marah-marah. Jangan gitu lah! Kita cari tau aja dech hubungan mereka seperti apa. Kita tetap menjadi pacar kontrak tapi kita cari tau juga kebenarannya."

Akhirnya Cakra berdamai. Dia juga tak ingin asal nuduh. Diakui pacar oleh Bu Viola saja sudah membuat Lani sakit hati pastinya. Bagaimana dia menuduh tanpa bukti.

"Ya sudah, kita cari tau tentang mereka walaupun sebenarnya saya sudah tau kalau Lanimu itu bermain gila dengan Omnya sendiri!"

"Kita lihat nanti. Ya sudah Ibu pulang sana atau mau ikut saya pulang?" tanya Cakra dengan tatapan menggoda. "Enak loh Bu ikut pulang sama saya. Pulang ke rumah saya berdua, pulang ke rumah Ibu jadi bertiga. Eh kalau kembar bisa berempat malahan. Gimana?"

"Jangan mimpi kamu!"

Terpopuler

Comments

Tuthy Dzaky Syarif

Tuthy Dzaky Syarif

makin seru aja tak sabar tunggu up nya semangat ya Thor

2024-07-11

1

yunidarwanti2

yunidarwanti2

satu sma dong Cakra sma Lani nih,setiap tikungan ada,Cakra jdi serba slah mw gk nrima ajkan dosenya gk lolos wisuda mumet ki jlse Cakra😯😯

2024-07-11

1

Enisensi Klara

Enisensi Klara

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣dasar cakra gelo

2024-07-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!