Temannya Tayo

Sampai di rumah Cakra melihat ponselnya yang terus saja berdering. Padahal ingin sekali segera tidur tetapi terus diganggu. Rasanya ingin mengumpat kesal tetapi ini Lani yang menghubungi.

"Gak jadi ngumpat tapi aku nggak minat angkat. Bye sampai besok. Aku butuh tidur. Bukan hanya mikirin cinta gabut!"

Cakra mematikan ponselnya kemudian melempar begitu saja. Dia memutuskan untuk tidur. Tak ingin diganggu, ini cara yang paling ampuh baginya untuk tidur. Sampai dimana pagi mulai menyapa dan dia dibuat terjingkat karena suara panci yang beradu ditelinga.

"Gusti!"

"Biru! Anakke sopo to iki? Kupingku mau lepas gara-gara bocah kecil ini. Kamu ngapain di kamar Om bawa panci segala? Siapa yang nyuruh? Macan?" cecar Cakra. Dia segera meraih panci yang di pegang oleh Biru.

"Wis-wis, cah gemblung!" ujar Cakra saat Biru hanya cengengesan.

"Heh! Anak gantengku dibilang gemblung. Kamu itu yang gemblung! Tidur nggak tau waktu. Nggak kuliah opo? Tuh temannya tayo ada di depan. Sampe disamperin pacar nggak tau," oceh Shayu sang Kakak ipar.

"Hah! Si Lani kesini?"

"Hah! Si temennya Tayo kesini?" ujar Shayu mengikuti apa yang Cakra ucapkan. "Mandi sana! Bau naga!" celetuk Shayu lalu membawa putranya keluar dari dalam kamar Cakra. Tersenyum saat melihat suaminya keluar dari kamar. "Ayo sama Papan! Papan mau ajak jalan-jalan katanya," ucap Shayu pada putranya.

"Ndak jadi sama Om Cakra, Macan?"

"Tidak dong, kan Om Cakra mau ke kampus. Tugas kamu selesai. Tinggal laporan sama Mbah Uti.

Sementara Cakra yang ada di kamar segera masuk kamar mandi dan bersiap. Tak dipedulikan olehnya membuat Lani datang ke rumah pagi-pagi begini. Mau semangat tetapi mengingat masalah mereka membuat Cakra bingung menyikapinya.

"Ada temanmu datang. Di depan saja, Ibu suruh masuk gak mau. Siapa? Pacar kamu? Punya pacar kok diam-diam aja ndak dikenalin ke Ibu dan Bapak."

"Mau direvisi dulu, Bu. Nanti kalau sudah mantep baru Cakra kenalin pada Ibu dan Bapak."

"Ya sudah, Ndak sarapan dulu to?" tanya Ibu lagi saat Cakra meraih tangan beliau dan menyalaminya.

"Sudah ditunggu, Bu. Nanti beli soto aja di kantin. Assalamualaikum."

"Wa'allaikumsalam. Ibu sama Bapak nanti pulang. Kamu juga pulang."

"Nggih Bu." Cakra bergegas mendekati Lani yang menunggu di teras. Berdehem hingga Lani menoleh padanya. "Kalau bertamu tuh masuk. Ibu sudah menawarkan tapi kamu di luar aja. Nyarap-nyarap dulu kan bisa, yang penting nggak jadi sarap beneran."

"Ngomong apa kamu tuh. Aku nggak enak mau masuk. Kamu juga aku hubungi dari semalam nggak ada tanggapan apa-apa. Kamu marah sama aku? Harusnya aku loh yang marah sama kamu. Jelas banget kamu tuh selingkuh sama Bu Violla. Nggak bener kamu tuh! Mau aku buat viral biar Bu Viola malu sekalian?"

"Nggak usah aneh-aneh! Ayo berangkat! Jangan bahas itu di sini! Nggak enak kalau sampe Ibu dan Bapakku denger." Cakra menarik tangan Lani dan memintanya untuk segera naik ke motornya. Membawa Lani menuju kampus tanpa ada pembicaraan apapun. Sampai dimana kini keduanya sudah sampai di kampus tercinta.

"Aku nggak tau kamu benar ada hubungan apa sama Om kamu itu, tapi kalau aku sampai bisa buktikan kamu dan Om kamu itu ternyata benar selingkuh. Jangan salahkan aku kalau aku putusin kamu!"

"Gampang ya kamu. Aku loh lihat kamu berduaan, dengar kamu diakuin sama Bu Viola, itu aja aku masih bisa tolerir karena aku ingin memberikan kesempatan sama kamu. Ini kok kamu malah ultimatum aku begini. Jahat kamu tau nggak!"

"Siapa yang jahat? Aku begini untuk kita. Kamu cukup percaya aja. Nggak udah cari tau apa-apa. Yang penting aku bisa wisuda tahun ini. Bisa kerja dan bisa ngelamar kamu."

"Demi apa?"

"Apapun, asal jangan uang. Aku belum kaya. Masih pengangguran banyak acara. Jadi jangan berharap banyak. Kalau kamu mau terima aku opa adanya ya ayo! Aku bakal perjuangin kamu, tapi kalau kamu nggak mau ya udah. Aku nggak bisa apa-apa. Dilepas la Yo penak."

"Nggak! Pokoknya nggak ada acara putus. Aku tunggu kamu."

"Hhmm... Ya udah ayo! Aku ada bimbingan. Mudah-mudahan lancar."

"Sama Bu Viola?" tanya Lani dengan tatapan tajam.

"Hhmm... tinggal beberapa langkah lagi kita keluar dari kampus tercinta ini. Jangan ngajak perang aku mau serius beneran." Cakra mengusap kepala Lani. Terlihat Lani menganggukkan kepalanya lalu pamit. Keduanya menjalani aktivitas masing-masing dengan kesibukan mereka yang mulai padat.

Cakra bergegas menuju ruangan Bu Viola. Kehadirannya mengejutkan Bu Viola yang sedang menunduk sesegukan.

"Eh Bu cantik kenapa sedih? Kangen sama aku?" tanya Cakra hingga membuat Bu Viola buru-buru mengusap kasar wajahnya. Menatap sengit ke arah Cakra yang masuk tanpa mengetuk.

"Tidak sopan kamu! Masuk itu ketuk pintu bukan asal nyelonong aja!" ujar Bu Viola sewot. Bagaimana tidak sewot jika Cakra menganggu dirinya yang sedang memikirkan nasib.

"Jangan marah-marah terus! Maaf tadi lupa. Eh tapi malah lihat Ibu begini. Ada apa, Bu? Sebagai pacar kontrak yang baik saya akan membantu Ibu."

Bu Viola yang tadi begitu sengit menatap Cakra, kini tatapannya perlahan melembut. Sejenak memikirkan sesuatu hingga ia meraih kedua tangan Cakra.

"Kamu mau membantu saya?"

"Duh kaget saya, Bu. Tangan Ibu bikin saya deg-degan. Boleh dech, apa ? Ibu ada masalah berat sampai termehek-mehek begini? Putusnya kan udah, apa Om yang semalam nyakitin Ibu lagi?" tanya Cakra lalu melepaskan kedua tangan Bu Viola yang digenggam. Risih juga terlebih hubungan mereka yang hanya atas dasar saling menguntungkan.

"Kemarin saya bilang sama kamu untuk membantu saya. Sebenarnya saya ingin kamu datang saat hari ulangtahun saya dan mengaku pada keluarga saya jika kamu itu pacar saya, tapi semalam sepulang dari sana. Papah masuk rumah sakit dan meminta saya segera menikah."

"Bagus dong! Kalau gitu nanti saya jadi sekksi sebar undangan. Nggak apa-apa bagian wira wiri. Eh kalau gitu gagal dong kerja sama kita?"

"Ck, gampang banget kamu ngomong! Saya menikah dengan siapa? Kamu 'kan tau saya baru putus."

"Eh iya ya. Nggak ada cadangan, Bu? Serepan gitu?"

"Kamu pikir ban? Jangan bercanda, Cakra! Papah saya sedang kritis sekarang. Papah jatuh dari kamar mandi dan inginnya saya cepat menikah. Mau nyari dimana jodoh secepat itu."

"Terus saya harus bantu apa? Jangan bilang kalau status kita naik!" Cakra mendadak kepikiran. Jika iya, lalu bagaimana dengan Lani.

"Iya, mau ya bantu saya. Setidaknya sampai Papah saya sembuh, tapi kalau Tuhan berkehendak lain. Kamu bisa ceraikan saya hari itu juga. Gimana?"

Terpopuler

Comments

Erna Wati

Erna Wati

ngawur ni bu Viola /Grin//Grin//Grin//Grin//Grin/

2024-10-26

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

eh mulutnya bu dosen

2024-10-04

0

dewi

dewi

wadduh 🤦

2024-09-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!