"Cakra lepas!"
Viola semakin memberontak saat Cakra mulai mengikis jarak. Meskipun ciuman bukan yang pertama tetapi untuk hal lebih dari itu, Viola benar-benar menjaga. Ingin ia berikan pada suaminya kelak tetapi melihat Cakra yang masih bermain cinta dengan wanita lain membuatnya enggan.
Katakan cinta bisa tumbuh setelah terbiasa bersama tetapi bukan berarti bisa menerima saja padahal suaminya masih memiliki pacar.
"Cakra aku nggak mau!"
Cakra seperti orang kesetanan. Entah demit mana yang sudah merasuki tubuhnya. Dia tak suka Viola masih berhubungan dengan Ramon yang jelas-jelas sudah menyakiti. Dia pun tak suka disepelekan dan dianggap seperti anak kecil. Maka dari itu dia begitu ingin membuktikan jika dia bukan anak kecil seperti yang Viola katakan. Mana ada anak kecil bisa bikin anak kecil, sepertinya sang istri meminta pembuktian.
"Cakra aku nggak mau kalau kamu begini! Kamu lagi emosi! Apa kamu nggak inget sama Lani?"
Cakra yang terus merusuh membuat Viola kalang kabut. Bahkan pakaian Viola sudah berantakan sedangkan Cakra terus saja mencoba meraih bibirnya. Namun Viola yang terus memberontak membuat Cakra geregetan.
"Diam! Katanya tuh kalau udah kawin bakal jinak. Kamu nggak menghargai saya sebagai suami."
"Kata siapa? Kamu jangan ngaco!"
"Kata orang-orang gitu. Ayo coba dulu! Siapa tau aku juga bisa setia."
"Sableng kamu! Nggak gitu konsepnya."
"Tuh kan mulutnya minta aku bikin bengkak. Padahal aku masih ting-ting loh. Nyesel Ibu kalau nggak mau. Jangan kasar sama suami! Nggak boleh, saru!"
"Saru tapi kamu ngajak satru terus!"
"Jangan gitu nanti malah aku ajak duet sekalian. Ayo istrinya Mas Cakra! Jangan terus menghindar! Aku nggak main kasar asal kamu ngerti! Aku nggak suka kamu jalan sama dia!"
"Siapa yang mau jalan sama dia? Aku ko tuh dipaksa dan diancam. Kamu kalau nggak tau apa-apa jangan marah-marah terus! Aku mana bisa nurut kalau kamunya gini? Lagian ini di luar rencana kita. Nggak boleh melanggar!"
"Sejak awal juga sudah melanggar. Kalau nggak melanggar mana mau saya berjanji dengan sungguh-sungguh. Diancam apa sampai nurut gitu? Bilang sama Mas Cakra! Biar saya ancam balik dia. Emangnya dia doang yang bisa main ancam." Cakra masih mengukung tubuh istrinya bahkan kedua tangan Viola kini sudah bisa dia kunci di atas kepala hingga wanita itu tak lagi bisa memberontak.
"Dia mau menyebar luas foto dan video aku dan dia saat ciuman," jawab Viola jujur dan menimbulkan ekspresi yang agak lain dari Cakra.
"Ciuman?"
"Iya." Viola menggigit bibir bawahnya saat Cakra terlihat sekali tidak suka. Pria itu berdecih lalu membuang muka.
"Jadi kalian sudah pernah apa saja sampai dia punya vidio dan foto-foto kalian sedang bermesraan?"
"Kamu pikir aku sudah apa? Jangan kejauhan, Cakra! Lepas!"
"Dan Ibu pikir saya terima istri saya disentuh pria lain meskipun itu hanya bibir saja?" sahut Cakra lalu mengikis jarak dan ingin meraih bibir merah delima itu tetapi dering ponselnya membuat gerakannya terhenti.
"Siapa sih?" Geram sekali Cakra saat ini. Dia menatap Viola yang diam dengan wajah yang memerah. Rasanya tak tega dan bukan Cakra banget seperti ini. Hanya ingin menunjukkan jika dia ada bukan untuk pajangan dan disepelekan.
Cup
Cakra menyematkan kecupan di kening Viola lalu beranjak dari sana saat panggilan tak kunjung henti.
Melihat itu Viola yang seharusnya lega justru masih terdiam merasakan bekas kecupan Cakra di keningnya. Masih terasa basah dan hangat. Entah apa artinya tetapi terasa berbeda.
"Kenapa, Pan? Ganggu kamu! Nggak penting aku matiin!"
"Eh, baru juga diangkat udah mau dimatiin. Aku lho belum ngomong. Wong nggak ngerti tata krama! Lagi apa sich? Hidupmu seserius itu memangnya? Aku malah melas sama kamu. Mau aku kasih info tapi kamu cepat datang ke sini!"
"Apa? Cepetan! Lagi urgent. Males aku kalau harus main sabun terus. Ayo ngomong!"
"Nggak jelas kamu? Lagi sama siapa? Mainmu jangan jauh-jauh! Patah hati boleh tapi jangan jadi gila. Aku tau kamu pasti sakit. Aku lihatnya juga sakit."
"Ngomong cepet jangan belibet! Lama!" celetuk Cakra lalu menoleh ke arah Viola yang kini mulai beranjak dan merapikan penampilannya.
"Ya udah aku cepet, kamu juga cepat datang ke Hotel suka-suka sekarang! Aku tunggu! Aku lagi mengintai seseorang yang kamu pasti nggak nyangka."
"Siapa? Mau ngapain di sana? Jualan kopi kamu?"
"Serius aku, cepetan! Kamu nyesel kalau nggak datang. Ini tuh demi masa depan. Aku nggak mau kamu nyesel dan salah memperjuangkan orang."
"Ck, ya udah tunggu aku! Aku kesana sekarang!" Cakra pun mematikan panggilan dari Topan kemudian meraih jaket dan kunci motornya dan itu menyita perhatian dari Viola.
"Mau kemana?"
"Ayo ikut!"
"Nggak ribet bawa saya? Nanti ada yang tau malah berabe urusannya. Saya di rumah saja."
"Lama! Tinggal bilang nggak mau, kelar." Cakra yang masih sensitif jadi sensi sendiri. Sikapnya agak beda dan Viola mulai mencari tau akan itu. Mulai memahami apa yang Cakra mau tetapi cukup tenang saat Cakra justru akan pergi.
"Aku pergi dulu," ucap pamit Cakra sebelum benar-benar keluar dari kamar. Langkahnya pun terhenti di ambang pintu lalu menoleh ke arah Viola. "Jangan lupa nyari kembang setaman buat mandiin bibir Ibu!" pesan Cakra lalu bergegas pergi dari sana meninggalkan Viola yang kini dibuat tercengang.
"Apa benar Cakra belum pernah?"
Sampai di hotel suka-suka. Cakra pun segera menghubungi Topan dan menanyakan lokasi sahabatnya berada. Di sana terlihat tidak terlalu ramai. Mungkin karena jam kantor bukan hari libur jadi tidak banyak yang berkunjung.
"Masuk aja! Aku di dalam."
"Emang boleh?"
"Boleh, sini! Aku udah coba."
"Udah kayak hadiah ciki dicoba lagi," sahut Cakra lalu melangkah masuk ke dalam hotel. Beruntung di dalam sana banyak orang yang melintas. Dia pikir sesepi itu ternyata ramai juga lobbynya.
"Topan kamu ngapain to ngajak aku kesini? Nggak lagi mau ngintip orang lagi pacaran 'kan?"
"Justru itu, aku mau ajak kamu. Kita gerebek bareng-bareng biar seru. Aku tadi itu ngak sengaja melintas di sini. Habis dari pasar tadi disuruh Ibu beli cabe. Eh lihat seseorang yang bikin aku rela dimarahi Ibuku karena nggak langsung pulang."
"Siapa?"
"Sini aja kamu lihat dulu! Aku jamin kamu suka."
"Suka apa, dosa to iya."
"Udah diam!"
Cakra mengikuti langkah Topan yang kini membawanya ke lantai sebelas. Keduanya melangkah menuju salah satu kamar dan terdiam di sana.
"Kamu ngumpet sana dulu!" pinta Topan dan dianggukki dengan malas oleh Cakra. Dia berdiri mepet dinding dan diam menuruti apa yang Topan perintahkan. Terlihat Topan mulai mengetuk pintu dan berpura-pura menjadi pelayan sampai dimana pintu terbuka dan Cakra dapat melihat siapa penghuni kamar hotel tersebut.
"Jiancooookk!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Ita rahmawati
nah kena kamu
2024-10-05
0
yunidarwanti2
psti Topan lht Lani dihotel nih sma Ramon 😯😯😯
2024-07-31
1
pisces
pasti lani sama ramon deh, lani itu player kyke sih, ramon pelanggan tetape lani
2024-07-29
1