Janji

Mungkin sekarang waktunya Cakra dituntut untuk lebih dewasa. Melihat Dosennya yang tiba-tiba memeluk dengan sesenggukan membuatnya tak tega. Perlahan tangannya terangkat lalu mengusap punggung wanita itu. Cakra berdehem lalu meraih sebelah wajah Bu Viola hingga dia bisa melihat wajah sembab yang kini sedang menatapnya mengiba.

"Ibu kenapa?"

"Papah saya kritis. Dokter bilang keadaannya semakin parah. Cakra aku mohon. Papah ingin melihat aku menikah. Aku nggak ada pilihan lain selain menurut apa maunya. Aku takut nggak ada lagi kesempatan buat aku berbakti pada Papah. Aku mohon Cakra. Kamu mau ya nikahi aku. Apapun syaratnya akan aku penuhi asal kamu mau menikah denganku. Aku mohon, Cakra."

Tak ada pilihan lain selain Cakra. Hanya pria itu yang saat ini dekat dengannya. Ramon sudah tak bisa diharapkan dan juga sudah terbuang dari kehidupannya karena pengkhianat yang pria itu lakukan.

Sekarang Viola hanya bisa memohon pada Cakra untuk berbesar hati membantunya. Dia menatap Cakra yang tampak berat memutuskan hingga tubuhnya luruh dan meraih kedua kaki Cakra memohon agar apa yang ia inginkan dikabulkan oleh pria itu.

Kedua mata Cakra terbuka lebar saat melihat Violla terduduk bersimpuh di hadapannya. Dengan cepat Cakra meraih tubuh kecil dosennya lalu meminta wanita itu untuk duduk di kursi tunggu.

"Jangan seperti itu, Bu! Saya akan membantu Ibu."

Deg

Cakra melipir ke sisi ruangan setelah mengatakan jika dia akan membantu dosennya. Namun yang membuatnya tambah pusing saat ini adalah Viola meminta dinikahi malam ini juga. Kondisi ayah Viola sudah tak memungkinkan. Berbicara saja sudah sulit hingga ibunya memohon agar mempercepat proses pernikahan mereka.

Cakra menarik nafas dalam saat melihat Viola menangis dengan memeluk Ibunya. Dia yang sudah diperkenalkan tadi pada kedua orang tua Viola pun seperti memiliki segudang tanggung jawab atas anak perempuan orang.

"Pak Cakra mau menikah sekarang."

"Le kalau ngomong mbok ya jangan ngelantur! Yang bener loh! Kamu tuh sukanya bercanda. Kamu pikir menikah seperti main masak-masakan."

"Pak Cakra serius, ini Cakra lagi di rumah sakit. Ayah dari pacar Cakra kritis. Cakra minta tolong sama Bapak buat datang sekarang juga ke rumah sakit. Bawain juga Pak penghulu ya, Pak. Jangan lupa kabarin Mas Satria! Siapa aja bawa yang penting jangan satu RT. Nggak muat, ketua RT nya aja, Pak."

"Eh tunggu! Tapi Ayahnya sakit bukan karena ulah kamu 'kan, Le? Jangan-jangan anaknya kamu buat hamil? Jangan parah gitu, Cakra! Kamu punya agama. Jangan ngawur kalau hidup tuh! Bapak nggak ngajarin kamu aneh-aneh begini."

Cakra menarik nafas dalam. Jadilah dia kena amuk Bapak. Dia menoleh ke arah Viola yang masih saja menangis. Rasanya tak tega. Andai dia yang ada di posisi itu, pasti akan merasakan kesedihan yang sama.

"Pak tolong Cakra ya! Cakra mohon. Cakra tunggu! Jangan sampai kita nanti malah menyesal karena menyia-nyiakan waktu. Assalamualaikum."

"Wa'allaikumsalam. Bocah Iki tumben pikirannya bener. Ya Allah jadi aku harus menikahkan anak keduaku juga dadakan begini. Gusti... Apa nggak ada yang punya cita-cita menikah diselenggarakan dengan apik dan banyak orang yang mendoakan. Semua kok begini."

Mendengar keluhan dari Bapak membuat Ibu segera menghampiri. Melihat wajah Bapak yang penuh dengan pikiran membuat Ibu bertanya-tanya.

"Ada apa to, Pak? Siapa yang tadi menghubungi Bapak? Kok sepertinya jadi beban gitu."

Bapak menoleh ke arah Ibu. Beliau menepuk pundak Ibu lalu mengangguk. "Cakra minta dinikahkan sekarang juga Bu."

"Astaghfirullah... La kok mendadak gitu to, Pak? Cakra ini gimana pikirannya?" Jelas Ibu terkejut mendengar itu. Pamitnya ke rumah sakit tau-tau minta dinikahi. Orang tua mana yang tak terkejut mendengarnya.

"Iya Bu, ya sudah Bapak mau siap-siap dulu. Ibu hubungin Satria dan Shayu biar ikut ke rumah sakit sekalian." Bapak pun beranjak tanpa menunggu jawaban dari Ibu. Buru-buru sekali karena dikejar waktu. Cakra juga sudah bolak balik menghubungi dan kini Cakra sudah menghadap ke penghulu. Semua sudah dipersiapkan oleh Bapak. Di sampingnya ada Ayah dari calon istrinya yang nampak memperhatikan dengan tubuh tubuh yang lemah. Sementara Viola masih diam terisak di dalam dekapan Ibunya.

"Sudah siap, Nak Cakra?" tanya Pak penghulu. Siap tak siap bahkan Cakra hanya berbalut kemeja putih yang dibawakan oleh Ibu tadi dan Viola hanya mengenakan pasmina yang menutupi kepalanya dengan mengenakan kemeja senada.

Di belakang sana ada Satria dan Shayu yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi malam ini. Terutama Shayu, yang ia tau Lani bukan wanita cantik yang kini sedang menangis.

"Hebat banget anak cebong satu ini. Belajar dari mana dia selingkuh. Pacaran sama Lani menikah sama Dosennya sendiri. Amazing." Shayu segera mengarahkan kamera ponselnya ke arah Cakra dan juga calon istrinya yang kini sudah berpindah tempat di samping Cakra. Dia setuju dengan yang ini dari pada dengan Lani. Meskipun belum kenal, tapi melihat wanita yang sekarang, Shayu lebih percaya hidup Cakra akan lebih berwarna.

Cakra menarik nafas dalam lalu menoleh ke arah Viola yang tertunduk dengan isakan tak terdengar. Dia pun menoleh ke arah Ayah dari calon istrinya yang diam memperhatikan dengan tarikan nafas yang sangat berat.

Padahal besok hari ulang tahun putrinya yang akan dirayakan dengan meriah. Namun harus jatuh sakit karena musibah yang tak terelakan.

"Saya siap, Pak," ucap Cakra dengan lantang.

Detik bergulir, menit pun telah dilalui. Ikrar janji setia dihadapan orang tua dan saudara dengan disaksikan oleh beberapa saksi serta dokter yang menangani sudah Cakra ucapkan dengan lancar. Atas ridho Allah Cakra menikahi wanita yang kini mencium tangannya.

Perlahan Cakra mengikis jarak dan mengecup kening Viola. Tak ada rasa, rencana, dan tak ada juga inginnya untuk menikahi wanita selain Lani. Namun yang ada di hadapannya kini adalah istri sah yang beberapa waktu lalu ia ikat dengan tali pernikahan.

"Ti... Ti... Titip Viola dan.. Ibu."

Cakra mengangguk saat mendengar suara terbata yang ia dengar dengan mendekati Bapak mertuanya karena memang kondisi beliau sudah semakin lemah.

"Cakra berjanji akan menjaga Viola dan Ibunya, Pak. Bapak harus kuat. Cakra akan ikut menjaga Bapak sekarang. Semangat untuk sembuh ya, Pak!" ucap Cakra tetapi nafas Bapak terlihat semakin tersengal sedangkan Viola bergegas mendekat hingga Cakra terdorong ke belakang.

"Papah!"

"Papah!"

"Papah jangan tinggalin Viola, Pah!Hiks.."

"Inalillahi wainailaihi Raji'un."

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

yang pendiam kena grebek
yang pecicilan kena paksa
wes sak karepmulah pa'e seng penting anak anak mu ora menghamili anak perawan orang .

2025-01-01

0

Ririn Saja

Ririn Saja

visualnya Cakra dan Bu viola dong thor🙏

2025-01-09

0

Erna Wati

Erna Wati

/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/

2024-10-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!