Keesokan harinya Nara menceritakan kepada ibunya tentang semua hal yang ia alami kemarin malam. Ibunya memiliki dugaan yang sama dengan Nara, pasti itu adalah siluman. Menurut kepercayaan dari leluhur mereka, siluman adalah satu-satunya mahluk yang bisa berubah menjadi hewan. Biasanya mereka akan menjelma jadi binatang yang berbahaya dan berparas mengerikan.
"Ini bekas gigitan mereka semalam," ucap Nara sambil menunjukkan bekas lukanya.
"Ya, ampun!" seru ibu Nara.
Wanita tersebut mengamati luka yang terdapat di tubuh anaknya. Cukup parah, namun Nara tampak tak merasa terlalu sakit karenanya.
"Mereka sungguhan menyerang fisikmu," ucap wanita tersebut.
"Setidaknya mereka tidak menyerang jiwaku. Jiwa yang terluka jauh lebih sulit untuk disembuhkan," jelas Nara.
"Tapi tetap saja mereka sudah berani-beraninya melukai anak ibu," ungkap Ibu Nara.
Wanita tersebut meminta Nara untuk menunggu sebentar sementara ia pergi ke halaman belakang untuk mengambil beberapa lembar daun binahong. Konon itu bisa menjadi obat alami untuk menyembuhkan luka.
Sembari ibunya meracik obat, Nara sibuk memperhatikan bagaimana wanita itu bekerja. Mengaguminya dalam diam. Terkadang ia bertanya-tanya. Kenapa bisa ada wanita sehebat dirinya. Yang melakukan segalanya sendirian.
"Sini, mana yang terluka?" tagih wanita itu.
Nara lantas menyodorkan lengannya kanannya untuk diobati.
"Kemarin, yang ini dicakar oleh hiena saat aku berusaha mengambil darah kuda putih," jelas Nara.
"Dia sempat mencakarmu?" tanya ibunya yang kemudian segera diiyakan Nara.
Daun yang telah ditumbuh tersebut lekas ia bubuhkannya tepat di atas luka Nara yang terbuka. Kemudian dibalut dengan kain kasa agar tetap steril. Nara merasa kesakitan di awalnya, hingga membuatnya meringis. Tapi sensasi perih itu hanya sesaat, ketika lukanya di sentuh.
"Apa terasa sakit?" tanya wanita tersebut.
"Tidak terlalu," jawab Nara.
"Lukamu akan segera sembuh," tutur wanita itu.
Kini ia beralih untuk mengobati luka yang satunya lagi. Tepat berada di pergelangan kaki gadis itu. Namun, luka yang satu ini tampak agak dalam dari pada luka yang satunya.
"Luka yamg ini kelihatannya sedikit lebih dalam," gumam Ibu Nara sambil tetap mengamati luka tersebut.
"Dan agak parah," tambahnya.
"Yang ini bekas gigitan. Wajar jika sedikit parah," ujar Nara.
"Apa hiena itu juga yang menggigitmu?" tanya wanita itu untuk memastikan.
"Tidak. Rubah marun pelakunya," jawab Nara secara gamblang.
Ia merasa prihatin melihat kondisi anaknya yang terluka parah seperti ini. Malam bulan purnama kali ini benar-benar menyiksanya.
"Mungkin akan sedikit sakit. Jadi, tahan sedikit ya," peringati wanita itu.
Sambil ia membubuhkan obat, Nara memejamkan kedua kelopak matanya. Mengepal kedua tangannya erat-erat untuk menahan rasa sakit. Sebenarnya Nara tak cukup hebat untuk menahan rasa sakit, namun kali ini mau tak mau ia harus menahannya.
"Huh!"
Akhirnya ia bisa menghembuskan napas dengan lega setelah ibunya selesai mengobatinya.
"Nanti perbannya akan kita buka setiap sehari sekali," ujar Ibu Nara.
Tapi sepertinya aku tak akan bisa mengobati diriku sebelum lukanya benar-benar kering," ungkap Nara.
"Tak apa, nanti akan ibu lakukan untukmu," balas wanita itu.
Nara tersenyum bahagia. Ia merasa sangat bersyukur memiliki ibu sepertinya. Apa pun di dunia ini boleh pergi dan menghilang, asal jangan ibunya. Semenjak kematian ayahnya, ia jadi jauh lebih dekat dengan wanita yang telah melahirkannya itu.
'TING!'
Mendadak bel yang terletak di pintu masuk utama berdenting nyaring. Membuat perhatian keduanya teralihkan. Mereka langsung mengalihkan pandanganya ke arah sumber suara.
Ternyata itu adalah Baron dengan tas ransel di pundaknya. Ia barusaja pulang selepas bermalam di kuil. Wajahnya tampak lesu. Sepertinya ia tak tidur semalaman karena fokus untuk meditasi.
"Kau sudah pulang?" sapa Ibu Nara lebih dulu.
"Iya, bibi," jawab Baron seadanya.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya wanita itu.
Ia melihat ada sesuatu yang aneh dari penampilan Baron hari ini. Tak seperti biasanya.
"Oh, kemarin ada sedikit gangguan dari roh jahat," ujar Baron secara gamblang.
"Apa kau di serang rubah?" tanya wanita itu.
"Iya…" jawab Baron dengan sedikit ragu.
"Berwarna marun?" tanya nya lagi.
Dan untuk yang kedua kalinya pula pria itu mengatakan iya. Semua pertanyaan Ibu Nara benar. Jujur Baron agar kaget mendegar hal tersebut. Bagaimana bisa tebakannya benar. Bagaimana bisa pertanyaannya seakurat itu.
"Bagaimana bibi bisa tau?" tanya Baron penasaran.
"Nara juga mengalami hal yang sama," ungkap wanita itu.
"Rubah marun dan seekor hiena menyerangnya di alam bawah sadarnya tadi malam," jelasnya kemudian.
Mendengar pernyataan tersebut, Baron langsung memutar matanya ke arah gadis itu. Padahal semula ia tak terlalu memperhatikan Nara yang tengah duduk di meja dapur.
Gadis itu tampak penuh dengan luka di area lengan dan kakinya. Jauh lebih parah dari yang di derita olehnya.
"Aku memang melihat rubah itu mengejar Nara, jadi aku mengejarnya kemari dan rubah itu berbalik menyerangku saat menyadari jika aku membuntutinya," jelas Baron secara detail.
"Tapi bukankah rubah itu hanya menggigit kakimu?" tanya Baron.
"Ya," jawab Nara singkat.
"Lalu dari mana asalnya luka di tangamu itu?" tanya pria itu lagi.
"Seekor hiena turun dari tangga kemarin dan menyerangku," ujar Nara.
Ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Nara sama sekali tak mengada-ngada. Begitu pun dengan Baron. Pria itu mengatakan yang sejujurnya.
"Hiena?" tanya Baron.
Pria itu mendadak teringat akan sesuatu. Kemarin ia sempat merasakan sesuatu yang sangat keras memukul punggungnya di tengah meditasi. Dan sama sekali tak ada siapa pun selain dirinya di sana.
Sekarang Nara mengatakan jika kemarin di dalam mimpinya ia telah diserang oleh seekor hiena yang turun dari tangga. Sudah jelas jika hewan itu pasti berasal dari lantai dua atau mungkin lantai tiga.
Baron yakin jika mimpinya kemarin bukan hanya sekedar mimpi. Tapi lebih dari itu. Jiwa mereka saling terhubung di alam bawah sadar dalam suatu kejadian. Baron percaya jika semua ini ada hubungannya dengan apa yang ia alami belakangan ini.
Nara pasti juga merasakan hal yang sama. Ia juga memikirkan hal tang sama dengan Baron. Kejadian kemarin bukan hanya sekedar mimpi. Ada roh jahat yang menyeret jiwa mereka untuk masuk ke dalam permainannya dan berusaha untuk menyakiti mereka.
Kalau memang kemarin itu adalah mimpi, sangat mustahil dua manusia berbeda saling terhubung dalam mimpi yang sama. Dan yang lebih anehnya, luka mereka tampak sangat begitu nyata. Mereka pasti sudah dibantai habis-habisan oleh roh jahat itu.
Baik Baron mau pun Nara sama-sama yakin jika sosok rubah marun dan hiena yang mereka lihat kemarin adalah siluman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments