Ramalan Lainnya

Sambil menunggu dupanya terbakar habis, Baron memesan makanan untuk mereka makan. Nara sudah punya beberapa usulan untuk mengubah tempat ini yang sepertinya tak jauh beda dengan usul pria itu.

Mereka duduk di salah satu meja yang ada di lantai satu. Keduanya memilih untuk meninggalkan lantai atas karena Nara masih merasa sedikit takut setelah peristiwa tadi. Lagi pula pasokan cahaya matahari jauh lebih banyak di lantai pertama. Sebab pintu utamanya lumayan besar. Hampir memakan luas satu sisi dari tembok.

"Aku penasaran, apakah kau merasa takut selama ritual berlangsung?" tanya Nara sambil memakan cemilan yang mereka beli.

"Tidak sama sekali," jawab Baron dengan singkat.

"Bagaimana kau mengatasi rasa takutmu saat berhadapan dengan mereka?" tanya Nara lagi.

"Aku juga tidak tahu bagaimana spesifiknya. Yang jelas semua itu datang secara natural dari dalam dirimu," jelas pria itu.

"Kau harus menyingkirkan rasa takut dari dalam dirimu saat berhadapan dengan mereka," sambung pria itu.

Ia memberikan jeda sejenak kepada Nara untuk memikirkan perkataannya barusan.

"Jika kau tak bisa mengontrol dirimu sendiri, maka kau tak akan pernah bisa mengontrol mereka juga," tambah Baron.

"Itu sulit bagiku," ungkap Nara dengan jujur.

"Apa kau pernah bertemu atau bahkan melihat mereka sebelumnya?" tanya Baron.

Mereka yang ia maksud adalah sesuatu tak kasat mata yang tinggal di sekitar mereka.

"Pernah beberapa kali," kata Nara.

"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya pria itu lagi.

"Membuang pandanganku ke arah lain dan berpura-pura tidak melihat mereka, meski aku bisa merasakannya," jelas Nara.

Baron berdeham sekali lalu mengambil segelas air putih dan menenggaknya hingga habis. Ia perlu mengosongkan mulut dan kerongkongannya lebih dulu agar mudah untuk bicara.

"Seharusnya kau tak melakukan itu," ucap Baron.

Mendengar hal tersebut Nara lantas mengarahkan kedua netranya pada pria itu sambil mengernyit.

"Tunjukkan pada mereka sisi superiormu. Tunjukkan bahwa kau lebih unggul dan tak sama dengan mereka," jelas Baron.

"Semakin kau merasa takut, akan semakin semena-mena mereka untuk memandang rendah dirimu," tambahnya.

Nara mengangguk paham. Pada intinya, ia tak boleh menunjukkan sisi lemah yang ia miliki kepada mereka. Itu bisa menjadi celah bagi roh jahat untuk menyerang jika mereka sampai tahu.

"Pantas saja kau tampak begitu tenang," gumam Nara.

Mereka kembali melanjutkan makan siangnya hingga selesai sebelum pada akhirnya berbenah.  Tak banyak yang mereka benahi hari ini. Hanya menyapu dan mengepel. Kemudian membersihkan beberapa titik yang agak berdebu. Sisanya mungkin perlu bantuan para tukang. Seperti memasang plakat dan juga memindahkan cermin di ruangan balet. Setelahnya baru Nara dan Baron akan mulai memindahkan perabotan dan menatanya dengan sedemikian rupa.

"Omong-omong, bisa kau bacakan tarot untukku sekarang?" pinta Baron tiba-tiba.

"Kenapa begitu mendadak?" tanya Nara.

"Entahlah, aku hanya ingin tahu saja," balas pria itu.

"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya gadis itu lagi.

"Soal belahan jiwaku yang kau bilang akan datang dalam waktu dekat," jawab Baron secara gamblang.

Menyetujui permintaan pria itu, Nara lamtas mengeluarkan kartu tarot yang biasa dipakainya. Sepertinya Baron sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu.

Tanpa berlama-lama Nara langsung mengacak kartu tarot miliknya. Lalu menjejerkannya di depan Baron. Membiarkan pria itu memilih salah satu dari mereka.

"Ambil satu kartu!" perintah Nara.

Baron juga sepertinya tak perlu banyam pertimbangan lagi dalam memilih kartu. Ia sungguh memilihnya secara acak dan reflek. Membiarkan alam bawah sadarnya bekerja untuk dirinya.

Kemudian menyerahkan kartu tersebut pada Nara untuk di baca. Apa pun hasilnya, Baron tidak akan berkomentar.

"Hm, kurasa ia berasal dari kalangan orang yang memiliki bakat spiritual," ungkap Nara.

"Tapi energinya berbeda denganmu," sambungnya.

"Aku yakin jika ia berasal dari bidang pekerjaan yang lain selain dukun," kata Nara dengan yakin.

"Dimana dia berada sekarang? Ini sudah satu pekan sejak pembacaan tarotmu, tapi ia tak kunjung datang," protes Baron.

Sepertinya ia memang sangat ingin untuk bertemu dengan gadis itu secepatnya.

"Kalau begitu ambil satu kartu lagi," ucap Nara.

Baron lalu segera menyerahkan satu kartu yang baru saja ia ambil. Sementara Nara memandangi kartu tersebut selama beberapa saat sambil sedikit kebingungan.

"Ia seharusnya sudah berada di sekitarmu sejak pertama  kali aku bacakan kartunya," kata Nara dengan yakin.

"Itulah yang dikatakan kartu ini," sambung gadis itu.

Kini keduanya sama-sama tak bergeming. Suasana berubah menjadi sunyi. Nara dan Baron saling melempar tatapan satu sama lain. Seolah-olah sedang mencoba untuk saling berkomunikasi dengan matanya.

"Apa gadis yang kau maksud itu adalah dirimu?" tanya Baron dengan ragu.

"Tidak mungkin," jawab Nara yang juga ragu.

"Kurasa bebar kalau itu adalah kau," balas Baron.

"Jika mengacu pada ramalan tarot, maka kau adalah satu-satunya gadis dengan kekuatan spiritual yang berada di sekitarku sejak hari pertama," jelasnya dengan panjang lebar.

"Kau pasti menemui gadis lain tanpa menyadari kalau ia juga seorang ahli spiritual" balas Nara mencoba menepis asumsi tersebut.

"Ya, mungkin aku bertemu dengan gadis lain itu. Tapi, gadis yang selalu berada di sekitarku adalah kau," kata Baron sekali lagi.

Pria itu mencoba untuk menghubungkan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya, dan semua itu saling memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Sehingga membuatnya sangat yakin kalau gadis yang ia maksud selama ini adalah orang yang sedang duduk persis di depannya.

"Tidak mungkin, mustahil bagi kita untuk bisa bersama," ucap Nara.

"Itu dia sebabnya kenapa kartu pengorbanan muncul saat pertama kali kau membaca peruntunganku," balas Baron.

"Kau bilang harus ada yang berkorban," sambungnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!