Beres dengan pekerjaannya di kedai ayam, Nara lantas segera membersihkan lantai tiga. Terutama ruang tidurnya. Pria itu sudah membayar uang sewa selama setahun ke depan. Jadi sesuai dengan janjinya tadi, maka Nara harus membersihka tempat ini. Sebab Baron akan segera pindah dalam beberapa jam ke depan.
"Kapan ia datang?" tanya Ibu Nara.
"Katanya jam empat sore nanti ia dan barang-barangnya akan tiba di sini," jawab gadis itu sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Ibu yakin jika hari ini adalah hari keberuntungan kita," balas wanita paruh baya itu.
"Omong-omong, apa kau akan menemui klien mu malam ini?" sambungnya.
"Tidak ada klien yang membuat janji denganku hari ini. Tapi besok sepertinya ada beberapa janji," jawab Nara.
"Baiklah, kalau begitu. Ibu akan siapkan makan malam dulu. Turunlah ke bawah kalau sudah selesai!" perintah wanita itu lalu beranjak pergi.
"Ya!" sahut Nara.
Sebenarnya pekerjaan Nara sudah selesai. Hanya tinggal memperbaiki engsel pintu agar bisa dibuka. Tapi sepertinya itu hanya perlu sedikit pelumas, tidak harus diganti dengan yang baru.
Belum sempat Nara mengambil pelumas, ibunya tiba-tiba datang. Bukan untuk memanggil dirinya agar turun dan makan malam bersama. Tetapi malah memberitahu jika Baron sudah datang. Ternyata pria itu datang lebih awal daripada yang dijanjikan sebelumnya. Beruntung gadis itu sudah selesai berkemas. Kini Baron bisa mulai menyusun dan menempati lantai tiga untuk setahun ke depan. Itu artinya mereka juga akan sering bertemu selama satu tahun ke depan.
"Kebetulam sekali, aku barusaja selesai berkemas. Kini anda bisa langsung menempatinya," ujar Nara.
"Terima kasih atas bantuannya," ucap Baron sambil tersenyum tipis.
"Tidak masalah," balas gadis itu.
Ia memberikan ruang kepada Baron untuk berkemas dan menata barang sesukanya di lantai tiga. Baron pasti memiliki selera yang berbeda dengan keluarga ini dalam hal menata barang. Sehingga Nara memutuskan untuk tidak membantu. Namun, pria itu bisa memanggil Nara atau ibunya kapan saja jika butuh bantuan. Mereka akan selalu berada di lantai bawah.
Sementara Baron berkemas, Nara ikut turun bersama ibunya untuk makan malam. Tubuhnya perlu sedikit asupan kalori untuk mengganti tenaga yang terbuang akibat berbenah tadi.
"Ibu rasa dia bukan orang biasa," celetuk wanita itu dipertengahan makan malam.
Nara hanya mengernyit, pertanda tak paham dengan maksud ibunya barusan. Menangkap sinyal tersebut dari anaknya, wanita itu lantas memberikan penjelasan lebih.
"Kau tahu? Matanya tajam, persis seperti mata ayahmu. Dan kita tahu kalau mereka yang memiliki panggilan spiritual punya mata seperti itu," terang Ibu Nara.
"Sama seperti mata milikmu," tambahnya di akhir.
Awalnya Nara tak terlalu memperhatikan, apalagi sampai mempermasalahkan hal tersebut. Tapi setelah perkataan ibunya barusan, ia jadi menyadari. Sepertinya ibunya tak berbohong.
"Menurut ibu mungkinkah dia adalah orang yang istimewa juga?" tanya Nara penasaran.
"Ya, ibu merasakan energi darinya," jawab wanita itu.
"Haha! Ibu berkata seperti itu seolah-olah ibu benar-benar bisa merasakannya," balas Nara sambil tertawa kecil.
"Hei! Sepertinya kau harus ibu ingatkan lagi. Bahwa ibu sudah tinggal bersama keluarga yang memiliki energi spiritual selama berpuluh-puluh tahun," jelas Ibu Nara.
"Tentu saja ibu bisa membedakan siapa yang orang biasa dan siapa yang istimewa," sambungnya.
Tak ingin terlalu ambil pusing mengenai hal tersebut, Nara lantas kembali melanjutkan kegiatannya. Ibunya pun tak ingin membahas hal tersebut lebih lanjut tampaknya.
Biasanya kedai tutup lebih lama di hari biasa. Sebab banyak orang yang barusaja pulang kerja di jam malam. Sehingga kedai mereka harus buka sedikit lebih lama. Setidaknya sampai jam sebelas malam. Namun, hari ini adalah akhir pekan. Itu berarti hal baik bagi Nara dan ibunya. Sebab mereka bisa tutup lebih awal dan memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat.
Kedai sudah tak ada pengunjung sejak tiga puluh menit yang lalu. Jalanan di sekitar mereka yang biasanya masih ramai di jam segini, kini sudah sepi. Itu artinya Nara bisa mulai berberes. Gadis itu mulai mengumpulkan piring-piring kotor serta mengelap meja.
'BRUK!'
Saat sedang membersihkan salah satu meja, tiba-tiba saja tubuh gadis itu ambruk tanpa alasan. Mendadak Nara tak sadarkan diri. Ibunya lantas buru-buru menghampiri Nara untuk memeriksa kondisi putri semata wayangnya itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah panik.
Namun sama sekali tak ada jawaban dari Nara. Kedua tangan gadis itu terasa dingin. Jari telunjuknya secara tidak sengaja terluka akibat terkena pecahan piring yang ikut terjatuh pada saat tubuhnya roboh.
Di saat yang bersamaan pula Baron turun ke bawah. Ia berniat untuk menanyakan dimana Nara, ada hal yang ingin ia tanyakan pada gadis itu. Namun Baron terpaksa mengurungkan niatnya. Melihat Nara yang tak sadarkan diri berada di dalam dekapan ibunya, pria itu buru-buru menghampiri mereka. Memeriksa apa yang terjadi. Berharap ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk membantu Nara.
"Ada apa ini?" tanya Baron.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja ia pingsan," kata Ibu Nara.
Tanpa basa-basi, Baron lekas menggendong tubuh gadis itu menuju kamar. Ibunya membuntuti dari belakang.
Dengan lembut ia merebahkan tubuh Nara di atas kasur. Lalu mengeluarkan sebotol minyak berwarna kuning pucat dari sakunya.
"Tolong berikan ini di sekitar hidungnya dan bagian belakang kepalanya," kata Baron lalu menyodorkan botol itu pada Ibu Nara.
"Aku akan ke atas sebentar, " tambahnya.
Pria itu buru-buru pergi ke atas, ke kamarnya lebih tepatnya.
"Ini pasti karena dupanya!" gerutu Baron kesal.
Ia lekas mematikan dupa yang barusaja dibakarnya di setiap sudut ruangan. Pria itu sedang melakukan ritual pembersihan energi. Menurutnya tempat ini sedikit pengap dan suram akibat ada aura serta energi negatif yang tertinggal di sini.
"Sebenarnya siapa kau?" gumam Baron.
Tubuhnya bisa merasakan dengan jelas jika ada sosok lain yang berada di sini selain dirinya. Tentu saja bukan sesuatu yang bisa kita lihat dengan kasat mata. Namun ia tak bisa menebak apa dan siapa itu. Sosok ini terlalu malu untuk menunjukkan eksistensinya secara terang-terangan.
Baron sangat yakin jika ada yang tidak beres di sini. Sosok itu merasa tak terima saat Baron mencoba untuk mengusirnya. Ia malah menjadikan Nara sebagai korban. Lebih tepatnya mengancam Baron untuk tidak mengusik keberadaannya.
Tapi, cepat atau lambat Baron akan segera mengatasi semua ini.
"Bagaimana, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Baron sambil mengobati luka di tangan gadis itu.
"Jauh lebih baik," jawab Nara.
Meski ia merasa jauh lebih baik, tapi tetap saja dirinya terlihat lemas dan perlu lebih banyak istirahat. Setelah pingsan, Nara kehilangan begitu banyak energi. Makan malam tadi seperti tidak membuahkan hasil apapun.
"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Baron dengan nada serius.
"Tanyakan saja," balas Nara.
"Apa kau ahli dalam membaca tarot?" tanya pria itu sambil menyodorkan sebuah kartu tarot padanya.
"Dari mana kau dapatkan ini?" tanya Nara heran.
"Dari kamar di lantai tiga," jawab Baron jujur.
Nara diam sejenak. Dahulu ruangan itu adalah kamarnya. Ia pasti tak sengaja meninggalkan salah satu kartunya di sana dan tak menyadari hal itu sama sekali.
"Jika itu benar, kau pasti juga seseorang yang telah mengalami panggilan spiritual sama seperti diriku," terang Baron.
"Dengar! Ini pasti ada hubungannya dengan bentrokan energi. Itu sebabnya kau pingsan tadi. Aku barusaja melakukan pembersihan energi di lantai tiga, lalu menemukan kartu ini. Saat ingin menemuimu, tiba-tiba saja kau sudah pingsan," jelas pria itu dengan panjang lebar.
"Jadi benar apa kata ibu?" ujar Nara di dalam hati.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Nara balik.
"Kau akan tahu dengan seiring berjalannya waktu nanti. Tapi yang jelas besok kita harus melakukan pembersihan bagi energi negatif," jawab Baron.
"Jangan ganggu mereka selama mereka tak mengusikmu," ucap Nara memperingati.
"Kami bersedia mengembalikan uangmu secara penuh jika tak bersedia tinggal di sini lagi," tambahnya.
"Tapi ini demi kebaikan kita bersama, demi kebaikan ibumu juga!" pukas Baron.
"Lakukan saja seperti yang ku katakan!" tegas gadis itu sekali lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments