Nara berbaring di kamarnya sendirian, sementara ibumya sedang menyiapkan makan malam di bawah. Gadis itu melipat kedua tangannya sambil menatap ke arah langit-langit ruangan. Ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya, tapi ia enggan menanyakan hal tersebut kepada orang lain. Termasuk kepada kartu tarotnya sendiri. Nara memilih untuk bergulat dengan pikirannya dan menemukan jawabannya sendiri.
Sejak beberapa menit yang lalu, ia terus memikirkan percakapan mereka di ruko tadi. Nara tak bisa berhenti memikirkannya. Ia bertanya-tanya apakah dugaan pria itu benar. Jika benar, pasti akan sangat sulit bagi mereka untuk bersama. Nara heran kenapa sejak dulu ia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Padahal ia tak terlaku baik dalam hal memilih.
"Nara!" sahut ibunya dari bawah.
Sontan suara wanita itu berhasil memecah keheningan suasana, serta ikut mengalihkan perhatian gadis itu seutuhnya.
"Ayo, turun! Waktunya makan malam," sambung wanita itu.
Nara lantas buru-buru bangkit dari tempat tidurnya. Bergegas turun ke lantai pertama untuk makan malam.
"Ku harap ia tak satu meja dengan kami malam ini," gumam Nara.
Setelah kejadian di ruko tadi, harus ia akui jika semuanya berubah menjadi sangat canggung. Entah kenapa, Nara tak tahu alasannya. Semua hanya terjadi begitu saja.
'TAP!'
'TAP!'
'TAP!'
Seketika ia menghentikan lamgkahnya tepat di dua anak tangga terakhir. Apa yang ia harapkan barusan sama sekali tak terjadi. Baron sedang berada di sana bersama ibunya. Membantu wanita itu menyiapkan segalanya untuk makan malam. Mereka bahkan tampak lebih akrab kali ini.
"Kenapa tak membantu ibumu menyiapkan makan malam?" tanya Baron sambik meletakkan panci sup di atas meja.
"Untuk apa? Lagi pula kau sudah melakukannya," balas Nara dengan ekspresi datar.
Nara menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Percuma saja memilih, pada akhirnya toh ia juga akan duduk di sekitar pria itu.
Yang benar saja, tak berselang beberapa lama Baron langsung mengamb tempat duduk di sampingnya. Lalu di susul oleh ibunya.
"Kalian sangat dekat, seperti ibu dan anak sungguhan," protes Nara tak terima.
"Apa kau iri?" tanya Baron memastikan.
Namun, Nara sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebenarnya Baron tak terlalu membutuhkan jawaban dari gadis itu, karena raut wajah Nara sudah menjawab segalanya.
"Ibu sudah memiliki dua anak sekarang," ucap Ibu Nara menimpali.
"Bagus lah kalau begitu," balas Nara tak bersemangat.
Mereka mulai makan dengan khidmat setelahnya. Ternyata masakan Baron tak buruk-buruk amat. Masih bisa untuk dinikmati. Ternyata dukun bisa memasak juga.
Setelahnya Nara dan Baron ditugaskan untuk mencuci piring bersama oleh ibunya. Sementara wanita itu sibuk membersihka kedai untuk segera di tutup. Kini Baron punya banyak kesempatan untuk menginterogasi gadis itu.
"Bisa lakukan pembacaan tarot untukku nanti?" tanya Baron sambil mencuci beberapa piring di depannya.
"Lagi?" tanya Nara tak percaya.
"Hm, memangnha kenapa? Ada masalah?" tanya pria itu balik.
Nara sungguh tak habis pikir. Sepertinya pria itu sungguh kecanduan dengan pembacaan tarot akhir-akhir ini. Terutama sejak bertemu dengan Nara, ia selalu meminta untuk dibacakan tarot dalam berbagai hal. Padahal dia adalah dukun, dan membaca peruntungan nasibnya sendiri bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh orang seperti dirinya.
"Aku lelah," ungkap Nara.
"Energi negatif dariku akan mempengaruhi hasil bacaannya," sambung gadis itu.
"Baiklah, kalau begitu nanti akan ku buatkan teh," balas Baron seketika.
"Teh hangat baik untuk mengurangi rasa penat dan merilekskan tubuh," jelasnya kemudian.
Nara termenung sejenak, lalu kembali mengajukan pertanyaan.
"Kenapa kau bisa begitu yakin kalau aku adalah takdirmu?" tanya Nara dengan serius.
"Karena aku yakin," jawab Baron dengan singkat.
"Kau sungguh berpikir begitu?" tanya Nara lagi.
Pria itu kemudian menggangguk lalu berkata, "Intuisiku sangat kuat dan tak pernah salah. Segala sesuati yang kuyakini benar adanya."
"Maka jika itu benar aku, ku harap kita akan tetap baik-baik saja sampai akhir bahagia itu datang," ucap Nara.
"Pasti, pasti baik-baik saja," balas Baron dengan optimis.
Nara tersenyum tipis sambil diam-diam mulai menaruh harapan itu di dalam hatinya.
Jika benar pada akhirnya Nara adalah tujuan Baron, maka mereka harus berjuang sama-sama mulai sekarang. Sebab sebelumnya hasil ramalan berjata jika kisah ini tak akan mudah.
"Kau harus bersiap untuk segala hal buruk yang akan datang ke depannya," ungkap Nara.
"Maka kau juga harus siap untuk segala kondisi yang akan membuatmu menangis," balas Baron.
Sontak hal tersebut membuat Nara tertawa seketika.
"Aku penasaran hal seperti aoa yang sukses membuatku menangis nantinya," kata gadis itu.
"Tapi, apakah aku sungguh menangis sesering itu di dalam pengelihatanmu?" tanya Nara tiba-tiba.
"Ya, tapi aku akan selalu berada di sisimu. Untuk memastikan jika kau tak menangis sendirian," balas Baron.
Jawaban pria itu barusan berhasil membuat pipi Nara memerah dengan sempurna.
"Aku ingin meminta maaf lebih dulu jika ke depannya kau jadi banyak menangis karenaku," sambung Baron. Kali ini ia bicara dengan bada serius.
"Berhenti mengatakan hal-hal manis seperti itu," larang Nara.
Ia tak mau terlihat bertingkah aneh di depan Baron. Gadis itu berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Kau adalah dukun yang suka menggoda," ejek gadis itu yang kemudian sukses memancing gelak tawa Baron.
Percakapan ini sukses mengubah suasana hati Nara yang semula tidak begitu baik. Baron bahkan kini selangkah lebih maju. Ia telah berhasil meyakinkan gadis itu untuk memantapkan hatinya dan memulai perjalanan baru bersama Baron.
Apa yang barusaja ia katakan bukan semata-mata omong kosong belaka. Tapi itu adalah janji yang ia buat untuk dirinya sendiri. Baron bersungguh-sungguh atas hal itu.
"Sepertinya besok saja bacakan tarotku. Sekarang sudah malam, kau perlu istirahat," ungkap Baron dengan penuh perhatian.
"Baiklah, kalau begitu aku naik lebih dulu," ucap Nara berpamitan.
Baron merasa sedikit lebih lega hari ini, karena ada begitu banyak hal positif yang datang. Hal itu pula yang berhasil mempengaruhi suasana hatinya menjadi lebih positif. Setidaknya sekarang ia bisa tidur dengan tenang tanpa perlu nemikirkan hal lainnya. Untuk sementara ini, semuanya baik-baik saja. Mungkinini adalah bagian dari kejutan yang semesta sediakan. Dimulai dengan awal yang manis lalu berakhir dengan hal yang membuat mereka tak mampu tersenyum sedikit pun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments