Bacaan Mandiri

Nara sedang beristirahat di kamarnya. Begitu pula dengan Baron. Mereka sibuk memulihkan energi setelah kemarin dibantai habis-habisan. Yang kemarin malam adalah kejadian terburuk sepanjang sejarah yang pernah ada. Ia tak pernah merasa setidak berdaya ini sebelumnya.

Nara bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dari mana siluman-siluman itu berasal. Terutama rubah marun itu. Mengapa tiba-tuba ada di ruko. Bukankah mereka sudah melakukan ritual pengusiran sebelumnya. Dan itu seharusnya sudah cukup. Baron sendiri yang mengatakan jima tempatnya sudah aman sekarang, tidak ada roh jahat yang akan mengusik mereka lagi.

"Apa dia penjaga tempat itu?" gumam Nara.

Tapi setelah diingat-ingat, ia sama sekali tak merasakan keberadaan rubah itu sebelumnya meski sudah beberapa kali mengunjungi ruko. Nara juga merasakan jika lantai pertama adalah tempat yang memiliki energi positif paling banyak. Mustahil jika ada siluman di sana. Kalau pun memang ada, gadis itu pasti sudah bisa merasakannya sejak awal.meski bukan dukun, tapi ia memiliki kepekaan terhadap hal-hal seperti itu.

Ia sibuk memikirkan darimana asalnya siluman rubah tersebut. Kalau perihal hiena, sudah pasti kalau hewan itu adalah penunggu lantai tiga. Sejak lama Nara sudah merasakan jika ada sesuatu yang tak beres di sana.

"Tapi aku tak ada mengusiknya belakangan ini. Kenapa mendadak dia menyerangku dengam membabi-buta," ucapnya.

Sudah tiga bulan terakhir ia mengabaikan siluman hiena itu dan tak ada sesuatu yang terjadi. Terakhir kali saat Baron melakukan pengusiran roh jahat di kamarnya, Nara jadi pingsan. Tapi setelahnya ia yakin tak pernah mengganggu hiena itu lagi.

"Atau jangan-jangan Baron yang mengusiknya?"

Gadis itu mengambil kesimpulan dnegan cepat. Apa pun yang dilakukan Baron kepada siluman itu, pasti akan selalu berdampak padanya. Seperti kemarin, Baron yang melakukan pengusiran, tapi malah Mara yang terkena batunya. Sekarang apa lagi yang dilakukan oleh pria itu.

Seharusnya sejak awal memang Nara dan ibunya tak perlu menerima Baron di sini. Kehidupan mereka amat tentram sebelumnya. Jauh dari kata bahaya. Apalagi terusik karena ulah roh jahat. Tapi kini Baron telah membuka portal bagi mahluk-mahluk itu untuk mengancam keselamatan mereka dengan cara yang jauh lebih mudah.

Kepalanya mulai teras pusing karena memikirkan semuanya sendiri. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Ia butuh jawaban dengan segera agar tak terus dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah beberapa kali meyakinkan dirinya sendiri, akhirnya Nara memberanikan diri untuk membaca tarot untuk dirinya sendiri. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan pembacaan tarot secara mandiri. Nara berharap agar hasilnya cukup akurat untuk dijadikan sebagai patokan.

Gadis itu mulai bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil satu set kartu tarot miliknya dari dalam laci. Tanpa basa-basi ia lekas mengacak kartu tersebut dalam urutan yang tak ia ketahui. Kemudian beberapa kartu terlempar keluar. Sesaat ia mengamati gambar-gambar yang muncul pada kartu tersebut.

Lagi-lagi kartu iblis muncul. Ini sudah yang kesekian kalinya dalam pekan ini.

"Ah! Kartu iblis," gerutu Nara kesal.

Sudah jelas jika sekarang ia sedang berhadapan dengan iblis. Mereka menjelma jadi mahluk yang mengerikan. Dan itu cukup untuk mengelabui gadis itu.

Lalu ia mengamati kartu selanjutnya. The moon, kartu bulan. Kartu ini melambangkan ketakutan akan sesuatu. Bisa jadi depresi, stress, tertekan atau semacamnya. Sumber ketakutannya adalah imajinasi atau ilusi.

Nara terdiam sejenak sambil memikirkan tentang kartunya. Apa jangan-jangan kedua siluman itu adalah mahluk yang tak sengaja mereka ciptakan sendiri di alam bawah sadar mereka. Akhir-akhir ini kondisi emosi Nara dan Baron memang sedang buruk.

"Tapi jika benar mahluk itu adalah ilusi yang kami ciptakan, kenapa mereka menyerang kami?" tanya Nara pada dirinya sendiri.

"The judgement," ungkap Nara.

Itu adalah kartu selanjutnya yang melompat secara tiba-tiba dari susunan kartu.

"Penemuan jati diri," katanya.

Kartu ini bermakna demikian.

Nara mencoba menghubungkan antara satu petunjuk dengan petunjuk lainnya. Mulai dari kartu sang iblis, kartu bulan hingga kartu penghakiman.

"Iblis, ketakutan, ilusi, dan penemuan jati diri?" gumamnya.

Gadis itu berusaha menemukan apa pesan tersembunyi yang berusaha leluhurnya sampaikan melalui media kartu sebagai perantara.

"Apa mungkin saja…" ucapnya lalu berhenti. Ia menggantung kalimatnya sambil berpikir.

"Aku merasa takut yang berlebihan, dan kemudian rasa takutku berhasil menciptakan mahluk baru di dalam bawah sadar," ungkap Nara.

"Mereka akan terus mengusikku seperti selayaknya iblis. Dan aku harus menemukan jati diriku untuk keluar dari ketakutan ini. Satu-satunya jalan adalah itu," jelasnya.

"Aku harus menemukan jati diriku dan keluar dari mimpi buruk itu!" tegasnya sekali lagi.

Namun ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Masih ada kartu lainnya yang keluar. Kali ini kartu the wheel of fortune. Atau biasa disebut dengan kartu roda kehidupan.

Kartu ini mencerminkan pengenalan akan siklus kehidupan. Yang dimana hidup tak akan selalu berjalan mulus. Sama deperti roda, terkadang hidup akan naik turun.

"Baiklah, mungkin emosiku akan sedikit tidak stabil untuk beberapa waktu ke depan" ujarnya.

Mungkin ia akan merasakan perasaan sedih dan bahagia dalam waktu yang berdekatan. Perubahan akan terjadi secepat itu.

"Huh!"

Nara menghela napasnya dengan kasar. Rasanya sesi membaca kartu hari ini sudah selesai. Ia sudah merasa cukup dengan sejumlah informasi yang barusaja ia dapatkan. Menurutnya, itu cukup untuk dijadikan petunjuk.

Ia lekas membereskan kartu tarot miliknya, lalu pergi ke bawah untuk mengambil minum.

"Kau sudah merasa lebih baik?" tanya wanita itu.

"Jauh lebih baik," kata Nara sambil meneguk minumannya.

"Kedai kelihatannya agak ramai hari ini. Aku bantu ya?" tawar gadis itu kemudian.

"Tidak perlu, kau istirahat lah saja!" suruh wanita itu.

"Ayolah, aku bosan berada di kamar seharian," protes Nara.

Wajar saja jika merasa bosan berada di kamar seharian. Ia paling tidak bisa berdiam diri untuk waktu yang lama. Nara memang mudah bosan sejak dulu.

"Baiklah, kalau begitu," kata ibunya.

"Tapi jangan lakukan hal-hal yang berat dulu. Lukamu masih belum sembuh," jelas wanta itu.

"Lalu apa yang bisa ku lakukan?" tanya Nara pada ibunya.

"Mungkin kau bisa menjaga mesin kasir untuk hari ini. Sisanya akan ibu bereskan," jawab wanita itu.

"Baiklah!" jawab Nara kegirangan.

Dengan kondisi kaki yang masih terluka cukup parah, ia berjalan dengan bersusah payah menuju mesin kasir. Akhirnya ada sesuatu yang bisa ia lakukan juga selain membaca kartu tarot dan berdiam diri di dalam kamar.

Ia cukup senang bisa mendapat kesibukan lain yang bisa mengusir rasa bosannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!