BAB 12 - Dia Cupu

Persis menggiring anak bebek, Umi Zalina sesemangat itu. Padahal keduanya bukan darah daging, tapi baik Hudzai maupun Alisya sama-sama dia sayangi tak ubahnya anak sendiri.

Bagaimana tidak? Sewaktu dia didekap nestapa kala sang suami mendekam di penjara, Hudzai kecil selalu menyeka air matanya. Hingga kedua buah hatinya hadir, Hudzai sudah mengerti dan memposisikan diri sebagai kakak walau belum bisa berbuat banyak.

Sementara Alisya jangan tanya, sejak pertama dia melihatnya duduk dan menangis di depan pintu gerbang panti asuhan 18 belas tahun lalu hingga kini, perasaan Zalina tidak berubah.

Kala itu Alisya diperkirakan berusia 4 tahun. Tidak ada yang tahu umur pastinya, tapi mereka hanya menerka dan menyesuaikan saja. Pun tentang identitas, sama sekali tidak ada di sana.

Hanya ada sebuah surat yang berisikan amanah untuk menjaga Alisya tanpa alasan jelas di dalam saku celananya. Hingga saat ini mereka juga tidak mengerti, siapa yang tega membuang seorang putri selucu itu.

Padahal, jika dilihat dari pakaian yang Alisya kenakan rasanya tidak mungkin karena ekonomi. Terlebih lagi sewaktu menangis pun yang dia panggil adalah Papi, sungguh Zalina tidak habis pikir jika diingat lagi.

Sempat berpikir jika Alisya adalah korban penculikan. Akan tetapi, hingga berbulan-bulan di nanti tidak ada laporan anak hilang atau semacamnya.

Pun orang yang mencarinya ke panti juga tidak. Dan kini, anak itu sudah menikah juga tidak ada yang tahu identitas orang tuanya.

Menyedihkan memang, karena itulah Umi Zalina menjadi yang paling terpukul tatkala Abimanyu meninggalkan Alisya tepat di hari pernikahannya dan sangat ingin marah.

Bukan marah karena malu, tapi yang dia pikirkan adalah perasaan Alisya. Tak heran, ketika Hudzai melangkah maju dan mengatakan akan bertanggung jawab menggantikannya, Umi Zalina bahagia luar biasa.

Terbukti jelas bagaimana ekspresinya mengantar Hudzai dan Alisya ke depan. Hingga tiba teras, Syila dan Zean yang merupakan orangtua kandung Hudzai saling pandang tatkala melihat wanita dengan pakaian syar'i itu berada di belakangnya.

"Ayo, Sayang ... pamit dulu sama Papa dan Mamamu."

Sesuai arahan, mereka pamit layaknya anak yang hendak bepergian. Tapi memang tidak begitu jelas kemana tujuannya, hanya pamit pergi dan kedua orang tuanya juga iya-iya saja.

"Pakai helm-nya ... Alisya roknya perhatiin." Dari kejauhan, Umi Zalina tetap berusaha mengingatkan.

"Iya, Umi ...."

"Hudzai hati-hati!!"

"Iyaaaa ... Pergi dulu, Assalamualaikum!!"

"Waalaikummussalam, pegangan, Sya."

Hingga Alisya dan Hudzai meninggalkan pekarangan rumahnya, wanita itu terus melambaikan tangan. Ada kebahagiaan tersendiri melihat Hudzai tidak menolak, dan Alisya juga tidak terbelenggu dalam nestapa.

"Mereka mau kemana, Sayang?"

Jika tadi hanya ada Zean dan sang istri, kini sudah ada Sean turut bergabung dan sama-sama bingung apa tujuan Zalina.

"Anterin mukena sama Pak Bitoh."

"Loh bukannya tugas Habil?"

"Kali ini Hudzai ... sekalian biar lengket sama istrinya," balas Umi Zalina yang kemudian membuat mereka kompak menganggukkan kepala.

"Bisa saja istriku, seperti kita dulu ya?"

"Iya, Mas, kita dulu kan begitu."

Keduanya kembali bernostalgia masa awal menikah. Syila dan Zean yang tak punya kenangan serupa jelas hanya menjadi pendengar karena tidak mengalaminya.

"Kalian dulu bagaimana memangnya?" tanya Zean penasaran, juga ada sebal sebenarnya.

"Kurang lebih seperti mereka ... tapi bedanya kita ke pasar dulu ya?"

"Iya awalnya, kamu ajak ke pasar tahu-tahu diajak ke kebon."

"Ha-ha-ha-ha."

Gelak tawa Sean menggelegar, ternyata jika diingat sekarang jadi terkesan lucu. Akan tetapi memang benar, mereka jadi lebih dekat karena kejadian itu.

"Oh, modusmu sewaktu muda begitu ternyata?"

"Bukan modus, Zean, tapi usaha."

"Halah, modus itu namanya ... menipu, iya, 'kan Sayang?" tanya Zean meminta pembenaran sang istri yang berdiri di sebelahnya.

"Tidak bisa dibilang menipu juga, setiap pria punya cara tersendiri untuk melakukan pendekatan bersama pasangannya."

Zean berdecak, sang istri tidak berada di pihaknya. "Jawab saja iya apa susahnya, Syila, kamu istriku padahal."

"Lah aneh, Syila benar, Zean ... setiap pria memang punya cara yang berbeda, tergantung perkembangan otaknya saja."

"What? Maksudmu apa?"

"Maksudku tergantung kreativitas ... kau ingat Azkara? Nah dia juga punya prinsip yang sama, kurang lebih seperti aku sewaktu muda ... memanfaatkan kesempatan tidak masalah, asal tujuannya baik rasanya sah-sah saj_"

"Wah ada apa ini? Kenapa aku disebut-sebut?"

.

.

Baru juga disebut sekali, belum tiga kali tahu-tahu sudah datang dari belakang. Tampak tidak mau ketinggalan dan khawatir mati penasaran.

"Ada apaan, Om?"

"Itu, si Hudzai."

"Iya kenapa? Pohon kurma itu bikin ulah apa gimana?"

Sean terkekeh, tak segera menjawab. "Bukan, tapi keluar sama Alisya barusan."

"Wih ada perkembangan, atas inisiatif sendiri, Om?"

"Menurutmu? Apa mungkin atas inisiatif sendiri?" tanya Sean yang spontan Azkara gelengi.

"Tidak, kita semua tahu dia cupu ... bagaimana mung_"

"Heh? Bilang apa barusan?"

Azkara terperanjat, matanya membola dan secepat mungkin menepuk bibirnya.

"Aduh, maaf, Om ... maksudnya bukan begitu."

"Lalu apa?"

"Po-polos, iyaa!! Hudzai polos, hidupnya cuma cari ilmu dan cari uang, jadi tidak mungkin punya inisiatif semacam itu ... sekarang coba tebak, selama di motor pasti jarak duduk mereka segini," ucap Azkara sengaja merentangkan tangan demi membayangkan jarak antara Hudzai dan Alisya di atas motor.

"Tidak sampai satu meter juga, Ka, hiperbola," celetuk Abi Sean menggeleng pelan.

"Tahu nih, Azka kebiasaan ... kalau jaraknya sampai segitu Alisya duduk dimananya?"

"Astaghfirullah ini hanya istilah, Om. Maksudku begini, kan sejauh yang kita ketahui sedari dulu Hudzai itu anti perempuan! Sewaktu awal kuliah mungkin masih bersedia, tapi Om lihat ketika dewasa, apa ada dia bawa gebetan or someone special? Tidak 'kan? Coba kita hitung berapa gadis yang pernah duduk di motornya?"

Semua tampak berpikir, Zean yang selalu membanggakan Hudzai agak tutup mata di bagian ini dan berlagak menghitung dengan sepuluh jarinya.

"Satu!!"

Satu jawabannya, tapi memperlihatkan tujuh jari. Tidak ada yang menganggap hal itu sebagai masalah, tapi mereka kompak berpikir positif, mungkin enamnya kunti.

"Nah iya, satu kan? Si Flora, dan itu juga sahabat katanya."

Zean mengangguk pelan, benar adanya memang begitu. Hendak membela diri juga percuma, memang fakta putranya yang satu itu cupu.

"Iyaa, kalian benar ... Dia cupu, menyesal aku hanya fokus tentang akademik karena ternyata ilmu tentang menaklukan wanita masih nol besar," pungkas Zean sebelum berlalu pergi meninggalkan tempat itu yang kemudian Syila ikuti.

"Ck, kau ini ... lihat Zean jadi sedih."

"Aku hanya bicara fakta, Om, memang benar 'kan? Hudzai tu cupu ... aku bahkan tidak yakin dia berani meminta istrinya buka cadar, apalagi minta yang lebih dari itu."

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Rika Andesla

Rika Andesla

certa orang tuanya judul nya apa y?

2025-02-10

0

Wiwien

Wiwien

anak orang kaya nih alisa, mungkin supaya aman jika dipanti dari orang2 yg ingin berbuat jahat

2024-11-08

1

Mom's Virdho

Mom's Virdho

si hudzai di remehin ni😅😅

2024-11-04

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Perempuan Hina
2 BAB 02 - Seserius Ini?
3 BAB 03 - Hanya Sementara
4 BAB 04 - Sejatinya Perempuan
5 BAB 05 - Sweet Dreame
6 BAB 06 - Ujian Subuh
7 BAB 07 - Imamnya Pengantin
8 BAB 08 - Istri, Bukan Adik.
9 BAB 09 - Dia Tanggung Jawabku
10 BAB 10 - Dia Memang Tanggung Jawabmu
11 BAB 11 - Ajak Alisya
12 BAB 12 - Dia Cupu
13 BAB 13 - Hudzai Yang Sebenarnya
14 BAB 14 - Masya Allah, Suamiku
15 BAB 15 - Bukan Bayangan
16 BAB 16 - Sakit?
17 BAB 17 - Vitamin C
18 BAB 18 - Hudzai Tepar?
19 BAB 19 - Anak Manja ~ Om Sean
20 BAB 20 - Kurang Dewasa?
21 BAB 21 - Harus Ada Action-Nya
22 BAB 22 - Tidak Ada Yang Gratis.
23 BAB 23 - Merusak Suasana
24 BAB 24 - Berdua Dengannya - Hudzai
25 BAB 25 - Sanggup, Om!!
26 BAB 26 - Dia Benar Hudzai? - Alisya
27 BAB 27 - Bikin Anak - Hudzai
28 BAB 28 - Bukan Suami Pengganti
29 BAB 29 - Mana Darahnya?
30 BAB 30 - Siapa Yang Mendahuluiku? - Hudzai
31 BAB 31 - Hancur Sebenarnya
32 BAB 32 - Abimanyu Tahu?
33 BAB 33 - Serangan Fajar
34 BAB 34 - Kewajiban
35 BAB 35 - Welcome, Hudzaifah.
36 BAB 36 - Why Not?
37 BAB 37 - Bekas
38 BAB 38 - Rahasiakan - Abimanyu
39 BAB 39 - Pantas Mati
40 BAB 40 - Dia Milikmu
41 BAB 41 - Jangan Sentuh Aku
42 BAB 42 - Aku Sudah Menikah
43 BAB 43 - Kamulah Obatnya
44 BAB 44 - Bisikan Rayuan
45 BAB 45 - Anak Baik
46 BAB 46 - Kepo!!
47 BAB 47 - I Love You
48 BAB 48 - I Love You Too
49 BAB 49 - Gengsi!!
50 BAB 50 - Cinta Tidak Mengenal Terima Kasih
51 BAB 51 - Hanya Sahabat, Tidak Lebih - Hudzai
52 BAB 52 - Cinta Tidak Harus Memiliki
53 BAB 53 - Tidak Etis
54 BAB 54 - Suamimu Memang Manja
55 BAB 55 - Mantan Calon Suamimu Lebih Manja
56 BAB 56 - Jangan Rusak Dongengnya
57 BAB 57 - Keras Kepala
58 BAB 58 - Minta Maaf Pada Istriku!!
59 BAB 59 - Apa Mungkin Dia?
60 BAB 60 - Bukan Sarapan Biasa
61 BAB 61 - Satu Jam Sebelum Kejadian.
62 BAB 62 - Tidak Perlu Berandai-Andai
63 BAB 63 - Tidak Ilfeel?
64 BAB 64 - Titik Terang
65 BAB 65 - Until Jannah
66 BAB 66 - Lupakan - Alisya
67 BAB 67 - Jadi Benar Kamu?
68 BAB 68 - Amit-Amit
69 BAB 69 - Aku Tahu
70 BAB 70 - Hukum Aku Dengan Cara Apapun
71 BAB 71 - Ampas Semua
72 BAB 72 - Terserah Kamu
73 BAB 73 - Sayang Ceritainya?
74 BAB 74 - Kamu Sudah Punya Suami
75 BAB 75 - Berbahagialah
76 BAB 76 - Dongengnya, Bukan Dongeng Kita.
77 BAB 77 - It's My Dream
78 BAB 78 - Nenek Peyot
79 BAB 79 - Ngelunjak ~
80 BAB 80 - Jaga Sikapmu
81 BAB 81 - Aku Mengalah
82 BAB 82 - Tidak Tahan Lagi
83 BAB 83 - Impian Sejak Dulu
84 BAB 84 - Impossible
85 BAB 85 - Semirip Itu
86 BAB 86 - PR
87 BAB 87 - Dinner Romantis
88 BAB 88 - Jailangkung
89 BAB 89 - Mereka Mirip
90 BAB 90 - Bukan Anaknya, Titik.
91 BAB 91 - Kamu Ingin Bertemu?
92 BAB 92 - Pasung Saja
93 BAB 93 - Sambilan Bulan Madu?
94 BAB 94 - Mertua?
95 BAB 95 - Jatuh Cinta
96 BAB 96 - Dekapan Erat yang Pertama.
97 BAB 97 - Sedikit Tentang Chandrika
98 BAB 98 - Bilik Masa Lalu
99 BAB 99 - Sakit Apa?
100 BAB 100 - Bukan Pertanyaan
101 BAB 101 - 100°C
102 BAB 102 - Masih Dendam
103 BAB 103 - Dia Dewasa
104 BAB 104 - Dia Istriku
105 BAB 105 - Terasa Mustahil
106 BAB 106 - Terlalu Percaya Diri
107 BAB 107 - Mama Gila?
108 BAB 108 - Sebaik-baiknya Pelindung.
109 BAB 109 - Dilarang Pamer
110 BAB 110 - Minta Kejelasan
111 BAB 111 - Licik Sekali
112 BAB 112 - Tulus Cinta Seorang Papa
113 BAB 113 - Harus Jodoh
114 BAB 114 - Dia Bukan Anak Pungut!!
115 BAB 115 - Kamu?
116 BAB 116 - Wajah Yang Dirindukan
117 BAB 117 - Lama Tidak Bertemu, Chandrika.
118 BAB 118 - Menebus 25 Tahun yang Terbuang
119 BAB 119 - Semua Demi Kamu
120 BAB 120 - Tunggu Dudaku
121 BAB 121 - Berdebar Hebat
122 BAB 122 - Dikejar Mertua
123 BAB 123 - Terima Kasih, Abimanyu
124 BAB 124 - Cemburumu Merepotkan
125 BAB 125 - Cemburumu Merepotkan Part 2
126 BAB 126 - Musuh Dalam Selimut
127 BAB 127 - Hancur (Sendirian)
128 BAB 128 - Tidak Ingin Mengulang (Kedua Kalinya)
129 BAB 129 - Ngidam?
130 BAB 130 - Demi Bahagianya ~ Hudzai
131 BAB 131 - Hampir Expired
132 BAB 132 - Papaku Berhak Bahagia
133 BAB 133 - Menantu Durjana
134 BAB 134 - 100% Cocok
135 Promo Karya - Pengasuh Bayi Profesor (Unchihah Sanskeh)
136 BAB 135 - Sama Saja
137 BAB 136 - Kamu Tidak Sendiri
138 BAB 137 - Ide Calon Menantu
139 BAB 138 - Abi Ingin Bicara
140 BAB 139 - Bukan Sembarang Ember
141 BAB 140 - Anak Manisku
142 BAB 141 - Menyambut Kedatangan Mertua
143 BAB 142 - Gagal Keren
144 BAB 143 - Menantu Idaman Sebenarnya
145 BAB 144 - Kompak
146 BAB 145 - Nikmati Seumur Hidupmu
147 BAB 146 - Jomblo Memang Rentan
148 BAB 147 - Pakmil Baperan
149 BAB 148 - Aku Yang Adik Kandungmu
150 BAB 149 - Godaan Pasutri Baru
151 BAB 150 - Merasa Bersalah
152 BAB 151 - Gagal Jadi Kakak?
153 BAB 152 - Ngambek Sampai Tahun Depan
154 BAB 153 - Selesaikan Secara Jantan
155 BAB 154 - Diam dan Dinginnya Bahaya.
156 BAB 155 - Tips dari Mertua
157 BAB 156 - Tipsnya Yahut
158 BAB 157 - I Love You, Hudzaifah Malik Abraham - Tamat
159 Bonus Chapter 01
160 Bonus Chapter 02
161 Bonus Chapter 03
162 Bonus Chapter 04
163 Bonus Chapter 05
164 Bonus Chapter 06
165 Bonus Chapter 07
166 Bonus Chapter 08
167 Bonus Chapter 09
168 Bonus Chapter 10
169 Bonus Chapter 11
170 Bonus Chapter 12
171 Promo Karya Baru - Jerat Cinta Pria Beristri
172 Bonus Chapter 13
173 Bonus Chapter 14
174 THE LAST BONUS CHAPTER
175 Promo Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
176 Promo Karya - Menikahi Pembantuku - Nova Afriza
Episodes

Updated 176 Episodes

1
BAB 01 - Perempuan Hina
2
BAB 02 - Seserius Ini?
3
BAB 03 - Hanya Sementara
4
BAB 04 - Sejatinya Perempuan
5
BAB 05 - Sweet Dreame
6
BAB 06 - Ujian Subuh
7
BAB 07 - Imamnya Pengantin
8
BAB 08 - Istri, Bukan Adik.
9
BAB 09 - Dia Tanggung Jawabku
10
BAB 10 - Dia Memang Tanggung Jawabmu
11
BAB 11 - Ajak Alisya
12
BAB 12 - Dia Cupu
13
BAB 13 - Hudzai Yang Sebenarnya
14
BAB 14 - Masya Allah, Suamiku
15
BAB 15 - Bukan Bayangan
16
BAB 16 - Sakit?
17
BAB 17 - Vitamin C
18
BAB 18 - Hudzai Tepar?
19
BAB 19 - Anak Manja ~ Om Sean
20
BAB 20 - Kurang Dewasa?
21
BAB 21 - Harus Ada Action-Nya
22
BAB 22 - Tidak Ada Yang Gratis.
23
BAB 23 - Merusak Suasana
24
BAB 24 - Berdua Dengannya - Hudzai
25
BAB 25 - Sanggup, Om!!
26
BAB 26 - Dia Benar Hudzai? - Alisya
27
BAB 27 - Bikin Anak - Hudzai
28
BAB 28 - Bukan Suami Pengganti
29
BAB 29 - Mana Darahnya?
30
BAB 30 - Siapa Yang Mendahuluiku? - Hudzai
31
BAB 31 - Hancur Sebenarnya
32
BAB 32 - Abimanyu Tahu?
33
BAB 33 - Serangan Fajar
34
BAB 34 - Kewajiban
35
BAB 35 - Welcome, Hudzaifah.
36
BAB 36 - Why Not?
37
BAB 37 - Bekas
38
BAB 38 - Rahasiakan - Abimanyu
39
BAB 39 - Pantas Mati
40
BAB 40 - Dia Milikmu
41
BAB 41 - Jangan Sentuh Aku
42
BAB 42 - Aku Sudah Menikah
43
BAB 43 - Kamulah Obatnya
44
BAB 44 - Bisikan Rayuan
45
BAB 45 - Anak Baik
46
BAB 46 - Kepo!!
47
BAB 47 - I Love You
48
BAB 48 - I Love You Too
49
BAB 49 - Gengsi!!
50
BAB 50 - Cinta Tidak Mengenal Terima Kasih
51
BAB 51 - Hanya Sahabat, Tidak Lebih - Hudzai
52
BAB 52 - Cinta Tidak Harus Memiliki
53
BAB 53 - Tidak Etis
54
BAB 54 - Suamimu Memang Manja
55
BAB 55 - Mantan Calon Suamimu Lebih Manja
56
BAB 56 - Jangan Rusak Dongengnya
57
BAB 57 - Keras Kepala
58
BAB 58 - Minta Maaf Pada Istriku!!
59
BAB 59 - Apa Mungkin Dia?
60
BAB 60 - Bukan Sarapan Biasa
61
BAB 61 - Satu Jam Sebelum Kejadian.
62
BAB 62 - Tidak Perlu Berandai-Andai
63
BAB 63 - Tidak Ilfeel?
64
BAB 64 - Titik Terang
65
BAB 65 - Until Jannah
66
BAB 66 - Lupakan - Alisya
67
BAB 67 - Jadi Benar Kamu?
68
BAB 68 - Amit-Amit
69
BAB 69 - Aku Tahu
70
BAB 70 - Hukum Aku Dengan Cara Apapun
71
BAB 71 - Ampas Semua
72
BAB 72 - Terserah Kamu
73
BAB 73 - Sayang Ceritainya?
74
BAB 74 - Kamu Sudah Punya Suami
75
BAB 75 - Berbahagialah
76
BAB 76 - Dongengnya, Bukan Dongeng Kita.
77
BAB 77 - It's My Dream
78
BAB 78 - Nenek Peyot
79
BAB 79 - Ngelunjak ~
80
BAB 80 - Jaga Sikapmu
81
BAB 81 - Aku Mengalah
82
BAB 82 - Tidak Tahan Lagi
83
BAB 83 - Impian Sejak Dulu
84
BAB 84 - Impossible
85
BAB 85 - Semirip Itu
86
BAB 86 - PR
87
BAB 87 - Dinner Romantis
88
BAB 88 - Jailangkung
89
BAB 89 - Mereka Mirip
90
BAB 90 - Bukan Anaknya, Titik.
91
BAB 91 - Kamu Ingin Bertemu?
92
BAB 92 - Pasung Saja
93
BAB 93 - Sambilan Bulan Madu?
94
BAB 94 - Mertua?
95
BAB 95 - Jatuh Cinta
96
BAB 96 - Dekapan Erat yang Pertama.
97
BAB 97 - Sedikit Tentang Chandrika
98
BAB 98 - Bilik Masa Lalu
99
BAB 99 - Sakit Apa?
100
BAB 100 - Bukan Pertanyaan
101
BAB 101 - 100°C
102
BAB 102 - Masih Dendam
103
BAB 103 - Dia Dewasa
104
BAB 104 - Dia Istriku
105
BAB 105 - Terasa Mustahil
106
BAB 106 - Terlalu Percaya Diri
107
BAB 107 - Mama Gila?
108
BAB 108 - Sebaik-baiknya Pelindung.
109
BAB 109 - Dilarang Pamer
110
BAB 110 - Minta Kejelasan
111
BAB 111 - Licik Sekali
112
BAB 112 - Tulus Cinta Seorang Papa
113
BAB 113 - Harus Jodoh
114
BAB 114 - Dia Bukan Anak Pungut!!
115
BAB 115 - Kamu?
116
BAB 116 - Wajah Yang Dirindukan
117
BAB 117 - Lama Tidak Bertemu, Chandrika.
118
BAB 118 - Menebus 25 Tahun yang Terbuang
119
BAB 119 - Semua Demi Kamu
120
BAB 120 - Tunggu Dudaku
121
BAB 121 - Berdebar Hebat
122
BAB 122 - Dikejar Mertua
123
BAB 123 - Terima Kasih, Abimanyu
124
BAB 124 - Cemburumu Merepotkan
125
BAB 125 - Cemburumu Merepotkan Part 2
126
BAB 126 - Musuh Dalam Selimut
127
BAB 127 - Hancur (Sendirian)
128
BAB 128 - Tidak Ingin Mengulang (Kedua Kalinya)
129
BAB 129 - Ngidam?
130
BAB 130 - Demi Bahagianya ~ Hudzai
131
BAB 131 - Hampir Expired
132
BAB 132 - Papaku Berhak Bahagia
133
BAB 133 - Menantu Durjana
134
BAB 134 - 100% Cocok
135
Promo Karya - Pengasuh Bayi Profesor (Unchihah Sanskeh)
136
BAB 135 - Sama Saja
137
BAB 136 - Kamu Tidak Sendiri
138
BAB 137 - Ide Calon Menantu
139
BAB 138 - Abi Ingin Bicara
140
BAB 139 - Bukan Sembarang Ember
141
BAB 140 - Anak Manisku
142
BAB 141 - Menyambut Kedatangan Mertua
143
BAB 142 - Gagal Keren
144
BAB 143 - Menantu Idaman Sebenarnya
145
BAB 144 - Kompak
146
BAB 145 - Nikmati Seumur Hidupmu
147
BAB 146 - Jomblo Memang Rentan
148
BAB 147 - Pakmil Baperan
149
BAB 148 - Aku Yang Adik Kandungmu
150
BAB 149 - Godaan Pasutri Baru
151
BAB 150 - Merasa Bersalah
152
BAB 151 - Gagal Jadi Kakak?
153
BAB 152 - Ngambek Sampai Tahun Depan
154
BAB 153 - Selesaikan Secara Jantan
155
BAB 154 - Diam dan Dinginnya Bahaya.
156
BAB 155 - Tips dari Mertua
157
BAB 156 - Tipsnya Yahut
158
BAB 157 - I Love You, Hudzaifah Malik Abraham - Tamat
159
Bonus Chapter 01
160
Bonus Chapter 02
161
Bonus Chapter 03
162
Bonus Chapter 04
163
Bonus Chapter 05
164
Bonus Chapter 06
165
Bonus Chapter 07
166
Bonus Chapter 08
167
Bonus Chapter 09
168
Bonus Chapter 10
169
Bonus Chapter 11
170
Bonus Chapter 12
171
Promo Karya Baru - Jerat Cinta Pria Beristri
172
Bonus Chapter 13
173
Bonus Chapter 14
174
THE LAST BONUS CHAPTER
175
Promo Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
176
Promo Karya - Menikahi Pembantuku - Nova Afriza

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!