Setelah selesai melakukan pemotretan Reina duduk disebuah kursi sambil memijat betisnya yang terasa pegal, efek memakai high heels tiba-tiba aroma maskulin menyeruak masuk tercium indera penciumannya. Kemudian sepasang kaki memakai sepatu hitam mengkilap yang mahal berdiri tepat di hadapannya. Ketika Reina meluruskan tubuhnya dan mendongak kepalanya menatap pria yang berdiri di hadapannya. Ia segera menemukan sepasang mata tengah menatapnya dengan tajam, benar saja wajah dingin dan tampan itu jelas saja milik Jeffir Jefferson.
Reina terbelalak kaget setelah mengetahui pria yang berdiri di hadapannya, dan dengan gagap dia berbicara. "Tu-tuan?"
"Ikut aku!" Jeffir mencengkram pergelangan tangan Reina dan membawanya melangkah keluar dari ruangan rias itu.
Mau tidak mau Reina mengikuti langkah pria itu, dan menahan lengannya segera berhenti setelah sadar dia masih menggunakan pakaian rancangan Keyra yang sedang dalam pemasaran itu. Lantaran, dia tahu pakaian itu bukanlah miliknya.
"Tuan tunggu, aku harus berganti pakaian dulu," ucap Reina memohon.
Namun, tanpa menghiraukan Reina, Jeffir kembali menarik tangannya dan berjalan, Reina masih berusaha melepaskan pergelangan tangannya meskipun usahanya itu hanya sia-sia.
Keyra yang baru saja memasuki ruang rias, berniat ingin mengganti pakaian Reina, namun dia mengurungkan niatnya. Lantaran, mengingat sifat sepupunya dia hanya melihat kepergian Jeffir yang membawa Reina.
"Astaga Jeffir?!" Keyra tampak khawatir melihat Reina dibawa oleh Jeffir, lantaran wajah Jeffir terlihat murka.
"Huh, maafkan aku Reina," Keyra menarik nafasnya berat.
Jeffir langsung membawa Reina menuju parkir mobil, setelah sampai di parkiran dia membentak Reina agar masuk ke dalam mobilnya.
"Cepat masuk!" bentak Jeffir membuat bulu kuduk Reina meremang, dia tahu saat ini Jeffir marah padanya namun entah kesalahan apa yang dia lakukan sehingga Jeffir semarah ini padanya.
"Ba-baik tuan," gagapnya, tentu saja Reina langsung duduk di kursi mobil itu yang sejajar dengan kursi kemudi.
Mobil sport melaju dengan sangat kencang di jalanan sore itu, jalanan itu masih terlihat lenggang belum terlalu banyak kendaraan.
Dalam mobil mewah itu Reina tidak bisa duduk dengan tenang, dan terus menurunkan pakaiannya untuk menutupi paha putih mulusnya. Sementara, mata Jeffir terus melirik arah itu membuat Reina semakin tidak nyaman dan kali ini dia mendapat firasat buruk.
Ketika Reina menggunakan pakaian sehari-hari di mata Jeffir pesona Reina hanya lima puluh persen, tapi ketika memakai pakaian branded pesona itu naik seratus persen dua kali lipat dari biasanya. Membuat sesuatu yang berada di bawah sana merasa terbakar, Jeffir benar-benar berada di batas di mana dia sudah tidak bisa menahannya.
Dengan cepat Jeffir membanting setirnya ke gang sepi yang berada disekitar sana, dan mobil itu pun berhenti di tempat yang sepi.
Menyadari mobil itu berhenti terlebih di tempat sepi, Reina mengitarkan pandangan ke sekeliling lalu tatapannya jatuh pada pria iblis itu.
"Kenapa... kita berhenti di tempat ini?" tanya Reina ragu.
Bukannya menjawab, Jeffir malah mengulurkan tangannya meraih tuas di samping jok yang Reina duduki lalu mendorongnya hingga posisi tertidur, dan Reina yang tidak tahu menahu segera berbaring dengan rasa kaget.
"A--apa yang mau kau lakukan?" tanya Reina dengan rasa takut. Belum reda rasa kagetnya kini dia sudah melihat Jeffir duduk di atasnya, Reina mencoba meronta namun Jeffir telah mengunci pergerakannya.
"Tolong aku mohon jangan...," Reina menatap Jeffir dengan nanar, tangannya mencoba mendorong namun nihil tubuh kokoh itu tetap berada di atasnya.
Jeffir mencengkram dagu Reina, dan meraih bibir merah merekah seperti bunga mawar itu, dan merasakan nikmatnya daging kenyal itu.
"Mphhh!" Reina memalingkan wajahnya, membuat Jeffir semakin senang dengan perlawanan itu.
Dengan perlawanan itu, justru gairah Jeffir semakin memuncak padanya dia semakin menikmati permainan dengan Reina yang selalu membuatnya candu itu.
"Euhhh!" Reina merasakan perasaan kuat seperti menghisapnya, dia terus berusaha lepas namun Jeffir terus memancingnya.
Reina memukuli Jeffir kuat dengan tangan kecilnya, merasa pukulannya tidak berefek sama sekali pada pria itu, akhirnya Reina mencakar leher Jeffir si iblis jantan itu.
Dengan keputusasaan Reina membentak Jeffir, "Lepaskan aku!" teriak Reina marah.
Merasakan perih dilehernya Jeffir menatap tajam Reina, dia segera melepaskan dasi di lehernya, dan membuka kemeja putih yang dia kenakan lalu mendorong tubuh Reina hingga terlentang di hadapannya.
"Kau lupa dengan perjanjiannya? Apa perlu aku peringatkan lagi?" desis Jeffir dingin.
Reina diam tertegun, benar dia terikat perjanjian dengan pria angkuh di hadapannya. Menggunakan kesempatan ini ketika Reina diam tertegun, Jeffir dengan cepat mengikat tangan Reina di atas kepalanya pada sandaran kursi. Reina yang sadar kembali menarik-narik tangannya di ikatan, berharap lepas namun nihil itu hanya membuat tangannya sakit, Jeffir sudah mengikat tangannya dengan kencang.
Jeffir kembali membungkuk dan melesakkan wajahnya ke ceruk leher Reina, menikmati leher ramping dan putih mulus itu sambil menghirup aroma yang memabukkan.
Reina hanya bisa menggeliatkan tubuhnya untuk melakukan perlawanan, matanya terbelalak setelah ia semakin yakin Jeffir akan menidurinya di sini sekarang juga, di tempat umum terbuka di dalam mobil.
Mata Reina memanas dan setelahnya air mata meluncur dari matanya, ia akan merasa dipermalukan apalagi kalau sampai ada orang yang melihat perbuatan Jeffir terhadapnya di sini.
Jeffir menjilat dan menghisapnya dengan kuat sehingga tercipta tanda merah keunguan terlukis indah di leher putih mulus miliknya. Kemudian, Jeffir beralih pada bahu mulus dan putih Reina yang terekspos begitu menggoda.
Sebelum Jeffir berbuat lebih jauh padanya Reina akhirnya memohon dan terisak. "Tolong... jangan lakukan ini padaku di sini," Reina menatap Jeffir penuh harap dengan mata yang sudah basah, ia berharap Jeffir berbaik hati sedikit saja untuk melakukan itu padanya ketika sampai rumah.
Mendengar permohonan Reina Jeffir menghentikan aktivitasnya, dan balas menatap Reina dengan mata yang sudah di selimuti kabut nafsu. "Aku sudah tidak tahan kala harus menunggu sampai rumah atau mencari hotel!" ucapnya dingin.
Mendengar ucapan pria iblis itu bibir Reina bergetar, kini dia yakin pria itu benar-benar akan melakukan itu di sini, bukan hanya itu pria ini akan mempermalukannya dengan hal menjijikkan ini. Awalnya Reina ingin memohon lagi tapi ia sangat tahu kalau keputusan Jeffir selalu tidak bisa diubah bahkan ditolak jadi akan percuma sebanyak apapun dia memohon.
Jeffir dengan tergesa menyingkap rok mini itu, sementara baju bagian atas terangkat dan mengekspose tubuh putih itu, Jeffir mengabaikan itu dia hanya fokus pada sesuatu yang sudah terbakar di bagian bawahnya.
Setelah melepas semua penghalang Jeffir membuka bagian inti dibawah sana, dia langsung melakukan itu membuat Reina merintih kesakitan seperti saat pertama Jeffir melakukan itu padanya dengan paksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments