Kedua pria itu menoleh bersamaan menatap Reina, dua pria itu benar-benar menyesal telah berbicara seenaknya pada Reina, padahal mereka tahu perempuan itu bukanlah barang, yang seperti mereka katakan.
Tapi, sepertinya hanya Cristian yang merasa seperti ini, tetapi tidak bagi Jeff.
Pria iblis itu beralih pada Reina, dia mengamati perubahan yang sangat signifikan terhadap Reina tidak mau membuat perempuannya bersedih Jeffir langsung menenangkannya.
"Maksudku kau memang bukan barang, kau hanya di istilahkan seperti barang. Ya Kau memang barang berharga bagiku, tapi hanya untuk saat ini. Seperti perjanjian yang telah disepakati jika aku sudah bosan padamu maka kau akan kulepaskan!" ucapan Jeffir justru semakin membuat Reina tersinggung.
Namun, Reina hanya bisa diam dengan mulutnya yang dikatupkan.
"Terserah kau!" Reina berbalik menuju sebuah ruangan yang berada tepat dibelakang ruangan kerja presdir itu.
Sedang Jeffir beralih kembali pada Cristian, kini Jeff sudah tidak curiga pada Cristian, lebih tepatnya dia tak ingin memperpanjang masalah itu.
"Cristian, kau boleh pergi!" tapi sebelum Cristian meninggalkan ruangan itu Jeffir kembali menanyakan perkembangan kinerja Cristian dalam mencari Belinda. "Oh, ya Cristian jangan lupa kau cari terus Belinda sampai dapat!" titah Jeffir.
"Baik Tuan."
Setelah itu Cristian segera meninggalkan ruangan, dan kembali melaksanakan tugasnya mencari Belinda.
Sementara Jeffir lantas bergegas menemui Reina di ruangan pribadi, dia menatap sosok perempuan cantik yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
Ceklek!!!
Reina berbalik menoleh pada sumber suara yang mengalihkan perhatiannya, dengan bibir gemetar menandakan jika saat ini dia dalam ketakutan.
Jeffir tersenyum menyeringai melihat sosok cantik itu, dia terpukau dengan penampilan Reina setelah melakukan perawatan di salon milik sepupunya. Bahkan, Jeff tak rela mengedipkan matanya sedikitpun untuk terus menatap Reina.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Reina menundukkan kepala, lantaran malu terus di pandang oleh pria iblis itu.
"Hanya menatapmu apa tidak boleh? Lagi pula kau Istriku, kamu masih ingat isi surat perjanjian itu kan?" Jeffir berusaha memperingatkan Reina.
"Cukup! Aku masih ingat, tidak perlu kau berulang kali memperingatkan aku!" Reina tampak kesal.
"Bagus kalau kau ingat itu, mari kita lakukan sekarang!"
Perasaan takut mulai kembali menghantuinya, dia tahu Jeffir memintanya untuk melayani hasrat kelelakiannya, sialnya kali ini Reina tidak bisa mencari alasan untuk menolak keinginan suaminya itu.
Dengan bodoh dia menyetujui keinginan pria iblis itu, "Ayo kalau kau inginkan sekarang," dengar rasa takut dia mencoba memberanikan diri.
Perlahan pria datang menghampirinya, akan tetapi Reina juga beringsut mundur bahasa tubuhnya seolah menolak keinginan pria itu namun, lagi-lagi dia tidak bisa melakukan perlawanan pria kejam ini.
"Mau ke mana hem? Kau tidak perlu menghindariku Sayang ... jangan takut, mari kita lakukan perlahan," ucap Jeffir mulai menggerakkan tangannya menelusuri tubuh sintal istrinya.
"Ti--tidak!"
"Tidak apa hem? Ayolah Sayang jangan membantahku, cepat lakukan!" serunya mendorong tubuh Reina hingga jatuh di atas kasur.
"Akhhh!" pekik Reina pasrah dengan perbuatan Jeffir.
Pria itu mulai menikmati tubuh Reina, tanpa ampun dia memberikan tanda merah sebagai penanda kalau Reina adalah barang miliknya.
"Aku mohon jangan di situ, kau akan mempermalukan aku jika kau membuat tanda di leher emmm," Jeff membungkam mulut dengan bibir merah merekah itu.
Tak kuasa menahan segala rasa yang diberikan Jeffir, Reina terus mengeluarkan suara-suara lenguhan dari mulutnya.
Sedang Jeffir terus mengguncang tubuhnya, ritme permainan itu semakin dipercepat saat dia mulai menemukan kenikmatan di puncak akhir dari permainan itu.
Reina yang merasa lelah pun akhirnya tertidur pulas tanpa helaian busana, sedang Jeffir ambruk di atasnya.
***
Drttt...
Dering ponsel berbunyi mengalihkan perhatian Jeffir yang sedang mengaduk gula di secangkir teh buatannya pagi itu, saat ini dia hanya mengenakan celana pendek di padu padankan dengan kemeja berwarna putih, tapi tetap dibiarkan mengekspose perutnya yang bak roti sobek itu.
Dia meneguk secangkir teh, lalu mengambil ponselnya yang berada di meja dekat tempat tidurnya bersama Reina.
Jeffir mengerutkan keningnya setelah melihat si penelpon itu. "Keyra? Mau apa sepagi ini dia menelponku?" gumamnya lalu menerima panggilan dari sepupunya.
'Ada apa?" Begitu telepon terhubung suara dingin dengan pertanyaan to the points terdengar di telinga Keyra.
'Halo Kakak sepupuku yang tampan, apa kabar? Bagaimana pagimu hari ini menyenangkan?' Sapa Keyra di seberang sana dengan suara seceria mungkin. Bagaimana pun dia harus bisa meyakinkan Jeffir suapa mengizinkan Reina untuk jadi modelnya.
'Apa yang kau inginkan? Cepat katakan?' dari nada pujian Keyra kepadanya, Jeffir segera tahu kalau sepupunya itu memiliki maksud terselubung.
'Ah ya ampun Sepupuku ini sangat pengertian, hahaha...,' di seberang sana Keyra tertawa kegirangan padahal, Jeff belum mengetahui maksud tujuannya.
'Cepat katakan! Aku sedang sibuk!' Jeffir berdecak kesal.
Dasar gila kerja! Dalam kondisi biasa mungkin Keyra akan mengejeknya. Tapi tidak untuk sekarang karena saat ini Keyra berada dalam misi untuk membujuk Jeffir. 'Izinkan Istrimu jadi model untuk fashion produk yang akan segera aku rilis musim ini!'
'Model? Jadi, nantinya Reina akan dilihat semua Orang? Tidak-tidak!' Suara Jeffir mengeram kesal, menolak permintaan Keyra. Sambil membayangkan Reina berjalan di atas Catwalk dan di lirik pria-pria lain. 'Tidaaaaaaaak!'
Lamunannya seketika buyar saat Keyra kembali bicara di seberang sana. 'Oh ayolah... imagenya sangat tepat untuk jadi model brand ambassador JEF FASHION BEAUTY musim ini, aku mohon Jeff,' Kalau tidak dalam keadaan mendesak Keyra tak sudi membujuk sepupunya yang sedingin es di kutub itu.
Namun, Jeffir tetap menolak dia bersikukuh tidak mengizinkan Reina untuk jadi model JEF FASHION BEAUTY.
'Tidak! Jika hanya itu yang ingin kau bicarakan, aku akan menutup teleponnya!'
'Tunggu! Tunggu!' Cegah Keyra dengan panik, 'Jeff tidak kah kau berpikir kalau JEFF FASHION BEAUTY mendapatkan model yang tepat, dan tentunya akan menarik konsumen yang sangat banyak Salon kita ini akan semakin terkenal. Itu juga akan menambahkan suntikan dana masuk ke JEFF GROUP, ini akan sangat menguntungkan.'
Keyra tersenyum licik, ya sepertinya memang harus seperti ini kalau membujuk pebisnis maka bujuklah dengan keuntungan besar. 'Lagi pula sepertinya Reina sangat minat untuk jadi model, ini juga akan membantunya dalam berkarir. Wah kalian akan sangat pas sebagai pasangan saling melengkapi, kau pebisnis handal sementara Reina adalah model terkenal,' Keyra membubuhkan sedikit kebohongan agar Jeffir setuju dengan permintaannya.
Untuk sejenak Jeffir terdiam tidak ada suara, sedang otaknya berpikir antara mengijinkan dan tidaknya sang istri jadi model untuk perusahaan salonnya.
'Em... Baiklah aku izinkan. Tapi, tidak ada photo shoot yang aneh-aneh!'
'Tidak akan, kau bisa mengawasinya jika kau tak percaya padaku! Terima kasih sepupuku yang baik hati aku akan menemui Reina sekarang!' Keyra memberikan pujiannya pada Jeffir.
Dia segera mengakhiri teleponnya, dan betapa gembiranya dia saat ini setelah mendapatkan izin dari sepupunya itu. Keyra lantas bergegas untuk menemui Reina, baginya perihal membujuk perempuan itu adalah pekerjaan yang mudah, tapi apakah Reina akan mau menjadi model?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments