Yumna berjalan pelan, ia melihat mobil di sampingnya terus berjalan dengan pelan. Kevin tersenyum dan terus mengajak Yumna untuk pulang bersama.
Berkali-kali Yumna menolak, tapi pria itu sama sekali tidak peduli. Ia seakan pantang menyerah dalam melakukan hal itu.
"Ayolah, ku antar kau pulang.." Ucap Kevin dengan senyuman di wajahnya.
Yumna kembali menggelengkan kepalanya, ia menolak dengan tegas. Lalu Kevin langsung memarkirkan mobilnya di depan Yumna, pria itu segera turun dan langsung menghampiri Yumna.
"Bukankah lebih baik ku antar kau pulang?Hari sudah mau malam." Ucap Kevin dengan senyuman di wajahnya.
Yumna menatap pemuda di depannya, "Dasar buaya darat." Pikir Yumna kesal.
"Tidak usah, rumah ku dekat. Dan jika kau tidak menggangu ku dari tadi, mungkin sekarang aku sudah sampai di rumah." Ucap Yumna dengan senyuman manis di wajahnya.
Kata-kata Yumna terdengar sangat halus, namun langsung menusuk ke hati Kevin. Seakan wanita itu tengah mengatakan jika ialah penghambat perjalanan pulangnya.
"Jadi saya pulang dulu." Ucap Yumna seraya berjalan pergi.
Tapi Kevin langsung memegang tangan Yumna, membuat wanita itu terkejut dan langsung melihat ke arah Kevin.
"Bagaimana jika aku meminta nomor telepon mu?" Tanya Kevin dengan senyuman di wajahnya.
Yumna terdiam sejenak, "Entahlah, aku tidak ada niatan untuk menambah teman kontak." Jawab Yumna seraya melepaskan tangannya dari Kevin.
Wanita itu lalu berjalan dengan cepat, meninggalkan Kevin sendirian dengan tatapan mata yang aneh.
Kevin menyandarkan punggungnya di mobil miliknya, ia tertawa seraya mengingat penolakan Yumna secara terang-terangan kepadanya. Bahkan bukan satu kali, wanita itu berkali-kali menolak ajakannya.
Melihat wanita cantik yang sulit di dapatkan, membuat rasa ingin tahu dan keinginan untuk memiliki di hati Kevin semakin meluap-luap.
....
Raymond duduk terdiam di depan layar laptop miliknya, sudah beberapa Minggu ia di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
Roni datang ke ruang kerja Raymond dengan membawa secangkir kopi yang di pesan oleh Raymond.
"Emm.." Jawab Raymond, pria itu masih fokus pada layar laptop miliknya.
Roni terdiam, ia melihat Tuannya tengah fokus pada layar laptop. Hingga tak beberapa lama Raymond menutup layar laptop miliknya.
"Ini sudah 1 bulan, apa Yumna menanyakan kabar ku?" Tanya Raymond, ia sengaja melakukan hal itu agar ia ingin jika Yumna yang lebih dulu mencari dirinya.
Dengan senyuman canggung Roni menggelengkan kepalanya, melihat jawaban Roni. Raymond tersenyum mengejek, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
"Apa kau serius? Dia tidak ada mencari ku?" Tanya Raymond dengan tatapan kesal.
"Iya Pak, saya serius." Ucap Roni.
Brak...
Raymond menggebrak meja dengan keras, ia tidak suka dengan jawaban yang di lontarkan oleh Roni.
Pria itu lalu berdiri dan berjalan keluar, tapi di saat ia hendak pergi. Anak buahnya langsung datang dengan wajah yang panik, mata Raymond menatap tajam pria di depannya.
"Ada apa?" Tanya Raymond.
"Ada urusan yang mendesak, Nyonya besar. Dia marah-marah di rumah dan menginginkan anda dengan Nyonya Yumna untuk segera datang ke rumah." Jelasnya.
Mendengar hal itu Raymond sama sekali tidak peduli, ini bukan pertama kalinya wanita itu bersikap seperti ini.
"Roni, aku ingin ke club malam. Siapkan semuanya dengan benar." Ucap Raymond seraya berjalan pergi.
Roni langsung menyiapkan apa yang di inginkan oleh Raymond.
Terdengar suara musik yang nampak nyaring, beberapa wanita penari tiang nampak tengah menari dan memamerkan lekuk tubuh mereka di depan Raymond.
Pria itu hanya diam dan tidak bicara, ia menikmati alkohol di depannya. Tanpa ragu meneguknya sampai habis, "Bagaimana jika Yumna yang menari seperti ini, dia pasti sangat menggoda.." Gumam Raymond dengan senyuman di wajahnya.
Hingga seorang wanita penari tiang dengan pakaian yang hanya menutupi dua bagian intim tubuhnya berjalan mendekati Raymond, ia tersenyum dan terus menari memamerkan lekuk tubuhnya yang indah.
Raymond hanya tersenyum, tapi pria itu sama sekali tidak tertarik. Saat wanita itu ingin duduk di samping Raymond, pria itu dengan tegas menolak hal itu.
Melihat respon Raymond, wanita penari tiang pun langsung sedikit kesal. Hingga datang seorang wanita yang lebih cantik, ia menari dengan tatapan penuh pesona. Tariannya yang lincah dan lembut membuat mata Raymond terus melihat wanita itu.
Wanita itu tersenyum tipis, ia berjalan dengan tubuh dan tangan yang masih menunjukkan keindahan tariannya.
"Siapa namamu?" Tanya Raymond meminta wanita itu untuk duduk di pahanya.
Wanita itu tersenyum tipis, "Mona.." Jawabnya seraya duduk di paha Raymond, wanita itu membelai wajah Raymond membuat pria itu tersenyum seakan mengagumi kecantikan Mona.
Hingga tatapan Mona menatap Raymond, tapi sedetik kemudian Mona terkejut saat tangan Raymond memegang sesuatu yang ada di tangannya.
"Apa kau pikir, kau bisa membunuh ku. Hanya dengan cara seperti ini?" Bisik Raymond dengan senyuman di wajahnya.
Ia memegang sebuah pisau yang tengah di pegang oleh Mona, wanita itu menatap terkejut ke arah Raymond.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Leng Loy
Kok penarinya bawa pisau
2024-09-21
0
Cicih Sophiana
aneh penari kok bawa pisau
2024-08-05
0
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-05-14
0