Hari itu, Rani pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Rasa lelah akibat pekerjaan kantornya berbaur dengan kekesalan yang memuncak melihat kondisi rumah yang sangat berantakan. Budi seperti biasa hanya berdiam diri di depan televisi, tampak asyik menonton acara lawak favoritnya tanpa mempedulikan keadaan sekitar.
"Budi! Kenapa rumah masih berantakan begini? Kau dari tadi ngapain saja?" bentak Rani begitu memasuki ruang keluarga.
Budi hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar televisi. "Ah iya, nanti juga diberesin," jawabnya dengan nada masa bodoh.
Rani menghela napas panjang. Sudah berapa kali ia mengingatkan Budi untuk membantunya mengurus rumah? Namun sepertinya kata-katanya hanya dianggap angin lalu saja.
Kemarahan Rani pun memuncak. Ia merasa benar-benar sudah sampai pada batasnya. Selain harus bekerja keras di kantor, ia juga harus mengurus semua pekerjaan rumah tangga seorang diri.
"Dengar ya Budi! Aku capek terus-terusan yang jadi tulang punggung keluarga! Apa gunanya punya suami kalau cuma jadi beban saja? Kalau keadaannya terus begini, lebih baik kita pisah saja!" teriak Rani dengan air mata berlinang.
Budi akhirnya tersadar dan menatap istrinya dengan pandangan terkejut. Ancaman perceraian dari Rani benar-benar membuatnya syok...
Budi terdiam, tampak terkejut mendengar ancaman perceraian yang diucapkan Rani. Selama ini ia tidak pernah menyangka bahwa sikap malasnya telah membuat istrinya sampai semarah ini.
"Rani... kamu serius mau pisah dari aku?" Budi akhirnya bersuara dengan nada gemetar.
Rani menghapus air matanya dengan kasar. "Aku sudah capek Bud, capek banget ngadep sikapmu yang nggak pernah berubah! Aku kerja dari pagi sampai malam buat nafkahi keluarga, sedangkan kamu? Cuma nonton TV dan ngemil seharian!"
"Maafin aku Ran... aku janji akan berubah, sungguh!" Budi memohon dengan wajah memelas. "Aku akan cari kerja dan bantu kamu ngurus rumah. Tapi jangan tinggalin aku..."
Rani mendengus kesal. Sudah berapa kali ia mendengar janji manis yang sama? Namun kenyataannya, Budi tidak pernah benar-benar berubah.
"Buktikan dulu dengan tindakan, bukan cuma janji!" tandas Rani. "Kalau nggak ada perubahan dalam 3 bulan ke depan, kita benar-benar harus pisah!"
Rani lalu beranjak ke kamar tidur dengan langkah menghentak. Budi tertunduk lesu, dilingkupi rasa bersalah yang mendalam. Kesadarannya telah terguncang, ia harus segera bertindak sebelum terlambat dan kehilangan istrinya untuk selamanya.
Budi tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Ancaman perceraian dari Rani terus terngiang di kepalanya. Selama ini ia memang tidak pernah mempedulikan bagaimana perjuangan istrinya untuk menghidupi keluarga mereka. Budi merasa sangat bodoh dan egois dengan sikap kemalasannya.
Keesokan harinya, Budi bangun pagi-pagi sekali sebelum Rani berangkat kerja. Ia memberanikan diri untuk memeluk istrinya itu.
"Rani, sekali lagi aku minta maaf ya. Aku berjanji akan berubah mulai hari ini," kata Budi dengan nada sungguh-sungguh.
Rani melepaskan pelukan Budi dan menatapnya dengan pandangan menyelidik. "Janji saja tidak cukup, Bud. Kau harus buktikan dengan tindakan nyata!"
"Iya, aku akan buktikan ke kamu. Pegang janji ku kali ini," Budi mengangguk mantap. "Hari ini aku akan keliling mencari pekerjaan. Aku nggak mau jadi suami pemalas lagi."
Melihat kesungguhan di wajah Budi, Rani sedikit merasa lega. Mungkin kali ini akan benar-benar terjadi perubahan. Ia lalu berangkat ke kantor dengan sedikit harapan di hatinya.
Sementara itu, Budi merapikan rumah sejenak sebelum bersiap-siap untuk mencari pekerjaan. Ia bertekad untuk mendapatkan penghasilan dan membuktikan dirinya layak menjadi kepala keluarga yang sesungguhnya. Perubahan harus dimulai dari dirinya sendiri, sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Setelah merapikan rumah seadanya, Budi pun bergegas untuk memulai pencariannya akan pekerjaan. Ia mengenakan pakaian rapi dan mengambil beberapa lembar curriculum vitae yang telah lama tersimpan di lacinya.
Sepanjang hari itu, Budi berkeliling kota sambil melamar ke berbagai perusahaan dan toko. Beberapa kali ia ditolak bahkan tanpa diwawancara lebih lanjut karena minimnya pengalaman kerja yang ia miliki. Namun Budi tidak patah semangat, ia tetap bersikukuh melanjutkan pencariannya.
Hingga petang tiba, langkah kaki Budi terasa sangat pegal. Namun setidaknya ada secercah harapan ketika seorang pemilik bengkel mobil kecil bersedia mewawancarainya untuk posisi mekanik. Budi berusaha menjawab sebaik mungkin meskipun tidak memiliki pengalaman di bidang itu.
"Baiklah Pak Budi, saya akan pertimbangkan lamaran Bapak. Nanti saya hubungi lagi jika diterima," ujar sang pemilik bengkel mengakhiri sesi wawancara.
Budi mengangguk penuh semangat. "Terima kasih Pak atas kesempatannya. Saya mohon diberikan kesempatan untuk membuktikan diri."
Dengan langkah sedikit lebih ringan, Budi kemudian pulang ke rumah menunggu kepastian nasibnya. Setidaknya untuk hari ini, ia telah berusaha dengan sungguh-sungguh seperti tekadnya pagi tadi. Rani pasti akan bangga melihat usahanya ini.
Saat Rani pulang ke rumah malam harinya, ia terperangah melihat rumah dalam kondisi rapi dan bersih. Bahkan meja makan sudah tertata dengan beberapa hidangan sederhana yang tampak lezat.
"Bud? Kamu yang beresin rumah dan masak ini semua?" tanya Rani tak percaya.
Budi muncul dari arah dapur dengan wajah berseri-seri. "Iya, Ran. Ini bukti pertama kalau aku sudah mulai berubah seperti janjiku."
Rani memeluk suaminya dengan haru. Sudah sangat lama ia tidak disambut seperti ini setelah pulang kerja. Rasanya beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Terus tadi kamu ngapain aja setelah aku berangkat kerja?" tanya Rani penasaran.
"Aku keliling kota nyari kerjaan, Ran. Aku udah lamar di beberapa tempat meskipun belum diterima," jelas Budi. "Tapi aku bakal terus berusaha sampai dapat kerjaan tetap."
Mata Rani berkaca-kaca mendengar penuturan suaminya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Budi benar-benar bertindak seperti kepala keluarga sejati.
"Makasih ya Bud, udah mau berubah. Aku tahu pasti nggak mudah, tapi percayalah aku akan selalu mendukungmu," ujar Rani tulus.
Budi mengangguk mantap. "Aku janji Ran, aku bakal buktikan kalau aku bisa jadi tulang punggung keluarga yang sesungguhnya!"
Malam itu untuk kali pertama setelah sekian lama, keluarga kecil itu bisa merasakan kehangatan dan kebahagiaan di meja makan. Sebuah langkah awal menuju perubahan besar dalam hidup mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments