Meski usaha service komputer Budi dan penghasilan Rani dari kantor telah membaik, mereka masih belum bisa sepenuhnya bernafas lega. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan telah menguras banyak energi, baik fisik maupun mental.
Rani yang biasanya selalu ceria dan penuh semangat, kini tampak semakin murung dan lesu. Matanya yang dulu bersinar kini nampak sayu dengan lingkaran hitam menghiasi area bawah matanya.
Rutinitas membanting tulang dari pagi hingga malam untuk mencari nafkah terus dilakukannya tanpa kenal lelah. Di kantor, Rani kerap kali mendapat teguran dari atasan karena kinerjanya yang menurun. Meski mendapat promosi, tekanan untuk mencapai target justru semakin tinggi.
Di rumah pun, Rani tetap harus mengerjakan pekerjaan domestik seorang diri. Budi memang telah membantu dengan penghasilannya, namun Rani seakan sulit membagi tugas rumah tangga dengan suaminya itu.
Kelelahan fisik dan stres yang memuncak membuat Rani seperti berada di ambang batasnya. Dia mulai sering sakit-sakitan dan kehilangan nafsu makan. Budi tentu sangat mengkhawatirkan kondisinya.
"Ran, istirahatlah dulu. Biar aku yang mengerjakan ini semua," pinta Budi saat melihat Rani terlalu memaksakan diri mengerjakan pekerjaan rumah.
Namun Rani hanya menggeleng lemah. "Tidak usah, Yank. Aku bisa mengurusnya sendiri," jawabnya lirih sebelum terbatuk-batuk.
Keadaannya yang semakin memburuk itu membuat Budi kalang kabut. Dia sangat mengkhawatirkan kesehatan sang istri yang kian terpuruk akibat beban yang ditanggungnya selama ini.
Melihat kondisi Rani yang semakin memburuk, Budi memutuskan untuk mengambil tindakan tegas. Dia khawatir jika istrinya itu tetap memaksakan diri, hal yang lebih buruk bisa terjadi pada kesehatannya.
"Ran, dengarkan aku. Kau harus mulai istirahat total dari semua aktivitasmu," ujar Budi sambil duduk di sisi ranjang tempat Rani berbaring lemah.
Rani mencoba membantah, namun Budi menggeleng keras. "Tidak ada tapi-tapian lagi. Aku tidak mau melihatmu semakin sakit seperti ini terus."
Dengan berat hati, Rani mengangguk pelan. Dia memang merasa tubuhnya sudah berada di ambang batas untuk terus memaksakan diri bekerja dan mengurus rumah.
Budi pun meminta cuti untuk Rani di kantornya. Sang atasan cukup maklum mengingat kinerja Rani yang menurun akhir-akhir ini. Mereka mengizinkan Rani untuk beristirahat total selama sebulan penuh.
Sementara itu, Budi mengambil alih semua pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan Rani. Mulai dari merapikan rumah, memasak, mencuci hingga memenuhi semua kebutuhan Rani selama dia istirahat.
Di awal-awal pekan, Rani merasa tidak nyaman dengan situasi barunya ini. Dia masih mencoba untuk ikut membantu meski dengan tenaga yang tersisa. Namun Budi selalu melarangnya agar bisa sembuh total.
Perlahan tapi pasti, dengan dibantu istirahat dan asupan gizi yang baik, kondisi Rani mulai berangsur pulih. Wajahnya yang semula pucat kembali berseri dan matanya berkilau-kilau seperti semula.
"Terima kasih, Yank. Berkat bantuanmu, aku merasa jauh lebih baik sekarang," ujar Rani terharu sambil memeluk Budi.
Budi tersenyum lega, "Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu, Ran. Kau telah begitu banyak berkorban selama ini untuk keluarga kita."
Keduanya berpelukan erat, dengan tekad untuk menghadapi semua cobaan hidup bersama-sama mulai dari sekarang.
Setelah melewati masa-masa kritis dengan kondisi kesehatannya, Rani perlahan-lahan mulai menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Wajahnya yang awalnya pucat kian hari kian memancarkan sinarnya lagi. Senyumnya yang sempat hilang kini telah kembali mengembang di bibirnya.
Meski Budi telah memintanya untuk benar-benar total istirahat, Rani tetap merasa tidak tenang jika hanya berdiam diri saja. Dia mulai membantu pekerjaan rumah yang ringan-ringan seperti menyapu atau mencuci piring saat Budi pergi bekerja.
Pada awalnya Budi merasa khawatir dan mencoba untuk melarang Rani melakukan aktivitas apa pun. Namun Rani bersikeras ingin sedikit demi sedikit kembali mengisi kesibukan hariannya.
"Aku sudah jauh lebih baik kok, Yank. Percayalah, aku tidak akan memaksakan diri seperti dulu lagi," janji Rani menunjukkan senyum lebarnya.
Melihat semangat yang kembali membara di mata istrinya, Budi pun akhirnya mengalah. Dia memang tidak bisa sepenuhnya mengekang Rani untuk terus-menerus berdiam diri di rumah.
Perlahan tapi pasti, Rani kembali mengambil alih pekerjaan rumah tangganya sedikit demi sedikit. Budi pun bisa lebih fokus pada usaha service komputernya yang kian ramai orderan.
Di sela kesibukannya itu, Rani merasa dirinya terlahir kembali seperti pribadi lamanya. Semangatnya untuk terus berjuang mengayomi keluarga telah bangkit kembali. Hanya saja kali ini, dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak terlalu memaksakan diri menanggung beban seorang diri.
"Terima kasih, Yank. Kau telah menyadarkanku bahwa aku tidak sendiri dalam menapaki bahtera rumah tangga ini," ujar Rani sambil memeluk Budi.
Budi membalas pelukan istrinya erat, "Aku yang seharusnya berterima kasih, Ran. Kau adalah istri terhebat yang pernah kumiliki."
Keduanya tertawa bahagia menyambut hari baru dengan kemantapan hati untuk terus berjuang bersama menapaki liku-liku kehidupan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments