"Hah, sudah sepagi ini? Oh ya udah! " Sima Annchi kembali berbaring dan tidur serta tidak lupa dengan selimutnya.
"BRAK!! "
Suara dobrakan pintu yang keras langsung membangunnya Sima Annchi. Sima Annchi yang jantungnya berdebar cepat karena masih terkejut melihat seseorang yang memasuki asramanya. Seseorang tersebut ternyata adalah Guru Qiang yang memasang raut wajah tersenyum namun menahan kemarahannya. Sima Annchi menelan ludahnya dengan susah payah.
"Sima Annchi, kau tahu ini sudah jam berapa? " Kata guru Qiang yang tampak terlihat urat wajah muncul karena menahan marahnya.
Sima Annchi menoleh ke luar jendela dan ternyata sudah sore hari. Sima Annchi berpikir dengan keras, bukannya tadi masih pagi ya, atau dia yang salah lihat? Sima Annchi menatap gurunya lagi yang masih terlihat marah padanya. Sima Annchi masih belum menyadari apa yang pernah dilakukannya sampai-sampai gurunya seperti itu.
Guru Qiang mencoba menghela napas panjang untuk meredakan amarahnya. "Sima Annchi, kenapa lagi kau tidak masuk kelas hari ini? " Guru Qiang berusaha bersikap dengan ramah kali ini.
Sima Annchi terdiam sejenak, ia kemudian berkata padanya. "Bukannya aku lagi sakit? Guru juga tahu kalau aku lagi sakit. " Tanpa rasa bersalah dia membuat Guru Qiang semakin marah.
"Bukannya kau sudah sembuh dan sehat bugar sekarang? Jangan mencari-cari alasan yang tidak jelas! Dan sesuai janji kemarin, jika kau absen lagi, maka aku akan mengirim surat kepada orang tuamu langsung. " Kata Guru Qiang menyeringai.
Sima Annchi menjadi agak panik tapi masih dengan tampang datarnya. Ia membagi alasan lagi bahwa dia baru saja sembuh bukankah harus istirahat dulu, takutnya jika sakitnya kabuh lagi. Guru Qiang menjawab nya, bahwa dia sudah menyembuhkan Sima Annchi kemarin malam dan tubuh Sima Annchi sudah sehat bugar dan tidak akan mudah sakit lagi, jadi tidak ada alasan lainnya lagi yang berlaku. Sima Annchi semakin panik namun ia berusaha untuk tetap tenang, ia segera memohon untuk tidak mengirim surat pada orang tuanya, tapi itu sudah terlambat Guru Qiang sudah mengirim surat ke kediaman Sima Annchi sebelum ia sampai di sini.
Dengan berdecak lidah, Sima Annchi beranjak dari ranjangnya tidak mau berdebat lagi dengan gurunya yang masih marah-marah padanya. Sima Annchi keluar dari sana dan menghirup udara dingin dan segar, ia menjadi kedinginan dan sering bersin karena musim dingin akan tiba.
Dari belakang Guru Qiang menghampirinya dan terlihat dia sedang membawa jubah tebal. Saat sudah sampai di belakang Sima Annchi, ia memakaikan jubah tersebut pada muridnya. Ia berkata, "Kenapa kau masih memakai baju yang tipis di cuaca yang semakin dingin ini, apa kau mau sakit lagi dan bisa membolos sekolah lagi? " Sima Annchi tidak mau menjawabnya dan memalingkan muka.
Guru Qiang menghela napasnya kembali entah sudah ke berapa kalinya. "Aku kesini bukan cuman mau untuk memarahi mu, aku ingin memberitahukan pengumuman akademi, bahwa dua minggu lagi pada musim dingin yang bersalju, akademi mengadakan festival berburu di pinggiran hutan kerajaan di sebelah timur, dan semua murid yang sudah bisa berkultivasi diwajibkan untuk ikut andil dalam berburu. "
Kelihatannya Sima Annchi tidak tertarik, mending tidur daripada beraktifitas di musim salju yang dingin ini, begitu pikirnya. Guru Qiang melanjutkan kata-katanya, "Dan katanya, jika mendapatkan hewan buruan yang paling banyak dan paling berat, dia adalah pemenang dan wajib mendapatkan hadiah utama, yaitu hadiah tiket gratis untuk mengunjungi sekte guru. "
"krik, krik, krik! "
Sima Annchi masih terdiam seribu bahasa tidak tertarik. Guru Qiang menjadi kesal karena merasa ngomong sendiri dari tadi. Ia kemudian memaksa Sima Annchi untuk mengikuti festival perburuan tersebut dan mengancamnya jika dia tidak mau ikut, maka ia akan menyeretnya langsung atau menulis surat lagi untuk orang tua Sima Annchi. Sima Annchi dengan terpaksa mengiyakannya. Akhirnya Guru Qiang memutuskan untuk pergi meninggalkan asrama Sima Annchi, dan sementara itu Sima Annchi kembali ke dalam kamarnya.
Hari-hari seperti biasa hingga musim dingin pun tiba dan hujan salju berjatuhan dan hari ini adalah festival berburu yang diadakan oleh akademi. Semua murid yang berpartisipasi dalam lomba tengah bersiap-bersiap begitu juga dengan guru mereka. Dari kelas Sima Annchi, kelas tersebut yang paling banyak partisipannya karena mereka sudah menunjukkan bahwa mereka sudah bukan manusia biasa lagi. Murid-murid tersebut tampak antusias dan bersemangat. Guru Qiang juga tampak sibuk untuk mengatur semua murid dan mengabsennya.
Guru Qiang mengerutkan keningnya, ia merasa ada sesuatu yang kurang, tapi apa ya? Tiba-tiba ada seorang murid mengacungkan tangannya sambil berkata, "Guru Qiang! Sima Annchi masih belum kelihatan. "
Guru Qiang menepuk dahinya kesal dan ia menghela nafas. Melihat situasi ini, Tang Yuxuan berinisiatif untuk menjemput Sima Annchi. Namun Guru Qiang menghentikannya, biar dirinya saja yang menyeret langsung si Sima Annchi ini. Guru Qiang pun bergegas pergi menuju ke asrama Sima Annchi.
Tak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah berada didepan pintu asrama Sima Annchi. Ia kemudian mendobrak pintu tersebut dengan keras dan ia memasukinya. Wajahnya semakin memerah karena menahan kesal dan amarahnya saat melihat muridnya yang satu ini masih enak tidur sambil mendengkur dengan nyenyaknya. Guru Qiang menghirup udara dengan panjang sebelum meneriakkan kata-kata mutiara.
"WOIII! BANGUN, DASAR MURID PEMALAS, BA**, SI****, (dan masih banyak lagi yang lainnya)!!!
Burung yang sedang bertengger di pepohonan langsung terbang dan tumpukan salju yang berada di dahan-dahan pohon berjatuhan karena getaran suara seperti menimbulkan gempa ringan. Sima Annchi tentu saja terkejut dan langsung terbangun, ia menutupi telinganya dengan tumbukan bantal dan selimut, tapi masih tetap saja terdengar keras karena sepertinya Guru Qiang menggunakan tenaga dalamnya.
Tak lama dari itu, akhirnya Guru Qiang menghentikan kata-kata mutiara nya dan sedikit terengah-engah karena kehabisan napas. Kemudian Guru Qiang menyingkirkan tumpukan bantal dan selimut yang menutupi wajah Sima Annchi. Saat sudah menyingkirkan semuanya, ia sedikit terkejut bahwa Sima Annchi sudah memakai perlengkapan dan juga jubahnya untuk persiapan berangkat nanti. Ia bertanya-tanya, tumben sudah siap semuanya?
Sima Annchi memberi alasan, dia sudah bersiap-siap ketika matahari masih belum muncul dan setelah itu dia ketiduran karena menunggu waktu untuk berkumpul. "Terus barang-barang yang akan kau bawa mana?" Tanya Guru Qiang lagi.
Sima Annchi menunjuk ke belakang gurunya, Guru Qiang pun menoleh ke arah yang di tunjuk. Guru Qiang membelalakkan kedua matanya dan menganga karena melihat tumpukan barang-barang yang sudah disiapkan begitu banyaknya hingga menggunung hampir menyentuh atap langit-langit. "Kau sebenarnya mau pindah rumah atau mengikuti kompetensi ini? " Guru Qiang menatap tajam Sima Annchi. Sima Annchi dengan tampang datarnya melengos menghindari tatapan dari sang guru.
...~Bersambung~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments