"ANAKKU..!! "
"A-anda siapa?"
Gadis itu sedang kebingungan, siapa yang
memeluknya dengan hangat ini, apa dia
mengenalnya?
Dengan lontaran pernyataan dari gadis
tersebut, wanita yang memeluknya
melebarkan matanya terkejut mendengar
gadis itu bertanya seperti itu. Wanita
tersebut segera melepaskan pelukannya
dan memegang dengan halus wajah gadis
cantik tersebut dengan kedua tangannya.
Wanita tersebut menatap dengan dalam
wajah gadis itu, terlihat raut wajah wanita
itu khawatir dengan bibirnya yang bergetar
dan matanya yang berkaca-kaca tak percaya atas pertanyaan gadis tersebut.
"Nak...! Ini ibumu, tolong jangan
menakut-nakuti ibumu seperti itu!"
"Ini gara-gara ibu, semua ini salah ibu, ibu
tak bisa melindungi mu, maafkan ibu nak,
hiks, hiks, maafkan ibu.!"
Tangisan sang wanita tersebut pecah
disela-sela perkataannya. Wanita itu terus
menyalahkan dirinya sambil menangis.
Sementara gadis tersebut semakin
kebingungan. Memang gadis tersebut
merasa familiar dengan wajah dan suara
dari wanita tersebut, tapi siapa?
Tiba-tiba telinga gadis tersebut berdengung
keras bersamaan dengan sakit kepala yang
tak tertahankan. Muncul ingatan-ingatan
yang asing di kepalanya. Gadis tersebut
meringis kesakitan dan memegang
kepalanya. Wanita yang di depannya
langsung menghentikan tangisannya dan
berusaha menenangkan gadis yang
kesakitan tersebut.
"PENGASUH, PELAYAN, PENJAGA..!"
"'SIAPAPUN, TOLONG, TOLONG
PANGGILKAN TABIB SEGERA...!"
Wanita tersebut menjadi panik melihat
anaknya yang kesakitan. Tidak lama
kemudian beberapa orang datang dan
memasuki kamar tersebut dengan
tergesa-gesa. Dengan cepat orang-orang
tersebut memindahkan tubuh sang gadis ke
ranjangnya. Semua orang yang di sana
merasa khawatir dan panik hingga ada
salah satu orang yang masuk dengan nafas
yang terengah-engah. Nampaknya orang
tersebut berlari dari kejauhan untuk sampai
ke sini.
Wanita tersebut berkata, "Tabib, cepat
selamatkan anakku, dia sangat kesakitan!"
Orang yang dipanggil tabib tersebut segera
memeriksa dan memberikan obat
penenang supaya rasa sakit yang gadis itu
rasakan mereda. Tidak membutuhkan
waktu yang lama gadis tersebut menjadi
tenang dan lama-kelamaan tertidur. Melihat anaknya yang sudah baik-baik saja dan tertidur, sang ibu menceritakan kepada
tabib sedetail mungkin derita gejala anaknya tadi dengan raut wajah yang sedih.
Mengapa anaknya tidak mengenalinya
sama sekali, dan tiba-tiba dia seperti itu?
Dengan sabar dan sopan, tabib tersebut
menjawab, "Nyonya! setelah hamba
memeriksanya dengan teliti. Kemungkinan
putri anda terkena amnesia namun bersifat
sementara, dan kemungkinan penyebab
amnesia ini dikarenakan trauma psikologis
seperti trauma kekerasan yang pernah
dialami oleh nona muda. Kemudian nona
muda mengalami sakit kepala yang serius
karena beliau berusaha keras untuk
mengingat masa lalu beliau."
Mendengar dari perkataan tabib tersebut,
wanita itu tambah khawatir dan sedih
merasa bersalah dan ingin menangis lagi.
Melihat raut wajah sedih wanita tersebut,
tabib itu berusaha untuk menenangkan
wanita itu dan berkata, "Tenang lah Nyonya,
nona muda akan sembuh dan mengingat
kembali semuanya seiring berjalannya
waktu. Namun, beliau tidak bisa dipaksa
untuk mengingat kembali dan biarlah waktu
yang menyembuhkannya."
Kemudian tabib itupun memberikan
beberapa resep obat kepada pelayan yang
ada di sana untuk diberikan pada sang
gadis tersebut dan tabib meninggalkan
ruangan tersebut.
Sang Nyonya atau ibu dari gadis tersebut
menyuruh para pelayan yang ada di sana
pergi keluar dan meninggalkan mereka di
sana berdua, dan para pelayan pun
menurutinya segera pergi keluar.
Beberapa jam kemudian, gadis yang tengah
tertidur tersebut membuka matanya
perlahan tanda bahwa dia bangun. Dia
kemudian menengok sebelahnya ada
seorang wanita yang tengah duduk dan
melamun menunggu dia bangun.
"lbu?!"
Suara lirih terdengar dari gadis
tersebut yang membuat wanita itu tersadar
dari lamunannya dan refleks menoleh
kearah anaknya. Wanita itu tersenyum
hangat dengan tatapan yang sendu.
"Nak, apa kau akhirnya mengingat ibu?"
Suara lembut penuh kasih sayang muncul
dari pertanyaannya. Gadis itu menjawab
dengan anggukan ringan tanda bahwa ia
mengingatnya.
"Maafkan ibu, ini semua salah ibu, maafkan
ibu...!" Air mata mulai mengalir dari
sela-sela pembicaraannya tak kuasa ia
tahan. Gadis tersebut menghapus air mata
pada ibunya dan berusaha menenangkannya.
"lbu, Ibu tidak usah khawatir lagi! Aku
baik-baik saja sekarang. " Kata gadis tersebut dengan pelan dan memeluk ibunya yang menangis agar bisa tenang. Di dalam hatinya ia merasa bersalah."Maaf, tapi aku bukan anakmu. Anakmu sudah meninggal, aku hanya jiwa yang tersangkut ditubuh ini"
Beberapa hari kemudian setelah kejadian
itu, gadis tersebut mulai sembuh dari
luka-lukanya dan berbaring sepanjang hari
di ranjangnya, sekarang dia tengah
menatap dirinya di cermin besar yang ada
di kamarnya.
"Jadi seperti ini penampilannya, cukup kecil
dan pendek, yah kan masih umur 12 tahun.
Tapi untungnya dia imut dan cantik, tidak
sepertiku di kehidupan sebelumnya yang
biasa-biasa saja. Namaku berganti menjadi
Sima Annchi yang sebelumnya Angeline.
Namun, sayangnya ada banyak bekas luka
di tubuhnya kecuali wajah ini. Aku masih
tidak tahu ini disengaja atau tidak."
Dia memutar-mutar badannya sambil bercermin dengan teliti dia memeriksa tubuhnya tersebut. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan suara yang ia kenal meminta izin untuk memasuki kamar Sima
Annchi.
"Masuklah!" Perintah Sima Annchi tampa
menoleh ke arah sumber suara dan masih asik bercermin.
Seorang wanita setengah baya membuka
pintu dengan hati-hati dan memasuki
kamar. Wanita tersebut memberi hormat
pada Sima Annchi dan berkata dengan
sopan. "Selamat pagi, Nona Muda! Apakah
tubuh anda sudah baik-baik saja?"
"Hm!"Jawaban datar Sima Annchi yang
masih menatap dirinya di cermin.
"Kalau begitu saya akan menyiapkan air
hangat untuk anda mandi. " Wanita
setengah baya tersebut kemudian
memanggil beberapa pelayan untuk
menyiapkan bak mandi dan air hangat. Dengan di bantu para pelayan perempuan,
Sima Annchi berendam di bak mandi
tersebut.
"Wah...! Nyaman sekali, sudah beberapa
hari aku tidak berendam dengan damai
seperti ini. Yah meskipun aku sedikit malu
dengan para pelayan ini. Beginikah
kehidupan bangsawan?" Begitulah pikiran
Sima Annchi, dia menikmatinya tapi dengan
wajah datar.
Setelah selesai mandi, Sima Annchi
didandani oleh para pelayan. Di tengah-tengah kegiatan itu sang wanita
setengah baya berkata," Nona muda!
setelah Anda merias diri, anda diminta
untuk bertemu Nyonya ibu anda
dikamarnya!"
"Hm, baiklah" Jawab singkat dan datar lagi
dari Sima Annchi.
Sesuai dengan pesan yang dikatakan oleh
wanita setengah baya tersebut, Sima
Annchi berjalan menuju kamar ibunya. tidak
butuh banyak waktu, Sima Annchi pun
sampai di depan pintu kamar ibunya. Salah
satu pelayan mengetukkan pintu dan mengabari bahwa Sima Annchi sudah
sampai.
Sima Annchi pun disuruh masuk kedalam
sendirian tidak ditemani oleh pelayan lain.
Saat memasuki kamar ibunya dia merasa
merinding melihat kamar ibunya yang
suram, dan kepalanya berasa berdenyut
sakit. Tapi ia segera menahannya dengan
tetap menampilkan wajah datarnya.
Kemudian ia menatap ibunya dan menelan
air ludahnya sedikit bergetar ia berkata
"i-bu?! "
~Bersambung
Sima \= Menteri perang (nama marga)
Annchi \= Seperti bidadari cantik
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments