Ruangan kamar yang gelap, tidak ada perabotan atau hiasan kamar yang mencolok sangat sederhana namun suram. Begitulah keadaan kamar sang ibu, membuat Sima Annchi merinding dan kepalanya berdenyut sakit sekelebat ingatan muncul namun tak jelas.
Sima Annchi mulai menyapa, "S-salam, ibu!"
Terdapat seorang wanita dewasa yang terlihat masih muda tengah duduk bersantai sambil menyeruput teh. Mendengar panggilannya, wanita tersebut menoleh dan tersenyum hangat kepada Sima Annchi.
"Duduklah! " Seru sang ibu.
Tanpa basa-basi Sima Annchi pun duduk di hadapannya. Ibunya menyajikan secangkir teh hangat kepada Sima Annchi. Jantung Sima Annchi berdetak kencang dan nafasnya terasa sesak, namun ia menahannya dan berusaha untuk tetap datar tanpa ekspresi.
"Sayang, bagaimana keadaanmu sekarang, apakah masih ada yang sakit? "
Sima Annchi yang sedang menyeruput teh itu membalas pertanyaan ibunya dengan singkat, "Aku baik-baik saja, ibu! "
Sang ibu tersenyum merasa bersyukur mendengar jawaban dari anaknya. "Tiga hari lagi kamu akan masuk akademi lagi setelah liburan selama satu bulan penuh. Ibu akan menyiapkan keperluan bersama para pelayan. Oh, dan apakah kau masih ingat pesan ibu dulu saat kau baru masuk akademi? "
Diingatan Sima Annchi yang bisa dia ingat sekarang. Akademi yang dimaksud adalah akademi kerajaan yang berisi para pelajar bangsawan maupun cendekiawan dari rakyat biasa yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Sima Annchi merupakan murid bangsawan yang mengharuskannya untuk memasuki akademi tersebut tanpa terkecuali. Akademi ini mengajari para muridnya tentang sejarah kerajaan, ekonomi, ilmu bela diri, dan bagai mana tentang menangani krisis di Kerajaan yang di alami sampai saat ini.
"Aku ingat, ibu memintaku untuk menjadi yang terbaik di sana kan? Tenang saja ibu, aku akan menjadi apa yang ibu harapkan. " Perkataan Sima Annchi berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam kepalanya. "Maafkan aku ibu, meskipun ibu seperti itu. Aku akan tetap low profile, tidak mencolok dan bersikap acuh tak acuh, meskipun aku adalah seorang jenius. "
Sima Annchi bersikap seperti itu, karena dia takut bertemu dengan orang yang tak diinginkannya. Yaitu, MC (Main Character/tokoh utama) di dunia novel yang dimasuki oleh jiwa Angeline pada tubuh Sima Annchi. Novel yang bergenre Fantasi timur, dunia novel yang bernama "I Just Want to Live, Don't Want to Die Anymore (aku hanya ingin hidup, tidak ingin mati lagi)." Novel yang pernah Angeline baca saat di kehidupan sebelumnya.
Novel ini menceritakan tentang MC pria yang berwatak seperti villain yang mengulang kembali kehidupannya saat dia mati ke kehidupan saat dia masih kanak-kanak. seperti novel klise pada umumnya, cerita MC ini berjuang untuk memiliki kehidupan yang damai, namun seolah takdir tidak menginginkannya untuk hidup nyaman. Takdir sang MC terus mengalami kesulitan-kesulitan yang membuat MC ini mati dan hidup berulang kembali, seperti karakter dalam vidio game yang mati dan hidup kembali ditempat yang sama.
Entah ini kutukan atau keberuntungan bagi sang MC. Sang MC tak peduli lagi, dia berkerja keras untuk tak mati lagi dan memenuhi keinginannya untuk hidup damai. Seiring berjalannya cerita, sang MC akhirnya menemukan solusi untuk menghentikan takdir silan ini, yaitu dengan cara menemukan seseorang yang memiliki tubuh surgawi dan menjadikannya pasangan seumur hidupnya entah itu wanita atau pria. Sang MC mulai mencari orang yang ditakdirkan dengannya, namun dia tak tahu seperti apa ciri-ciri dan bentuk dari orang yang ditakdirkan ini.
Namun sang MC mulai muak dan putus asa untuk mencari dan menghentikan dia mati berulang kali. Dia sudah mencari ke seluruh dunia yang luas ini seperti mencari sebuah jarum ditumpukan jerami. Mati dan hidup lagi, sampai sang MC menjadi gila membentuk karakter yang berbeda-beda seperti memiliki kepribadian ganda dengan sejuta karakter.
Sampai pada akhir cerita, sang MC akhirnya menguasai dunia kultivasi meskipun itu dari faksi jahat maupun faksi baik, sang MC menjadi tokoh yang di takuti seluruh dunia ini. Meskipun dia menjadi penguasa dunia, dia masih tetap sendiri semur hidupnya, mati dan hidup lagi. Novel pun tamat.
~Kembali pada Sima Annchi saat ini~
"aku tak bisa hidup mencolok, jika aku sampai menarik perhatian dan sampai terlibat dengan villain ini dan mengetahui bahwa aku bukan pemilik asli tubuh ini maka tamat riwayatku. Jika dipikir-pikir aku hanya ingat sebagian besar cerita dari novel ini, tak ingat pada setiap tahun apa pada saat si villain beraksi, pada saat kematian yang ke berapa aku tak ingat dan aku tak tahu bagai mana wajah asli sang villain ini, dia memiliki sejuta wajah dan nama, jadi aku bingung. Oleh karena itu aku harus extra hati-hati dan bertindak seperti Sima Annchi yang asli, pendiam dan cuek."
"Xiao Annchi, kenapa kamu melamun?! " Panggilan sang ibu menyadarkan lamunan Sima Annchi. Sima Annchi menjawab dengan gelengan kepala pelan tanda bahwa tidak terjadi apa-apa.
Catatan: Xiao Annchi nama masa kecil Sima Annchi.
Sang ibu memegang hangat tangan Sima Annchi, sembari berkata, "Apakah kau merindukan Ayah dan kakak-kakakmu? "
Sima Annchi masih terdiam tidak menjawab pertanyaan ibunya. "Kalau begitu sama, ibu juga merindukan mereka. Sudah lama sekali Ayah dan kakak-kakakmu berada di benteng perbatasan. Kita harus selalu berdoa agar mereka tetap diberi kesehatan dan keselamatan. Agar kita bisa bertemu mereka dengan lega. "
Sima Annchi menganggukkan kepalanya pelan. "Bohong! "
Waktu terus berlanjut hingga sore pun tiba. Sima Annchi akhirnya diperbolehkan pergi dari kamar yang menyesakkan itu. Sima Annchi menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perasaan lega. Dia pun menuju kamarnya lagi berniat untuk istirahat karena lelah setelah menahan rasa sesak dan pusingnya.
Setelah Sima Annchi keluar dari kamar ibunya. Ibunya menatap keluar jendela yang terdapat taman yang indah. Namun tatapan sang ibu masih sedih dan berkata dengan lirih, "Andai saja kau amnesia secara permanen dan lupa segala hal. Maka itu akan jauh lebih baik untuk mu nak! "
~Tiga hari pun berlalu~
Sima Annchi sudah bersiap-bersiap untuk meninggalkan kediamannya menuju Akademi Kerajaan, dan sekarang dia tengah berpamitan dengan ibunya. Ibunya membawakan kue buatannya untuk camilan di perjalanan Sima Annchi. Sima Annchi menerima pemberian dari ibunya dan segera berpamitan.
Sima Annchi menaiki kereta kuda yang mewah sebagai tanda kebangsawanannya. "Ugh...! meskipun kereta ini mewah tapi jalannya tidak mulus dan berguncang hebat. Kenapa aku harus sekolah lagi, selama 12 tahun lebih aku sudah muak dengan sekolah, dan sekarang di kehidupan yang kedua ini. Ugh...! Aku mabuk perjalanan, sepertinya aku akan muntah. "
Tidak membutuhkan waktu lama Sima Annchi menjulurkan kepalanya keluar jendela dan muntah. Sang kusir yang mengendarai kereta kuda tersebut langsung menghentikan laju kudanya saat mendengar ada suara muntahan dari dalam kereta.
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments