Hari-hari seperti biasa hingga satu bulan pun berlalu. Di tengah malam ini, Sima Annchi tengah berjalan cepat sambil menoleh ke kanan ke kiri, seperti mencari sesuatu. Entah apa yang dia cari, sudah satu jam dia berkeliling akademi. Tak lama kemudian, dia sampai di depan ruangan pribadi kepala akademi. "Aku yakin dia ada di dalam sana. " Pikir Sima Annchi sangat yakin.
Ia kemudian memasuki ruangan tersebut lewat jendela secara diam-diam. Sima Annchi berhasil memasuki ruangan tersebut dan mengendap-endap mulai mencari sesuatu. Tak membutuhkan waktu lama, ia suda berada di ruangan tempat tidur sang kepala sekolah. Ia akhirnya menemukan apa yang ia cari selama ini. "ehem.. " ia berdehem kecil ke seseorang yang ada di depannya.
Seseorang tersebut terkejut dan refleks menoleh ke arah Sima Annchi. "sima annchi... kenapa kau disini? cepat keluar dari sini! " Seseorang tersebut berbisik juga dan ternyata seseorang tersebut adalah Guru Qiang, ia segera mengusir Sima Annchi sambil berbisik-bisik. Karena disampingnya ada pak kepsek yang sedang tidur di ranjangnya dengan nyenyak.
Sima Annchi yang melihat gurunya yang sedang memegang sebuah buku mencurigakan di tangannya dan tingkah laku yang seperti tamu tak diundang. Sima Annchi diam-diam tersenyum menyeringai tampa sepengetahuan sang guru. Lalu ia tiba-tiba berteriak.
"AAAAH.... ADA PENYU-!!!"
Sebelum dia selesai berteriak, sang guru langsung dengan cepat menutup mulut Sima Annchi menggunakan tangannya dan mereka berdua menghilang entah kemana. Pak kepsek yang sedang tidur nyenyak itu pun terbangun mendengar teriakan Sima Annchi. ia kemudian mencari-cari sumber suara yang telah mengganggu tidurnya, namun tidak ketemu. Mungkin hanya perasaannya saja, begitulah pikir pak kepsek, ia pun kembali keranjangnya dan tidur lagi.
Guru Qiang bernapas lega, ia menatap tajam Sima Annchi yang dengan ia rangkul dan masih menutup mulutnya dengan erat. Mereka berdua ternyata tengah bersembunyi di atap kayu yang masih berada di ruangan tersebut. Mereka berdua pun turun dan Guru Qiang dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut tanpa suara sambil menggendong Sima Annchi di bahunya.
Mereka berdua dengan cepat sampai di ruangan Guru Qiang. Guru Qiang mendobrak pintu dengan kakinya sambil menjewer telinga Sima Annchi. Sima Annchi berusaha melepaskan jeweran dari sang guru, meskipun sakit dia masih mempertahankan wajah datarnya. Guru Qiang kemudian menyuruh Sima Annchi duduk berlutut sambil mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk hukuman.
"Kenapa kau bisa sampai di ruangan pak kepsek ditengah malam begini, apa kau mencari ku lagi? " Dijawab anggukan oleh Sima Annchi.
Guru Qiang semakin kesal terhadap Sima Annchi. "Kenapa kau selalu menggangguku setiap malam bulan terakhir ini, entah itu di ruangan ini, saat aku lagi mandi atau saat aku buang hajat, berada di atas pohon, di ruangan tersembunyi, bahkan yang terakhir ini kau bisa menemukanku di ruangan pak kepsek. Apa kau jelmaan anjing pelacak? " Guru Qiang tak henti-hentinya mengomeli murid pengganggunya tersebut.
Ya gak salah sih, apa yang guru Qiang katakan. Sima Annchi bisa menemukan seseorang dalam sekejab karena aroma tubuh yang tertinggal di sepanjang jalan. Sima Annchi selalu mencari gurunya di setiap malam untuk menyembuhkan sakit kepala yang dideritanya, tapi akhir-akhir ini dia sering bersama sang guru entah itu siang maupun malam, padahal dia sudah bukan asisten guru lagi.
Setelah amarah dari sang guru mereda, Sima Annchi mengerutkan keningnya, pandangannya tampak buram. Sepertinya Sima Annchi sudah tidak kuat menahan sakit kepalanya yang ia terus tahan selama ini. Tubuh Sima Annchi menjadi lemas dan nyaris jatuh.
Guru Qiang dengan sigap menangkap tubuh Sima Annchi yang hampir jatuh pingsan di pelukannya. Kemudian Guru Qiang memegang kepala Sima Annchi dan mengalirkannya Qi. "Kenapa kau selalu seperti ini, selalu saja menyiksa diri sendiri. Memangnya ada untungnya, apa kau merasa senang jika tubuh mu sakit? " Guru Qiang tak henti-hentinya merasa kesal terhadap Sima Annchi. Bagai mana tidak selain mengganggunya setiap malam, Sima Annchi selalu saja menahan rasa sakit ketika kambuh dan tetap memasang wajah datar seolah-olah dia tidak terjadi apa-apa. Pernah terjadi kejadian yang dimana Sima Annchi sampai pingsan karena guru Qiang sempat tak menyadarinya.
Selama satu bulan ini Guru Qiang sudah meresepkan beberapa obat yang berbeda, namu masih saja tidak ada perubahan, malah sakit kepalanya tambah sering terjadi. "Baik, sekarang kau cepat kembali ke asrama mu dan istirahat. Mumpung besok hari libur, paginya kau langsung pergi ke klinik akademi, guru akan mengobati mu dengan metode baru! " Perintah sang Guru Qiang pada muridnya.
~Keesokan Paginya~
Sima Annchi yang sudah berada didepan klinik akademi, sedikit penasaran apa yang akan dilakukan gurunya kali ini, entah kenapa dia memiliki firasat buruk. Dia berusa memantapkan hatinya untuk memasuki klinik ini. Klinik ini ternyata hanya berisi sedikit orang, hanya sedikit pasien yang dirawat di sini dan beberapa tabib. Sima Annchi tengah mencari Guru Qiang, karena dia mempunyai penciuman tajam ia langsung bertemu dengan Guru Qiang di salah satu ruangan yang ada di sana. Terlihat Guru Qiang sudah memakai seragam tabibnya dan di temani oleh dua orang perempuan yang seorang tabib juga.
"Oh, kau sudah sampai, kemari dan duduk di ranjang ini! " Suruh Guru Qiang saat mengetahui Sima Annchi sudah datang.
Sima Annchi pun dengan patuh duduk di ranjang tersebut. Guru Qiang dan dua orang tabib tersebut tengah mempersiapkan peralatan yang akan dipakai. Tiba-tiba Sima Annchi terkejut melihat begitu banyak jarum panjang dan tebal yang telah dipersiapkan. Tanpa basa basi lagi, Sima Annchi langsung melarikan diri dari ruangan tersebut secepat mungkin, dia sangat takut dengan jarum, dia teringat di kehidupan sebelumnya yang takut di suntik.
Guru Qiang yang melihat muridnya kabur melarikan diri, masih dengan santai mengambil salah satu jarum dan dengan jari-jemarinya ia menembakkan jarum tersebut tepat kearah tengkuk Sima Annchi yang sedang berlari, dan jarum tersebut tepat sasaran padahal tengkuk Sima Annchi tertutup oleh rambutnya yang tergerai. Tubuh Sima Annchi pun ambruk, terjatuh di lantai dan tubuhnya tak bisa digerakkan.
"Ke-kenapa tubuhku tiba-tiba tidak bisa bergerak?! " Pikir Sima Annchi di dalam hatinya.
Terdengar suara langkah kaki yang kian mendekati dirinya, ia merasa merinding dan bulu kuduknya berdiri. Sima Annchi berusaha meminta tolong kepada orang-orang yang ada di sana, tapi mulutnya tidak bisa digerakkan dan juga orang-orang yang ada di sana seperti merinding ketakutan ketika melihat apa yang ada di belakang Sima Annchi.
"Wah, wah, wah... Murid kesayanganku yang imut ini ternyata punya sisi takut juga ya... Guru jadi sedih(amat sangat senang)! " Guru Qiang tengah menyeringai menakutkan, siapapun yang melihatnya saat ini pasti ingin mengatakan "dia psikopat".
Guru Qiang kemudian memegang kerah baju bagian belakang Sima Annchi dan menyeret tubuh Sima Annchi, dan masih dengan raut wajah yang menyeramkan. " Tida, tidak, tidak! Siapapun tolong aku...! Aku tak ingin mati dengan cara seperti ini...! Tolong selamatkan aku...!!! "
~Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments