Kisah Kelam di Malam Kebonkota

Pagi cerah menyinari Kebonkota, dan Budi-Man serta Jenglot sedang duduk di teras rumah mereka, menikmati matahari pagi yang hangat. Mereka merasa bahwa setelah semua petualangan dan kejutan yang mereka alami di kota ini, inilah saatnya untuk sedikit bersantai.

Namun, saat mereka menikmati secangkir kopi mereka, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggemparkan rumah mereka. Mereka berdua melompat dari kursi mereka dan keluar ke teras untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Mereka melihat berkumpulnya orang-orang yang berkumpul di jalan utama Kebonkota. Semua orang terlihat panik dan cemas, mencoba mencari tahu sumber suara kebisingan tersebut.

Budi berkata, "Apa yang sedang terjadi, Jenglot? Apa yang membuat semua orang panik seperti ini?"

Jenglot mengernyitkan dahi, "Saya tidak yakin, Budi. Tapi kita harus mencari tahu apa yang sedang terjadi."

Mereka berkumpul dengan kerumunan orang dan mencoba mendekati sumber suara gemuruh tersebut. Saat mereka mendekat, mereka melihat bahwa bangunan-bangunan di sepanjang jalan utama terguncang-guncang dan terlihat retak-retak.

Orang-orang berbisik-bisik dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Beberapa orang berbicara tentang gempa bumi, sementara yang lain berpikir bahwa itu adalah tanda-tanda sesuatu yang lebih aneh.

Budi dan Jenglot mencoba menghubungi otoritas kota untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Mereka diberitahu bahwa tidak ada laporan gempa bumi di daerah tersebut dan bahwa sumber suara gempa tersebut masih belum diketahui.

Saat mereka menunggu untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, suara gemuruh tersebut semakin keras dan terasa semakin dekat. Orang-orang semakin panik, dan beberapa bahkan mencoba meninggalkan kota.

Budi berkata, "Kita harus mencari tahu apa yang sedang terjadi dan mencoba menghentikan suara badai ini sebelum menjadi lebih parah."

Jenglot setuju, "Kita harus bertindak cepat. Saya merasa ini adalah situasi yang darurat."

Mereka memutuskan untuk bergerak menuju sumber suara gemuruh tersebut. Saat mereka berjalan menuju sumber suara tersebut, mereka melihat beberapa orang yang mencoba menyelamatkan barang-barang berharga mereka dari kerusakan.

Tiba-tiba, Budi dan Jenglot mendengar suara teriakan dari sebuah toko yang dihancurkan oleh suara gemuruh. Mereka segera berlari menuju toko tersebut dan melihat seorang pria yang terjebak di bawah tumpukan puing.

Budi dan Jenglot berusaha keras untuk mengangkat tumpukan puing tersebut dan berhasil membebaskan pria tersebut. Pria tersebut terlihat lelah dan terluka, tetapi dia bersyukur telah diselamatkan.

Pria tersebut berkata, "Terima kasih atas bantuan kalian. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Suara gemuruh ini datang dari dalam tanah."

Budi bertanya, "Apakah kamu melihat sesuatu yang aneh sebelum toko ini runtuh?"

Pria tersebut meyakinkan kepala, "Tidak, saya hanya mendengar suara guncangan yang mengerikan dan tiba-tiba toko ini runtuh di atas saya."

Jenglot berkata, "Kita harus segera mencari tahu apa yang menyebabkan suara krisis ini dan bagaimana kita bisa menghentikannya."

Mereka berdua meninggalkan toko tersebut dan bergerak menuju sumber suara getaran tersebut. Saat mereka semakin mendekat, mereka merasakan getaran bumi yang semakin kuat dan suara gemuruh yang semakin keras.

Tiba-tiba, mereka tiba di sebuah taman yang tampaknya menjadi suara pusat kebisingan tersebut. Taman tersebut terlihat berantakan, dengan tanah yang berbatu-batu dan tumbuhan yang terguling.

Budi bertanya, "Apakah ini sumber suara gemuruhnya? Tapi apa yang bisa menyebabkan tanah bergelombang seperti ini?"

Jenglot memeriksa tanah tersebut dengan cermat dan berkata, "Ini bukan gempa bumi, Budi. Ada sesuatu yang aneh di sini."

Mereka melihat sebuah lingkaran besar di tanah yang seolah menjadi titik awal dari suara gemuruh tersebut. Lingkaran tersebut memiliki simbol-simbol misterius yang terukir di dalamnya.

Budi bertanya, "Simbol-simbol ini mirip dengan simbol yang ada di patung dewa keberuntungan. Apakah ada jaminan?"

Jenglot berpikir sejenak, "Mungkin ada secara keseluruhan. Kita harus mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang simbol-simbol ini."

Mereka memutuskan untuk mengikuti jejak simbol-simbol tersebut. Mereka mengikuti jalur simbol-simbol tersebut ke arah pinggiran kota.

Saat mereka berjalan-jalan melewati jalan-jalan kecil dan gang-gang sempit, mereka melihat orang-orang yang masih panik dan mencoba menyelamatkan diri mereka sendiri.

Budi berkata, "Kita harus memberi tahu orang-orang bahwa kita sedang mencari tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita bisa menghentikannya."

Mereka berdua berbicara dengan orang-orang yang mereka temui dan mencoba memberikan informasi yang mereka miliki tentang situasi tersebut. Beberapa orang mendengarkan dengan cemas, sementara yang lain merasa putus asa.

Ketika mereka mendekati pinggiran kota, mereka melihat sebuah rumah tua yang tampaknya menjadi tujuan dari jejak simbol-simbol tersebut. Rumah tersebut terlihat seperti rumah berhantu yang ditinggalkan bertahun-tahun.

Budi berkata, "Rumah ini mungkin adalah tempat kita harus menjelajah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi."

Mereka memasuki rumah tersebut dengan hati-hati. Di dalam, mereka melihat berbagai barang yang telah lama ditinggalkan dan ditinggalkan.

Mereka berdua mulai menjelajahi rumah tersebut dengan hati-hati. Mereka mencari tahu apa yang ada di dalam rumah tersebut yang mungkin terkait dengan suara gemuruh dan tanah yang bergelombang.

Saat mereka mencapai lantai atas rumah tersebut, mereka mendengar suara aneh yang datang dari sebuah ruangan yang tertutup rapat. Mereka berdua mendekati pintu ruangan tersebut dan mencoba membukanya.

Ketika pintu ruangan itu terbuka, mereka mendapati diri mereka berdiri di depan sebuah laboratorium yang sangat aneh. Laboratorium tersebut dipenuhi dengan peralatan ilmiah, komputer, dan alat-alat yang tidak mereka kenal.

Mereka melihat seorang pria yang sedang sibuk di meja kerja di laboratorium tersebut. Pria tersebut adalah seorang ilmuwan yang tampaknya sangat terobsesi dengan eksperimen aneh.

Pria tersebut terkejut melihat kedatangan Budi-Man dan Jenglot. Dia berkata dengan cemas, "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?"

Budi berkata, "Kami adalah Budi-Man dan Jenglot, dan kami datang untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di Kebonkota. Suara gemuruh ini datang dari sini, bukan?"

Ilmuwan tersebut mengangguk, "Iya, benar. Saya adalah ilmuwan eksentrik yang sedang menguji mencoba suatu eksperimen baru. Namun, eksperimen ini tampaknya tidak berjalan sesuai rencana."

Jenglot bertanya, "Apa yang kamu coba lakukan dengan eksperimen ini?"

Ilmuwan tersebut menjelaskan bahwa eksperimennya adalah tentang menciptakan energi baru yang bisa mengubah dunia. Dia berharap dapat menciptakan sumber energi yang dapat menyelamatkan dunia dari krisis energi.

Namun, saat eksperimen tersebut dijalankan, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Energi yang dihasilkan dari eksperimen tersebut tampaknya melepaskan getaran gelombang yang sangat kuat dan merusak, yang menyebabkan suara getaran dan tanah berguncang.

Budi bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan eksperimen ini dan mengembalikan semuanya seperti semula?"

Ilmuwan tersebut mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan eksperimen tersebut adalah dengan mematikan semua peralatan di laboratorium tersebut. Namun, dia mengatakan bahwa itu akan sangat berbahaya karena energi yang dikeluarkan oleh eksperimen tersebut sangat kuat.

Jenglot berkata, "Kami akan mencoba membantu kamu mematikan peralatan ini. Kita tidak punya banyak waktu."

Mereka bekerja sama dengan ilmuwan tersebut untuk mematikan semua peralatan di laboratorium. Mereka harus berjuang melawan gelombang getaran yang sangat kuat dan bahaya yang ada di sekitar mereka.

Setelah berhasil mematikan peralatan tersebut, suara gemuruh mulai mereda, dan tanah yang kembali normal. Orang-orang di Kebonkota melihat perubahan tersebut dan merasa lega bahwa ancaman telah berakhir.

Ilmuwan tersebut sangat berterima kasih kepada Budi-Man dan Jenglot. Dia berkata, "Terima kasih atas bantuan kalian. Saya sangat menyesal atas apa yang telah saya lakukan."

Budi berkata, "Yang penting sekarang adalah bahwa semuanya sudah kembali normal. Kami harap kamu bisa belajar dari pengalaman ini dan tidak mengulangi kesalahan yang sama."

Malam itu, Budi-Man dan Jenglot kembali duduk di teras rumah mereka. Mereka merasa lega bahwa mereka telah berhasil menghentikan eksperimen yang berbahaya dan menyelamatkan Kebonkota dari bahaya.

Budi berkata, "Setiap petualangan membawa pelajaran, Jenglot. Kali ini kita belajar bahwa tidak semua eksperimen ilmiah baik untuk dunia."

Jenglot menambahkan, "Dan yang terpenting, kita selalu siap membantu orang lain dalam kesulitan. Itu adalah tugas kita sebagai pahlawan."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!