Pukul 16.00
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi sampai jam segitu belum ada pergerakan orangtua Yunda untuk membawa Yunda ke rumah sakit. Yunda hanya bisa menahan rasa sakitnya, ia juga tidak berani pergi ke rumah sakit kalau tidak ada yang membayar biaya rumah sakitnya.
Tok... Tok...
Tiba-tiba saja pintu rumah orangtua Yunda terketuk.
Pak Yoto yang sedang duduk di ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu pun langsung berdiri dari duduknya untuk membuka pintu.
"Sore Pak." sapa Harum, teman Yunda.
"Eh... Nak Harum." balas Pak Yoto.
"Ibu Harum bilang katanya Yunda lagi ada disini yah Pak? Yunda-nya masih ada kan, Pak?" tanya Harum, ia baru mengetahui kalau Yunda ada di kampung dari Ibu-nya karena pernah bertemu dengan Bu Ambar di pasar.
Kebetulan rumah Yunda dan Harum berjauhan, rumah Harum terletak di jalan poros sedangkan rumah orangtua Yunda masuk ke area perkampungan.
"Masih Nak Harum, Yunda masih disini, tapi lagi sakit dia." jawab Pak Yoto.
"Sakit apa Pak?" tanya Harum.
"Liat sendiri aja deh Nak Harum, Yunda ada di kamarnya sekarang." jawab Pak Yoto yanh susah menjelaskannya.
Harum pun masuk ke dalam rumah lalu berjalan ke kamar Yunda.
"Eh... Nak Harum." sapa Bu Ambar begitu Harum membuka tirai pintu kamar Yunda.
Harum berjalan mendekati tempat tidur Yunda. Melihat ada bayi Yunda yang juga tidur disebelah Yunda, wajah Harum terlihat berbinar bahagia. Harum belum tau saja kalau saat ini kondisi temannya sedang mengenaskan, karena saat ini Yunda sedang tidur setelah meminum obat pereda nyeri dari apotik.
"Itu bayinya Yunda yah Bu?" tanya Harum dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Bu Ambar.
"Katanya Yunda lagi sakit, sakit apa? Kenapa di deketin sama anaknya? Nanti ketularan loh Bu." tanya Harum.
"Eugh..." belum sempat Bu Ambar menjawab, tiba-tiba saja Yunda melenguh.
"Harum." ucap Yunda begitu membuka matanya.
Harum tersenyum lalu duduk di pinggir tempat tidur sebelah Yunda.
"Kok gak bilang-bilang sih pulang kampung?" omel Harum.
Yunda tersenyum tipis sambil menahan rasa sakitnya.
"Aku sakit Rum, makanya gak kasih tau kamu." jawab Yunda.
"Sakit apa? Udah kedokter?" tanya Harum. Melihat wajah pucat Yunda, Harum yakin kalau sakit Yunda bukan sekedar sakit batuk, pilek, meriang yang obatnya bisa di beli di warung.
Yunda menjawab dengan membuka bajunya sebatas perut untuk memperlihatkan bekas bekas jahitannya.
Plester lama yang menutupi bekas jahitan operasi Yunda sudah di buka oleh dokter puskesmas dan menggantinya dengan plester baru itu pun plester biasa yang tidak anti air khusus plester untuk operasi sesar.
Mata Harum membulat lebar begitu melihat jahitan operasi Yunda.
"Itu kenapa merah gitu Yun, ada nanah-nya lagi." kaget Harum.
"Infeksi Rum." jawab Yunda.
"Udah kedokter?" tanya Harum.
"Mmm..." jawab Yunda sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi dokter puskesmas suruh langsung ke rumah sakit biar di buka jahitannya terus di jahit ulang." kata Yunda lagi.
"Terus kenapa kamu masih disini?" tanya Harum.
Yunda diam.
Harum mengernyitkan keningnya. Harum mencurigai sesuatu.
"Suami kamu tau kalau jahitan kamu infeksi?" tanya Harum.
Yunda menganggukkan kepalanya.
"Jangan bilang kalau suami kamu gak mau anter kamu ke rumah sakit?" curiga Harum.
Yunda lagi-lagi diam.
"Bukan cuma gak mau nganter, tapi gak mau bayarin biaya rumah sakit lagi kalau Yunda pergi ke rumah sakit, uangnya habis untuk biaya lahiran." malah Bu Ambar yang menjawab.
"Memangnya sebelum lahiran kamu gak urus asuransi kesehatan gratis yang dari pemerintah?" tanya Harum.
Yunda menggelengkan kepalanya.
"Yunda kan tinggal di kota Nak Harum, dan pemerintah setempat kan tau kalau keluarga suami Yunda orang berada, yah gak mungkin dapet asuransi kesehatan yang gratis dari pemerintah, yah pasti di suruh urus yang berbayarnya." lagi-lagi Bu Ambar yang menjawab.
"Iya maksud Harum yang itu-nya." jawab Harum.
Yunda menggelengkan kepalanya.
"Mas Rio bilang rugi kalau bikin asuransi itu, kalau gak pernah sakit berarti gak terpakai asuransinya terus iuran bulan-bulannya hangus gitu aja." ucap Yunda.
"Rugi apanya! Lihat nih sekarang kan jadi dia yang rugi! Kalau udah kayak gini aja, istrinya yang jadi korban!" geram Harum.
"Nak Harum punya solusi gak?" tanya Bu Ambar.
"Ibu takut kenapa-kenapa sama Yunda. Ibu sama Bapak sebenarnya pengen bawa ke rumah sakit, tapi kami juga gak punya uang. Jangankan uang berobat, uang ongkos ke kota aja gak punya. Paling gak untuk ongkos Bapak sama Yunda aja kena dua ratus lima puluh ribu." kata Bu Ambar lagi.
Harum diam sejenak.
"Udah gini aja Bu kita bawa aja dulu Yunda ke rumah sakit, kalau soal biaya kita bisa ambil surat keterangan tidak mampu, nanti Harum yang urus. Kebetulan Mas Candra (calon suami Harum) kerja di kecamatan, jadi nanti Harum bisa minta tolong Mas Candra bantu urus." jawab Harum.
💋💋💋
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
Fawaz Al ashy
suami nya udah gila harum
2024-06-30
0
Siti Mulyana
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
2024-01-31
1
sartika husain
😭😭😭😭
2024-01-26
0