Bab : Kenduri Desa Meghengan
Waktu Berlalu Perlahan Lahan Namun Pasti. Hari Demi Demi Berganti
Semakin Laju Meninggalkan Masa Lalu. Tak Terasa Kedekatan Antara Rinantha Anger
Dan Juga Pakdhe Wiro Semakin Akrab. Rinantha Juga Sudah Tidak Canggung Lagi
Bersama Mereka.
Rinantha Juga Merasa Nyaman Karena Pakdhe Wiro Begitu Ngemong
Tanpa Melihat Warna Kulit Atau Bahkan Agama Rinantha Yang Berbeda. Pakdhe Wiro
Baginya Sudah Menjadi Layaknya Orang Tua Kedua Dalam Banyak Hal.
Sore Ini Suasana Di Angkringan Agak Lengang. Tidak Begitu Ramai
Sehingga Banyak Waktu Luang Digunakan Angger Untuk Menyelesaikan Beberapa Tugas
Sekolahnya. Rinantha Juga Banyak Waktu Untuk Bersenda Gurau Bersama Pakdhe Dan
Mba Shinta.
“Ndhuk. Sesuk Iki Pakdhe Prei Ndhuk.” Ujar Pakdhe Sambil Menata
Bungkusan Sego Kucing.
“Lho Enten Napa Tho Pakdhe?”. Jawab Rinantha Dari Samping Kursi
Pakdhe Wiro.
“Anu Lho Ndhuk. Sesuk Ki Rak Meghengan Tho. Wis Dadi Adate Wong
Ndeso Nek Meghengan Ki Ngeneke Slametan Deso Ndhuk. Bersih Deso Ngono”. Jelas
Pakdhe.
“Meghengan Niku Napa Pakdhe, Slametan Napa Tho?”. Rinantha
Penasaran.
“Slametan Bersih Deso Lho Ndhuk. Dadi Warga Masyarakat Yo Tonggo Teparuh
Ki Podo Bancaan Bareng Karo Ndongo Bareng Bareng Ngono Ndhuk”.
“Terus Acarane Ten Pundi Niku Pakdhe”.
“Panggonane Yo Ning Nggone Pakdhe Ndhuk. Wis Turun Temurun Ket
Jamane Simbah Buyut Biyen, Gubuge Pakdhe Ki Mesti Kanggo Panggonan Nek
Meghengan. Mulane Pakdhe Kudu Resik Resik Nyiapne Kanggo Panggonanne”. Jelas
Pakdhe Lagi.
“Lek Ngaten Mangke Rina Tak Tumut Ngewangi Geh Pakdhe” Pinta
Rinantha.
“Ora Usah Ndhuk. Mengko Awakmu Ndak Kesel Lho”.
“Mboten Pakdhe. Rina Mboten Kesel Kok. Wong Pingin Sekalian Ben
Ngertos Acarane Kok. Yo Mba Shinta Yo. Ayo Tho Mba Dibantu ”. Pintanya
Merengek.
“Mbok Ben E Wae Tho Pak Pak. Wong Dek Rina Pingin Ngewangi Mbok
Ben E Wae”. Bujuk Shinta.
Pakdhe Wiro Belum Menjaawab Karena Dalam Hati Kecilnya Sedang
Bingung. Bagimana Jika Nanti Adiknya, Bapaknya Angger Tau Kalau Anaknya Punya
Pacar Orang Thionghoa.
“Pakdheeee. Nggeh Pakdhe. Angsal Nggeh??”. Rinantha Kembali
Merengek.
“Ehhmmmm. Yoo Yo Ndhuk. Ngewangono. Bareng Bareng Karo Mbakyumu
Kono”. Jawab Pakdhe Kalah Karena Rinantha Merajuk Terus.
Mendengar Jawaban Itu, Sorot Mata Rinantha Berbinar Indah Sekali.
Matanya Yang Sipit Itu Memunculkan Sinar Kebahagiaan Dari Dalam Lubuk Hati Yang
Terdalam.
“Hehe. Maturnuwun Njeh Pakdhe”.
^^^^^^^^^^^
Sudah Menjadi Adat Kebiasaan Dalam Budaya Lokal Jawa Khususnya
Jogjakarta Bahwa Bentuk Kesyukuran Terhadap Tuhan Diwujudkan Dalam Tasyakur
Atau Kenduri Kenduri. Termasuk Kenduri Bersih Desa Atau Meghengan.
Meghengan Dilakukan Menjelang Bulan Puasa Ramadhan Dengan Maksud
Untuk Mensucikan Niat Ibadah Di Bulan Puasa. Tradisi Ini Di Ikuti Semua Warga
Dengan Saling Membawa Menu Tradisional Semacam Tumpeng Nasi Beserta Ayam
Ingkung Yaitu Ayam Panggang Utuh Dengan Filosofi Kehidupan Yang Begitu Unik.
Banyak Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Tradisi Kenduri Ini Tentang Bagaimana
Penyucian Diri Atas Niat Niat Ibadah. Tentang Bagaimana Hidup Bermasyarakat
Atau Bahkan Tentang Tepo Sliro Tenggang Rasa.
Pakdhe Wiro Menjadi Sosok Yang Dihormati, Dituakan Dan Tokohkan
Sehingga Hampir Semua Kegiatan Yang Bersifat Kemasyarakatan Banyak Dilakukan
Dirumahnya. Mulai Dari Kegiatan Kepemudaan Sampai Kegiatan Kegiatan Yang
Bersifat Keagamaan, Termasuk Meghengan.
Dirumah Limasan Khas Jawa Itu Sudah Berkumpul Beberapa Orang Warga
Tanpa Harus Dikomando Karena Mereka Sudah Merasa Memiliki Tanggungjawab Sosial
Masing Masing. Beberapa Remaja Putri Pun Sudah Berkumpul Bersama Shinta
Mengerjakan Pekerjaan Dapur.
Tidak Terkecuali Rinantha. Ia Sudah Berkumpul Dengan Remaja Dan
Juga Ibu Ibu Didapur. Ia Memang Mudah Bergaul Sehingga Mudah Diterima Dibanyak
Kalangan Termasuk Ibu Ibu Yang Baru Saja Dikenalnya. Ia Tak Canggung Untuk
Bertanya Tentang Harus Bagaimana Dan Apa Saja Yang Perlu Dikerjakan. Beberapa
Dari Ibu Ibu Juga Sempat Ada Yang Menanyakan Tentang Siapa Rinantha Kepada
Shinta.
Persiapan Demi Persiapanpun Perlahan Sudah Selesai. Warga Juga
Sudah Berdatangan Dengan Bawaannya Masing Masing Kemudian Menaruhnya Ditengah
Tengah Ruangan. Membuat Lingkaran Duduk Bersila Untuk Mendengarkan Cerita
Cerita Dan Senda Gurau Sebelum Mbah Modin Mulai Dengan Doa Doanya.
“Le. Celuken Pacarmu Kae Lho Kon Lungguh Ngarep Kono. Sisan Karo
Mbakyumu Yo Ojo Ning Pawon Wae”. Perintah Pakdhe.
“Njeh Pakdhe”.
Rinantha Kemudian Keluar Dan Duduk Disamping Budhe Bersama Shinta
Dan Remaja Putri Lainnya. Sementara Itu Beberapa Sorot Mata Tertuju Kepadanya
Mungkin Dengan Pertanyaan Yang Sama Siapa Bocah Thionghoa Ini.
Acara Meghengan Pun Dimulai Sudah. Mbah Modin Dengan Khidmat
Memanjatkan Doa Doa Untuk Keselamatan Bagi Warga Masyarakat. Doa Serta Pengharapan
Atas Karunia Tuhan Yang Maha Sempurna.
Selesai Berdoa, Kemudian Mbah Modin Mempersilahkan Untuk Membagi
Bagikan Dan Saling Tukar Bawaan Masing Masing. Rinantha Menyaksikan Pemandangan
Yang Berbeda Disini. Ia Senang Bercampur Bahagia Bisa Ikut Melebur Dalam Budaya
Dan Adat Jawa Yang Menurutnya Sunguh Luar Biasa.
“Ki Lho Ndhuk Ndhang Dimaem Yoh.Enak Iki Lho Ndhuk Iwak Ingkung”
Ujar Pakdhe Sembari Menaruh Pincukan Daun Pisang Berisi Nasi Dan Lauk
Sederhana.
“Njeh Pakdhe, Maturnuwun”. Jawabnya
Shinta Menemani Rinantha Menikmati Hidangan Yang Sudah Disajikan.
Keduanya Nampak Akrab Sekali Dan Sesekali Bersenda Gurau. Sementara Itu,
Perlahan Lahan Sebagian Warga Telah Berpamitan. Begitupun Dengan Orang Tua
Angger, Sudah Pulang Lebih Dulu Karena Masih Ada Pekerjaan Dirumah.
Rinantha Merasa Bahagia Sekali Bisa Turut Membaur Dalam Tradisi
Jawa Apalagi Bisa Lebih Dekat Dengan Keluarga Angger Meskipun Belum Bisa Kenal
Dengan Orang Tuanya Angger.
^^^^^^^^^^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments