Zahra kini membuka matanya. Dia kini melihat pergelangan tangannya, sudah ada jarum infus yang menancap. Lalu dia mengedarkan pandangannya. "Aku di rumah sakit."
"Non, sudah sadar?" tanya salah satu pembantu Kevin pada Zahra yang masih setia menunggunya.
Zahra menganggukkan kepalanya. "Harusnya saya tidak perlu dirawat di rumah sakit, Bi."
"Tidak apa-apa. Dokter bilang tekanan darah Non sangat rendah jadi harus banyak istirahat."
Zahra hanya terdiam. Badannya sekarang terasa sangat lemas tapi dia tidak mungkin merepotkan keluarga Alea.
"Saya mau pulang saja Bi. Saya tidak apa-apa." kata Zahra lagi.
"Jangan Non. Tunggu informasi dari Dokter
dulu."
Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Zahra masuk. Dia memeriksa keadaan Zahra lagi. "Masih pusing?" tanyanya.
"Sedikit."
"Tensi dan juga hbnya sangat rendah, apa sebelumnya pernah mimisan?" tanya Dokter itu sambil memeriksa detak jantung Zahra.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya.
"Tadi saya sudah mengambil sample darah. Tunggu hasilnya besok pagi."
"Apa saya tidak boleh pulang sekarang Dokter?" tanya Zahra.
"Kita sarankan untuk rawat inap sambil menunggu hasil lab nya keluar."
Setelah itu Dokter yang menangani Zahra keluar.
Zahra hanya menghela napas panjang. Sebenarnya dia sakit apa? Apakah parah sampai harus tes darah dan rawat inap?
"Bi, saya bisa sendiri di sini. Bibi pulang saja. Bisa minta tolong tas saya diantar ke sini soalnya saya mau menghubungi orang tua saya."
"Tapi saya ditugaskan untuk menjaga Non Zahra. Sebentar saya hubungi nyonya Alea agar diantar lewat gojek." Bi Sum segera mengirim pesan pada Alea sesuai keinginan Zahra.
"Setelah tas saya datang, bibi pulang saja tidak apa-apa." kata Zahra lagi.
"Baik Non, sebentar lagi saya pulang."
Zahra terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin terus merepotkan seperti ini. Dia saja tidak memiliki uang sedikitpun untuk biaya pengobatannya. Dia tidak boleh lemah. Dia harus bisa berjuang sendiri.
Setelah tasnya datang, akhirnya pembantu yang menjaga Zahra itu pulang. Sebelumnya Zahra titip pesan padanya agar bilang pada keluarga Kevin kalau dia sudah dijaga oleh orang tuanya.
Kini saatnya Zahra mencari cara agar bisa keluar dari rumah sakit. Dia duduk lalu melepas jarum infus yang berada di pergelangan tangannya, meskipun sakit tapi harus bisa dia tahan. Dia kini turun dari brangkar lalu berjalan pelan dan membuka pintu. Suster jaga malam sudah memeriksanya itu berarti dia aman untuk keluar ruangan.
Benar dugaannya, di depan ruangannya tidak ada siapa-siapa. Zahra segera melangkahkan kakinya cepat keluar dari rumah sakit yang sudah sepi itu. Dia sedikit berlari dan akhirnya sampai di tepi jalan.
Dia melihat isi tasnya, masih ada beberapa lembar uang yang dia pinjam dari dompet Rendra. Setidaknya itu cukup untuk ongkos pulang ke rumah Bu Titik.
Dia kini berjalan di pinggir jalan sendirian. "Terminal masih sangat jauh. Kalau naik ojek mahal gak ya?"
Zahra mencari tukang ojek di sekitar tempat itu, karena dia tidak pegang ponsel, dia tidak bisa memesan ojek online atau yang lainnya.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Badannya terasa semakin lemas. Dia masih berusaha melangkah di sisa tenaganya. Meski akhirnya dia jatuh pingsan di pinggir jalan.
"Ada orang pingsan." Seseorang yang sedang mengendarai mobil kini menghentikan mobilnya di dekat Zahra. Dia turun dari mobil dan memeriksa kondisi Zahra.
"Sepertinya dia kelelahan." Pria itu membawa Zahra masuk ke dalam mobilnya lalu dia melajukan kembali mobilnya.
...***...
"Papa..." Hal pertama yang Rendra lakukan saat pertama kali bertemu Papanya adalah memeluknya.
"Udah dua tahun kamu gak kasih kabar ke Papa. Kamu pikir Papa gak kepikiran sama kamu. Masih hidup apa gak anak Papa ini." Pak Marko menepuk bahu Rendra sambil tertawa.
Rendra juga tertawa renyah. "Ini anak Papa yang punya 9 nyawa. Makasih Papa sudah datang ke sini."
Mereka kini duduk di ruang pemeriksaan saat pengacara keluarga Rendra memberikan semua bukti rekaman cctv dari pabrik teh milik Rendra. Di sana terlihat jelas ada seseorang yang sengaja meletakkan obat terlarang itu.
"Rendra, kamu memang sudah beberapa kali masuk tahanan dan selalu terkena jebakan. Kamu tahu siapa sebenarnya dalang dibalik semua ini?" tanya Pak Frans, selaku kapolri.
"Bapak mau menangkap bandar narkoba terbesar di sini? Mari bekerja sama denganku, tapi lepaskan aku tanpa syarat."
Pak Frans hanya tersenyum miring. "Apa jaminan kamu?"
"Saya yang akan menjamin." kata Pak Marko.
"Pak Marko, Anda orang hebat, jelas penjamin yang terpercaya. Baik saya terima tawaran kamu untuk membantu mengusut bandar narkoba itu. Kita atur waktu untuk menggerebek mereka." kata Pak Frans.
"Baik, aku akan mengatur strategi. Nanti aku hubungi Bapak kalau anak buah aku sudah siap. Sekarang biarkan aku keluar dari penjara, karena ada satu hal yang harus aku kerjakan dulu."
"Baik, silakan."
Rendra berdiri, dia berpamitan pada teman tahanannya meskipun baru sehari dua malam dia di sana. "Jangan lupa pesan aku."
"Baik bos. Sampai jumpa lagi."
Rendra melambaikan tangannya pada mereka semua lalu dia keluar dari lapas bersama Papanya dan pengacaranya.
"Pa, apa Zahra masih ada di rumah Kevin?" tanya Rendra.
"Iya, kemarin waktu Papa ke perkebunan kamu dia masih ada di rumah Kevin. Papa larang pulang dulu."
Rendra tersenyum kecil. Dia kini naik ke dalam mobil bersama Papanya. "Kita langsung ke rumah Kevin." perintah Rendra pada sopirnya.
"Baik Tuan."
Pak Marko hanya tersenyum. "Sepertinya kamu sedang jatuh cinta."
"Tidak. Aku tidak pantas buat Zahra. Papa tahu kan, kehidupan kita jelas berbeda."
"Kamu harus berubah, maka kamu akan sama seperti dia."
Rendra hanya berdecak lalu mengalihkan pandangannya menatap jalanan yang cukup ramai itu. "Masih cukup sulit untuk saat ini."
Kemudian tidak ada pembicaraan lagi karena Rendra justru tertidur sampai hampir tiga jam perjalanan, dia baru terbangun.
Dia menyugar rambutnya sesaat lalu turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah Kevin.
"Lea, Zahra dimana?" tanya Rendra. Bukannya mengucap salam atau kata pembuka setelah dua tahun tidak bertemu dengan adiknya tapi hal pertama yang dia tanyakan adalah Zahra.
"Zahra masuk rumah sakit. Kemarin dia pingsan, tapi semalam dia sudah dijaga dengan keluarganya." kata Alea, karena begitulah kata pembantu yang sempat menjaga Zahra kemarin.
"Orang tua? Zahra pergi dari rumah gara-gara aku. Dia gak mungkin hubungi orang tuanya. Dia juga gak bawa ponsel. Di rumah sakit mana?" tanya Rendra mulai khawatir.
"Di rumah sakit Harapan."
Rendra membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam mobil. "Pak ke rumah sakit harapan sekarang."
"Baik Tuan."
Sepanjang perjalanan, perasaan Rendra sudah tidak tenang. Semoga kali ini Zahra tidak kabur lagi.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Liesdiana Malindu
Thor,, bagaimana dengan baju Zahra? apa dia punya ganti? soalx waktu dia di ajak Rendra ke rumah orang tuanya kan gak bawa ganti, terus ke tempat nya Bu Atik, setelah itu ke kota tempat tinggal orang tua rendra. Aq jdi penasaran 🤔🤔🤔
2023-03-19
2
abdan syakura
eeeeeee
takutny anggota Elang hitam yg nolong Zahra....
aissshhhhhh
2023-02-25
0
mommyanis
Zahra setiap kabur oasti ketemu lg sama Rendra...
2023-02-02
2