Zahra tidak tahu harus kemana lagi. Bahkan dia sekarang sama sekali tidak membawa uang. Dia berjalan melewati jalan setapak di dekat persawahan. Dia tak menyangka hidupnya akan rumit seperti ini dan sangat menyedihkan. Entah siapa yang salah dalam masalahnya ini.
Ya Allah, hamba tidak tahu lagi harus bagaimana?
Merasa lelah melangkah, dia kini duduk di sebuah dangau dekat persawahan. Dia menangis seorang diri di sana. Dia tidak ingin kembali ke keluarganya lagi ataupun kembali pada Rendra.
Ya Allah, berilah petunjuk-Mu agar hamba bisa keluar dari masalah ini.
Zahra mengusap air matanya asal. Dia melihat daerah sekitar.
"Lumayan jauh juga aku berjalan. Seingat aku ini sawah yang berada di dekat masjid besar dan di sana juga rumahnya Hanum, teman aku sewaktu SMP."
Zahra masih mengedarkan pandangannya. Dia tersenyum saat melihat kubah masjid yang dia cari. "Sepertinya itu masjidnya. Semoga saja Hanum masih mengingat aku."
Zahra berdiri tapi saat dia akan melangkahkan kakinya, dia justru terpeleset tanah yang licin dan membuatnya terjatuh.
"Aw," kaki kirinya terasa sakit jika dia gerakkan. Dia berusaha untuk berdiri dengan berpegangan tiang yang menyangga dangau itu tapi sangat sulit.
"Kamu kenapa?" Satu pertanyaan itu membuat Zahra mendongak. Ibu itu kini membantu Zahra berdiri.
"Saya terpeleset." jawab Zahra. Dia terus mengamati raut wajah ibu itu. Sepertinya dia pernah bertemu sebelumnya.
"Coba lihat kakinya." Ibu itu mengangkat kaki kiri Zahra lalu memeriksanya. "Ini sedikit terkilir. Tahan ya, biar Ibu bantu pijat."
Zahra memejamkan matanya merasakan sakitnya saat Ibu itu memijat lalu menarik pergelangan kakinya.
"Sudah, coba digerakkan perlahan."
Zahra mencoba menggerakkan pergelangan kakinya yang sudah tak sesakit sebelumnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ibu itu.
"Saya mau ke masjid itu." tunjuk Zahra pada sebuah kubah masjid yang terlihat dari tempatnya.
"Mari saya antar. Kebetulan rumah saya di sana."
"Ibu kenal dengan yang namanya Hanum?" tanya Zahra.
Seketika raut wajah ibu itu berubah menjadi sedih. "Hanum sudah tiada." jawabnya dengan lirih.
"Innalillahiwainnalillahiraji'un."
"Kamu siapa? Kenapa kamu mengenal putri saya?" tanya ibu itu lagi. Dia kini menatap wajah Zahra, mungkin saja dia pernah bertemu sebelumnya.
"Jadi ibu ini ibunya Hanum. Saya Zahra, teman SMP Hanum. Saya dulu sering bermain ke rumah Hanum yang berada di dekat masjid."
Ibu itu nampak mengingat-ingat. "Iya, saya ingat. Nak Zahra yang dulu sering meminjamkan Hanum buku ya. Maaf saya lupa soalnya sekarang semakin terlihat cantik." kata Bu Titik yang sekarang sudah mengingat Zahra.
"Kalau boleh tahu, Hanum kenapa?" tanya Zahra.
"Dia kecelakaan saat masih SMA." jawab Bu Titik dengan lirih. Kejadian itu sangat memilukan. Sampai sekarang Bu Titik masih belum bisa melupakan kejadian yang menimpa putrinya. "Ngomong-ngomong nak Zahra mau kemana?"
"Saya..." Zahra menghentikan kalimatnya sejenak. "Saya sedang ada masalah. Saya tidak tahu harus pergi kemana? Tiba-tiba langkah saya membawa saya ke tempat ini."
"Ya sudah, kalau begitu ikut Ibu ke rumah ya. Di rumah Ibu juga sendirian."
Bu Titik membantu Zahra berdiri lalu mereka berjalan beriringan menuju rumah Bu Titik.
Setelah sampai di rumah kecil yang berada di dekat masjid itu, Zahra duduk di ruang tamu. Suasana masih sama seperti 10 tahun yang lalu.
Bu Titik masuk ke dalam dapur lalu membuatkan Zahra secangkir teh hangat.
"Silakan diminum."
"Maaf, saya jadi merepotkan." kata Zahra sambil mengambil secangkir teh itu lalu meminumnya karena tenggorokannya memang sudah terasa sangat kering.
"Tidak apa-apa. Nak Zahra sebenarnya mau pergi kemana?"
Zahra menaruh kembali cangkir teh yang telah kosong lalu dia menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu harus kemana. Saya bingung. Saya butuh waktu untuk sendiri dan tidak bertemu dengan keluarga saya untuk sementara."
"Ya sudah nak Zahra tinggal di sini saja. Nanti kamu bisa tidur di kamar Hanum."
Zahra menganggukkan kepalanya. "Saya mau sholat dhuhur dulu."
"Iya, silakan. Kamar mandinya ada di dekat dapur. Di dalam kamar juga sudah ada mukena. Atau mau ke masjid juga tidak apa-apa."
Zahra mengangguk lalu dia berdiri dan berjalan menuju dapur. Berulang kali dia mengucap syukur, langkahnya sudah dipermudah untuk bertemu dengan orang baik.
...***...
"Jangan berhenti mencari! Cari terus sampai kalian menemukan Zahra!!!" perintah Rendra dengan keras lewat panggilan teleponnya.
Rendra menghentikan mobilnya. Dia keluar dan berusaha mencari Zahra di sekitar pondok pesantren.
"Tapi mana mungkin Zahra ada di dalam." Dia mengurungkan niatnya lalu kembali berjalan menyusuri gang-gang sempit sambil bertanya pada orang-orang yang dia temui. Untunglah dia menyimpan foto Zahra di ponselnya.
"Permisi Bu, lihat gadis ini." tunjuk Rendra pada ibu-ibu yang sedang duduk di depan rumahnya.
"Tidak pernah melihat, Mas."
Rendra terus bertanya dan mencari Zahra. Hingga langkahnya kini berhenti di depan sebuah masjid besar.
Dia mengatur napasnya sesaat sambil mengusap wajahnya, ingin dia beristirahat sejenak di masjid itu tapi tiba-tiba ada yang memukulnya dengan keras.
Bug!!
Rendra gagal menghindar hingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.
Rendra melebarkan matanya melihat anak buah Elang Hitam sudah berhasil menemukannya.
Sial! Pistol aku ketinggalan di mobil.
Rendra segera menyergap salah satu dari mereka. "Aku sudah bilang, suruh bos kalian menemui aku!" Rendra membalas pukulannya dengan keras.
Tapi anak buah Elang Hitam semakin banyak, Rendra tidak ingin memancing keributan di tempat umum. Dia memutuskan untuk kabur dan berlari. Melewati gang-gang sempit untuk kembali ke mobilnya.
"Jangan lari kamu! Serahkan barang bukti itu kalau tidak nyawa kamu akan melayang."
Salah satu dari mereka mengeluarkan senjata berapinya. Dia arahkan senjata itu pada Rendra dan satu tarikan, peluru itu berhasil menembus lengan Rendra.
"Arrgghhh.." Rendra menutup lengannya yang berdarah.
Penduduk di sekitar tempat itu seketika berhamburan dan ketakutan.
Rendra terus berlari sambil menahan rasa sakit. Dia kini bersembunyi di bawah jembatan saat terdengar mobil polisi semakin dekat.
"Shits!!!" Rendra merobek kemejanya lalu menutupi lengannya dengan kain itu untuk sementara.
Kemudian dia menghubungi anak buahnya agar segera menjemputnya. Saat dia akan membalikkan badannya salah satu anak buah Elang Hitam berhasil menemukannya. Dia menodongkan pistol ke kepalanya.
"Jangan bergerak! Kamu ikut aku sekarang atau aku habisi nyawa kamu!!"
Rendra hanya terdiam. Dia sedang berancang-ancang untuk kabur.
Satu kaki Rendra berhasil menendang pistol yang ada di tangan orang itu hingga terlepas dari tangannya. Mereka kini berebut pistol yang terjatuh di tanah. Karena tenaga Rendra yang sudah terkuras menahan sakit, dia gagal merebut pistol itu.
Dia mengarahkan pistol itu pada Rendra, dan...
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Eika
Kalau Zahra dan Rendra sudah berjodoh, berpisah lama juga pasti akan ketemu lagi .
2023-02-17
1
Yeni Nurmaela
rendra jatuh ke sungai
2023-01-24
0
mommyanis
dan....Rendra tertembak,tidak sadarkan diri,ditemukan ibux Hanum n Zahra...hopely 😁😁😁😁😁😁
2023-01-24
2