Ketiga orang yang mengejar Rendra kini berhenti di depan rumah Abah Husein. "Sial! Kita kehilangan jejak lagi." umpat salah satu dari mereka. Mereka mengedarkan pandangan menyapu sudut-sudut rumah. Mereka yakin Rendra bersembunyi di salah satu rumah itu.
Mendengar ada keributan di luar, Abah Husein dan Umi Laila keluar dari rumah dan menghampiri mereka bertiga.
"Siapa kalian? Ada perlu apa di kampung ini?" tanya Abah Husein pada mereka bertiga.
"Kami mencari buronan. Nama dia Rendra."
"Rendra?" Abah Husein menautkan alisnya. Apa Rendra yang mereka cari adalah orang yang menempati rumahnya.
"Ini fotonya." mereka menunjukkan foto Rendra kepada Abah Husein.
"Tidak salah lagi. Dia yang mengaku sedang butuh tempat tinggal dan pekerjaan. Siapa dia sebenarnya? Mengapa kalian mencarinya?" tanya Abah Husein memastikannya sekali lagi.
"Dia penjahat yang sangat berbahaya. Tadi kami sempat melihat dia berlari dengan seorang wanita berhijab."
Seketika Abah Husein teringat dengan Zahra. "Zahra!"
Sedangkan di dalam rumah itu Rendra masih menatap lekat Zahra. "Sebenarnya aku..." Rendra menghentikan kalimatnya. "Aku bukan siapa-siapa." sambung Rendra pada akhirnya. "Aku hanya orang miskin yang kamu tolong."
"Mengapa kamu dikejar orang lagi? Apa kamu orang jahat?" tanya Zahra lagi.
Rendra memundurkan langkahnya. Dia tersenyum miring. "Kalau kamu menganggap aku jahat, maka aku akan terlihat jahat. Kalau kamu menganggap aku baik, maka aku akan terlihat baik. Semua itu tergantung dari cara berpikir kamu."
Zahra hanya menghela napas panjang. Baginya percuma terus berdebat dengan Rendra. Dia harus segera keluar dari rumah itu sebelum ada yang melihatnya dan salah paham. Dia melangkahkan kakinya pergi tapi sayang hijab yang dia kenakan justru tersangkut paku hingga terlepas dan rambut panjang yang hitam itu kini terlihat.
Rendra terpaku menatap kecantikan Zahra. Dia benar-benar seperti seorang bidadari yang turun dari langit. Kecantikannya sangat alami. Dia tidak pernah melihat wanita lain yang secantik Zahra.
"Jangan lihat!" bentak Zahra. Tangannya kini sibuk meraih hijabnya yang terjatuh dilantai dan memakainya asal.
"You are so beautiful." guman Rendra. Kalimat itu secara otomatis keluar dari mulut Zahra.
Zahra melebarkan matanya mendengar gumaman Rendra. Dia semakin ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu.
"Zahra, kamu keluar lewat pintu belakang saja biar tidak ada yang curiga." kata Rendra. Sebenarnya bukan itu yang dia takutkan, lebih tepatnya dia takut jika anak buah Elang Hitam masih berada di depan sana karena di tempat itu Rendra tidak bisa melawan mereka.
"Saya tidak melakukan apa-apa sama kamu. Buat apa mereka curiga?" Zahra membalikkan badannya lagi karena Rendra justru menarik bajunya. "Jangan pernah berani sentuh saya sedikitpun!"
"Oke." Rendra melepas tangannya Zahra akan melangkah lagi tapi kakinya justru tersangkut kaki meja.
"Zahra!" Sial! Di saat Rendra akan menahan tubuh Zahra, Rendra justru tergelincir lantai yang licin. Hingga mereka berdua kini terjatuh di lantai dengan posisi yang tidak menguntungkan. Tubuh Rendra kini berada di atas tubuh Zahra.
Belum sempat Rendra berpindah, tiba-tiba pintu rumah itu didobrak dengan keras.
Rendra dan Zahra sama-sama menoleh ke arah pintu yang dibarengi dengan panggilan keras dari Umi Laila.
"Zahra!"
Rendra segera berdiri, begitu juga dengan Zahra.
"Umi, abi, Zahra tidak..."
"Zahra, Umi sudah bilang jangan dekat-dekat dengan dia. Dia bukan pria baik-baik." Umi Laila menarik tangan Zahra.
Sedangkan Abah Husein hanya menatap tajam Rendra. "Siapa kamu sebenarnya? Apa yang sudah kamu lakukan pada putri saya? Kamu mau menodai putri saya!"
"Kita hanya terjatuh." jawab Rendra. "Saya tidak bermaksud menyentuh Zahra. Sama sekali tidak ada maksud."
"Zahra, kenapa hijab kamu lepas? Kita pulang sekarang! Jangan pernah dekat-dekat lagi dengan pria itu!" Umi Laila kian menarik tangan Zahra.
Rendra akan keluar dari rumah tapi langkahnya kini terhenti saat tiga orang anak buah Elang Hitam menghadangnya di pintu.
Mereka kian mendekat dan memukuli Rendra.
Mata tajam Rendra kini justru melihat Abah Husein yang masih berdiri di depan pintu menyaksikan sebuah pemukulan tanpa memisah. Rendra menahan dirinya untuk membalas meski pukulan itu terasa sangat menyakitkan.
"Ikut kita ke markas!"
Mendengar suara pukulan, Zahra kini menoleh Rendra. Dia merasa tidak tega. Hatinya tergerak untuk menolongnya. Mengapa Abinya begitu tega hanya menonton Rendra dipukuli.
Zahra melepas tangan Uminya lalu kembali ke rumah itu. "Hentikan! Abi, mengapa abi diam saja melihat Rendra dipukuli."
"Zahra, mengapa kamu masih membela pria seperti dia. Dia seorang penjahat. Biar dia menerima balasan dari semua kejahatan dia. Pasti dia juga mempunyai niat buruk sama kamu. Dia juga sudah mempengaruhi kamu menjadi seperti ini."
Zahra semakin tidak tega saat melihat darah mengalir di ujung bibir Rendra. Setengah hatinya ikut terluka. Dia tahu Rendra memang bukan pria baik-baik tapi sikap Rendra padanya begitu apa adanya, dan dia juga bisa merasakan kebaikan di hati Rendra.
"Jangan lakukan lagi! Hentikan! Kalau memang dia bersalah, bukan seperti ini menghukumnya. Serahkan saja pada pihak berwajib."
Melihat Zahra yang kian berjalan mendekat, Rendra menepis pukulan mereka semua. Dia tidak mau Zahra masuk ke dalam masalahnya.
Saatnya berhenti berpura-pura lemah. Rendra menghajar mereka bertiga habis-habisan. Dia mencengkeram salah satu leher dari mereka. "Bilang pada bos kalian, kalau berani suruh menemui aku sendiri. Aku kasih waktu sampai satu bulan, kalau bos kalian tidak muncul, barang bukti itu akan aku kirim ke kantor polisi." ancam Rendra pelan tapi penuh penekanan. Kemudian dia melempar tubuhnya hingga mengenai dua orang lainnya. Mereka sudah terkapar tak bisa bergerak.
"Ternyata ini kamua yang sebenarnya. Rendra, mulai sekarang kamu jangan tinggal lagi di rumah ini!" kata Abah Husein pada Rendra
Rendra hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata lagi. Dia segera mengemasi barang-barangnya dan keluar dari rumah itu.
Pandangan mata Zahra sesekali masih saja melihat Rendra.
Rendra keluar dari rumah dan berhenti sesaat di depan Zahra. "Jaga diri kamu baik-baik."
Abah Husein menghela napas panjang, sepertinya dia memang harus menghukum Zahra. Karena Zahra yang sekarang, sudah berubah. Tidak penurut dan berani melanggar larangan. "Zahra, abi telah merasa gagal mendidik kamu. Lebih baik kamu ikut saja dengan dia. Mulai sekarang kamu bukan anak abi."
Zahra mengernyitkan dahinya. "Maksud abi?"
"Abi tahu apa yang kalian lakukan tadi atas dasar suka sama suka. Abi sangat mengutuk perbuatan zina."
"Tidak abi. Zahra tidak melakukan apapun."
"Bibir bisa berkata bohong tapi tatapan mata kalian tidak bisa membohongi abi. Kalian pergi dari sini, sebelum abi laporkan masalah ini pada polisi." Abah Husein membalikkan badannya sambil menarik tangan istrinya yang tidak setuju dengan keputusannya.
Air mata Zahra kini meleleh di pipinya. Apakah perkataan abinya itu serius?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ina Karlina
idih seorang kiyai tapi pikiran nya sangat picik ..tidak bisa menilai ..dan berpikir bijak😡😡😡
2025-03-16
0
Erna Wati
dari mulut rendra
2023-10-13
0
Aliya Jazila
waduuhh tega banget sich abi
2023-05-20
0