Horror Disturbing
"Kamu. Berita macam apa yang kamu tulis ini. Sama sekali tidak ada nilai jual dan menarik minat membaca orang-orang!" ucapnya meluapkan emosi.
Pria paruh baya berumur 40 an memasuki ruang kerja karyawannya dan langsung menaruh kasar sampel berita yang telah di cetak pada sebuah meja. Sementara bentuk digitalnya sudah beredar pada khalayak umum.
"Maaf pak, apa saya berbuat salah?"
"Yah. Kamu lihat sendiri data berita Mingguan perusahaan kita, sudah turun drastis semenjak kamu mengedarkan berita ini!"
Orang yang diajak bicara pun beranjak bangun dari tempat duduknya "Biar saya lihat."
Berita tersebut menginformasikan kebenaran tentang berita sebelah yang menuliskan rumor seperti halnya menjatuhkan satu pihak tanpa perizinan pihak terkait.
Dan berita tersebut ditulis oleh Hani nama panggilan yang biasa rekan kerjanya panggil seorang wanita pekerja berusia 22 tahun dan sudah menikah.
"Tidak ada yang salah pak, saya sendiri mengedarkan berita ini untuk mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Bahwa perusahaan berita sebelah memang salah dalam menjalankan bisnisnya."
"Tch, kamu terlalu naif hendak menyerang perusahaan sebelah tanpa kamu antisipasi dulu akibatnya. Saya tahu jika perusahaan sebelah sering mengedarkan berita hangat yang menimbulkan konflik. Tapi mereka ini perusahaan berita ternama, bisa mengatur pasar saham dan sebagainya!"
"Maaf pak, saya akhirnya menyadari kesalahan saya. Ini karena saya tersulut emosi pada perusahaan sebelah, dan berita dua hari yang lalu, yang mereka edarkan mengulas isu pada kantor suami saya bekerja!" sahut Hani membela diri sembari menjelaskan alasan dirinya menulis berita tentang perusahaan sebelah. Yang tak lain karena ego dan fakta yang menurutnya terbukti secara klinis.
Namun perkataannya tersebut tidak menurunkan emosi boss tempat Hani bekerja lantaran berita Mingguan kemarin sudah banyak menimbulkan kerugian pada Perusahaan.
Yah. Selain menimbulkan banyak kecaman publik Perusahaan Micro word terancam bangkrut dalam beberapa hari kedepan.
"Saya tidak mau mendengar alasan mu, yang saya mau kamu harus membayar ganti rugi sebesar 300 juta kepada perusahaan ini!"
"Apa!? Mana mungkin saya harus membayar ganti rugi sebanyak itu? Harusnya dengan hal lain yang bisa saya lakukan sebagai bentuk tanggungjawab saya untuk menyelamatkan perusahaan ini."
Bagi Hani bertanggung jawab adalah moto kerja nya yang sudah ia terapkan selama dirinya bekerja di perusahaan berita ini, kurang lebih dua tahun lamanya ia bekerja.
Maka jika ia melakukan kesalahan apalagi memahami perusahaan tempat kerjanya merugi akibat kesalahan dirinya, Hani siap untuk pasang badan.
Plak!
Tamparan melayang di pipi Hani hingga membuatnya tersentak.
"Kamu tahu! CEO Perusahaan sebelah mengancam perusahaan kita akan bangkrut dalam beberapa hari kedepan. Lantaran tersinggung dengan berita yang kamu tulis ini."
Emosi pria paruh baya tersebut tidak lagi terbendung dan telah melampaui batasnya.
Sementara Hani tidak melawan balik setelah pipi sebelah kirinya memerah, karena tamparan dari boss nya tadi.
Ia tidak ingin menimbulkan banyak masalah di atas masalah utamanya. Yang belum terpikirkan olehnya sebuah ide.
"Saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya Pak, sebenarnya saya terlalu ceroboh langsung mengedarkan berita ini tanpa peninjauan lebih lanjut. Maafkan saya..." sembari Hani menundukkan wajahnya.
Merasa emosinya sudah menurun mengingat istrinya di rumah yang sedang hamil 5 bulan, pria paruh baya ini akhirnya mengambil jalur tengah.
"Ya sudah, kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan mu ini. Untuk denda sebesar 300 juta itu bisa kita bicarakan lagi dengan kepala dingin nanti. Saya harus pulang terlebih dahulu!"
"Terimakasih, terimakasih banyak Pak. Saya janji akan bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah ini semampu saya."
"Bagus, kamu memang wanita tangguh, aku salut padamu. Ingat untuk mengunci ruangan ini sebelum kamu pulang, sudah pukul 23.24 sekarang!"
"Baik Pak."
Sebenarnya sudah dua hari ini Hani lembur dari pekerjaannya menulis berita sekaligus mencari bahan dan isi berita tersebut secara langsung dengan turun kelapangan.
"Mbak, sudah waktunya perusahaan tutup!" ujar penjaga malam sembari menunjuk ke arah jam dinding sontak mengejutkan Hani yang sedang berkutat di depan monitor.
"Ah iya, sudah larut malam, aku juga mengantuk mau cepat tidur hehe.."
Yang di sahut hanya diam tidak berbicara lagi lalu keluar meninggalkan ruangan tempat kerja Hani.
"Mas Difan tumben sekali nggak melawak, dia kan orangnya humoris. Hmm mungkin dia lelah karena pekerjaannya. Ya sudah aku bersiap-siap untuk pulang."
Klek!
Pintu ruangan tempat kerjanya sudah ia kunci dengan keadaan didalamnya yang sudah gelap dan AC yang sudah dimatikan.
Langkah Hani mulai menuju ke arah lift dan bergegas untuk pulang sembari melihat keadaan sekitarnya yang menurutnya sunyi sepi tak ada seorangpun kecuali mas Difan yang sedang mengecek setiap ruangan.
Ting!
Pintu lift terbuka ia pun memasuki lift tersebut, Hani menghela nafas panjang kembali karena tak habis pikir dengan masalah perusahaannya. Yang tak lain disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Aku harus kuat menghadapi masalah ini, akan ada jalan keluar jika aku sabar dan berusaha."
Terlintas di pikiran Hani jika Perusahaan tempat kerjanya tidak pernah membatasi jam tutup saat dia lembur. Mengingat bos nya selalu memanjakan karyawannya yang sedang lembur. Artinya bebas pulang kapanpun asal kewajiban lembur telah diselesaikan.
"Eh, tadi aneh. Mas Difan kok mengatakan "waktu perusahaan tutup" padahal seingat ku perusahaan tidak membatasi karyawan yang lembur untuk pulang di jam tertentu."
Tidak berpikir ke arah negatif justru Hani memilih jawaban positif mengapa Mas Difan mengatakan hal tersebut. Menurutnya karena hati nurani manusia, mungkin mas Difan merasa jika Hani kelelahan dan hendak mengingatkan dirinya untuk pulang dan segera beristirahat.
Kini Hani sudah berada di dalam mobilnya dan mengendarainya menuju pintu keluar tempat parkiran khusus transportasi beroda empat.
"Pulang Han, hati-hati di jalan. Awas jangan sampai meleng!" ujar mas Difan yang tengah menyapa Hani disela-sela langkahnya sambil melahap gorengan di tangannya.
"Iya mas Difan, makasih..."
Hani yang sempat melihat mas Difan dari luar kaca mobilnya terlihat dengan wajah berseri-seri dan menurutnya seperti biasa, mas Difan memang selalu begitu.
Kini tangan Hani sedikit menegang, ketika memegang kemudi stir setelah mengingat kembali mas Difan yang berada di lantai 4 yang sebelumnya menyuruhnya untuk pulang dan kini ia bertemu kembali dengannya lagi di parkiran.
"Hu... apa jangan-jangan..."
Drrtttt...
Suara pesan chat membuyarkan pikiran negatifnya kini membuat Hani mengulum senyum saat membaca pesan teks dari suaminya itu. Yang katanya sedang menunggunya sambil menonton siaran televisi.
"Nggak sabar nobar bareng sama suami tercintaku, apalagi besok hari Minggu, aku mau mengajaknya dinner."
Di tengah perjalanan Hani memilih untuk melewati jalur pintas agar dirinya cepat sampai ke rumah dan bertemu dengan suaminya. Melewati jalur sepi tak ada kendaraan satupun karena di sebelah kirinya terdapat jurang. Jalur yang ia tahu jarang dilalui kendaraan.
Hingga mobilnya terpaksa Hani hentikan lantaran dihadang oleh tiga pria yang tengah berdiri di jalan terlihat dari sorot lampu mobil, mereka bertampang bak preman.
"Siapa mereka?"
Merasakan firasat buruk Hani memaksa untuk melewati jalan yang dihadang oleh mereka seraya menginjak pedal gas.
Tiga penghadang itupun tertinggal namun dari kaca spion Hani melihat mereka mengejarnya dengan sepeda motor.
"Apa-apaan sih mereka ini, ganggu perjalanan aku saja."
Melewati tingkungan tajam Hani mengendarai mobilnya bak pembalap lalu mempercepat laju mobilnya hingga membuat mereka tertinggal jauh.
Didalam Hani merasakan hawa aneh dan bau anyir sehingga mau tak mau dirinya harus menengok kebelakang.
Sontak Hani terkejut saat melihat sosok perempuan berpakaian kuno dengan wajah rusak membuatnya secara tak sengaja membanting stir ke kiri hingga mobilnya menabrak pohon dekat dengan jurang.
Brak!!
Mendengar suara kendaraan bermotor Hani langsung keluar dari mobilnya meskipun dalam keadaan berdarah-darah di kepala dan tangannya.
Penggerakan Hani terlihat oleh ketiga penghadang dan membuat dirinya dalam pilihan sulit antara pasrah dan lari dengan sisa tenaganya.
Iapun memilih terus berlari tanpa memperdulikan kondisi dirinya yang cukup parah hingga kakinya tersandung akar pohon besar dan membuatnya jatuh ke jurang.
"Aahhh!!!"
Melihat korbannya yang jatuh ke jurang ketiga pria itu bergidik ngeri dan meninggalkan tempat kejadian begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
La Vey
kalo dipikir. kesalahan bawahan juga kesalahan atasan, tapi kok tanggung jawabnya kena ke bawahan?
2023-04-30
0
La Vey
berita yang emosional bagus sih, tapi enggak baik buat kejiwaan. berita rata2 manipulatif satu pihak.
2023-04-30
0
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
izin baca kak
penasaran soalnya
semoga ga bikin kecewa yaaa🤭🤭🤭🤭🙏
2023-02-25
0