Tanpa banyak kata Darla menuruti perkataan James. Sesampainya di luar dia berdiri di dekat pintu mobil, mengedarkan pandangan ke segala arah melihat mansion besar dan megah bergaya klasik itu dengan seksama. Nampak para pria berstelan jas hitam bertengker di depan pintu utama seperti menyambut kedatangan Tuannya.
"Long time no see, Mister." Pria tua yang memakai setelan jas berwarna putih hitam membungkukan badan dihadapan James.
"Hmm," balas James tanpa menatap lawan bicaranya. Dia berjalan dengan gagah menuju pelataran mansion. Seketika kakinya terhenti tatkala Darla masih bergeming di tempat.
James menoleh, melayangkan tatapan dingin, mengintimidasi Darla. "Hei, kau! Masuk!!" bentaknya.
Lagi dan lagi Darla berusaha meredam dadanya yang bergemuruh kuat. Ketika mendapatkan perlakuan kasar dari James. Darla malas berdebat sebab tenaganya sudah tersisa 1 persen. Ia merengut kesal sembari mengikuti langkah kaki James.
"Siapa dia Tuan?" tanya pria tua yang tadi menyambut James.
"Dia, pelayanku!" sahut James dengan menampakkan ekspresi merendahkan membuat mata Darla melebarkan mata dengan sempurna.
'Si@lan! Awas saja kalau aku sudah selesai makan, akan ku keluarkan semua tenagaku!" batin Darla sembari menatap dingin James pula.
"Oh, i see, dia akan ditempatkan di mana Tuan?" tanyanya lagi.
"Terserah, tapi sepertinya dalam waktu beberapa bulan dia akan hamil." Ayunan kaki James terhenti di sofa yang memanjang di ruang tengah.
Pria tua itu tak menampilkan ekspresi terkejut sama sekali malah melayangkan tatapan menyelidik pada Darla. Darla keheranan dengan sikap pria tua itu. Apa dia kaki tangan James, entah lah yang pasti pria tua itu sedang menilai dan mengamati penampilannya sekarang.
Detik selanjutnya pria tua itu beralih menatap James yang tengah menyenderkan kepalanya di sofa. "Baik, Tuan. Serahkan semua kepada saya, apa Nyonya besar perlu di beri tahu?" Dengan hati-hati pria tua itu bertanya sembari mengambil teko di atas meja kemudian menuangkan air ke dalam gelas.
"Tidak usah. Tidak penting ibu tahu, dia masih di Rusia, Kan?"
"Masih Tuan." Pria tua itu menyodorkan gelas kepada James. Dengan cepat James menyambar gelas tersebut dan meneguknya hingga tandas.
"Good, lakukan tugasmu, Grey. Aku mau beristirahat, jelaskan pada wanita ini apa saja yang akan dia lakukan di mansion." James bangkit berdiri sambil melayangkan tatapan dingin pada Darla.
"Hei kau! Jangan membuat keributan di mansionku! Ingat kau istri sekaligus pelayanku sekarang!"
"Tapi–"
Sebelum Darla protes secepat kilat James melenggang pergi meninggalkan Darla dan Grey di ruangan. Selepas kepergian James, Darla menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sembari menyumpah serapah James.
"Pria gila! Pria psyco, siapa juga yang mau menjadi istrinya! Argh! Ceraikan saja aku sekarang ha?!" teriak Darla membuat Grey menutup telinganya seketika.
"Nona, lebih baik anda diam. Apa nona tidak takut dengan Tuan James," ucap Grey menatap serius Darla.
"Takut? Memangnya dia siapa?!" tanya Darla seraya melipat tangannya di dada lalu mengangkat wajah angkuhnya
Satu alis Grey terangkat. Matanya memicing melihat keberanian Darla seakan meremehkan Tuannya. Rasa tidak suka nampak jelas di wajah pria paruh baya itu.
"Anda benar-benar tidak tau, siapa James Vardy?" tanyanya ingin memastikan.
Darla menggeleng menandakan dia benar-benar tidak tahu. Lagi pula Darla bukanlah golongan kelas atas walaupun Auntynya adalah orang yang disegani di Los Angeles. Darla jelas berbeda mungkin karena tak memiliki orangtua lagi membuatnya menarik diri untuk tidak mencampuri urusan Aunty dan keluarganya.
"Sepertinya tugasku sangat lah banyak, baik lah kita ke ruang belakang dulu. Saya akan menjelaskan pada anda, siapa James Vardy." Mendengar perkataan Grey, Darla hanya mengangguk saja. Sebab dia juga penasaran siapa James mengapa sepertinya sangat penting dan dihormati Grey.
Dengan langkah gontai Darla mengekori Grey dari belakang sembari sesekali melihat para maid yang diperkerjakan di mansion melayangkan tatapan tidak suka padanya.
'Mereka kenapa sih? Aneh sekali, apa semua orang di mansion ini jahat! Cih, mengapa aku seperti masuk ke penjara!' Darla berdecak kesal sejenak. Di sepanjang langkah Darla melihat furniture mahal dan ukiran klasik menghiasi interior mansion. Sedikit terkesima karena hiasan yang nampak memanjakan matanya.
"Tunggu sebentar. Duduk lah di sini." Grey mempersilahkan Darla duduk di kursi kayu yang menghadap ke arah taman belakang. Darla duduk kemudian mengambil posisi badan senyaman mungkin. Sementara Grey pergi ke ruang lain hendak mengambil sesuatu.
Lima menit pun berlalu. Grey kembali dengan menenteng i-pad. Melihat kedatangan Grey, Darla menegakkan tubuhnya seketika. Lalu berkata,"Hmm, Tuan, aku haus, boleh kah aku meminta minum."
Grey menarik nafas pelan. "Sebelum anda meminta, anda harus membaca peraturan di mansion ini," katanya membuat Darla meneguk air ludahnya lagi karena dia benar-benar kehausan.
"Tapi aku benar-benar haus..." ucap Darla lirih tapi masih bisa di dengar oleh Grey.
"Haus?" Bunyi derap langkah kaki dari belakang mengalihkan pandangan Darla dan Grey. Melihat kedatangan James. Grey kembali membungkukan badan.
"Maaf, Tuan karena membuat keributan." Grey mendekati James kemudian melayangkan tatapan tidak suka pada Darla.
James mendengus pelan kemudian mengangkat satu jari telunjuknya ke udara. "Dengar kan aku, jika kau mau minum tunggu aba-aba diriku, paham?!" katanya dengan menatap Darla dingin.
Rahang Darla mengeras seketika mendengar perkataan James barusan. Apa dia gila? Minum saja harus di atur-atur benar-benar kaku seperti robot. Tanpa aba-aba Darla beranjak dari kursinya, menghampiri James, lalu berkata," Dengar ya James Vardy yang terhormat, tidak semua orang bisa kau atur-atur ha! Kau pikir kau siapa?! Suamiku? Cih! Kau itu pria arogan dan jelek yang pernah ku temui!" Darla menunjuk-nunjuk wajah James dengan menatap tajam.
James berdecih sesaat kemudian berkata,"Ternyata kau punya nyali juga, karena aku sedang berbaik hati minum lah sepuasmu hari ini, Grey antarkan dia ke dapur, perlakukan dia sebagai seorang babu, karena dia memang babu!"
"Kau!!!" teriak Darla membuat James mencengkram dagunya seketika.
"Berani sekali kau denganku!" James melototkan matanya menatap sengit seakan ingin menguliti Darla sekarang jua.
"Argh! Lepas!" teriak Darla.
James menghempas kasar dagu Darla hingga menyebabkan tubuhnya terhuyung ke belakang sesaat. Secepat kilat Darla menahan tubuhnya agar tak terjatuh ke lantai.
"Grey! Cepat lakukan tugasmu, aku mau pergi, nanti malam aku tidak mau ada satupun kesalahan." James merapikan sesaat stelan jasnya kemudian berlalu pergi.
"Pria gila!!!" jerit Darla lagi dan lagi. Ingin sekali dia melayangkan bogeman di tubuh James tapi mengingat dirinya di sarang buaya Darla mengurungkan niatnya.
"Nona, jaga etika anda, jika masih mau melihat matahari!" Grey mulai tersulut emosi tatkala Darla kembali menyumpahi Tuannya.
Darla tergugu, melihat pancaran mata Grey sangat tajam dan dingin. "Maaf, aku tidak bermaksud, hm sudah lebih anda menjelaskan padaku siapa Tuanmu itu." Suara Darla terdengar merendah. Walau bagaimana pun Grey lebih tua darinya.
"Hm, kita ke dapur dulu, saya tidak mau anda pingsan, karena akan merepotkan saya nantinya."
Darla mengangguk patuh.
*
*
*
Setelah selesai menuntaskan keinginan minumnya. Darla dan Grey kembali ke ruang semula hendak mendengarkan latar belakang James Vardy dan apa saja yang harus Darla kerjakan selama tinggal di mansion.
Mata Darla berkedip pelan tatkala mendapat sebuah informasi jika James Vardy adalah seorang mafia yang terkejam dan terkenal di Rusia. Dengan susah payah Darla menelan ludahnya. Belum lagi peraturan yang dibaca Grey membuat matanya terbelalak.
"Anda harus menyiapkan pakaian James sebelum dia terbangun di pagi hari, lalu memasak makanan untuknya jika dia meminta, kemudian anda bisa membaca peraturan makan dan minum di buku ini. Semuanya ada di sini." Grey menyodorkan sebuah buku bercetak tebal kepadanya.
Darla melonggo sesaat kemudian memijit keningnya. Belum di baca saja sudah membuat kepalanya pening.
"Apa Tuanmu itu tidak memiliki istri? Maksudku pacar atau pasangan?" tanya Darla. Jika dilihat-lihat James tampan dan mempesona walaupun di matanya Eslin lebih berkharisma dan terlihat menggoda.
Mendengar perkataan Darla, raut wajah Grey berubah drastis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Surati
apakah ini ada konspirasi antara tantenya Darla dan Eslin agar Darla terjebak dgn james
2022-11-05
4
tria sulistia
penasaran. pasti ada yang jebak Darla supaya jauh dari eslin
2022-11-04
0
🌹🌹🍀🍀Edelweis🌻🌻🌈🌈
klo kurasa ini pasti ulah mom lily buat menjauhkan darla dan eslin 🤔🤔🤔
2022-11-02
1