Arkan dengan segera mencengkram kuat rahang Aleia, untuk menghentikan wanita ini bicara. Apapun yang keluar dari mulut Aleia selalu berhasil membuatnya marah.
Dan apa yang telah dilakukan oleh Aleia saat ini, benar-benar tak akan mendapatkan maaf dari pria berwajah dingin itu. Aleia telah menghancurkan satu-satunya barang bukti yang bisa dia gunakan untuk menjerat wanita ini.
Aleia telah merusak semua usahanya untuk mengungkap sebuah kebenaran.
"Sikap mu sudah benar-benar di luar batas Aleia," ucap Arkan dengan suaranya yang sangat dingin sementara tangannya pun semakin mencengkeram kuat rahang sang istri sampai membuat Aleia merasa kesakitan.
Saking sakitnya Aleia bahkan tanpa sadar jatuhkan tongkat baseball yang ada di tangan kanannya. Lalu coba melepas cengkraman tangan Arkan, tapi tidak membuahkan hasil karena dia kalah tenaga.
"Apa kamu tahu apa yang sudah kamu hancurkan?" tanya Arkan, matanya menatap nyalang, seolah siap menerkam Aleia sebagai mangsa. Benci sekali dia pada wanita ini.
"Itu adalah chip ponsel milik Diora, bodoh," ucapnya dengan penekanan yang sangat jelas.
"Dan kamu menghancurkannya? HAH? ingin menghilangkan barang bukti? Sialan!" geram Arkan, cengkraman tangannya semakin kuat Aleia rasa.
Wanita itu tak sanggup lagi berada dalam kesakitan ini. Dia terus memikirkan bagaimana caranya keluar dari situasi ini, sedikitpun tidak mendengarkan apa yang sedang Arkan bicarakan.
Sampai akhirnya Aleia mendapatkan sebuah cara, dia membuka mulutnya lebar-lebar sampai ibu jari Arkan masuk ke dalam mulutnya, dan dalam sekejap saja Aleia dengan segera menggigit jari itu kuat-kuat.
"Arght!" pekik Arkan, saat Aleia melepasnya, jari itu sudah terluka karena giginya.
Aleia mundur dan segera mengambil tongkat baseball miliknya, mengarahkannya kepada Arkan tepat di hadapan Wajah pria itu.
"Jangan sekali-kali menyakiti aku Ar, sudah cukup Diora menghancurkan hidupku, aku tidak akan membiarkan kamu menghancurkan hidupku juga," ucap Aleia dengan kedua mata yang menatap nanar pada pria itu.
Pernikahan ini benar-benar seperti di neraka. mereka berdua hanya terus saling menyakiti satu sama lain. Tapi Aleia tak akan menyerah. Inilah yang Diora inginkan tentang hubungan dengan Arkan.
"Apa aku jalaang? apa itu yang dikatakan Diora? lalu apa yang kamu rasakan semalam? apa begitu nikmat? lalu dimana otak mu? tentang harga diri sahabatnya sendiri saja dia hancurkan, tapi kamu masih menilainya baik? kamu lah yang paling bodoh!" tegas Aleia, suaranya nyaris terdengar bergetar. Bicara diantara rasa sakit yang masih jelas dia rasakan di rahangnya.
Cengkeraman tangan Arkan, meninggalkan bekas biru di wajah wanita cantik itu.
"Jaga bicara mu!"
"Kalau begitu jaga sikapmu! jangan coba-coba lagi bersikap kasar pada ku," balas Aleia, kini kedua matanya telah berkaca-kaca. Dia masih mengarahkan tongkat baseball itu di wajah Arkan. sekuat tenaga Aleia menahan agar air mata itu tidak tumpah.
Di hadapan pria ini dia tidak akan menunjukkan sisi lemahnya. Tidak ingin Arkan beranggapan bahwa telah berhasil membuatnya teraniaya.
Tentang baby Bryan, bukan sekarang dia ungkap. Hatinya pun masih sangat gamang.
Cukuplah harga dirinya kembali dia pulihkan.
Aleia kemudian memutuskan untuk keluar dari ruang kerja itu. Membuang tongkat baseballnya ke sembarang arah hingga kembali menimbulkan suara yang gaduh.
Aleia pergi, meninggalkan Arkan dengan tatapan kosong melihat lab mininya hancur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
andi hastutty
Masih mau arkan
2024-08-27
0
fitriani
dasar laki2 dajjal... justru kl chip itu bisa pulih malah yg ada lu yg hancur oon
2024-05-12
2
adning iza
arkan smoga cpet nyesel lo
2024-04-27
0