Aleia menyentuh dadanya yang bergemuruh, dia bersandar di balik pintu itu setelah membantingnya.
Tiba-tiba ada lelehan air mata yang keluar dari kedua manik indahnya. Terasa panas turun membasahi pipi sampai jatuh ke bajunya sendiri.
Setelah beberapa bulan pernikahan mereka, tapi hubungannya dengan Arkan masih juga tak membaik.
Pria itu terlalu angkuh.
Padahal Aleia begitu rapuh, 1 kata maaf saja yang keluar dari mulut Arkan maka akan meluluhkan hatinya. Tapi hingga kini Arkan tak pernah mengucapkan satu kata itu. Setelah semua tuduhan yang tidak berdasar, setelah semua perlakuan kasar.
"Huh, sabar Aleia, kamu lah yang menginginkan pernikahan ini. Kata mu tak apa-apa, tidak mendapatkan cinta Arkan, yang penting bisa bersama dan hidup menua bersama pria itu," gumam Aleia, bicara pada dirinya sendiri.
Pagi datang.
Tidak peduli sedingin apa hubungannya dengan sang suami, Aleia tetap menjalani perannya sebagai seorang istri dan ibu.
Aleia bebas masuk ke kamar yang dipakai Arkan, menyiapkan baju kerja sang suami sebelum pria itu bangun.
Tidak peduli meski selama ini Arkan tidak pernah memakai baju yang sudah dia siapkan.
Aleia serba tidak peduli, yang penting dia telah menjalani tugasnya. Hanya Arkan yang tinggal mengambil peran sebagai suami, yang entah kapan akan dilakukan oleh pria itu.
Selesai Arkan Aleia ke dapur, lalu baby Bryan dan akhirnya memperhatikan dirinya sendiri.
Saat merias wajahnya, ponsel wanita cantik itu berbunyi, tanda jika ada pesan masuk.
Dari nomor baru.
Aku Jack, Diora mengatakan padaku jika dia meninggalkan sebuah barang yang sangat berharga untukku sebelum dia meninggal, apa anda tahu benda itu nona Aleia?
Deg! Aleia dengan cepat melempar ponselnya di atas meja rias. Seketika ketakutan merasuki dia. Takut kehilangan sang anak, takut kehilangan pernikahan ini.
"Tidak, jangan takut, tidak, tenanglah Leia, tenang," gumam Aleia dengan cemas. Berulang kali menarik dan membuang nafasnya dengan pelan.
Menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Aleia mengabaikan pesan itu dan segera keluar dari kamar.
Menuruni anak tangga dengan tergesa, sampai tak sadar jika ada Arkan yang melintas dari ruang tengah.
Bruk! keduanya bertabrakan. Mereka sampai jatuh dan Aleia menindih tubuh sang suami.
Arkan memejamkan mata, merasa kesal dan sakit sekaligus.
"Kamu tidak punya mata?" tanya pria itu dengan sangat sengit.
"Maaf ... dan terima kasih, jatuh di tubuh mu empuk juga."
"Menyingkir!"
"Iya iya," balas Aleia pasrah. Bibirnya mencebik saat kembali melihat Arkan tidak memakai baju yang sudah dia siapkan.
Sudah sama-sama bangkit, Arkan membersihkan bajunya, seolah risih baru saja disentuh oleh sang istri.
Kemudian berjalan lebih dulu menuju meja makan.
Aleia mengikuti.
"Bik, aku tidak saparan, mana bekal ku?"
"Ini Nyonya."
"Nanti aku juga pulang larut malam, tunggu aku ya, aku takut kalau pulang rumahnya sepi."
"Baik Nyonya," jawab pelayan itu patuh, seraya mengukirkan senyum kecil. Di satu sisi Aleia terlihat sangat garang ketika melawan sang tuan, namun disisi lain Aleia tetaplah terlihat seperti seorang nona muda yang lemah.
Aleia mengambil kotak bekalnya, berbalik dan menghampiri Arkan.
"Aku pergi ... suamiku," ucap Aleia, wajahnya datar menatap reaksi Arkan yang tak berkutik sedikit pun. Bahkan membalas tatapannya pun tidak, terus menyeduh teh hangat yang tersaji.
Aleia lantas menunduk dan mencium pipi suaminya itu.
Cup!
Lalu pergi dari sana.
Sang pelayan yang melihat adegan itu hanya mampu membuang nafasnya perlahan.
Suatu saat ketika nyonya Aleia lelah, tuan Arkan akan jatuh dipenyesalan yang paling dalam, batinnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments
Ita rahmawati
pelayan nya aja peka kok arkan nya ogeb
2025-01-06
0
komalia komalia
jadi kesel
2025-01-31
0
andi hastutty
Pelayan saja tau tuh nah suaminya ngga ada rasa
2024-08-27
1