"E-Emely apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" Merry yang terkejut bergegas menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, namun saat ia melihat ke dalam selimutnya ternyata ia telah memakai piyama tidurnya.
Kapan ia memakainya pikirnya, namun sepertinya William yang melakukannya mengingat dirinya yang terlelap hampir pagi itu masih berada dalam pelukan pria itu dengan keadaan tanpa busana.
"Merry kenapa kamu tidak bangun-bangun ?" protes Emely kemudian.
"Maaf ya sayang aku lelah banget." Merry nampak beranjak duduk lalu meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Memang Merry habis ngapain lelah ?" tanya Emely lagi.
"Aku..." Merry menjeda ucapannya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Gadis itu harus memaksa otaknya yang belum sepenuhnya bangun untuk mencari jawaban yang tepat, tidak mungkin kan ia mengatakan jika habis di kerjain Daddy nya semalaman.
"Berenang, ya berenang sayang." sahutnya kemudian.
"Malam-malam ?" Emely nampak terkejut namun juga sepertinya tertarik.
"Benar sayang tapi khusus orang dewasa ya, karena udara malam tidak baik untuk anak kecil." terang Merry sembari berbisik dan itu membuat Emely mengangguk.
"Terus Merry ngapain tidur di kamar Daddy ?" tanya Emely lagi dan sontak membuat Merry melebarkan matanya.
"Mati aku."
"Karena Merry is...." ucapan William yang baru keluar dari kamar mandinya langsung tertahan saat Merry tiba-tiba loncat dari atas kasurnya lalu membekap bibir pria itu.
"Ini sebenarnya kamarku sayang dan Daddy di sini cuma numpang mandi karena toilet di kamar Daddy sedang bermasalah, ya kan Daddy ?" ucap Merry memotong perkataan William, matanya nampak melotot agar pria itu mau bekerja sama.
Sementara William yang mulutnya di bekap oleh istri kecilnya itu nampak memicing menatap gadis itu.
"Oh gitu, kasihan sekali Daddy. Daddy besok boleh kok mandi di kamar Emely." ucap Emely seraya turun dari kasurnya.
"Baiklah Emely mau ke bawah sebentar ambil mainan." imbuhnya lagi, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya tersebut.
Merry nampak lega setelah kepergian Emely, kemudian ia segera menjauhkan tangannya dari bibir William.
Gadis itu nampak nyengir saat melihat William yang masih menatapnya tajam, mungkin pria itu marah karena ia telah berlaku tak sopan.
"A-aku mau mandi juga." ucap Merry seraya melangkahkan kakinya pergi untuk menghindari pria itu.
Namun William langsung menarik lengannya hingga membuat Merry kembali mendekat.
"Pergi begitu saja setelah berlaku tak sopan pada suamimu, hm ?" lirih William namun seperti sebuah ledakan di telinga Merry, gadis itu langsung memutar otaknya untuk berpikir agar terhindar dari hukuman pria itu.
"Ma-maaf." ucapnya pada akhirnya, sepertinya pura-pura baik pada pria itu akan membuatnya selamat dan di saat pria itu lengah maka ia akan menjalankan rencananya, melenyapkannya atau kabur dari Mansion ini dan jika ia bisa melakukan keduanya kenapa tidak.
"Saya tidak dengar." ucap William saat Merry berbicara cukup pelan meski ia sebenarnya mendengarnya dengan jelas.
"A-aku minta maaf, paman." ulang Merry.
"Paman ?" William nampak memicing.
"Ma-maksudku Wi-William." sahut Merry buru-buru.
"Saya tidak menyukai sebuah kesalahan ingat itu dan hukumanmu bertambah satu poin." terang William kemudian yang langsung membuat Merry melotot, lalu gadis itu mengejar pria itu yang berlalu menuju lemari pakaiannya.
"Bukannya aku sudah minta maaf." protes Merry.
"Saya tidak suka di bantah." William menatap tegas istri kecilnya itu, lalu ia berbalik badan namun Merry langsung memegang handuk yang melilit di pinggangnya itu.
"Tapi...." Merry nampak menjeda ucapannya saat mengikuti mata William yang tertujuh ke arah handuk yang hampir melorot karena ia pegang dengan kuat itu.
Melihat itu Merry langsung menjauhkan tangannya, sepertinya gadis itu tak menyadari perbuatannya.
Kemudian Merry langsung berlari masuk ke dalam kamar sebelum handuk tersebut melorot beneran dan pada akhirnya dirinya yang akan jadi korban.
Sepanjang membersihkan dirinya, Merry nampak berpikir keras mengenai rencananya. Ia merasa semakin melawan William, pria itu akan semakin semena-mena padanya.
Haruskah ia mengubah rencananya ?
"Daddy, di mana Merry ?" tiba-tiba Emely masuk saat William baru selesai berganti pakaian kerjanya.
"Mandi sayang." sahut William.
"Apa Daddy mau kerja ?" tanya Emely lagi.
"Daddy ada urusan sebentar." sahut William seraya mengambil beberapa dasinya di dalam lemari pakaiannya.
"Baiklah, nanti aku kembali." Emely yang tak menemukan Merry langsung berlalu keluar lagi.
Sementara William nampak sedang berdiri di depan cermin, pria itu terlihat kesulitan memilih beberapa dasi yang cocok.
"Apa perlu bantuan ?" ucap Merry menawarkan diri untuk membantu, sepertinya gadis itu mulai menjalankan rencana terbarunya.
"Hm." William mengangguk kecil.
Merry segera mendekat lalu mengambil salah satu dasi yang menurutnya cocok, kemudian ia berjinjit agar memudahkannya untuk memasangkan dasi suaminya itu.
Gadis itu nampak canggung saat berada begitu dekat dengan William, apalagi mata pria itu mengawasinya tanpa berkedip.
"Kenapa dia menatapku seperti itu ?" gumamnya dalam hati.
Sementara itu William nampak menatap datar istri kecilnya itu, entah apa yang pria itu pikirkan namun tatapannya menyimpan banyak makna di sana.
Merry terlihat sangat lincah memasangkan dasi tersebut karena sebelumnya ia sering membantu ayahnya.
Mengingat sang ayah Merry langsung mengepalkan tangannya lalu tanpa sadar ia menarik dasi tersebut dengan kencang hingga membuat William tersentak kaget.
"Apa kau ingin membunuhku ?" hardik William seraya mencengkeram tangan Merry dengan kencang hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Maaf tidak sengaja, aku hampir jatuh tadi karena kelamaan berjinjit." sahut Merry beralasan.
"Kerjakan dengan benar, karena mulai hari ini kamu yang akan memasangkan dasi untuk saya." tegas William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya.
Merry segera memasang dasi William kembali. "Harusnya aku tadi mencekiknya sampai mati." gumamnya pelan.
Namun Merry tersentak saat tiba-tiba William memegang kedua pinggangnya, sepertinya pria itu tak ingin gadis itu jatuh untuk kedua kalinya dan berujung mencekik lehernya.
"Kamu bilang apa ?" ucap William saat tak mendengar jelas gumamam Merry.
"Tidak, tidak ada bilang apa-apa." Merry menggelengkan kepalanya cepat.
"Sudah selesai." imbuhnya kemudian seraya menatap hasil karyanya itu.
William menatap kaca sejenak, setelah memastikan penampilannya rapi ia berlalu menjauh dari istrinya itu.
"Begitu saja ? " gumam Merry saat William tak mengatakan sepatah kata pun dan berlalu pergi begitu saja.
Biasanya ayahnya akan mengucapkan terima kasih lalu mengecup pipinya saat ia baru selesai memasangkan dasinya.
Namun seorang William langsung meninggalkannya begitu saja tanpa berucap apapun.
"Memang apa yang ku harapkan dari dia." gumamnya merutuki pikirannya.
Merry jadi merindukan ayahnya, lalu gadis itu berjalan menuju jendela kaca yang memperlihatkan pepohonan yang berdiri kokoh mengelilingi mansion tersebut.
"Merry." panggil Emely yang baru masuk ke dalam kamar ayahnya.
"Ya sayang." Merry langsung berbaik badan menatap gadis kecil itu.
"Ayo bermain." Emely nampak membawa buku gambarnya serta alat lukis, sepertinya gadis kecil itu sangat hobby menggambar.
Merry tersenyum senang, kesedihannya sedikit terobati dengan kehadiran gadis cilik itu.
"Merry, bukannya itu Daddy ?" tanya Emely tiba-tiba saat melihat sang ayah muncul di salah satu stasiun televisi yang sedang menyiarkan secara langsung sebuah acara sosial yang di hadiri oleh beberapa pengusaha kelas kakap.
Merry yang sedang membersihkan noda cat di lantai langsung mengangkat kepalanya.
Deg!!
Gadis itu melihat William sedang menggandeng mesra Natalie di sebuah acara sosial.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 321 Episodes
Comments
Marianti Purba
isss,, William ada2 aja deh,sudah punya bini juga
2023-07-28
0
Kᵝ⃟ᴸ♤⋆⏤͟͟͞R𝐙⃝🦜
si paman nih,,waferin bocil,,baru di ahem eh,, ditinggal ngayap ma buluketek...🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-06-18
0
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
ayoo merry besok pasang kan dasi yg berbentuk rantai ya biar bisa cekik si paman🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-04-15
1