"Patuh atau mereka semua akan saya habisi di depanmu sekarang juga." lirih William tepat di telinga Merry yang sontak membuat gadis itu berbalik badan menatapnya.
Merry nampak menatap tajam William. "Apa sudah menjadi hobby mu membunuh orang hah? kenapa kamu lakukan ini padaku? apa salahku padamu ?" teriak Merry seraya memukul dada bidang William dengan membabi buta.
"Saya bilang patuh dan segera pakai pakaianmu !!" ucap William dengan dingin, mata elangnya nampak menatap tajam Merry hingga membuat gadis itu sontak berhenti memukulinya.
"Bunuh saja aku !!" teriak Merry sambil terisak.
"Saya akan meledakkan kepala mereka semua jika kamu tidak menurut dan jika itu terjadi apa bedanya kamu dan saya? kita sama-sama seorang pembunuh namun dengan cara yang berbeda." sinis William yang langsung membuat Merry menelan ludahnya lalu di pandanginya wajah para pelayan itu satu persatu.
Mereka nampak menatap Merry dengan wajah memelas dan itu membuat Merry merasa serba salah.
"Tidak, mereka bukan keluargaku jika mereka mati itu bukan urusanku." Merry berkata dalam hati.
"Bunuh saja mereka, aku tidak peduli." ucapnya kemudian seraya membuang wajahnya, keluarganya sudah di bantai dengan tragis jadi untuk apa ia peduli dengan orang lain lagi.
Mendengar ucapan Merry, William nampak tersenyum sinis. "Keras kepala." ucapnya lalu menarik pelatuk senjata apinya dan mengarahkannya pada salah satu pelayan yang sudah berusia setengah baya.
Pelayan itu nampak menangis memohon ampun saat detik-detik ajal akan menjemputnya dan itu mengingatkan Merry bagaimana ibunya juga melakukan itu sebelum peristiwa penembakan terjadi.
"Hentikan, tolong hentikan !!" Merry langsung berdiri di depan pelayan tersebut dan kini senjata api itu mengarah padanya.
"Tembak saja aku." ucapnya tak ada rasa takut.
Namun William sepertinya tak kurang akal ia langsung mengarahkan senjata apinya ke pelayan lain dan siap menembak mereka satu persatu.
Saat pria itu akan melepaskan tembakannya, Merry langsung berlari memeluknya.
"Baiklah, aku mau menikah denganmu tapi tolong jangan lakukan itu." teriak Merry pada akhirnya.
"Aku akan menikah denganmu dan jika ada peluang aku akan menghabisimu." imbuhnya lagi dalam hati.
"Bagus, jadilah gadis penurut dan keberuntungan akan selalu menyertaimu." ucap William dengan wajah puas.
Kemudian pria itu menjauhkan tubuh Merry yang berada di pelukannya, lalu menatap calon istri kecilnya itu dari dekat.
"Dan jangan harap bisa merealisasikan pikiran picikmu itu." imbuhnya lagi dengan mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
Mendengar ucapan William, Merry langsung menelan ludahnya. "Apa bajingan ini bisa membaca pikiranku ?"tanyanya dalam hati.
William nampak memejamkan matanya sejenak saat mencium harum tubuh Merry yang menguar, lalu ia segera menarik dirinya menjauh kemudian berlalu keluar dari ruangan tersebut.
"Saya tidak suka menunggu." ucapnya sampai di ambang pintu, setelah itu menutup pintunya dengan keras.
Merry nampak terduduk lemas di lantai, tangisnya langsung pecah saat pria yang ia duga sebagai pembunuh kedua orang tuanya pergi dari kamarnya.
"Nona, tolong mari pakai gaun ini." mohon pelayan tersebut.
Sementara itu William yang sedang berada di kamarnya nampak berpenampilan rapi dengan kemeja serta jas yang membalut tubuh atletisnya.
"Tuan, nyonya Elena menghubungi kapan anda pulang karena nona Emely terus mencari anda ?" ucap James saat baru masuk, Emely adalah seorang gadis kecil berusia 7 tahun.
"Katakan malam ini saya tidak akan pulang." sahut William yang nampak duduk di sofa kamarnya.
"Nona Natalie juga berpesan kenapa anda sulit sekali di hubungi, katanya beliau merindukan anda." ucap James lagi.
Natalie adalah seorang model yang akhir-akhir ini dekat dengan William.
"Katakan saya sedang sibuk." sahut William, matanya nampak fokus dengan layar monitor di depannya itu.
"Baik tuan." sahut James.
"Anda terlihat tampan malam ini." pujinya saat melihat penampilan tuannya itu.
Namun William yang sedang sibuk mengecek pekerjaan di ipadnya nampak tak menanggapi pujian asistennya tersebut.
"Nyonya Elena dan nona Natalie pasti akan terkejut mendengar pernikahan anda ini tuan." terang James yang langsung membuat William menatapnya.
"Saya membayarmu mahal bukan untuk mengomentari hidupku James." sinisnya kemudian.
"Maaf, tuan." James nampak merasa bersalah.
Beberapa saat kemudian William dan Merry telah selesai melaksanakan upacara pernikahannya.
Pernikahan sederhana yang hanya di hadiri oleh para bodyguard William beserta pelayan di Mansion mewah tersebut.
"Jangan menatapku seperti itu honey, kamu seakan menuntutku untuk memikirkan gaya apa yang akan kita praktekkan malam ini." ucap William saat melihat Merry nampak menatapnya dengan tak ramah.
Tak ada aura bahagia di wajah Merry layaknya seorang pengantin baru, namun setiap tatapan tajam gadis itu justru membuat darah William berdesir hebat.
"Bedebah." umpat Merry dengan lantang dan itu membuat William tertawa girang.
"Sepertinya istri kecilku sudah tak sabar untuk bernyanyi malam ini." ucapnya seraya menggendong istri kecilnya itu lalu membawanya menaiki anak tangga.
"Lepaskan bajingan." teriak Merry seraya memukuli punggung pria yang baru beberapa menit menjadi suaminya itu.
Tubuhnya yang di gendong bak karung beras, membuat gadis itu dengan mudah melayangkan pukulannya.
Namun pukulan istrinya itu justru seperti membangkitkan gairah seorang William.
Kemudian di hempaskannya tubuh istri kecilnya itu di atas ranjang pribadinya yang mungkin hanya baru gadis itu satu-satunya wanita pertama yang masuk kesana.
Bahkan para pelayan pun tak ia biarkan meski hanya sekedar untuk melihatnya dan James lah setiap hari yang membersihkan kamarnya tersebut.
"Diam dan jadilah istri yang penurut !!" perintah William seraya memegang erat kedua tangan Merry yang ia bawa ke atas kepalanya hingga membuat dada gadis itu membusung indah dan itu membuat William langsung menelan ludahnya.
"Lepaskan, aku tidak mau menjadi istri bajingan sepertimu!!" Merry menatap tajam pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu.
"Patuhlah honey dan mari nikmati malam panjang ini dengan penuh gairah." Pria bermata elang dengan tatapan tajam seperti hunusan pedang itu nampak tersenyum menyeringai menatap istri keduanya itu.
Kemudian tanpa aba-aba pria itu langsung m3lum4t bibir ranum yang mungkin belum pernah di jamah oleh siapapun itu dengan rakus.
Namun tak berapa lama William menjauhkan wajahnya saat merasakan gigitan di bibirnya.
Bibir pria itu nampak mengucur darah segar dan itu membuat Merry tersenyum puas.
"Jadi kamu ingin bermain-main denganku bocah, baiklah sepertinya kamu ingin membuat malam ini semakin panjang." William nampak tersenyum sinis, kemudian dengan kasar menarik gaun Merry hingga robek.
Gaun pengantin berwarna putih sebatas dada itu nampak robek sampai bagian bawah hingga kini menyisakan pakaian dalam gadis itu dan itu justru membuat seorang William nampak tak berkedip menatap tubuh molek yang hampir polos itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 321 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
pura pura baik aja klo ada peluang bunuh dia 😔😔😔
2023-10-30
1
¢ᖱ'D⃤ ̐Sri Wahyuni
aduh jadi deg²an kasihan kamu Merry😥🥺
2023-10-29
1
epifania rendo
kasian mery
2023-09-24
0