Merry menggeleng cepat saat melihat bentuk keperkasaan milik William, namun seorang William tak pernah peduli dengan air mata ataupun permohonan.
Pria itu tetap menghujam celah lembab milik istrinya tak peduli bagaimana gadis itu meronta.
"Sial, kenapa sempit sekali." William mengadu nikmat meski miliknya di bawah sana belum sepenuhnya masuk.
Tak sabar dengan hal itu Pria bermata hazel itu nampak mengeratkan genggaman pada tangannya.
Lalu menyentak kuat bentuk kenikmatan sang istri, hingga sebuah jeritan kesakitan terlontar dari bibir gadis itu yang langsung membuat seorang William menghentikan hujamannya.
Pria itu menatap wajah gadis belia di bawahnya itu yang terlihat sedang kesakitan dan juga berurai air mata.
"Dia benar-benar masih gadis." gumamnya saat merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dengan para wanitanya.
"Kamu adalah milikku selamanya, Merry Martin." ucapnya kemudian seraya mengusap lembut keringat di kening istrinya itu, mengecupnya lalu mulai menggerakkan tubuhnya perlahan.
Hingga dua jam berlalu pria itu baru beranjak dari tubuh sang istri, membiarkan gadis belia yang sudah sepenuhnya menjadi miliknya itu terlelap tidur.
"Iya, sayang." ucapnya ketika mengangkat sebuah panggilan di ponselnya sesaat kemudian.
"Iya sayang, putri kecilnya Daddy, kenapa belum tidur? apa kamu mimpi buruk hm ?" imbuh William saat mendengar celoteh sang putri dari seberang telepon, kemudian ia beranjak dari ranjangnya lalu menarik selimut sedikit keatas agar istri kecilnya itu tidak kedinginan.
"Besok Daddy pulang, kamu baik-baik sama Mommy ya." ucap William seraya berjalan menjauh lalu membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan rapat dari luar.
Sementara itu Merry yang sedang berpura-pura tidur langsung mengerjapkan matanya saat mendengar bunyi pintu tertutup.
"Jadi bajingan itu sudah mempunyai anak dan istri ?" gumamnya menerka-nerka.
"Apa aku istri keduanya? ketiga atau kesekian kalinya? Aaarrggghh dasar pria monster cepat atau lambat aku akan menghabisimu, bisa-bisanya merenggut masa depan seorang gadis." umpat Merry dengan kesal, ingin rasanya ia mencekik pria yang beberapa saat lalu telah merenggut kesuciannya itu.
Tak berapa lama pintu kamarnya terbuka kembali hingga membuat Merry segera kembali ke posisinya semula, memejamkan matanya lalu berpura-pura mendengkur halus.
William yang baru saja mengangkat panggilan dari putri kecilnya nampak kembali naik keatas ranjangnya.
Merebahkan tubuhnya masuk ke dalam selimut yang sama yang di pakai oleh istrinya itu, lalu di raihnya tubuh gadis belia yang baru saja memberikannya sebuah kenikmatan luar biasa itu ke dalam pelukannya.
"Jangan pernah berpikir macam-macam, kadang apa yang dilihat dan didengar belum tentu sesuai dengan kenyataan karena hidup selalu penuh tipu daya." lirihnya seraya menatap wajah polos istrinya yang nampak tertidur pulas.
Merry yang sedang berpura-pura tidur, mencoba mencerna perkataan William namun tubuhnya yang teramat lelah membuatnya tertidur sebelum menemukan jawaban.
Keesokan harinya.....
Siang itu Merry nampak mengerjapkan matanya saat mendengar ketukan pintu dari luar, namun ia langsung berpura-pura tidur kembali saat mendengar derap langkah memasuki kamarnya.
Dari sudut matanya Merry nampak melihat James bersama seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan sedang membawa sebuah nampan lalu meletakkannya di atas meja.
Tak ada William di sana hingga membuat Merry berani membuka matanya.
"Selamat siang nyonya ?" James nampak mengulas senyumnya saat menatap nyonya mudanya itu yang nampak menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan hanya menyisakan wajah serta rambut panjangnya yang berantakan.
"Saya membawakan makan siang untuk anda." ucap James lagi saat melihat tatapan Merry yang tak bersahabat.
Darah Merry langsung mendidih setiap melihat James, pria itulah yang waktu itu ikut menodongkan senjata pada kedua orang tuanya.
"Pergi, sebelum aku mencekikmu." perintah Merry dengan angkuh, seandainya ada senjata api mungkin ia sudah menghabisinya.
"Saya hanya ingin memperkenalkan pelayan yang mulai hari ini akan melayani kebutuhan anda, nyonya." ucap James tak peduli nyonya mudanya itu bersikap acuh padanya.
"Saya Hanna nyonya, apapun yang anda butuhkan silakan katakan pada saya." ucap pelayan berbadan gempal tersebut memperkenalkan diri, wajah keibuannya nampak mengulas senyum ramah menatap nyonya mudanya itu.
Namun Merry yang sedang menahan amarahnya nampak enggan menanggapinya, wanita itu lebih memilih membuang mukanya ke arah lain.
"Tuan William sedang ada keperluan penting, mungkin nanti malam baru kembali." ucap James.
"Aku tak peduli." sahut Merry acuh.
James mengangguk kecil, kemudian ia segera mengajak pelayannya untuk segera meninggalkan kamar tuannya tersebut.
Mendengar pintu kamarnya di tutup pelan dari luar, Merry langsung beranjak dari tidurnya.
Dengan perasaan hancur gadis itu bangkit lalu menatap pantulan cermin di depannya yang menampakkan banyak sekali jejak kepemilikan di sana.
"Dasar maniak." umpatnya saat melihat itu, kemudian ia berlalu ke kamar mandi dengan berpegangan dinding menggunakan satu tangannya.
Selangkangannya yang masih perih membuatnya nampak berjalan tertatih sembari terisak.
Impiannya mempunyai seorang suami yang akan menggendongnya ke kamar mandi setelah melakukan malam pertamanya kini pupus sudah.
Bahkan bayangan pria yang semalam merenggut paksa kesuciannya itu tak terlihat lagi di kamarnya.
"Tentu saja bajingan itu pasti sedang bersama istri dan anak tercintanya." gumam Merry, mengingat semalam ia mendengar pria itu sedang menerima telepon dari seorang anak kecil dan juga suara tawa seorang wanita yang ia kira adalah istri pria itu.
Merry terus saja berjalan dengan berpegangan dinding, namun saat ia ingin menyerah tiba-tiba lengan besar menopang tubuhnya yang hampir terjatuh lalu menggendongnya ala bridal style dan membawannya masuk kedalam kamar mandi.
William meletakkan Merry di dalam bath up yang sudah penuh dengan air hangat.
"Segera bersihkan tubuhmu lalu habiskan makan siangmu." perintah William dengan nada dingin meski setiap sentuhannya terasa lembut di kulit Merry.
Namun Merry yang sedang marah nampak enggan menjawab, gadis itu justru memalingkan wajahnya ke arah lain.
William yang tidak ingin mengganggu istrinya segera meninggalkan kamar mandinya tersebut.
Tiga puluh menit berlalu, namun tak ada tanda-tanda Merry keluar dari kamar mandinya.
William yang sedang membaca surat kabar segera meletakkannya di atas meja, kemudian beranjak dari duduknya lalu mengetuk pintu kamar mandinya tersebut.
"Merry, buka pintunya !!" perintahnya, namun tak ada jawaban dari dalam.
"Saya katakan sekali lagi, buka pintunya Merry ?" William mulai geram, sepertinya istrinya itu memang sengaja mengabaikannya atau jangan-jangan sedang melakukan hal gila di dalam sana.
Memikirkan hal itu dengan langkah cepat William segera keluar kamarnya lalu tak berapa lama pria itu kembali dengan beberapa anak kunci di tangannya.
Setelah pintu kamar mandinya terbuka, William nampak melebarkan matanya saat melihat istri kecilnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 321 Episodes
Comments
Valkarin Lv
👍👍👍
2023-08-22
0
Marianti Purba
isss,, William lembut sedikit kek lu,,
2023-07-28
0
SEPTi
ketiduran di kamar mandi,😁
2023-07-07
1