Petaka Karena Perjodohan
Jakarta pusat, 27 September.
Siang hari ini cuaca pusat kota Jakarta sangat terik-teriknya. Khususnya di sebuah kompleks perumahan melati.
Terlihat kawasan perumahan itu begitu terik, tidak ada satu pun bayang-bayang pohon mangga yang memberikan keteduhan di pinggir jalan kompleks.
Namun, biar begitu seorang wanita dengan setelan baju kebesaran dan sebuah hijab, terlihat berjalan dengan tangan menenteng sebuah tas belanjaan.
Wanita cantik berkulit putih, tinggi, kepala yang tertutup hijab itu mempercepat laju jalannya. Kantong plastik hitam yang dibawa sampai-sampai berayun karena saking cepatnya wanita itu berjalan.
"Nyonya Airin!" Wanita itu berhenti tepat di depan rumah seseorang yang tadi dia dengar memanggil namanya.
Iya, nama wanita itu adalah Airin Pranata dan ibu-ibu kompleks di sini memanggil wanita itu dengan nama Airin.
Airin tersenyum saat ibu-ibu bertubuh berisi, menggunakan daster, berhijab, dan membawa sapu berjalan mendekat ke arahnya.
"Eh, Bu Fatma. Ada apa?" tanya Airin dengan nada bingungnya, tapi biar begitu dia tetap menyunggingkan senyum untuk wanita yang ada di depannya dan terlihat berumur jauh lebih tua darinya.
Bu Fatma yang mendengar itu hanya tersenyum. Dia bergerak membuka gerbang rumah tempatnya bekerja.
Iya, di rumah itu, Bu Fatma hanyalah seorang ART dan Airin sangat akrab dengan para ART di kompleks ini.
"Habis ke toko bu Santi yah, Nyah?" tanya Bu Fatma dengan cengegesan.
Airin yang mendengar itu melihat kantung keresek warna hitamnya dan setelah itu, dia kembali menatap Bu Fatma dengan masih menyunggingkan senyum yang sangat ramah.
"Iya, Bu. Suami saya minta dibikinin makanan, karena katanya ada temen bisnisnya yang mau berkunjung," jawab Airin dan Bu Fatma yang mendengar itu langsung menoleh ke arah kanan, untuk melihat ke blok perumahan Airin yang hanya berjarak dua blok dari bangunan tempat ia bekerja, "Ada apa, Bu?" tanya Airin bingung.
Bu Fatma yang mendengar itu langsung meringis. Dia tanpa sadar bergerak menggaruk kepalanya yang tertutup oleh hijab.
Melihat gelagat Bu Fatma yang seperti itu, Airin mengernyitkan kening bingung. Padahal tadi katanya dia buru-buru, tapi saat melihat ekspresi Bu Fatma keinginan untuk cepat sampai ke rumah menghilang dan digantikan oleh rasa penasaran.
"Tadi saya lihat ada mobil masuk ke rumah, Nyonya. Mungkin itu tamu yang Nyonya katakan tadi."
Seketika Airin langsung menoleh ke arah kompleks perumahannya dengan raut wajah panik.
Padahal pagi tadi, sebelum suaminya berangkat ke kantor. Laki-laki itu mengatakan akan mengajak teman bisnisnya berkunjung malam nanti, tapi mendengar penuturan Bu Fatma tadi. Sepertinya acara itu di majukan.
Dengan gerakan cepat, Airin menoleh untuk melihat wajah Bu Fatma yang juga sedang kepanikan, "Kalau gitu, aku pulang dulu, Bu Fatma. Terima kasih yah, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Bu Fatma hanya bisa menatap punggung gadis muda itu dengan tatapan penuh kasihan, "Semoga nyonya baik-baik saja."
***
Airin membuka gerbang rumahnya dengan perlahan, kemudian dia langsung masuk ke dalam halaman rumah.
Airin kembali mengunci gerbang rumahnya. Wanita itu terlihat memutar tubuhnya dan kedua matanya langsung menangkap dua mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
"Duh mampus, pasti, Mas Julian bakalan marah."
Airin berjalan cepat menuju pintu masuk rumahnya. Raut panik begitu terpahat nyata di paras cantik wajahnya. Wanita itu bergerak menggenggam gagang pintu.
Airin mendorong pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu indera pendengaran suami serta tamu yang dia yakini pasti sedang berbicara di ruang keluarga,
Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu, karena dia bisa mendengar samar-samar suara suaminya.
"Benarkah kau tertarik dengan rongsokan itu?"
Airin seketika menghentikan gerakannya membuka pintu. Jantungnya berdegup kencang saat gendang telinganya mendengar suara suaminya yang begitu jelas membahas rongsokan yang di mana, itu adalah dia.
Iya, suaminya Julian memanggil dirinya dengan sebutan rongsokan. Entah itu panggilan sayang atau apa dia tidak tahu, tapi yang jelas Airin tidak merah dipanggil seperti itu. Malahan panggilan itu terkesan romantis di telinganya.
"Iya, istrimu itu cantik dan terlihat cukup pandai."
Airin mengenyitkan kening saat dia mendengar suara seorang laki-laki yang begitu sangat asing baginya.
Namun, lipatan di keningnya menghilang karena setelah suara asing itu. Airin mendengar suara kekehan yang terkesan merendahkan dari suaminya.
"Kau mau memiliki rongsokan itu?"
Airin mulai merasa sesak matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca pun kepalanya menggeleng seolah tidak percaya dengan penuturan yang keluar dari dalam mulut suaminya.
"Tentu saja, tapi sialnya dia sudah menjadi istrimu. Mungkin jika ada yang mirip dengan istrimu, aku akan langsung menik-"
"Ambillah."
Airin menutup mulutnya dengan tangan kanan yang sedari tadi membawa katung keresek warna hitam, "tidak, ini bohong kan? Mas Julian tidak mungkin berkata seperti itu."
Airin menggelengkan kepalanya untuk menangkas semua perkataan yang keluar dari dalam mulut suaminya tadi.
"Tiga puluh hari."
Airin membulatkan mata saat dia kembali mendengar suaminya mengeluarkan suara.
"Buat rongsokan itu jatuh cinta padamu dalam waktu tiga puluh hari. Jika kau bisa melakukannya, maka kau bisa ambil rongsokan itu."
Airin memejamkan mata dan itu membuat air-air hangat mengalir keluar.
***
"Tiga puluh hari. Buatlah rongsokan itu jatuh cinta padamu dalam waktu itu."
Airin semakin terisak, mengingat perkataan suaminya siang tadi, membuat wanita itu serasa dihujam puluhan belati tak kasat mata.
Sungguh, dia tidak menyangka kalau Julian akan tega melakukan itu kepadanya. Apakah segitu tidak berharga dan menariknya, Airin, hingga laki-laki itu rela menyerahkan istrinya sendiri ke seseorang, layaknya sebuah rongsokan?
Saat ini Airin tengah berada di kamarnya. Wanita itu masih setia dengan baju kebesaran yang dia pakai siang tadi. Hijabnya pun masih melingkar di kepalanya.
"Apakah aku seburuk itu di matamu, Mas?" tanya Airin kepada pantulan wajahnya yang ada di cermin.
Wanita itu cantik, sangat cantik. Namun, dia tidak bisa merias dirinya, hingga diusianya yang terbilang masih cukup muda, dia seperti layaknya ibu-ibu.
"Jika karena aku berpenampilan seperti ini membuatmu, tidak suka." Airin bergerak melepas peniti yang terpasang di hijabnya, membuat kain itu terbuka, "aku akan menjadi diriku yang dulu lagi, untukmu, Mas," imbuh Airin sembari menarik lepas hijabnya, hingga surai hitam rambutnya tergerai.
...T.B.C...
...Ini karya pertamaku yang mengangkut cerita rumah tangga tersakiti. Semoga suka dan terima kasih bagi yang berkenan baca....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Meri Andani
kyaknya oke ni novel tpi kta gk tau lanjut aja dlu
2022-10-15
0
Siti Saadah Khodijah
mampir..semoga ceritanya bukan tentang wanita yang tersakiti namun masih aja dengan bodohnya bertahan
2022-07-25
1
tea aza
siip...👍👍👍
2022-07-23
1