Beberapa tahun kemudian, terlihat seorang gadis remaja tengah berjalan keluar dari kelas dengan rambut tergerai panjang, berwarna hitam pekat, kulit putih berseri seri, dan terlihat sangat anggun berjalan melewati lorong lorong sekolah itu. Dia adalah Jasmine, kini ia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik nan jelita. Saat itu Jasmine tengah berjalan bersama dengan seorang wanita lain yang tidak kalah cantik pula. Dia adalah Ria teman masa kecil Jasmine dan Ijaz.
Beberapa saat kemudian, Jasmine dan Ria berada di kantin, saat itu Jasmine dan Ria tengah menjadi pesat perhatian. Mereka di pandangi oleh murid murid yang lain karena kecantikannya dan kepandaiannya.
"Jasmine, gimana kabar Ijaz? Apa kamu mendapat kabar tentang dia?" tanya Ria dengan nada baik dan rendah.
"Aku tidak tahu, bahkan sama sekali tidak tahu tentang kabar Ijaz," jawab Jasmine tiba tiba ia menunduk dengan sedih.
"Maafkan aku, aku membuat kamu sedih. Tapi Jasmine... Apa kamu siap untuk terus menunggu kedatangan Ijaz?" tanya Ria dengan nada semakin rendah.
"Aku akan selalu menunggu kedatangan Ijaz, karena dia sudah berjanji dengan aku. Dia akan kembali dan melamar aku," jawab Jasmine lalu ia mengeluarkan buku yang ia dapat dari Ijaz saat Ijaz akan pergi ke Pakistan. Ia kemudian meletakkan buku itu di atas meja yang tak jauh dari dirinya.
Mendengar hal itu Ria kemudian memegangi salah satu tangan Jasmine yang berada di atas meja.
"Jasmine, aku bicara seperti ini karena aku adalah teman kamu!. Aku sudah anggap kamu sebagai saudari ku. Aku tidak mau kalau saudari ku terluka nantinya, makanya aku ingin meyakinkan kamu lagi!. Apa kamu yakin dengan Ijaz? Apakah kamu tidak punya pemikiran kalau mungkin Ijaz punya wanita lain di Pakistan?" ujar Ria dengan nada rendah.
"Aku percaya kalau Ijaz tidak akan mungkin membuat aku kecewa!" jawab Jasmine dengan nada rendah dan baik.
Mendengar jawaban dari Jasmine, Ria pun memegang tangan Jasmine dengan semakin erat namun tidak sampai menyakiti Jasmine.
"Aku sebagai teman, yang sudah menganggap kamu saudara ku. Aku akan selalu mendukung keputusan kamu," jawab Ria setelah itu ia melepaskan tangannya yang memegangi tangan Jasmine.
"Terimakasih," jawab Jasmine lalu ia tersenyum kepada Ria.
Beberapa saat kemudian, jam kuliah sudah berakhir Jasmine dan Ria terlihat berjalan pulang menuju ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia sangat terkejut, hal itu karena di rumahnya terlihat seorang laki laki paruh baya, perempuan paruh baya dan seorang laki laki gagah berada di rumahnya. Pada awalnya Jasmine dan Ria biasa saja melihat mereka, Ria dan Jasmine terlihat menyapa mereka dengan baik dan sopan. Namun tiba tiba sikapnya berubah, setelah Ayahnya memberi tau dirinya kalau akan menjodohkan Jasmine dengan laki laki yang tidak di kenal tersebut.
"Ini anak saya, namanya Jasmine dan dia teman anak saya, namanya Ria!" ujar Ayah Jasmine untuk memperkenalkan Jasmine dan Ria.
"Halo Tante, Om dan Mas!. Saya Jasmine," ucap Jasmine dengan baik dan ramah.
"Wah, kamu itu udah cantik, sopan, pintar dan ramah. Kamu cocok sekali menjadi mantu saya," jawab si Ibu dari laki laki itu saat melihat keramahan Jasmine.
Pada saat itu, Jasmine mengira kalau ucapan itu hanya candaan biasa tidak ada yang serius atau apapun itu. Ia hanya menjawab senyuman ke Ibu itu, namun ia sangat terkejut saat ia mendengar kalau Ayahnya memeng benar benar ingin menjodohkan dirinya dengan laki laki itu. Tak hanya Jasmine, Ria pun sangat terkejut saat ia mengetahui kalau Ayah Jasmine akan menjodohkan Jasmine dengan. laki laki itu. Saat setelah Jasmine mendengar pernyataan dari Ayahnya, Jasmine langsung menolak perjodohan itu dan membentak Ayahnya di depan si laki laki dan orang tuannya.
Merasa kecewa dengan Jasmine dan keluarganya, keluarga dari laki laki itu langsung murka dan membatalkan perjodohan itu berserta kontrak yang sudah di rencanakan oleh kedua pihak keluarga. Keluarga si laki laki itu terlihat pergi meninggalkan keluarga Jasmine dengan marah. Saat keluarga dari laki laki itu sudah pergi, Ayah Jasmine memarahi Jasmine habis habisan.
"Kamu itu apa apaan sih, kenapa kamu buat malu Ayah?" ucap Ayah Jasmine dengan nada tinggi.
"Aku tidak buat malu Ayah, aku hanya tidak ingin menikah untuk saat ini. Aku ingin fokus belajar," jawab Jasmine dengan nada baik dan masih berbicara dengan nada rendah.
"Belajar! Belajar! Belajar! Kenapa alasan kamu hanya itu? Ayah tau kamu saat ini sedang fokus belajar, tapi Ayah juga tau kalau kamu itu menunggu seseorang. Dan dia adalah Ijaz, laki laki yang tidak pernah mencintai kamu!" ucap Ayah Jasmine dengan nada tinggi.
Mendengar suaminya marah, Ibu Jasmine mendekati suaminya dan berusaha menenangkan sang suami. Saat itu Jasmine hanya diam menundukkan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya karena bentakan dari Ayahnya.
Melihat anaknya menangis Ayah Jasmine mendekati Jasmine lalu ia memeluk Jasmine untuk menenangkan Jasmine. Ia juga membelai rambut Jasmine dengan penuh kasih sayang dan meminta maaf kepada Jasmine karena ia sudah membentak Jasmine.
"Maafkan Ayah, Ayah hanya tidak ingin kamu hidup dalam bui harapan namun harapan- harapan itu tidak ada satu pun yang terjadi. Ayah hanya tidak ingin kamu terpuruk dalam kesedihan, dan Ayah juga tidak ingin kamu terluka akibat tindakan Ijaz," ucap Ayah Jasmine dengan memeluk erat Jasmine dan mengusap usap rambut Jasmine.
Saat itu Jasmine terlihat tak menjawab ia hanya perlahan melepaskan pelukan Ayahnya lalu ia pergi ke kamarnya. Saat itu Ria ingin mengejar Jasmine dan berusaha menenangkan Jasmine namun Ayah Jasmine menghentikan Ria dan meminta Ria pulang. Mendengar hal itu Ria pun menuruti apa yang di ucapkan oleh Ayah Jasmine.
Ria pun pergi meninggalkan rumah Jasmine dengan sedih melihat temannya sedih.
Di dalam kamar Jasmine, terlihat Jasmine duduk di depan cermin dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia kemudian mengambil buku yang di dapatkan dari Ijaz berserta penanya. Ia kemudian mulai memegangi pena itu dengan tangan gemetar, mata yang penuh dengan air mata.
"Aku berharap apa yang terjadi hari ini tidak terjadi lagi!. Aku berharap cinta ku akan di dipersatukan dengan cinta mu oleh Tuhan Ijaz. Aku akan selalu menjaga cinta ini untuk kamu," tulis Jasmine lalu ia menjatuhkan pena itu dan meletakkan kepalanya di atas buku itu dengan air mata yang terus mengalir hingga membuat air matanya jatuh menetes membasahi buku itu.
Di tempat lain terlihat seorang laki laki tengah berdiri dengan tegak dengan pakaian polisi yang rapi dan bersih. Dia adalah Ijaz laki laki yang selama ini di tunggu oleh Jasmine, namun saat itu ia terlihat tengah bertugas di sebuah mall dengan beberapa teman polisinya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu Pakistan. Terlihat Ijaz dengan teman temannya tengah duduk di sebuah restoran untuk makan malam.
Tak berselang lama, seorang wanita cantik berjalan dengan elok mendekati Ijaz dan temannya. Wanita itu bernama Anjani.
"Honey!" panggil Anjani kepada salah satu diantara Ijaz dan teman temannya. Setelah itu Anjani pergi dan duduk di samping Ijaz dengan menggandeng tangan Ijaz.
Melihat kedatangan Anjani, Ijaz terlihat sangat terkejut dan kesal.
"Hi, Im Ijaz Girlfriend. My name is Anjani," ucap Anjani sambil mengulurkan tangannya kepada teman teman Ijaz.
"Yes, she is my Girlfriend!" sahut Ijaz dengan raut muka tidak bahagia.
Mendengar ucapan itu teman teman Ijaz hanya menganggukkan kepalanya dan memberi senyuman kepada Anjani. Setelah itu Ijaz mengajak Anjani pergi menjauhi teman temannya. Saat Ijaz sudah merasa bahwa dirinya dan Anjani sudah jauh dari teman teman Ijaz. Ijaz terlihat sangat marah dengan kedatangan Anjani ke tempat kerja.
"Kamu ngapain sih ke sini?" tanya Ijaz dengan nada serius dan marah.
"what's wrong? Aku hanya ingin bertemu dengan Kekasih ku, apa itu salah?" jawab Anjani dengan nada sedikit tinggi.
"Kamu taukan, kalau aku tidak suka kamu mengunjungi aku, lalu kenapa? Kenapa kamu mengunjungi aku?" jawab Ijaz dengan marah.
"Kamu jangan seperti ini, dong. Aku jauh jauh dari Indonesia ke Pakistan untuk bertemu dengan kamu!. Tapi kamu, kamu marah dengan aku."
"Aku tidak peduli, sekarang kamu pergi aku sedang bertugas!" usir Ijaz.
"Kamu itu benar benar ya, kamu itu tidak bisa menghargai perjuangan seseorang. Udahlah, kita putus aja," jawab Anjani dengan nada mulai kesal.
"Enggak bisa gitu dong!."
"Aku tidak peduli," jawab Anjani lalu ia pergi dengan kesal. Melihat kepergian Anjani, Ijaz terlihat diam saja dan tidak mengejar Anjani. Ia kemudian berbalik dan menghampiri teman temannya. Ia kemudian kembali bertugas mengerjakan tugas menjadi seorang polisi bersama teman temannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments