Ling Feng mulai beraktivitas seperti biasa kembali. Mulai dari membantu ayahnya berburu sampai bermain dengan teman sebayanya. Walaupun sedang diselimuti rasa gelisah oleh mimpinya tetapi, ia berusaha mengabaikan rasa gelisah itu dengan cara menyibukan dirinya dan beranggapan itu hanya bunga tidur saja. Semenjak hari itu dirinya tidak pernah bermimpi tentang mimpi yang menyeramkan itu lagi. Dirinya sudah bisa melupakan perasaan gelisahnya dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Tanpa Ling Feng sadari takdir yang kejam akan mendatanginya cepat atau lambat.
...>>>>>_____<<<<<...
2 Tahun kemudian
Matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya sehingga masih banyak yang masih istirahat terkecuali, seorang anak berumur 15 tahun. Walaupun masih berumur 15 tahun perawakannya sudah seperti orang dewasa, ya pemuda itu adalah Ling Feng yang sedang bersiap-siap untuk berburu ke hutan dekat desa.
"Ibu…Aku pergi berburu dulu. Ayah…Aku duluan berangkat kehutan nya ya" Ling Feng izin pamit.
"Pergilah nak...Hati-hati ketika disana Jangan seperti ayahmu yang teledor" jawab sang ibu sembari menatap sinis suaminya dan sang suami yang di tatap sinis hanya bisa pasrah menanggapinya.
Ling Feng yang mendengar jawaban ibunya hanya bisa terkekeh dan menjawab.
"Tenang saja ibu aku kan lebih pintar dari ayah jadi ibu tidak perlu khawatir...jadi aku pergi dulu, ayah jangan lupa untuk menyusul ku nanti"
"Iya nak, tetapi ayah akan telat menyusulmu nanti. Ayah ingin membantu tetangga kita terlebih dahulu baru ayah akan menyusulmu nanti" jawab sang ayah dan memberitahukannya.
"Ouhh Oke" Ling Feng membalas singkat dan langsung berangkat menuju hutan dekat desanya.
Setelah Ling Feng pergi menuju kearah hutan, ada kelompok dalam bayang-bayang sedang menuju kearah desanya. Ling Feng tidak bertemu dengan kelompok itu karena, dirinya sudah pergi lumayan jauh dan hampir sampai hutan sehingga tidak bertemu dengan kelompok tersebut.
Dihutan dekat desa
Ling Feng yang baru sampai dihutan langsung mulai berburu disekitarnya akan tetapi, ia tidak menemui satu hewan pun untuk diburu.
"Kemana semua hewan dihutan ini?, apa sudah tidak ada lagi ya?, tetapi, perasaan yang berburu di daerah sini hanya aku dan ayah. Tidak mungkin mereka semua sudah tidak ada...Kalau begini caranya apakah aku harus pergi kebagian luar hutan kematian lagi?" Ucap Ling Feng sembari berfikir didalam hatinya.
"Baiklah sudah diputuskan aku akan pergi ke sana. Lagipula jika bagian luar, tidak banyak hewan buasnya dan kemungkinan besar mereka masih pada tertidur dijam segini" tambah Ling Feng dan memutuskan untuk masuk kehutan kematian sembari melihat kelangit yang mulai terang tetapi, matahari masih belum menampakan diri.
Ling Feng langsung berangkat kehutan kematian untuk menghindari kejadian yang tidak terduga nantinya. dirinya masih belum bisa menjadi seorang kultivator. bukan tidak bisa tetapi, karena warga desanya tidak ada kultivator, sehingga tidak ada yang bisa mengajari menjadi seorang pendekar.
"Kalau saja aku menjadi seorang kultivator enak sekali sepertinya dan pasti berburu hewan juga akan menjadi lebih mudah nantinya" khayal Ling Feng sembari berlari kecil menuju pinggiran hutan kematian.
Ling Feng terkadang memang sering pergi kebagian luar hutan kematian dan pastinya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dirinya pergi kehutan kematian ketika sedang merasa bosan dan sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Karena, selain terkenal dengan daerah terlarangnya hutan ini juga memiliki udara yang sejuk dan menenangkan menurut Ling Feng jadi terkadang dirinya pergi untuk sekedar menenangkan dirinya.
Perbatasan Hutan Kematian dan Hutan Biasa
"Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini terakhir kali kapan ya..." kata Ling Feng mengingat dan tidak lama menggelengkan kepalanya. Dirinya menggelengkan kepala karena, mengingat pada saat itu dirinya ketauan oleh ibunya Ling Yan pergi ke hutan kematian.
Flashback On
Ling Yan yang pada saat itu ingin mengantarkan makan siang untuk anaknya menjadi khawatir karena, tidak mendapati anaknya dihutan dekat desa tempat biasa anaknya istirahat setelah berburu. Kemudian Ling Yan meminta suaminya untuk mencari anaknya disegala penjuru hutan akan tetapi, Ling Feng tidak ketemu. Setelah sekian lama mencari Ling Yan berinisiatif untuk mencari dipinggiran hutan kematian karena, dirinya merasa anaknya berada disana. Walaupun sempat berdebat dengan Ling Cao karena, tidak setuju mengingat hutan kematian adalah daerah terlarang. Ling Yan yang yakin tidak mempedulikan suaminya dan masuk kedalam pinggiran hutan kematian dan secara kebetulan langsung bertemu dengan Ling Feng yang sedang tidur nyenyak diatas bebatuan. Ling Yan langsung mendekati Ling Feng dan tanpa ba-bi-bu menarik salah satu telinga Ling Feng dengan keras karena, kesal dan marah. Ling Feng yang sedang tidur seketika langsung bangun karena, merasa sakit dibagian telinga. Ketika hendak memarahi yang menarik telinganya seketika langsung diam dan keluar keringat dingin melihat wajah seorang perempuan dengan senyum sedingin es yang tidak lain adalah ibunya. Ling Feng pasrah dimarahi habis-habisan oleh sang ibu dan sang ayah hanya memasang wajah serius yang padahal didalam hatinya sedang menertawakan Ling Feng.
Flashback Off
"ayah mungkin masih lama untuk menyusul ku jadi lebih cepat lebih baik" Ling Feng melesat masuk kedalam area pinggiran hutan kematian.
Setelah sekian lama mencari akhirnya Ling Feng menemukan rusa yang sudah dewasa sedang makan. Ling Feng yang melihat itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, dirinya langsung mengambil busur dan anak panahnya mengambil ancang-ancang memanah dan
Syuttt.....
Panah melesat dengan cepat menuju arah rusa akan tetapi, keberuntungan sedang tidak memihaknya. Sang rusa langsung bereaksi cepat dan menghindari anak panah Ling Feng. Rusa tersebut merasa dirinya terancam langsung berlari masuk lebih dalam ke bagian hutan kematian. Ling Feng yang sudah berpesta dalam hatinya seketika kesal karena, rusa tersebut menyadari anak panahnya dan menghindarinya. Ling Feng yang merasa kesal langsung berlari mengejar rusa tersebut tidak mempedulikan sedang berada dimana dia.
Ling Feng terus berlari mengejar rusa tersebut yang masuk lebih dalam kebagian hutan kematian. Setelah lama mengejar rusa tersebut, Ling Feng kembali sial karena, sudah kehilangan jejak sang rusa yang ia buru. Ling Feng yang dongkol karena kesal telah kehilangan hewan buruannya memutuskan untuk berhenti sejenak dan tak lama ia langsung sadar. Dirinya berlari terlalu jauh masuk lebih dalam ke area hutan kematian.
"Ughhkkk mati aku....kalau ketahuan ibu bisa mampus aku" ucap Ling Feng lemas dalam hatinya.
Ling Feng tidak takut dirinya berada dimana. Bahkan di situasi paling berbahaya sekalipun, dirinya akan tetap tenang dan memikirkan langkah selanjutnya. Ling Feng lebih takut berhadapan dengan sang ibu. Jika dirinya disuruh memilih, Ling Feng lebih memilih berhadapan situasi paling sulit sekalipun daripada berhadapan dengan kemarahan Ibunya.
"Untuk sekarang kembali adalah jalan yang terbaik saat ini. Aku harus keluar segera dari area terlarang ini kalau sampai ayah laporan ke ibu bisa mampus aku kena omel 1 hari 1 malam" Ucap cemas Ling Feng dalam hati.
Ketika Ling Feng ingin keluar dari hutan kematian. Dirinya melihat sebuah goa yang menarik minat matanya yang membuat Ling Feng tertarik untuk mendekatinya. Lebih tepatnya bukan menarik minat matanya akan tetapi, aura yang keluar dari goa tersebut yang menarik minatnya. Seakan-akan ada bagian yang ingin saling beresonansi dengan tubuhnya.
"Goa itu...bukan goa biasa. Aku merasakan aura yang familiar dari goa itu tetapi apa ya ?, daripada penasaran lebih baik aku memasukinya mungkin ada sebuah benda berharga" kata Ling Feng mencoba untuk tenang dan mulai memasuki goa tersebut.
...>>>>>_____<<<<<...
Di Desa Xiang
Tidak lama setelah Ling Feng pergi kehutan untuk berburu. Sekelompok orang yang menggunakan baju hitam datang menyerbu rumah-rumah desa Xiang. Orang berbaju hitam itu adalah para kultivator aliran hitam yang tidak sengaja melihat ada sebuah desa, dekat dengan area terlarang. Tanpa pikir panjang langsung merampok desa terpencil tersebut.
Para warga yang semula sedang beraktivitas langsung berteriak ketakutan karena para kultivator itu datang tidak dengan niat yang baik. Semua warga yang ada didesa disiksa, dibunuh dengan kejam, diperkosa, dan masih banyak lagi tingkah kejam orang berbaju hitam itu dan tidak menyisakan satu kehidupan pun. Tidak terkecuali orang tua Ling Feng. Ling Cao disiksa dengan kejam sedangkan Ling Yan dipaksa memuaskan nafsu binatang orang berbaju hitam itu setelah itu langsung dibunuh ditempat.
"Segera bunuh semua orang yang ada di desa ini jangan sisakan satu kehidupan pun dan ambil semua harta bendanya kita tidak bisa lama-lama disini, pasti akan ada salah satu murid sekte super yang mengejar kita" ucap salah satu orang berbaju hitam yang diduga adalah ketua kelompok itu.
"Siap Ketua" jawab semua anggota kelompok tersebut melesat ke tiap rumah warga untuk mengambil harta benda yang dirasa berharga.
"Sudah selesai semua ?" tanya ketua kelompok tersebut.
para anggotanya menganggukan kepala.
"Kita langsung pergi dari sini jangan lupa bakar semua semua rumah, supaya tidak meninggalkan jejak kita" ketua kelompok tersebut langsung memutuskan pergi melanjutkan perjalanan.
Setelah semua beres mereka langsung membakar tiap-tiap rumah warga untuk menghapus jejak mereka supaya tidak diketahui keberadaannya. kelompok tersebut langsung melesat pergi dan tanpa mereka sadari mereka tidak menyapu bersih semua kehidupan yang ada disana.
Area terlarang hutan kematian
Ling Feng yang sudah memasuki goa tersebut mulai merasakan aura yang lebih kuat didalam goa tersebut.
"Aura apa ini? kenapa sangat kuat....Aura ini sangat familiar tapi aku lupa pernah merasakan dimana" ucap dalam hati Ling Feng.
Setelah sudah masuk kebagian terdalam goa, Ling Feng melihat sebuah benda aneh yang berada di pusat goa terdalam. Hal yang membuatnya tertarik adalah aura familiar yang keluar dari benda aneh tersebut.
"Benda ini aku pernah melihatnya tapi dimana....akhhhhh kenapa aku pelupa gini sihhhh" Ling Feng berusaha mengingat-ingat kembali dan seketika dirinya langsung menerawang tentang mimpi yang sudah tidak ingin diingatnya kembali.
"B-Benda ini kenapa bisa sampai disini?" Ling Feng membelalakkan matanya dan mulai ingat apa benda yang ada didepannya seketika langsung bergetar mengingat kejadian kelam kembali tentang mimpi itu. Ling Feng yang kaget pun tersandung batu dan kehilangan keseimbangan langsung terjatuh tidak sengaja menyentuh benda aneh tersebut.
Benda aneh yang bersentuhan dengan Ling Feng langsung bergetar bereaksi dan benda aneh tersebut langsung terbang masuk kedalam tubuh Ling Feng.
dannnn
>>>> Bersambung
( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )
( Blizzardauthor)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 716 Episodes
Comments
MATADEWA
Mimpi yg jadi nyata....
2024-09-21
0
Reymundo Hidayat
ling feng sdh d beritahu lewat mimpi desa akan musnah
2024-05-25
0
Irfan Cha'oelz
Setelah sudah,,,kata "sudah" jadi tidak ada artinya, buang saja
2023-12-25
3