Cinta Untuk Rey
Di sini lah Rara, gadis cantik yang masih berseragam SMA tengah duduk di sofa yang berada di ruang tamunya. Rara hanya menundukkan kepalanya, ia sama sekali tidak berani melihat wajah garang papanya. Karna kemarahan papanya sudah terlihat dengan jelas setelah keluar dari ruangan BK.
"Setelah ini, apalagi yang akan kamu perbuat? Apakah ada hal bodoh yang lainnya, yang akan kamu lakukan lebih dari ini untuk mempermalukan Papa?" tanya Papanya dengan menahan amarahnya.
"Maaf Pa," ucap Rara lirih.
"Kamu fikir dengan kamu minta maaf, semuanya bisa kembali seperti semula?" tanya Papanya lagi.
"Rara tau kalau Rara salah Pa. Rara janji gak akan--" Perkataan Rara terhenti, karna Papanya telah lebih dulu memotong ucapannya
"Cukup! Papa tidak ingin mendengar janji palsu mu lagi. Ini sudah lebih dari cukup. Papa akan memindahkan kamu ke Bandung sekarang juga," sergah Papanya.
"Rara gak mau Pa, Rara minta tolong sama Papa. Rara akan melakukan apapun yang Papa mau. Tapi jangan pindahkan Rara ke Bandung ya Pa," ujar Rara dengan wajah memelas. Sehingga membuat Papanya menjadi tidak tega dengannya.
"Berarti mau tidak mau, kamu harus menuruti cara Papa yang kedua. Sekarang kembali ke kamar mu, dan jangan coba-coba berani keluar rumah tanpa izin dari Papa," ucap Papanya sedikit memerintah.
"Baik Pa," ucap Rara pasrah. Ia segera beranjak dari sofa menuju ke kamarnya.
Di kamar Rara
Setelah tiba di kamarnya, Rara menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia merutuki kebodohannya hari ini.
"Huft ... gue jadi penasaran sama rencana papa. Ah bodo amat lah, yang penting untuk saat ini gue bisa selamat dari amukan papa.Gue gak bisa membayangkan kalau gue masih stay duduk bareng papa saat ini, bisa mati muda gue karna serangan jantung," gumam Rara bermonolog.
Rara segera bangkit dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Ia segera menyambar handuk putih miliknya dan mulai membersihkan diri. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Rara berjalan dengan gontai ke arah meja riasnya. Saat Rara menyisir rambutnya, ponsel Rara berdering. Dengan segera ia mengangkat telfon itu.
"Halo Ra! lo di mana? Gue sama Rio udah menunggu lo dari tadi sampe lumutan tau gak. Parah banget lo ngaretnya," seru Tesa dari seberang sana.
"Buset dah! Itu mulut apa kereta api? Gak ada jedanya kalau ngomong. Gue cuma takut aja, urat leher lo putus entar," ledek Rara dengan tawanya
"Sialan! Lo mau gue cepet mati? Dasar teman laknat lo Ra," ucap Tesa kesal.
"Gue bercanda doang, gitu aja baperan. Oh ya, kayaknya gue gak bisa gabung sama kalian deh hari ini. Soalnya kalau gue keluar rumah, bisa habis gue di cincang sama bokap gue," timpal Rara.
"Pasti karna lo berurusan lagi sama guru BK kan?" tanya Tesa dengan gelak tawanya yang masih terdengar jelas dari seberang sana.
"Sialan banget lo! Gue lagi di marahin sama bokap gue, dan sekarang lo malah ketawa bahagia. Teman apaan lo," ujar Rara kesal.
"Lo sih aneh, suka banget cari masalah sama guru BK. Buruan tobat, lo gak kasian sama bokap lo," ucap Tesa menasehati.
"Udah deh, lo gak usah ikutan ceramahin gue segala. Cukup papa gue aja, ok. Lo mau kepala gue botak sebelum waktunya karna beban fikiran?" sahut Rara.
"Bagus dong, ada hiburan baru di sekolah karena lihat kepala lo botak. Eh udah dulu ya, filmnya udah mulai nih. Nanti gue telfon lo lagi," ujar Tesa.
"Okey have fun**," ucap Rara memutuskan telfon.
Baru saja Rara ingin memejamkan matanya, ketukan pintu mengusiknya.
Tok...Tok....
"Argh ... ganggu gue aja," ucap Rara semakin kesal.
"Iya masuk," sahut Rara.
Bi Darsih segera membuka pintu itu dan langsung masuk ke dalam kamar Rara. Karna sebelumnya ia telah di izinkan untuk masuk ke dalam.
"Maaf Non, makan siang sudah siap," ujar Bi Darsih.
"Iya, terimakasih Bi," jawab Rara.
"Baik Non, Bibi permisi ke belakang dulu," ucap Bi Darsih segera meninggalkan kamar Rara. Tak lupa ia menutup kembali pintu kamar Rara.
Rara melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk makan siang. Terlihat beberapa makanan lezat tampak menggoda. Rara segera duduk dan memulai makan siangnya.
Setelah makan siang, ia segera kembali ke kamarnya. Rasa bosan menghampirinya saat ini. Ia hanya duduk di kursi yang menghadap langsung ke jendela. Sehingga tampak dengan jelas kolam renang yang luas nan elegan yang dapat memanjakan matanya.
Sudah cukup lama ia duduk di kursi itu. Dan Ia mulai merasa jengah. Rara segera beranjak berdiri dan berjalan ke arah lemari pakaiannya untuk mengambil ponsel miliknya. Tak lama, musik kesukaannya mulai terdengar untuk mengisi keheningan di kamar itu.
Tak berapa lama, deringan telfon mengusiknya kembali. Ia segera mengangkat panggilan yang berasal dari bunyi ponselnya.
"Halo Ra," ucap seseorang dari seberang sana.
"Ngapain lo telfon gue? Bukannya lo lagi nonton bioskop sama Rio," ujar Rara heran.
"Kami gak jadi nonton Ra. Gak asik aja gitu kalau gak ada lo," sahut Tesa jujur.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Kalau gak ada gue memang gak seru. Lo berdua sih ngeyel banget. Masih aja nekat pergi tanpa gue. Kalian berdua itu gak bakal bisa hidup tanpa kehadiran gue," ujar Rara jumawa.
"Dih, gue menyesal ngomong itu barusan. Gue tarik lagi ucapan gue," sungut Tesa kesal.
"Gak bisa. Gue kasih tau ya, ucapan yang udah di lontarkan gak akan bisa di tarik lagi," ujar Rara mulai berlagak sok pintar.
"Kesambet apaan lo. Tumben banget itu ucapan lo rada benar. Biasa juga gak berfaedah banget perkataan lo," timpal Tesa mencibirnya.
"Gue mah dari dulu benar terus. Dasar kalian berdua aja yang gak menyadarinya," sahut Rara masih membela dirinya.
"Iya, suka-suka lo aja deh. Debat sama lo juga gak penting banget. Buang-buang waktu sama energi gue. Percuma nyokab gue capek-capek kasih gue makan, kalau asupan energi gue habis cuman karna debat sama orang yang gak jelas seperti lo," balas Tesa tertawa.
"Sialan lo! Tumben kok sepi banget? Memangnya Rio gak ada di samping lo?" tanya Rara penasaran.
"Kenapa nanyain gue? Lo kangen ya sama gue?" sahut Rio narsis.
"Dih, amit-amit deh kangen sama serbet dapur kayak lo," ejek Rara dengan tawa yang lumayan keras. Hal itu terdengar jelas oleh Rio dan Tesa.
"Parah banget sih lo Ra. Ketawa udah kayak nenek lampir aja. Bisa rusak telinga gue karna dengar suara ketawa lo. Mungkin nenek lampir bakal kalah dari lo Ra," balas Tesa menertawainya.
"Teman laknat lo! Berani-beraninya ngatain gue mirip sama nenek lampir," teriak Rara kesal.
"Tuh kan, apalagi kalau lagi marah begini. Lo bukan hanya mirip Ra, tapi lebih tepatnya seperti saudara kembar," sahut Rio ikut meledeknya. Terdengar suara tawa Tesa seakan ikut menyetujui perkataan Rio barusan.
"Awas lo berdua ya, gue pecat jadi sahabat. Kalau nanti kalian meminta kembali jadi sahabat gue, gue gak akan mau terima kalian lagi pokoknya," ujar Rara mengancam.
"Syukurlah, kita bebas dari nenek lampir ini Rio," ujar Tesa terus meledeknya.
"Iya Sa. Gue juga bersyukur banget. Mulai besok telinga gue gak mendengar teriakan yang mirip seperti toa masjid," ujar Rio menimpali. Hal itu semakin membuat Rara kesal.
"Lo berdua kok jahat banget sama gue. Gue sumpahin jadi batu lo berdua," ujar Rara dramatis.
"Lo makin hari makin eror aja deh Ra. Ini udah tahun 2020, masih percaya aja sama sumpah begituan." Gelak tawa Tesa semakin keras terdengar.
"Suka-suka lo deh."
Tut...
Rara memutuskan telfon itu secara sepihak. Ia sangat kesal terhadap tingkah kedua sahabatnya itu. Ponsel yang ia genggam saat ini, ia hempaskan begitu saja ke tempat tidurnya.
oke guys part ini sampe sini dulu,😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
penculik sorbet
untung hp ny dilempar di tempat tidur kalau dilantai kasih 5 jempol buat Rara😍🤣
2021-01-02
0
Wiidhy Lestari
suka kak😊
2020-06-25
0
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
lanjut
2020-06-13
0