Pulang Ke Rumah
Setelah Citra memberikan kartu namanya kepada Viky, dia menyodorkan tangannya.
"Aku Citra Epson dari Keluarga Epson… senang bisa berkenalan…"Citra memperkenalkan dirinya kepada Viky.
"Aku Viky… senang bisa berkenalan juga…" Viky membalas sodoran tangan Citra.
Tangan Citra begitu halus dan lembut, Viky menggenggam tangan Citra begitu lama.
"Apa bisa kamu lepaskan tanganku…" Citra aga tidak nyaman berlama-lama berpegangan tangan dengan laki-laki yang baru di temui nya itu.
"Maaf… Maaf… habisnya tangan kamu sangat lembut… jadi aku merasa sangat nyaman sekali memegang tangan kamu…he… he… he…" Wajah Viky berubah menjadi rumit karena dia salah menjawab.
"Sial… aku salah ngomong lagi…" Umpat Viky dalam hati dengan kesal kepada dirinya.
Terciptalah rasa canggung antara Viky dan Citra, suasana pun berubah menjadi hening
"Baiklah aku pergi dulu… sampai jumpa nanti sabtu malam…" Ucap Citra memecah keheningan di antara mereka.
Kemudian Citra pergi meninggalkan Viky.
Viky hanya bisa terdiam melihat Citra pergi, melihat pinggul Citra yang sangat berisi, bergantian berbalik ke kiri dan ke kanan, sangat terlihat jelas karena Citra memakai celana yang sangat pendek serta ketat.
Setelah Citra tidak terlihat lagi Viky memasuki mobil dan menancap gas menuju pinggiran Kota Taraka sebelah barat.
Cukup lama Viky mengendarai mobil nya, dia sampai di sebuah desa yang terlihat cukup ramai dengan penduduk yang sedang melalukan aktivitasnya masing-masing.
Kedatangan Viky menarik perhatian banyak orang, karena mobil yang Viky kendarai sangat lah mewah. para penduduk di sana sangat jarang kedatangan tamu dari keluarga kelas atas. oleh karena itu Viky menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Mobil yang sangat mewah sekali… pasti dari Keluarga Besar…" Ucap salah satu penduduk.
"Iya… pasti dari kelurga Besar… tapi ada apa…? kenapa mereka kesini…" Timpal penduduk yang lain.
"Entahlah mungkin sedang mencari seseorang atau ingin mencari hiburan di sini…" Jawabnya.
"Hiburan…? memang di kota kekurangan hiburan…?" Timpal kembali penduduk yang lain.
"Hiburan apa…? di tempat seperti ini mana ada hiburan…" komentar penduduk yang lain.
"kau joget telanjang di jalan saja sudah menjadi hiburan ha…ha…ha…" Timpal penduduk yang lain sambil bercanda dan tertawa.
Jumlah penduduk di sini sangat lah padat tapi untuk ekonomi mereka sangatlah di bawah rata-rata, terlihat dari bentuk bangunan rumah yang terlihat kuno dan kumuh, jika ada angin besar mungkin saja akan roboh.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Viky menemukan rumahnya, karena di desa tersebut tidak lah banyak berubah.
Viky tiba di sebuh rumah yang sangat kumuh, ukurannya sekitar 200 meter persegi, tembok yang terlihat sangat rapuh, dan sudah condong ke kiri seperti akan roboh, atas pun terlihat banyak genteng yang hilang.
Viky berjalan memasuki rumah, matanya memerah dan tanpa sadar Viky meneteskan air matanya, melihat pemandangan didepannya.
Di satu ruangan terlihat ada seorang wanita paruh baya sedang memasak nasi, air mata Viky semakin tak tertahan kan untuk keluar.
Wanita tersebut merasakan kehadiran Viky, dan menoleh ke arah Viky.
Terlihat raut wajah sendu dari wanita itu, wanita tersebut memakai baju yang sudah lusuh, banyak jahitan serta tambalan yang bolong di bajunya.
Viky segera berlari dan bersujud memeluk kaki wanita tersebut.
"Ibu…"
"Ibu…"
"Ibu… Maafkan aku ibu…" Viky yang bersujud terus memanggil nama Ibunya meminta maaf, Viky terus menangis di kaki ibunya.
Penyesalan yang amat besar menyelimuti hati Viky, menyesal dia belum bisa membuat Ibunya bahagia.
Kepergiannya 5 tahun yang lalu membuat Ibunya lebih sengsara dari sebelumnya.
Wanita paruh baya tersebut adalah Ibu Viky bernama Ratna.
Air mata ibunya pun tak tertahan keluar, melihat anaknya sudah pulang dengan sehat dan baik-baik saja, tanpa kurang sedikit pun. Raut wajah Ibu Viky berubah sedikit cerah, kebahagiaan menyelimuti hati Ibunya, Ibu mana yang tidak bahagia melihat anaknya sudah pulang setelah sekian lama pergi, tanpa kabar baik dan buruknya, masih hidup atau sudah mati.
"Nak… bangun lah… Ibu sedang memasak nasi… jika gosong nanti tidak bisa di makan…" Ucap Ibu Viky yang mencoba mengangkat Viky dari kakinya.
"Ibu sedang memasak apa…?" Tanya Viky yang berdiri dan mengusap air matanya. dia tidak mau Ibunya melihat dia yang bersedih.
"Ibu sedang memasak nasi… apa kamu sudah makan…?" Ucap Ibunya. ,
"Belum Ibu…" Viky menggelengkan kepalanya.
"Kamu tunggu lah sebentar lagi… nasinya hampir matang…" Ibu Viky tersenyum ke arah Viky dengan senyum hangat.
Viky berjalan meninggalkan Ibunya, menuju ruangan lain.
Air matanya terus keluar melihat suasana rumah yang sangat kumuh dan tidak layak tersebut.
Viky duduk di sebuh kursi kayu yang dulu dia sering duduk di sana, kayu tersebut masih lah cukup kuat, tak lama datang seorang wanita remaja memasuki rumah, wanita tersebut sangat kaget melihat Viky sedang duduk di kursi.
Dia mematung di pintu masuk matanya terus menatap ke arah Viky dengan tidak percaya, mencoba mengusap-usap matanya takut dia salah melihat.
"Kakak…" Ucap Wanita remaja tersebut.
"Lisa…" Ucap Viky melihat ke arah pintu masuk.
Wanita remaja tersebut bernama Lisa, adik dari Viky.
Lisa memakai baju yang tidak jauh berbeda dari Ratna Ibunya. yang berbeda hanyalah raut wajahnya, karena Lisa adalah Orang yang sangat ceria, jadi terlihat sedikit bersinar.
Lisa berlari memeluk Viky, air mata keduanya pun tak tertahankan, air mata yang keluar dari dua orang tersebut sangat berbeda arti.
Untuk Lisa air mata kerinduan dan kebahagian, tetapi berbeda untuk Viky, air mata yang keluar adalah air mata penyesalan dan air mata kesedihan. Lisa melepaskan pelukannya.
"Kakak aku sangat rindu Kakak… Kakak selama ini kemana saja…? Apa Kakak tidak kangen sama Ibu dan juga aku…?" Lisa terus bertanya tanpa henti.
Viky tersenyum melihat adiknya yang seperti itu.
"Lisa kamu sudah pulang…" Tanya Ratna yang keluar dari dapur membawa nasi.
"Apa kamu membawa lauk untuk makan…?" Tanya kembali Ratna kepada Lisa.
"Tidak bu… Aku tidak membawanya… tadi ketika aku akan membawanya aku ketahuan jadi lauknya di ambil lagi…" Ucap Lisa dengan nada lemas.
"Yah sudah… tidak apa-apa kita makan dengan Garam saja…" Jawab Ratna.
Viky tercengang mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi selama ini kehidupan mereka seperti ini" Gumam Viky dalam hati, dia mengepalkan tangannya.
kemudian mereka bertiga pun makan, makan nasi yang hanya di taburi garam.
Viky yang melihat ini, matanya memerah kembali dan air matanya keluar menetes di pipi.
"Nak… kenapa kamu hanya diam…? Cepat makan, nanti nasinya menjadi dingin…" Ratna menoleh ke arah Viky yang hanya diam memandang mereka berdua makan.
...****************...
Terima kasih sudah membaca :
...✨Jendral Perang✨...
Jika ada Saran dtan Kritikan silahkan tulis di
kolom komentar.
❗Dukung terus novel Jendral Perang dengan cara :
...Like👍...
...Komen💬...
...Vote🎟️...
...Hadiah🎁...
...Dan Klik Favorit ❤️ Biar Tidak Ketinggalan Update...
...Terima kasih🙏...
...R"Azk 🥇...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 411 Episodes
Comments
MATADEWA
Prihatin.....
2024-06-24
0
Fatah Liverpooldlian
bos besar...
2024-01-23
0
Fatah Liverpooldlian
makan sama garam
2024-01-23
0