Aksara Rania
"hemm.. pagi om?" seorang laki laki menjawab panggilan telfon,
ia bangun dari posisi tidurnya lalu duduk.
"Pulang, bapak mu sakit.." suara omnya itu terdengar dalam.
" Bukannya aku tidak mau om, banyak kegiatan di kantor bulan ini" jawab laki laki berusia 33 tahun itu enggan.
" Aku tidak tau sampai kapan bapakmu bertahan, jadi pulanglah..
bapakmu juga mau menyampaikan sesuatu" suara om nya yang begitu serius.
" baiklah om.. tapi aku tidak bisa libur lama.."
" lama atau tidak yang penting kau pulang" jawab si om lalu mematikan sambungan telfonnya.
Laki laki itu terdiam lama, hatinya gelisah..
ia sebenarnya ingin sering sering mengunjungi bapaknya, tapi karena ribut besar 10 tahun yang lalu hubungannya dengan bapaknya menjadi dingin.
Bapaknya adalah sosok yang luar biasa baginya, ia membesarkan satu putra dengan baik meski tanpa sosok wanita di sampingnya.
Ruangan kelas itu riuh sekali, itu karena jam pulang sekolah tinggal beberapa menit lagi.
" Untuk tugas besok, ibu mau kalian membentuk kelompok belajar, masing masing kelompok terdiri dari 5 anak..
pelajari bab 5 ya, besok akan ada tanya jawab.."
" iya buuuuuuu....!" jawab anak anak serempak.
" ya sudah, besok kita ketemu lagi... silahkan berdoa.." si ibu guru mengambil beberapa buku dan berjalan keluar kelas.
Ia berjalan sedikit buru buru ke arah kantor.
" buru buru sekali?" seorang laki laki berbaju batik bertanya,
" iya,bapak sakit.. " jawab si ibu guru.
" lalu motormu kemana?"
" ban ku bocor tadi pagi, jadi aku naik ojol"
" ya wes, ayo ku antar cepat naik"
" bukannya kau masih ada jam ekstrakulikuler dim?" si bu guru takut merepotkan teman mengajarnya yang sekaligus teman baiknya sejak kuliah itu.
" ya ada, kan anak anak istirahat dulu 30 menit, rumahmu kan nggak begitu jauh naik motor cuma 10 menit, ayo sudah naik!" tegas dimas.
Dimas mengantarnya sampai rumah, namun melihat teras rumah yang ramai dengan mobil dan motor keduanya berpandangan.
" Kok ramai sekali ran?" tanya dimas,
" aku juga nggak tau.." jawab Rania dengan raut resah.
" ayo masuk, sekalian aku lihat bapakmu sebentar.. " ajak dimas turun dari motor dan masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam rumah hati Rania yang was was menjadi tenang, karena ia melihat bapaknya masih tertidur baik baik saja.
Ia tidak tau kenapa keluarga bapak semuanya berkumpul di balai belakang, mereka sepertinya berbicara serius.
" Kuambil kan minum sebentar dim,baru kembali ke sekolah.." kata rania menyuruh dimas duduk sebentar setelah melihat bapaknya.
Rania berjalan ke arah dapur, ia membuat segelas teh untuk dimas.
Karena takut dimas terlambat rania buru buru membawa teh itu keluar dari dapur, tapi sesampainya di pintu dapur ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga teh itu tumpah.
" Aduh?!" suara rania spontan setelah teh itu tumpah ke bajunya dan baju org yang ia tabrak.
"maaf maaf??!" rania langsung meminta maaf sambil mendongak ke atas melihat siapa yang di tabrak nya.
Wajahnya kaku seketika,ia segera menundukkan pandangannya dan mundur.
" Maaf mas... " suara rania pelan, ia takut dengan pandangan orang yang berdiri di hadapannya ini.
" ceroboh.." kata laki laki itu sekilas lalu berbalik pergi.
"Astaga.." keluh Rania lirih sambil mengelus dadanya, laki laki itu adalah orang yang ia takuti, entah takut atau segan.. yang jelas ia tidak ingin berinteraksi dengannya.
Dan kemunculannya yang mendadak ini mengagetkan rania.
Dia adalah kakak tiri rania, orang yang selalu di paksa pulang namun tidak mau pulang.
Tentu saja itu karena ia benci setengah mati dengan Rania yang bukan saudara kandungnya ini, pikir Rania.
Yah benar, bapak bukan bapak kandung Rania..
Ibu dan Bapak menikah ketika umur Rania 14 tahun, sesungguhnya Bapak menikahi Ibu bukan karena cinta..
lebih tepatnya Bapak yang sabar dan bijaksana itu mengasihani Rania dan Ibunya.
Rania buru buru membuat teh baru dan segera memberikannya pada Dimas.
" minum Dim.." katanya sambil menaruh segelas teh di meja.
" lho, bajumu kenapa basah semua?" Dimas heran,
" iya, tumpah.. nggak sengaja, buruan minum nanti telat.."
mendengar itu Dimas buru buru meminum teh nya.
"ya sudah, aku kembali ke sekolah dulu.. semoga Bapak cepat sehat ya..?" kata Dimas bangkit dari duduknya
" iya terimakasih Dim.."
" ya wes, aku balik dulu.." Dimas berjalan keluar, menaiki motornya dan berlalu pergi.
Rania segera masuk ke dalam kamarnya, ia mandi karena air teh terasa lengket di kulitnya.
" Mbak.. ?" panggil mbak Yuni yang bertugas mengurus rumah dari balik pintu kamar Rania.
" apa mbak?" jawab Rania membuka pintu.
" mba di panggil Bapak.. semua orang juga sudah menunggu mbak.."
" lho bukannya bapak masih tidur?"
" sudah bangun mbak.."
" ya sudah.. sebentar lagi.." jawab Rania masuk lagi ke dalam kamar untuk menyisir dan mengikat rambutnya.
Rania duduk di samping Bapaknya, sementara om Surya dan tante Irma adik kandung Bapak duduk tak jauh dari Bapak.
" Mana Aksa?" tanya Bapaknya pelan, mendengar itu Surya berjalan keluar dan memanggil Aksara, tak lama Aksara masuk dan duduk di dekat Bapaknya juga.
" Nduk..." panggil Bapaknya
" nggih pak.." jawab Rania lirih,
" Mas mu akhirnya pulang nduk.. Bapak seneng.. " lanjut Bapaknya meraih tangan anak laki lakinya yang duduk tepat di hadapannya.
Aksara tertunduk dalam, sedikit banyak ia merasa bersalah karena meninggalkan Bapaknya selama ini hanya karena ke keegoisan nya.
" Bapak tadi sudah ngobrol duluan dengan Mas mu.. , Mas mu mau mengabulkan keinginan Bapak..
sekarang tinggal kamu nduk.. kamu mau mengabulkan keinginan Bapak?" tanya Bapaknya,
" Bapak pingin apa pak?? Bapak sudah merawat saya dengan baik setelah ibu tidak ada, tidak mungkin saya tidak manut sama Bapak.." jawab Rania dengan mata berkaca kaca.
" Bener nduk manut?" tanya Bapaknya yang sudah mulai lelah bicara itu, wajahnya yang renta terlihat amat pucat.
" nggih pak.. kulo manut..(iya pak.. saya menurut..)" jawab Rania mengangguk.
" Menikah ya nduk.. " suara Bapaknya pelan,
" dalem pak?" tanya Rania kurang jelas, ia takut salah mendengar
" menikahlah.., sama Mas mu.." suara Bapaknya di perjelas.
Suasana tiba tiba hening,
Rania tidak bisa menjawab, ia spontan menatap sosok Aksara yang duduk tak jauh darinya laki laki itu tak berkata apa apa,
namun ia terus tertunduk, ekspresi wajahnya benar benar tidak bisa di lihat.
" menikah pak?? sama.. sama siapa pak..??" tanya Rania sedikit gagap karena shock.
Ia berharap salah mendengar kalimat Bapaknya, atau Bapaknya salah bicara karena disini satu satunya "Mas" adalah Aksara.
Bapak memang sudah sering menyuruh rania menikah karena usia Rania sudah 25 tahun, tapi Rania selalu beralasan ingin merawat Bapak dan belum menemukan laki laki yang tepat.
yah.. itu hanya alasan,
karena yang sesungguhnya Rania tidak punya keinginan untuk menikah sama sekali,
ia mempunyai trauma yang dalam karena sikap ayah kandungnya saat ia kecil.
Ia melihat ibunya sering di pukuli, hingga akhirnya ia dan Ibunya di tinggalkan begitu saja karena ayahnya lebih memilih hidup dengan perempuan lain.
" Menikah lah dengan Mas mu.. Aksara.." suara Bapaknya begitu jelas kali ini.
Spontan Rania lemas,
badannya tiba tiba tidak bertenaga dan keringat dingin mulai muncul di kedua telapak tangannya.
Rania menatap Om dan Tantenya yang sejak tadi diam tak bersuara, mereka memandang Rania bersamaan,
om Surya mengangguk dan tante Irma tersenyum.
"Aduh.. apa ini..?" keluhnya dalam hati, ekspresi Om dan Tantenya itu malah membuatnya tidak merasa baik.
" Tapi pak.. saya dan mas Aksa kan saudara.." jawab Rania memberanikan diri.
"Kalian tidak punya hubungan darah.. dan di agama kita itu di perbolehkan.. " jawab om Surya dengan suara yakin.
" Tapi pak.. kenapa dengan mas Aksara??" tanya Rania dengan suara pelan, mendengar itu aksara menatapnya dan itu membuat Rania semakin gemetar,
Rania spontan menunduk.
" Aksara sudah berjanji akan menjagamu dan menjadi suami yang baik.. percaya sama Bapak ya nduk.. ini permintaan Bapak yang terakhir padamu.. ",
mendengar ucapan bapaknya Rania benar benar tidak bisa berkata apapun,
mulutnya terkatup rapat, ia bersusah payah menahan air mata nya.
" Nduk.. Aksara tidak akan menyakitimu.. dia sudah berjanji.. terimalah ini nduk,
Bapakmu hanya berharap kalian menikah dan saling menjaga.." tante Irma memegang punggung tangan Rania lembut untuk menenangkan nya karena Surya dan Irma bisa melihat dengan jelas ketakutan yang di rasakan Rania sekarang.
" Jangan takut, aku sudah berjanji pada Bapak akan menjagamu" tiba tiba terdengar suara Aksara yang datar namun tegas.
" Mumpung bapak masih ada.. bapak ingin melihat kalian menikah ya nduk.."
Bapaknya itu meraih tangan Rania dan Aksara lalu menyatukannya.
Wajah Aksara mendadak bersemu merah,
namun ia segera membuang muka untuk menyembunyikan itu.
Berbeda dengan Rania yang semakin pucat,
Rania tidak berani menggerakkan tangannya sama sekali.
" berjanjilah pada Bapak.. kalian tidak akan saling menyakiti dan akan saling menjaga..
semarah apapun jangan meninggalkan satu sama lain.." ucap Bapak membuat keduanya tertunduk dalam.
"Bagaimana ini.. bagaimana.." Rania terus mengeluh dalam hati, jika tidak karena Bapaknya ia mungkin sudah berlari keluar dan menangis sekarang.
Rasanya tidak mungkin..
laki laki di hadapannya ini bahkan selalu sinis padanya,
Meskipun awalnya Aksara perhatian sekali dan sikap nya yang hangat membuat Rania nyaman, namun tanpa sebab sikapnya berubah menjadi dingin dan galak.
Lalu sekarang bagaimana bisa tiba tiba akan ada pernikahan diantara mereka.
" Apakah tidak ada laki laki lain di dunia ini hingga aku harus menikah dengan kakak tiriku.. dan yang lebih hebatnya.. dia membenciku..." kata Rania dalam hati.
Andai dia bisa menolak dan pergi,
maka itu akan ia lakukan,
tapi Bapak.. apa yang akan terjadi jika Rania melakukan itu? apa Bapaknya nya akan kecewa dan semakin sakit..
lagi lagi Rania hanya bisa memejamkan kedua matanya untuk menahan ketidak terima an di hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Kazugata
nyimak
2024-10-11
0
Mrs. Labil
hadir juga disini kak thor 👋
2024-03-21
1
Mrs. Labil
mungkin dingin krn merasa suka dan cinta 🤭
2024-03-21
1