Semua Om dan Tante berkumpul di kamar Bapak, mereka semua sibuk beberapa hari ini mencari hari.
Iya, Bapak adalah keturunan Jawa tulen, Bapak sangat mencintai yang namanya Wayang dan Gamelan.
Bahkan rumah ini mempunya Balai besar yang terletak di sebelah rumah,
Bapak dan teman teman pensiunannya sering berkumpul disana sambil bermain Gamelan setiap malam minggu.
Itu adalah rutinitas Bapak yang pasti sebelum Bapak sakit.
Perhitungan hari seperti Weton dan lainnya sangat penting untuk Bapak, Bapak tidak akan menikahkan Rania dan Aksara begitu saja.
Anehnya, menjelang hari pernikahan Bapak tampak semakin segar, Bapak di penuhi dengan senyuman, Bapak bahkan minta berjemur setiap pagi, dan berjalan jalan sebentar di sekitaran rumah.
Yang paling tidak biasa adalah Bapak meminta tidur dengan Aksara dua hari ini, Aksara menurutinya tanpa berkomentar apapun,
itu karena Aksara pun merasa bersalah karena sudah meninggalkan Bapak cukup lama.
Namun aksara tidak benar benar meninggalkan tanggung jawabnya, ia tetap mengirimi Bapak tiap bulannya, bahkan cemilan cemilan kesukaan Bapak, hanya saja ia menitipkan semuanya pada om Surya.
Rania sedang sibuk di dapur, ia ingin membuat kan pisang goreng hangat untuk di hidangkan, tapi susana berubah kikuk ketika Aksara tiba tiba masuk ke dapur.
Melihat Rania yang bersikap tegang dan takut setiap melihatnya, Aksara jadi kesal.
Menyentuh saja tidak tapi takutnya seperti itu, gerutu Aksara dalam hati.
"aku lupa bilang, pacarmu kemarin kesini" suara Aksara datar sambil membuka lemari es.
" maaf Mas, dia bukan pacarku.." jawab Rani memberanikan diri.
" Wah.. kau pikir aku perduli meski kau bilang tidak?, iya pun tidak masalah bagiku, teruskan saja.. asal tidak di depan mataku dan jangan sampai Bapak tau. Aku tidak bisa memaksakan ke hendak ku karena pernikahan ini pastinya sulit untukmu.
Ku dengar juga banyak yang menginginkanmu, jadi mari kita menikah namun tidak saling menganggu.
Tujuan kita sama, membahagiakan Bapak.
Aku yang lebih banyak berdosa terhadap Bapak jadi aku tidak mungkin menentang keinginan keinginan Bapak untuk sekarang.
Jadi kau sebagai orang asing yang tiba tiba masuk kesini dan menjadi adikku, harus mengerti ketika sikapku padamu menjadi lunak saat kita di hadapan Bapak.
Dan juga.. tenanglah,aku tidak akan memakan mu.
Risih sekali melihatmu selalu ketakutan ketika di dekatku, padahal aku tidak pernah menganggu mu."
Suara Aksara tenang namun tegas, setelah mendapatkan sebotol susu kedelai dari dalam lemari es, ia segera berjalan keluar dari dapur meninggalkan Rani yang diam terpaku.
Rasanya seperti ada gemuruh di dada Rani, bisa bisa nya kakak yang dulu amat di bangga banggakannya itu bersikap seperti itu sekarang.
Bahkan setelah 10 tahun ia masih seperti itu.
Rania masih ingat dengan jelas Aksara pernah menjadi kakak yang manis, yang selalu memperhatikannya.
Tapi entah kenapa suatu hari ia mendadak berubah menjadi dingin dan sinis.
Ia membuat tembok yang tinggi dan berduri sehingga Rania tidak berani untuk mendekat lagi padanya.
Aksara mengendarai mobil dengan tenang sambil melihat google map, setelah berkendara sekitar 1 jam ia menemukan tempat yang di tuju.
Sebuah Resort yang terletak di sebuah perbukitan, pemandangan nya lumayan mencengangkan.
Mungkin di karenakan sudah lama tidak pulang Aksara jadi lupa arah arah jalan.
" Ya ampun?! kenapa lama sekali?!" tante Irma sedikit mengomeli Aksara.
" fotografernya sudah menunggumu, kau ini seperti orang yang di paksa menikah saja?!" tantenya terus mengomel sambil menarik tangan Aksara.
" Memang iyakan" jawab Aksara,
" astaga.. anak ini! cepat ganti bajumu?!"
Mendengar omelan tantenya itu Aksara segera berjalan pergi dan menganti bajunya.
Hari ini calon pengantin akan foto Prewedding, tante Irma yang buru buru menyiapkan nya karena besok Aksara sudah kembali ke tempat kerjanya.
Dan Aksara baru akan kembali lagi sehari sebelum pernikahan.
beberapa menit kemudian Aksara sudah siap dengan setelan jasnya yang berwarna navy.
Aksara mau foto Prewedding asal tidak memakai setelan yang berwarna mencolok, jadi dia hanya memilih warna hitam, navy dan putih.
Semuanya sudah siap, namun Aksara tidak menemukan Rania, matanya spontan mencari, dan pandangan mata itu terhenti di bawah pohon besar di sebelah patung yang menyerupai arca seorang dewi.
Rania yang tampak sudah siap sejak tadi, ia menggunakan kebaya berwarna navy pula.
Potongan kebaya itu memperlihatkan bahu Rani yang mungil.
Deg.. ada yang tidak beres dengan detak jantung Aksara, ia berdetak sedikit lebih cepat melihat betapa cantik dan mungilnya Rania.
" astaga.. mungkin jantungku sedang rusak.." keluh Aksara dalam hati.
" Ayo mulai yuk...?! pengantin nya mana ini??!" suara si Fotografer memanggil.
Aksara dan Rania akhirnya berjalan mendekat.
Rania terus menunduk, ia tidak berani memandang Aksara sama sekali.
" Sekarang coba berpelukan dan saling memandang ya..?" kata si Fotografer pada keduanya, meski kikuk akhirnya keduanya berpelukan juga.
" Dekatkan bibirnya.. 5 senti an lah.. !" pinta si Fotografer.
" Kenapa tidak sekalian menyuruh kami ciuman saja?!" kata Aksara kesal, dengan wajah bersemu merah.
" ya nggak apa kalau mau temanya lebih romantis.. boleh boleh saja kalau mau ciuman.." jawab si Fotografer serius.
" Eh.. gila.. " gerutu Aksara,
" sudah le! jangan rewel?!" tegas tante Irma tak jauh dari situ.
" ah, terserah kalian " gerutu Aksara.
baju kedua dan ketiga lebih bertema Jawa, Aksara memakai Beskap berwarna hitam di lengkapi Blangkon dan Keris, lalu Rania memakai kebaya kutu baru yang berwarna hitam pula, lengkap dengan sanggul besar dan mawar merah yang menghiasi rambut Rania.
Keduanya tampak sungguh luar biasa, mereka berfoto di ruangan Gamelan yang memang sudah di siapkan.
Keduanya tampak begitu serasi di mata orang lain, Aksara yang tinggi dan berwajah maskulin,
sedangkan Rania yang bertubuh mungil dan berwajah kalem.
Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore, akhirnya semua pemotretan selesai.
" Le, ajak Rani bareng pulang, soalnya tante mau sekalian ke tempat perias pengantinnya." kata tante Irma nya.
" Ah tante ini, aku kan juga ada perlu?" Aksara lagi lagi menggerutu.
" perlu apa, jangan alasan saja! sudah bawa Rani pulang sana!" tegas tantenya.
Aksara diam tak menjawab, ia berjalan ke arah mobil di ikuti Rania di belakangnya.
Aksara memasuki mobil, Rani juga mengikuti naik dan duduk di mobil.
" Aku bukan sopir mu, pindah ke depan." tegas Aksara kesal melihat Rania yang terus terusan ketakutan dan menjaga jarak dengannya tanpa alasan yang jelas.
Rania tidak berkomentar mendengar kata kata Aksara yang ketus itu, ia hanya menghela nafas dalam lalu berpindah ke kursi depan.
Sesuai dengan apa yang di katakan Aksara, ia memang ada keperluan setelah pemotretan.
Ia punya janji dengan kawan seangkatannya,
" Turunlah" kata Aksara setelah sampai di tempat.
" kau belum makan juga kan, ayo sudah turun" nada Aksara datar.
Rania turun mengikuti perintah Aksara, begitu mereka masuk Aksara langsung disambut oleh beberapa teman nya,
" Wah, ini istrimu?" tanya seorang teman Aksara yang dulu akrab sekali sewaktu pendidikan.
"Bukan, dia adikku.." jawab Aksara cepat.
Mendengar itu beberapa temannya berpandangan.
" tadi aku ada acara keluarga, kebetulan dia ikut mobilku, ya sudah sekalian ku ajak" Aksara menjelaskan.
" Oh.. kenalan dulu.." seorang teman Aksara mengajak Rania bersalaman.
Rania yang bingung langsung melirik Aksara.
" Jangan genit, adikku tidak menerima playboy lanjut usia " Aksara menarik tangan temannya itu agar tidak bersalaman dengan Rania.
" Sialan.." celetuk temannya sedikit kecewa.
" ya sudah ayo cepat pesan makanan,aku nggak bisa lama soalnya.. Bapakku kurang sehat.." kata Aksara kemudian membuka buka buku menu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Mrs. Labil
alahhhh sok sok an gak mau, pdhal sudah lama memendam cinta 😌
ketauan kok Aksa 😆😆
2024-03-21
0
Mrs. Labil
kannnn 😘😘😘
2024-03-21
0
Mrs. Labil
krn perasaannya ke km bukan utk adek, tapi sesorang yg di cintai 😍😍
2024-03-21
0