Miranda baru saja selesai memakai pakaian nya, setelah mandi.
Terdengar ketukan dipintu kala ia memoles lippgloss clear ice ke bibirnya.
"Masuk !"
"Selamat pagi nona Miranda, nona terlihat lebih cantik dan segar pagi ini", sapa Lilian tersenyum.
"Terima kasih Lili", balas Miranda sambil tersenyum kepada pelayan nya itu.
"Nona, tuan Mathew meminta anda menemani nya sarapan, anda diminta turun ke bawah sekarang", ucap Lilian lembut.
"Hem, baik Lili"
Sementara Lilian membersihkan kamar tidur, Miranda turun kelantai bawah.
Tampak Mathew sudah duduk dikursi, sambil fokus ke iPad nya.
Laki laki itu sudah memakai jas kerja nya.
"Huh, apa tidak bisa dia santai sejenak disaat makan begini".
"Selamat pagi!"
"Pagi, bagaimana tidur mu?", Mathew memperhatikan penampilan Miranda.
Tampak sederhana tapi selalu elegan.
Riasan wajah nya pun simpel, tidak tebal.
Tapi justru membuatnya semakin mempesona.
"Aku? Baik. Tentu aku baik-baik saja", cicit Miranda.
Ia tidak mau Mathew berpikiran lain setelah menciumnya semalam. Ia tidak mau terlihat gugup didepan Mathew.
Walaupun sebenarnya Mathew tahu, semalaman Miranda menangis.
Tapi pagi ini Miranda menutupi dengan penampilan sempurna, sehingga tak nampak sisa tangisan nya semalam.
"Em...Math, ada yang ingin kutanyakan.
"Apa?"
"Bolehkah aku mengurus pekerjaan ku di Paris beberapa hari ke depan?"
"Aku hanya menyelesaikan, pesanan yang sudah dikerjakan saja, selebihnya biar asisten ku saja yang menyelesaikan nya".
Mathew meminum kopi nya, matanya menatap lekat Miranda yang sedang memoles roti dengan selai cokelat kesukaan nya.
"Kau akan pergi bersama ku ke Paris".
"Aku akan meminta Mike menyusun ulang jadwal ku", jawab Mathew.
"Math, aku bisa pergi sendiri. Itu hanya beberapa hari saja. Lagian kau pasti sangat sibuk kan dengan pekerjaan mu", ucap Miranda.
"Tidak ada bantahan Miranda! Atau tidak pergi sama sekali, kau boleh pilih", ketus Mathew sambil menatap tajam Miranda.
"Ahh kau ini menyebalkan sekali. Pekerjaan ku banyak di Paris, tapi karena aku harus menggantikan saudara ku menikah dengan mu, akhirnya pekerjaan ku terbengkalai".
Mathew mengangkat bahu nya, tanda ia tidak perduli. Ia mengelap ujung mulut nya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku pergi", ucapnya tanpa melirik Miranda, yang sedang menatapnya.
"Ehm, Math tunggu sebentar.
Ia menghampiri suaminya yang masih berdiri terpaku.
Miranda membetulkan simpul dasi Mathew yang kurang sempurna.
Tanpa sadar, Miranda menepuk-nepuk dada Mathew. Menunjukkan bahwa penampilan Mathew sudah sempurna sekarang.
Tapi...
Siapa sangka tindakan Miranda itu malah memberikan respon pada tubuh Mathew.
Pinggang Miranda, ditarik Mathew merapat ke tubuhnya.
Belum sempat Miranda protes, bibir Mathew me*umat lembut bibir Miranda.
Dengan nafas tersengal-sengal, Mathew berusaha mengatasi gairahnya.
"Kau ini benar-benar ya", protes Miranda melotot menatap Mathew.
Tangan Mathew mengusap lembut bibirnya .
"Aku pergi", tanpa menoleh lagi.
Miranda hanya bisa terpaku dengan perbuatan Mathew kepada nya.
Pria itu bahkan lupa menanyakan surat perjanjian kemarin.
Semoga Mathew lupa, batin Miranda sambil tersenyum masih merasakan sensasi dari ciuman Mathew tadi.
Sementara itu didalam mobil, Mathew mengelus simpul dasi nya yang tadi dibetulkan Miranda.
Dan bibirnya masih merasakan wangi vanilla dari bibir Miranda istrinya.
"Oh God, ada apa dengan ku.
"Bahkan saat didekat nya aku melupakan kebencian itu.
Miranda benar-benar menyihir ku, batin Mathew sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran mobil.
...***...
Hai, readers sayang...
Semoga kalian suka dengan cerita ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote yaa 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Marina Tarigan
karena Miranda tdk salaj apa2 dia hanya korban keserajahan kalian
2024-12-08
0
Saidah Aida
gemessss aku greget sama kalian berdua
2025-02-10
0
ira
kau sdh masuk ke tahap bucin math 🤣🤣🤣
2024-11-03
0