Miranda berhenti didepan sebuah ruangan dengan pintu yang luas dan tinggi. Sebelumnya Lilian menunjukkan dimana ruang kerja majikannya.
Tangannya ragu-ragu mengetuk pintu tersebut.
"tok tok tokk"...
"masuk!"
Terdengar suara bariton dari dalam ruangan.
Miranda membuka handle pintu, ia mecari Mathew "Dimana laki laki menyebalkan itu", pikirnya. Kedua mata Miranda menelisik kesemua ruangan tidak ada sosok yang menyebalkan itu.
"Ruang kerja Mathew benar-benar mewah, ruang kerjaku tidak ada apa-apa nya dibandingkan ruangan miliknya ini", ucap Miranda sambil berjalan melihat-lihat furniture-furniture yang Miranda taksir pasti harganya sangat mahal.
Foto Mathew menghiasi dinding ruang kerja itu. Miranda mendekati figura. Netra nya menatap tajam foto Mathew. Mengenakan stelan jas berwarna hitam lengkap dengan dasi nya. Mathew terlihat sangat maskulin.
"Ternyata aku benar-benar menikah dengan pria tampan dan kaya raya sekarang", gumam nya tanpa sadar.
Ups..Miranda buru-buru menutup mulutnya dengan jemari tangannya. Miranda menolehkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu. Beruntung tidak ada siapapun. Bagaimana kalau ada orang yang mendengar ucapan nya barusan. Pikir Miranda terlihat konyol.
"Terimakasih, pujiannya nyonya Mathew Benigno!", suara bariton milik Mathew sudah ada dibelakangnya.
"Oh, shitt", Miranda merasa seperti pencuri yang tertangkap basah, ia sungguh malu atas sikapnya beberapa saat yang lalu.
Entah seperti apa wajahnya sekarang, ia sungguh menyesal bersikap rendah seperti tadi.
"Hem, aku harap kau jangan salah mengartikan ucapan ku tadi. Situasi ini masih membuat ku shock", elak Miranda menutupi malunya.
"Tapi aku mendengar ucapan mu dengan jelas", ledek Mathew, dengan tatapan intens menatap Miranda.
"Ahh, sudahlah hentikan. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?", tanya Miranda dengan suara ketus.
Mathew yang sudah duduk dikursi meja kerjanya, terlihat memegang map berwarna biru. "Baca dan segera tanda tangan!", ucapnya dengan ketus dan menuntut.
Miranda membuka map yang diberikan Mathew, alis nya terangkat membaca poin-poin yang tertera di kertas.
"Apa ini?", mata Miranda melotot menatap Mathew.
"Kau bisa membaca bukan?", balas Mathew ketus bernada meledek Miranda.
"Aku tidak mau menandatangani nya! Apa-apaan kau ini".
Miranda meletakkan kembali map di atas meja, ia membalikan badan ingin keluar ruangan kerja tersebut.
"Berhentilah membuat ku marah Miranda Arrabella, atau kau mau ku buat keluarga mu hancur dalam sekejap hah?". Suara Mathew menggelegar, terdengar berbeda.
Siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa pemilik suara sedang marah besar.
Miranda membalikkan tubuhnya lagi menghadap Mathew yang menatap nya tajam dari kursi nya, netra coklat terang itu menghunus ke hazel milik Miranda.
"Kau mengancam ku?", Miranda jengah menghadapi laki-laki itu, entah kekuatan dari mana ia pun tidak mau mengalah atau takut .
"Dengarkan aku tuan Mathew atau siapapun nama mu, aku tidak perduli dengan ancaman mu! Sekali lagi aku katakan aku tidak takut padamu!".
Jawaban Miranda, membuat Mathew tertawa, suaranya menggelegar memenuhi ruang kerja yang luas itu.
Miranda menutupi rasa yang sebenarnya membuatnya takut berhadapan dengan laki-laki itu, bohong kalau ia bilang laki-laki dihadapannya membuatnya tidak takut. Tapi ditepis nya rasa itu, harga dirinya terlalu tinggi untuk laki-laki yang meremehkan nya saat ini.
"Aku akui Miranda Arrabella, kau memiliki nyali juga. Menarik...
Kau sangat berbeda dengan saudara mu".
"Tapi satu hal yang perlu kau tau, keluarga mu berhutang banyak pada ku. Dalam sekejap aku bisa membuat keluarga mu jatuh miskin. Apa kau siap menghadapi nya Miranda?".
Miranda mengerjapkan matanya, mendengar sindiran Mathew. Entah sejak kapan laki-laki itu berada di belakangnya. Bahkan hembusan nafasnya terasa di tengkuk, membuat tubuh Miranda bergetar.
"Kau tahu, kenapa ayah mu memaksa menggantikan saudara lacur mu itu, hah?"
Itu semata-mata karena ayah mu takut perusahaan nya menjadi bangkrut. Kau paham sampai sini, Miranda Arrabella?".
Air mata Miranda, menganak di pelupuk matanya. Ia tahan sekuat tenaga agar air mata itu tidak tumpah diwajahnya .
Miranda berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Mathew.
"Kau pasti berbohong, itu hanya permainan mu untuk menjebak ku kan?", Miranda menatap nanar Mathew sambil mengusap air mata yang akhirnya membasahi pipinya.
"Apa susah nya menandatangani surat itu Miranda? Aku tidak meminta lebih atas bantuan ku selama ini untuk keluarga mu. Aku tidak akan mengikuti permainan keluarga mu untuk yang kedua kalinya, cukup saudara mu itu membuatku terhina. Tidak berlaku untuk mu".
Kata-kata Mathew menyadarkan Miranda.
"Berikan aku waktu".
" Baik. Aku tunggu jawaban mu malam ini".
Jika kau menandatangani nya, artinya kau menyetujui setiap poin yang tertera disana dan kau wajib melakukan sesuai disurat itu. Satu poin saja kau langgar siap-siap kau ku hukum. Kau mengerti Miranda Arrabella ?".
...***...
YUK BACA JUGA:
MENJADI YANG KEDUA
AIR MATA SCARLETT
FIRST LOVE LAST LOVE
MARRIAGE AGREEMENT
SERPIHAN HATI ELLENA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
ira
turuti saja Miranda trs buat Mathew bucin sama kamu
2024-11-03
0
lontongletoi
tampol aja Miranda pake senso buat motong poon
2025-02-22
0
ira
trs knp kau masih mau sama kakaknya Miranda padahal kau tau klo dia itu lacur😅
2024-11-03
0