Kita jadi officially bisa temenan juga sekarang?
Keadaan jauh lebih santai setelah setahun kerja. Gue bisa berani ngejoke di kerjaan sama boss kaya boss gue sebelumnya. Boss gak keberatan. Walaupun gue gak berani kalo didepan orang. Karana harus jaga image killer dia juga.
Gue agak binggung. Well, memang agak membinggungkan... Tapi ya sudah, boss killer bisa anggep gue temen that is benefit. Right! Jadi mari tak usah dipusingkan.
"Bagian tengah jadi turun cukup besar selain proyek dari saya, padahal bagian barat dan timur naik terus..." Boss ngeliat analisa marketing selama satu semester belakangan.
"Kamu ada denger gosip kenapa bisa begini, padahal Pak Tony itu orang marketing lama sudah senior, saya pikir malah dia akan bisa menghandle tanggung jawab bagian ini paling baik."
"Ehmm... saya gak pasti pak. Tapi yang saya dengar Pak Tony hmm... punya kepribadian negatif, maksudnya mereka ngeluh Pak Tony itu one man show, suka nanganin semua project bukan ngasih ke marketing di bawahnya, ... jadi beberapa project lepas karena mungkin hanya satu orang yang jalan. Ini yang saya tangkap dari omongan assisten-assisten dan ....dia suka katanya menjatuhkan mental marketing yang gak gol project."
Tugas assisten director salah satunya adalah mendengarkan gosip di lingkaran kantor.
"Ohh, really?"
"Coba kamu panggil Tony kesini, saya mau bicara empat mata sama dia." Gosip kantor adalah penting untuk menilai situasi lapangan. Walaupun yang nanti membuat keputusan adalah boss.
Gue langsung telepon ke assitennya.
"Lola, Pak Kevin mau bicara sama bossmu, bisa..."
"Ohh, iya mba Ren. Saya bentar cek dulu. Terdengar nada tunggu intercom."
"Oke mba Ren, dalam lima menit kesana."
"Oke."
Ndak lama Pak Tony masuk ke cluster ruangan gue. Pan Tony ini adalah marketing senior, umurnya sudah diatas 50. Dia adalah marketing yang punya penghasilan di atas rata-rata karena proyek-proyek yang digolkannya.
Tapi sekali lagi, memimpin para marketer adalah tantangan berbeda dan tidak bisa dijalankan oleh satu orang saja. Para pimpinan perlu mentransfer ilmunya ke marketer lain dan memotivasi timnya bukan menjatuhkan mental mereka karena mereka belum gol proyek.
"Ren, boss manggil?"
"Iya Pak, bentar ya..." Gue intercom ke boss buat kasih tau. "Masuk pak."
Meeting empat mata itu jalan lama juga. Gue mesti nunggu hampir lewat jam lima. Hampir sejam lebih mereka ngobrol.
Jam setengah enam Pak Tony keluar. Wajahnya sedikit berubah.
"Yuk Ren, pulang dulu udah jam enam bentar lagi."
"Iya pak..." Gue kasih salam balik. Kerjaan gue hari ini nampaknya udah beres. Boss ada perlu apa lagi gak ya.
"Pak ada yang harus saya kerjakan lagi..."
"Gak, ... Hmm coba nanti kamu denger-denger gimana perkembangan suara marketing dibawah Pak Tony, apa mereka ada keluhan atau mungkin... perubahan."
"Besok tolong bilang ke Bagian Keuangan saya minta rank pendapatan marketing khusus wilayah tengah."
"Iya pak."
"Dah itu aja, bilang pak Hasan suruh siap-siap kita pulang."
"Oke pak." Biasa gue pulang ngikut boss. Karena kita satu jalan. "Saya gak ikut pak, ada ketemu temen."
"Oh, oke ... " kali ini mau kumpul ama geng kuliahan udah lama gak meet up. Dia freeze bentar.
"Perlu dianter?"
"Ohh ga pak, saya bisa sendiri..."
"Dimana?" Nih boss kepo bener.
"Ehmm... Gading." Gue nyebut salah satu mall di area Jakarta Utara gak terlalu jauh dari kantor gue.
"Ohh oke." Gue gak tau kenapa dia nanya tapi biarin aja. Gue langsung keluar dan beberes setelah WA Pak Hasan buat siapin mobil. Benerin make up gue kilat sebelum pergi.
"Ketemu temen, apa temen...?" Lewat depan gue. Busyet nih boss, kepo bener. Gue nyengir doang. Nih kuya tahu beda temen dan 'temen'
"Temen tapi demen pak..." Jawaban itu bercanda ngaco karena nyambungin temen apa 'temen'.
"So is a new date then?"
"Ha? Date apa, siapa yang nge date?"
"You bilang sendiri tadi temen tapi demen?"
"Engga itu kan ngereply temen apa temen." Dia masih berdiri disana sambil bawa tasnya. Napa dia gak pergi-pergi sih! Orang mau sisiran segala. Gue siap-siap mesen taxi online.
"Masih ada yang saya harus kerjakan pak?"
"Oh gak, ya sudah hati-hati."
"Iya pak." Akhirnya dia pergi juga. Gue langsung gerakan kilat siap-siap. Beresin rambut, benerin lipstik dan maskara. Ganti baju hihi karena baju gue boring cuma atasan blazer hitam dan rok hitam.
Kali ini gue bawa terusan one piece gue warna pink pastel yang bisa gue pake luaran. Nih baju ud gue beli tapi cuma satu kali pake karena gue cuma bisa pake blazer hitam putih.
Single mau flirting. Mau cari cowo-cowo cakep.
'Guys ... udah gue udah di jalan nih.' - WA gue udah bunyi
'Yuhuu ...in 30 yak' - satu temen gue nyaut di chat.
'Otw' - Which means not on the way yet!
Satu geng gue yang terdiri dari empat orang udah ribut. Gue ngelepas ikatan rambut gue. Dan taraaa ... now I have my shiny glowing hair back.
Gue cepet-cepet turun ke bawah. Hampir jam enam, masih ada beberapa orang di lantai bawah. Gue say goodbye sama mereka.
Eh mobil boss masih parkir, but engine starting. Bodo, mobil taxi online gue udah nunggu di parkiran kantor.
Gue sampe di mall on 30 minutes. Gak sampe lima belas menit geng gue udah kumpul semua di restoran yang kita mau.
"Ren, lu putus ama Robby?" Serly temen gue langsung nanya gosip.
"Hmm dah lama mungkin udah lima bulan."
"Kenapa?!" Dan ceritalah gue, soal si cebol gak punya biji itu dengan menghela napas.Dulunya Robbie adalah temen kuliah kita.
"Masa Ren, dia sampe gak bilang apapun sama lu. ******* banget sih..." Vera dengan cepet nimpalin gue.
"Astaga, kalo gue jadi lu ud gue gampar tuh ..." Olie yang udah punya anak satu langsung panas.
"Iya perlu digampar cowo kaya gitu." Astrid langsung ngeramein.
"Udahlah, udah males ngomongin dia. Ganti topik lhaa, anggep aja udah mati orangnya."
"Ganti topik,... oke sebenernya gue mau kasih kalian ini." Vera ngeluarin kartu pink tiga biji sampe senyum lebar.
"Ehh, ini undangan ...Astaga congrats yaaa Vera sayang." Gue dan Astrid meluk Vera.
"Kalian berdua jadi bridesmaids gua ya. Olie kan gak bisa karena kasian anaknya. Kalian berdua ya ...."
"Iya iya kapan sih yàng engga buat lo. Ehh kapan?"
"Masih tiga bulan lagi kok, nanti fitting gaun bridesmaidsnya gue kasih tahu kapan ..."
Kita ngobrol ampe malem karena akhir pekan. Gak nyangka sudah hampir tutup mall. Ikut seneng buat Vera yang mau merried. Tapi dilain hal, gue ngerasa nelangsa juga karena sendiri.
Astrid juga udah mau merried katanya. Kita-kita udah mau kepala tiga semua satu atau dua tahun lagi.
Tapi menikah itu bukan target. Berkaca sana yang lain, menikah butuh kesiapan matang. Entah kedewasaan psikologis atau finansial.
Ketika saatnya tepat, dan orangnya tepat. Begitu setiap saat gue yakinin diri. Karena kisah cinta gue gagal sekarang buat orang yang sama sekali gak pantas, gue sangat bersyukur bisa tahu secepatnya.
Semuanya ada waktunya nanti. Itu yang gue percaya. Sekarang, gue single bahagia dan kaya.
Gue jalan ke lobby buat pulang sambil masih WA an sama geng gue. Senyum-senyum sendiri sambil jalan.
"Udah mau pulang?" Ha?! Suara ini bukannya. Gue langsung noleh.
"Pak Kevin? Kok disini...."
"Tadi ada ketemu sama temen saya juga. Kebetulan liat you."
"Ohh..."
"Ayo pulang..." Gue bengong doang liat boss.
"Nunggu apa lagi, ayo ikut ini udah jam 10 lewat..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 349 Episodes
Comments
Besse Winda
stalking man..suka bilang dong paaak😁
2024-07-16
1
Phiby Ortiz
horor pak kevin,nguntit kamu y😮💨🤣
2024-05-23
0
Arita Dhamayanti
cie cie udh ad yg mulai penasaran menjurus jd penguntit 🤣
2024-03-13
0