Satu sore minggu-minggu terakhir menjelang tiga bulan gue.
Belakangan serangan cewe-cewe bos kayanya mereda. Gue gak harus nanggung dosa boong-boong unfaedah lagi. Ud hopeless ya kali mereka dicuekin bos.
Gue fokus ama kerjaan gue yang merupakan jembatan penghubung antara boss dan manajerial. Lancar kok selama ini ... , asal lu kerja cepet, laporan cepet, bos gak ngeluh.
Tugas assiten adalah mengingatkan semua perkerjaan boss, mengatur pekerjaan itu berjalan dengan baik dan gua udah terbiasanya dengan kecepatan kerja boss.
Setelah tahu kita bisa diandalkan dia gak pernah cerewetin gue lagi kaya di awal-awal. Semua smooth kaya jalan tol satu bulan belakangan dan gue mulai enjoy gak kaya awal-awal sering deg deg ser, takut kerjaan gue salah.
"Ren, saya pesen ke pak Bram HRD, buat kasih satu assiten buat kamu. Biar bisa bantu kamu disini." What?! Gue dapet assiten yang bantu kerjaan gue. Aishh, seneng gue sudah bisa dapet assiten. Berarti hampir dipastikan kerjaan gue udah tetap. Yihaaa! Kalo bisa loncat-loncat gue loncat sekarang. Tapi tentu saja gue masih waras
"Ohh, iya pak. Makasih pak." Dan gue mesem-mesem.
"Fresh graduate, kamu ajarin aja ..."
"Iya pak."
Anak fresh graduate itu datang seminggu kemudian.
Lulusan manajemen cewe umur 22, univ ternama, IP mengagumkan. Itu yang gua tahu dari HRD. Kelas tinggi lah yah. Gue yakin dia gak lemot dan cepet nangkep kerjaan dengan spesifikasi setinggi itu.
Yahh lumayan yah... Gue udah seneng ada yang ngebantuin gue arsip, dokumen dan mungkin gue bisa suruh handle banyak hal perintilan yang selama ini harus gue kerjain sendiri.
Tapi ternyata gak semudah itu ternyata ketika lu udah berhadapan dengan kelas elit seperti ini.
"Hai, saya Renata. Supervisor kamu. Kamu bantuin saya dulu ya..."
"Iya mba, saya Dessy..."
Hari pertama gua gak ngasih banyak-banyak dulu, cuma ngarsip, ngecek email kantor . Cara jawab telepon yang masuk ke meja kita, cara handle tamu, jadwal meeting direksi, telepon penting, memastikan ruangan bos rapi selalu karena kalo cuma office boy pasti perlu dicek pekerjaannya. Gue kasih desk job yang sederhana dulu untuk kenalan sama sistem kerja disini. Karena kita share ruangan kerja sekarang.
Doing by learning dulu deh ya, karena kan baru masuk hari pertama juga. Baru pertama kerja lagi. Aku nauin lhoo kesulitan adaptasi dunia kampus ama kerja, jadi biasanya aku kasih job sederhana dulu buat minggu pertama.
"Udah mba segitu aja..."
"Iya hari pertama itu aja dulu, kalau ada yang gak ngerti tanya aja yah... " dia ngangguk-nganguk aja.
Bos udah datang gue masuk ngasih laporan harian dulu. Gak ada jadwal meeting keluar beberapa hari ini atau acara khusus, aman sentosa untuk beberapa hari ini sepertinya.
Gua kasih dokumen laporan yang dia harus arsip. Sementara gua ngerjain dokumen kontrak baru. Siang ada rapat internal biasanya gua harus ikut jadi notulen.
"Mba, kerjaan saya gini aja?" Gue langsung noleh. Dokumen yang gua kasih masih belum diarsip, ada 4 hari ini gue belum beresin arsip. Itu lumayan banyak.
"Iya, kerjain itu aja dulu." Dia baru mulai kerja, gua heran kenapa gak tadi ya. Gua laporan ke dalam lumayan lama ada dua puluh menit mungkin.
Gue fokus lagi ke kerjaan gue. Sementara gue ngelirik dia. Ampun lemes dan lemot amat kerjanya. Masukkin satu kertas ke file kayanya membutuhkan tenaga ekstra. Astaga.
Gue diem. Apa dia belum ngerti pengelompokan filenya ya, perasaan tadi gue udah jelasin dengan detail.
"Des, ngerti masukkin filenya ke mana aja? Gak ngerti nanya ya!?"
"Ngerti mba..." Yo wiss, tak tinggal konsen ama kerjaan gua lagi disebelah.
Telepon bunyi dua kali, dia masih diem wae. Padahal gue udah ajarin cara jawapin telepon ke dia.
"Des!" Gue ngedelik sedikit kali ini. Dia baru angkat tuh telepon.
"Mba, dari receptionists, katanya ada telepon dari Mr. Matsuyama buat pak Kevin line 3."
Gua ambil dan contohin gimana gue nerusin telepon ke bos.
"Nih ya, bos 101..."sambil gua nunjuk angka line telp di belakang tersembunyi meja reception gua yang tinggi. "Siang pak, Mr. Natsuyama line 3 pak." Gue tutup telepon begitu tanda line nyala merah.
"Ngerti kan... "
"Ya mba."
"Kecuali mba receptionist bilang ada telepon dari pacarnya boss. Kamu langsung aja over ke aku. Jangan bilang boss ada, nanti aku yang jawab ya..." mangut-mangut ngerti kayanya. Fine
"Ya udah lanjutin kerjaan kamu." Dia masih dalam mode slow motion. Gue geregetan ama yang kerjanya lelet.
"Des, kerjanya cepetan ya ada lagi yang harus kamu kerjakan." Baru dia jalannya agak nambah 50% cepetnya.
Walaupun dia lelet kaya bemo tapi gue sabar, mungkin belum kenal ama lingkungan kerja ya. Jadi masih bingung.
Dalam beberapa hari pertama gua ngajarin dia ngarsip kerjaan gue. Gak ada kerjaan berat. Sambil dikit-dikit ngasih tahu tentang kerjaan administrasi lain. Tapi rupanya seminggu setelahnya suatu sore dia ngeluarin unek-uneknya.
"Mba, kerjaan saya ngarsip aja ya. Gak ada kerjaan lebih pinter gitu." Walaupun itu dikatakan dengan nada biasa, alis gue langsung naik satu centi. Ha? Maksudnya kerjaan lebih pinter?
"Kerjaan lebih pinter?" Gue ngulang kalimat dia.
"Saya ini lulusan ***( menyebutkan nama uninya) IPK saya 3.8 mba. Masa kerjaan saya ngarsip ama ngangkat telp doang..." Busyet! Gue pites juga nih anak.
"Terus definisi kerjaan pinter itu gimana..." Gue nyengir aja dengernya.
"Nganalisa data keuangan gitu misalnya mba, memeriksa laporan operasional gitu." Behh, dia pikir anak baru sudah bisa liat laporan keuangan perusahaan. Kalau perusahaan punya bapakmu boleh kamu liat. Yang megang laporan keuangan itu cuma level lingkar terbatas manajerial keuangan dan pemilik neng.
"Kamu belum sampai manajerial keuangan. Kamu gak suka kerja dibagian saya yang ngurus administrasi boleh hadap HRD." Dia diem.
"Jadi karena itu kamu gak semangat kerjanya..."
"Iya, saya ngerasa kerja keras saya ngejar nilai dan kuliah sia-sia jika disuruh ngarsip doang mba..." Well, dia jujur. Fine, gue akan kasih dia sudut pandang.
"Kamu pernah dengar hal besar dimulai dari langkah kecil, ... "
"Pernah."
"Then, itu juga berarti hal yang sama buat kamu. Walau kamu lulusan Harvard sekalipun. Kamu tahu kalo para lulusan Harvard itu dimasa kuliahnya juga jadi pelayan restoran atau toko, mereka belajar sistem dan harus mematuhi sistem kerja. Mereka ngerasian apa yang level bawah rasain biar mereka ngerti pikiran bawahannya. Mereka belajar hal-hal remeh. Kamu gak bisa dikasih langsung besar, karier itu ada tingkatannya. Orang yang melihat kamu bekerja dengan baik di hal-hal kecil kamu akan dipercaya dengan hal-hal yang besar. Dunia kerja itu kompleks, kamu harus menghadapi banyak personality, banyak manusia dan banyak atasan, memuaskan banyak orang dengan pekerjaan dan tingkah laku tanpa cela. Dan melakukan hal kecil sambil mengenali lingkungan kerja kamu dengan baik adalah hal yang pertama kamu harus lakukan sebagai entry level. Entry level adalah meraih pengalaman dan menunjukkan attitude kamu. Dengan itu kamu dengan cepat bisa naik dari entry level." Gue berenti nyembur. Masih bagus gua mau ngasih cuap-cuap.
"Sekarang kamu coba pikirkan benar atau tidak perkataan saya. Jika kamu tidak suka jangan dipaksa, bilang ke HRD kamu tidak melanjutkan. Saya juga gak maksa kamu kerja dibawah saya mengerjakan administrasi kalau kamu tidak suka."
Gue ninggalin anak baru itu ke kerjaan gue yang lain sore itu.
Kayanya dia baru mikir apa yang gue omongin bener. Besoknya dia kerja dengan semangat dan banyak inisiatif nanya kerjaan yang dia belum ngerti.
Dan die gak lelet kaya bemo lagi. Dia mulai ngikutin path gue. Kerja dengan ritme cepat, gak nunggu sampe dibawelin.
Yes, entry level gak enak. Harus ngerjain kerjaan remeh yang gak guna. Tapi itulah kenapa dinamakan entry level. Belajar hal-hal sederhana, gaji gak seberapa dan mengenali lebih dalam soal tempat kamu kerja.
Raih pengalaman mengerjakan tugas-tugas kamu. Dari yang sederhana ke yang lebih sulit. Semangkin kamu bisa mengerjakan hal sederhana dengan cepat, semangkin orang mau kasih kamu task yang lebih kompleks. Meraih kepercayaan bukan hal yang bisa dilakukan satu dua bulan. It's take years to build the competency.
Kamu harus menunjukkan kamu punya attitude yang baik. Gak itungan sama kerjaan, bisa kerjasama dalam tim dan bergaul dengan baik dengan banyak orang, dengerin apa kata atasan langsung kamu dan punya inisiatif mengajukan diri untuk melakukan hal-hal yang lebih baik.
Itu kerjaan kamu di entry level. Dan percayalah kamu akan segera naik ke pekerjaan yang lebih tinggi. Kerja keras pasti dibayar dengan penghargaan kok.
"Gimana assiten kamu?" Pak Kevin nanya setelah kurang lebih dua minggu dia kerja sama gue.
"Baik pak. Anaknya punya inisiatif dan rajin. Kerjanya juga cepet..."
"Baguslah. Kupikir dia gak kerasan disini..." Ehh maksudnya apa ini. Kok bisa si bos tahu Dessy gak kerasan disini.
"Dia tadinya memang sedikut ngeremehin kerjaan dia pak. Tapi dia saya omongin terus sepertinya dia bisa terima omongan saya... " Pak Kevin ngangguk.
"Dia anak om saya. Bapaknya memang spesifik ngirim dia kerja entry level disini selama dua tahun ... Awalnya saya pikir dia gak bakal mau, anaknya cukup ... sombong. Tapi ternyata dia jalan dibawah supervisi kamu. Bagus!" What sodara boss! Gue pucet!
"Sepupu bapak...?" Gue ngerendahin suara gue. Waduh bisa gawat gue marahin sodara bos.
"Sepupu jauh..." Dia kayanya tahu gue ngeper.
"Gak ada lihat saudara, dia dibawah kamu. Kalau kamu mau marahin dia itu hak kamu sebagai atasannya. Saya dan siapapun ayahnya tidak akan ikut campur dan dia tidak boleh menyebutkan dia ada hubungan dengan saya dikantor ini. Kalau dia salah kamu harus tetap menegur. Itu cara mengajari dia. Jika dia gagal dibawah kamu, dia harus tetap mengulang dua tahunnya di perusahaan lain."
"Ohh..." Sekarang gue yang kagum sama Bapaknya Dessy.
"Sihlakan marahin jangan takut, dia bawahan kamu dan gak perlu dia tahu kamu tahu dia saudara saya."
"Iya pak."
"And by the way, kamu kerja sama saya sudah lewat masa percobaan. Kamu sudah resmi assiten saya. Gaji kamu bulan depan sudah seperti kontrak." Gue senyum lebar.
"Makasih banyak pak..." dan untuk pertama kalinya dia senyum kecil karena ketularan senyum full cobtact gue.
Yess! 20 juta!
🎀🎀🎀🎀
Hai guys, mulai 14 Jan selasa ya aku akan ada Novel Romance baru. Cek aja ntar selasa ya aku ud umumin di IG ku margaretraegis teaser lagi dibuat ntar aku share di IG and You tube juga
Tadinya aku mau bikin Hystorical Romance ala ala Nefertari hahaha ( bukan Nefertari) tapi gue ngeper sendiri sama bahan bacaan yang harus gue pelajarin hahaha ...berat bo bikin Hystorical, pemahaman sejarahnya gak bisa setengah2 .
gue bisa ngelakuin itu kalo follower gue ud diangka 10.000 kali ya jd gak uusah ngejar deadline kontrak 🤣🤣🤣
Btw makasih yang ud nungguin I hate my boss
Tadinya gue mau bikin ini kaya novel komedi sebenarnya menjelaskannya lika liku penderitaan di dunia kerja, tapi apa kalian menginginkan diakhiri dengan romance 😅😅😅🤗?? Tolong jawab yaa dibawah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 349 Episodes
Comments
Arita Dhamayanti
bravo renata 👏👍
2024-03-13
2
anisa f
oalah ternyata sama jalur keluarga jg 😂😂
2023-07-02
1
anisa f
apa dua anak tmptku kerja perlu tak suruh baca ini novel ya biar sadar
awalnya ak mikir apa ak yg terlalu keras, tp menurutku beginilah dunia kerja, tp dua anak itu (yg masuk lwt jalur keluarga) g terima, ya sudahlah
2023-07-02
0