Senandung Cinta Jilbab Reina 2
Arya mengambil undangan itu. "Eh, iya."
"Kalian benar-benar harus datang lho!" Reina mengingatkan.
Arya melirik Mariko yang terlihat bingung. "Malam ya?"
"Iya, jadi pasti kalian punya waktu kan?"
Mariko mengangguk.
"Ok, kami tunggu." Chris menimpali. Ia menggandeng Reina ke dalam rumah dengan tangan kirinya. "Honey, leherku pegal. Bisa kamu pijat?"
"Mmh? Ok."
Mariko kembali duduk di kursinya.
Arya ikut duduk di samping Mariko. "Kamu ikut datang kan? Aku tak mau pergi sendiri." Ia meletakkan undangan itu di atas meja.
"Dengan pakaian ...." Mariko menatap Arya. Ia tak ingin melanjutkannya. "Tidak mau ah, tidak asyik."
"Harus! Aku akan membelikan pakaianmu." Suaranya terdengar lantang.
Mariko menggulung bibir bawahnya. "Curang. Kenapa aku harus mengikuti maumu sedang kamu tidak pernah mau mengikuti mauku."
"Kapan aku tidak mengikuti maumu?"
"Kalau begitu, aku boleh dong main ke rumah Ferdi?"
Arya hanya diam dan langsung berdiri. "Akan kupikirkan." Ia kemudian pergi.
Mariko mengepal kedua tangannya. 'Yes' sahutnya tanpa suara.
Memang tak menyenangkan bila seorang wanita pergi pesta dengan pakaian pria. Sebagus apapun. Aku juga ingin melihatmu setidaknya berpakaian yang anggun dan menggandengmu ke pesta. Tapi ini darurat. Kalau boleh memilih, aku juga tidak ingin pergi. Karena kalau pergi pastinya tidak ingin sendiri.
Hah, kenapa sejak mengenalmu aku merasa ingin memperkenalkan pada dunia kau milikku. Semakin hari semakin egois. Padahal aku sendiri tak tahu ke mana ujung takdir ini. Apakah kita akan bersama selamanya? Atau suatu hari kita akan berpisah? Memang tak ada jawabannya untuk ini tapi setidaknya aku ingin mencoba. Paling tidak memilikimu hari ini saja. Esok mungkin aku akan menangisimu tapi aku tak menyesal. Karena aku pernah menemukanmu, mahluk cantik yang punya sama rasa.
Arya menengok ke belakang. Mariko yang merasa di perhatikan pura-pura meletakkan kepalanya pada lipatan tangannya di atas meja. Malas menatap Arya, takut salah bicara. Arya kembali memutar tubuhnya dan mengawasi pekerjaan.
Menjelang malam, para pekerja mulai merapikan peralatan. Pacul, ember dan yang lainnya sudah dicuci dan dijemur. Arya termasuk yang sangat memperhatikan kebersihan barang-barang yang dipakai tukang agar bisa digunakan berkali-kali.
"Ricky."
"Iya?" Mariko masih memainkan hp-nya. Ia mendongak menatap Arya.
Pasti dia habis membalas pesan di hp-nya dengan Ferdi. Arya menahan diri untuk tidak mengepalkan tangannya, geram. Apa aku terlalu mengekangnya?
"Ka-kamu sedang apa?" Arya gugup karena berusaha untuk tidak terlihat curiga.
"Mmh?" Mariko masih melihat hp-nya. Kemudian ia mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali ke layar. " Ya, mati."
"Hah?"
"Apa Kak?" Mariko kembali mendongakkan kepalanya.
Oh, dia .... "Tidak apa-apa."
"Mmh?" Mariko menegakkan punggungnya.
"Apa kau masih ingin main dengan Ferdi?"
"Iya Kak. Aku janji telepon dia kalau jadi ke rumahnya."
Sepertinya aku di sini sendiri yang terbakar api cemburu. Aku .... "Apa kamu sudah mempelajari cara sholat yang benar?"
"Mmh. Kenapa?"
"Kalau kau bisa melakukan tata cara sholat yang benar, aku akan mengizinkanmu main dengan Ferdi."
"Benar Kak?" Mariko berdiri. Ia hampir saja melompat kalau saja Arya tidak memperingatkannya.
"Ssst. Jaga sikapmu." Arya melirik ke kiri dan ke kanan.
Mariko sedikit membungkuk. "Maaf." katanya sambil berbisik. "Ayo Kak kita cepat pulang." Ia langsung berpegangan pada lengan Arya.
Sekilas Arya terlihat senang tapi berusaha tak ditunjukkannya. "Iya sebentar."
Di lantai 2, Nena telah menyelesaikan tugas mencuci pakaian. Ia sedang menjemur pakaian terakhir yang dicucinya. Setelah selesai, ia menghampiri Aska dan memeriksa hasil dari tugas yang diberikannya.
"Kita kapan, jalan lagi yuk!" Aska memainkan pulpen di tangan.
"Mmh?" Mata Nena masih sibuk memperhatikan kertas yang ada di tangannya. Netranya menari-nari melihat setiap baris soal yang digenggamnya.
Aska menopang wajahnya dengan satu tangan. Ia memiringkan kepalanya sedikit melihat Nena. Sebenarnya dia suka sama aku atau tidak ya? Atau hanya sekedar segan? Dia kalau bereaksi tidak pernah ... bagaimana mengatakannya ya? Penuh cinta. Ah, tidak. Hanya aku merasa datar saja. Seperti ia menganggapku sebagai seorang teman. Matanya seperti bicara itu padaku. Sepertinya hanya aku yang mencintainya. Apa perasaanku itu salah? Kalau itu benar, aku berharap cinta itu akan segera tumbuh di hatinya, menjalari seluruh jiwanya, dan menampakkannya pada cahaya di matanya hingga saat mata kita bertemu ia seperti bidadari yang jatuh cinta padaku. Hah, Aska. Nasibmu sungguh menyedihkan, kalau benar-benar Nena tidak mencintaimu.
"Kamu ...." Aska mendirikan pulpen di jarinya.
"Ya?" Nena melirik Aska sekilas kemudian meletakkan kertas itu di atas meja. "Apa?" Ia kembali melirik Aska.
"Serius, perasaanmu padaku gimana?" Aska merapikan duduknya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan masih memainkan ujung pulpen.
Nena menggulung bibir bawahnya. "Apa Kakak tidak bisa serius belajar? Sudah dekat ujian lho! Ini saja hasilnya masih setengah benar." Ia mengambil kertas tadi dan menyerahkannya pada Aska.
Aska hanya mengambil dan meletakkannya ke samping. Buru-buru diambilnya tangan Nena yang baru saja memberinya kertas tadi dan di genggamnya.
"Kak." Nena mencoba menarik tangannya tapi tak bisa. Aska menggenggamnya terlalu kuat.
"Nena, aku serius."
"Sekarang bukan saatnya kita memikirkan hal ini Kak." Nena terpaksa pasrah. Aska termasuk orang yang susah diajak bicara. Kalau ia ingin sesuatu, harus itu, tidak ingin yang lain atau tidak sama sekali. Nena lama-lama hapal dengan sifat Aska yang sulit ini. Manusia yang tidak bisa diajak kompromi. Untung saja dia kebanggaan sekolah di bidang olahraga dan punya orang tua yang disegani, kalau tidak mungkin tidak ada yang mau menjadi temannya karena sifatnya yang kepala batu. Aska juga termasuk tampan di sekolah, karena itu banyak yang ingin jadi pacarnya. Sangat di sayangkan, ia tidak pintar dalam bidang akademik. Berbanding terbalik dengan Salwa yang sangat pintar di sekolah. Tapi memang tak sepintar Nena yang nilainya hampir mendekati sempurna.
Pintu terbuka. Sri dan Tama datang ke tempat terbuka itu. Aska buru-buru melepas genggaman tangannya.
"Kakak ...." Tama teriak sambil berlari mendatangi aska. Ia memegang lutut Aska.
"Apa Dek?" Aska menyentuh bahu adiknya.
"Main." Biasanya bila Tama berkata 'main' artinya minta di temani main oleh kakaknya.
"Ya, sudah. Sampai sini saja kak. Besok lagi belajarnya." Nena berdiri. Ia bersyukur Tama datang pada waktu yang tepat.
"Oh ya." Aska mengangkat wajahnya sebentar lalu kembali menatap Tama yang mulai memanjatinya. "Mau di gendong Dek?" Ia mengangkat dan menggendongnya.
Nena kemudian turun bersama Sri. Sekilas Sri menatap Nena. Apa aku tak salah lihat ya? Tadi Aska menggenggam tangan Nena kan? Apa mereka pacaran? Atau baru saling suka? Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku harus tahu rahasia semua orang sih? Lalu aku harus bercerita dengan siapa, padahal aku baru saja memikirkan ingin cerita soal ibu Tama pada Nena, tapi apa bisa?
Arya yang sudah berpamitan dengan Reina, pulang bersama Mariko dan pegawainya.
Di rumah, ternyata Arya benar-benar melakukan apa yang dimintanya. Pertama-tama, Arya memeriksa cara Mariko mengambil air wudhu. Ia membantunya melakukan wudhu dengan benar. Kemudian beralih ke tahap sholat. Mariko mempraktekkan sholat di atas sajadah tanpa mukena agar Arya bisa membetulkan gerak tubuh Mariko saat sholat. Bacaannya pun di periksa. Ternyata wanita itu sudah mulai menghapal bacaan surat lainnya. "Aku download Al-Qur'an di hp Kak. Kalau lagi senggang aku menghapalkannya."
Ah, Mariko. Kau membuatku makin senang saja dengan usahamu. "Bagus. Ternyata kamu sudah bisa sholat sendiri ya?"
"Benarkah Kak?"
"Iya."
"Berarti aku lolos kan?" Mata Mariko berbinar-binar.
"Ya."
Mariko melompat memeluk leher Arya.
"Hei ...." Arya terpaksa memeluk tubuh Mariko sebab Mariko sendiri karena postur tubuhnya yang tidak tinggi, bergelantungan di leher Arya. "Aduh, nanti kamu jatuh."
Arya sebenarnya senang Mariko memeluknya. Sudah lama mariko tidak melakukan hal itu dan Arya seperti merindukannya. "Sudah, sudah, sudah. Nanti aku jatuh."
Aku juga takut jadi ingin melakukan yang lain.
Mariko melepas pelukannya. Arya lalu menurunkannya perlahan. Ia kemudian sedikit membungkuk dan merengkuh bahu Mariko sambil menatap wajahnya. "Aku menyukaimu."
"Apa?"
"Apa aku tidak boleh menyukaimu?"
Mariko menatap Arya lekat. "Apa karena aku sudah bisa sholat sendiri ya Kak? Iya. Aku juga senang." Matanya berbinar-binar menatap Arya. Seperti ada bintang di matanya. Bintang yang paling aku suka.
Arya mengecup dahi Mariko. Ia tidak mengerti juga tidak apa-apa.
"Kak, aku belum mau tidur. Jadi tidak Kak, ke rumah Ferdi?"
Oh, Ferdi lagi. Arya melepas pelukannya. "Ya sudah. Ayo. Tapi sebaiknya kita mandi dulu baru ke sana. Aku merasa bajuku kotor sekali." Arya melangkah keluar kamar Mariko. Ia kemudian masuk ke kamarnya.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah bersiap-siap ke tempat Ferdi. Akhirnya, Arya mengantar Mariko ke rumah temannya itu.
Bel sudah ditekan. Pintu dibuka sendiri oleh Ferdi.
"Oh, Kak." Ferdi merasa segan.
"Eh, daripada cuma berdua, bagaimana kalau Kakakku juga ikut bermain games?"
"Apa?" Arya dan Ferdi serempak menjawab, kemudian mereka saling berpandangan.
"Tuh, kan .... Sepertinya kalian cocok deh satu tim." Mariko menunjuk mereka berdua dengan telunjuknya.
"Eh, tapi Ricky ...." Arya mencoba menjelaskan.
"Ricky, yang benar saja."
Kembali mereka berbicara berbarengan dan kemudian saling pandang.
Mariko tertawa. "Wah, bakal seru nih! Ayo Kak." Ia menarik Arya ke dalam.
Terpaksa Ferdi menutup pintu dan mengantar Mariko dan Arya ke atas. Mariko mengajak Arya duduk di atas karpet. Ferdi mengikuti sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayo Fer, main." Mariko sudah mengambil minuman kaleng dan keripik kentang yang sudah disediakan. Ferdi menghidupkan tv-nya dan mulai memasangkan alatnya.
Di apartemen Chris, David sedang duduk di meja makan bersama Nena. Ia sedang membaca Iqro, belajar membaca Alquran pada Nena. Setelah selesai, ia menutup bukunya.
"Jadi Grandpa mau masuk Islam kapan?" Nena memiringkan kepalanya.
"Entahlah. Apa hari Jum'at saja ya, selepas sholat Jum'at."
"Mmh, terserah Grandpa saja sih. Kapan saja Grangdpa mau."
"Terimakasih ya sudah ajari Grandpa baca Alquran, sholat dan wudhu. Grandpa terbantu karena kamu." David mengusap-usap kepala Nena.
"Sama-sama Grandpa." Nena tersenyum.
"Belajar yang rajin. Kalau kamu bisa berprestasi terus, Grandpa bangga sama kamu. Kamu mau kerja sama Grandpa di Amerika?”
"Mmh? Tapi Nena tidak bisa meninggalkan Ayah sendiri di sini."
David tertawa dengan kepolosan Nena. "Kan kalau kamu kerja, kamu bisa bawa Ayahmu ke sana."
"Oh iya."
"Oh, sedang apa Pak? Baca Iqro lagi?" Bi Nasih muncul mendatangi mereka.
David menoleh. "Mmh, iya. Bi Nasih sudah malam, belum tidur?"
"Aku hanya ingin minum. Haus." Bi Nasih kemudian pergi ke dapur.
Di sebuah ruang perawatan di rumah sakit, suasana terlihat hening. Irene telah tertidur sementara mami Irene masih duduk di tepi ranjang menatap anak bungsunya yang telah tertidur. Sesekali ia merapikan selimut Irene.
"Sudah Mi, Mami tidur saja. Sudah malam." Chyntia menatap mami dari sofa tempatnya duduk.
"Bagaimana Mami tidak khawatir, coba? Dia pasang badan di depan Chris, dan pria itu baik-baik saja setelah penembakan. Anakku malah yang jadi korbannya. Rasanya hampir lepas jantung Mami lihat Irene ditembak kakaknya sendiri. Kenapa keluarga kami jadi seperti ini, ya Tuhan...." Mami Irene menutup wajahnya dengan satu tangan.
Chyntia mendatangi Mami Irene. Ia menyentuh bahu mertuanya dengan kedua tangannya. Mami Irene menggenggam tangan Chyntia. "Bertahun-tahun anakku berusaha mendapatkan hatinya dan berakhir dipermalukan di pesta ulang tahunnya sendiri dengan Chris yang berusaha melindungi tunangannya, apa tidak hancur hatinya? Kami sebagai orang tuanya tidak terima ia di perlakukan seperti ini, tapi Irene terus saja membelanya. Akhirnya papinya bertindak sendiri. Mungkin dengan tidak adanya pria itu di dunia, Irene bisa sadar dan mulai melirik pria lain."
"Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan kan Mi?" Chyntia menatap mertuanya dari samping.
Mami Irene mengangguk.
"Makanya mami istirahat saja. Sudah malam."
Mami Irene berdiri dan melangkah ke arah sofa bersama Chyntia.
Terdengar bunyi notifikasi telepon. Chyntia membuka tasnya dan mengambil telepon genggam sambil duduk di sofa. Ia membukanya.
"Oh, ternyata Daniel tidak salah melihat Arya. Ia benar-benar bukan orang sembarangan."
Mami mengerutkan dahinya. "Ada informasi apa?"
"Arya itu anak salah satu milyarder di Jogja. Punya banyak perusahaan di Jogja dan kantor pusatnya di Jakarta. Tapi ia juga punya perusahaan sendiri. Pemilik sebuah perumahan untuk kelas menengah ke bawah di Jakarta, dan ... ia tinggal dengan asistennya itu?" Ia menurunkan hp-nya dan menatap Mami Irene dengan terkejut. "Untung saja kita meminta nomor telepon asistennya itu ya Mi."
"Iya."
Di rumah Ferdi, ternyata permainan memanas. Arya sudah banyak membantu Ferdi memenangkan pertandingan. Bahkan sudah naik beberapa level.
"Ayo Kak. Jangan minum dulu, bantu aku." Ferdi sangat menikmati permainannya dengan Arya hingga matanya terus saja memandang ke arah tv. Sesekali jarinya bergerak mengikuti arah yang ia mau. "Kak. Tolongin aku dong!" teriaknya.
"Iya, iya ...." Arya meletakkan kaleng minumannya dan mulai mengambil alatnya. Tak lama ia mulai tenggelam dalam permainan bersama Ferdi. Sesekali Mariko ikut menyoraki atau sekedar menyuapi Arya keripik kentang yang dipegangnya.
"Yes...!" Ferdi mengepalkan tangannya karena kembali menang berkat bantuan Arya.
"Sudah ya, capek!" Arya meletakkan alatnya di karpet. "Aku mau pulang."
"Ya ...." Ferdi terlihat kecewa.
"Ini sudah larut malam, Fer." Arya menunjuk ke jam dinding yang ada di depan. Jam menunjukkan pukul 8.45.
"Besok main lagi ya?" Ferdi sepertinya berharap Arya bisa membantunya lagi besok.
Arya melirik Mariko sekilas. "Mmh? Entahlah." Ia segera bangkit. Mariko mengikutinya.
"Kak ...." Ferdi memegang lengan Arya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 164 Episodes
Comments
Your name
Di sini kita belajar cara jitu membahagiakan cewe ya mengajaknya pergi berbelanja. hehe
2021-10-25
2
🧭 Wong Deso
aku mampir Kak.. salam dari Suamiku Seorang DJ 😊
2021-10-24
1
Bule Mansyur
29917vi dan
2021-09-14
1