Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI KAMAR NAFISA
Beberapa menit berlalu. Yulia yang duduk di kursinya sesekali melirik Nafisa, menunggu reaksi dari minuman yang telah diberikan kepada putrinya.
Tak butuh waktu lama, Nafisa mulai menguap berkali-kali.
Melihat itu, Yulia menahan senyum, lalu berpura-pura sibuk merapikan piring di atas meja.
“Bu, Mas Damar, aku ke kamar dulu, ya.” Nafisa berdiri sambil mengusap matanya. “Tiba-tiba ngantuk sekali. Mungkin karena seharian terlalu lelah.”
“Iya, Naf. Biar Ibu yang membereskan,” jawab Yulia, berusaha terdengar biasa saja.
“Iya, Bu.”
Yulia memperhatikan putrinya hingga sosok itu hampir menghilang di balik pintu rumah. Setelah memastikan Nafisa tak lagi berada di dekat mereka, ia mengalihkan pandangan kepada Damar.
Menantunya itu tampak gelisah. Ia mengubah posisi duduk beberapa kali, lalu mengusap wajahnya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Yulia mengangkat sudut bibirnya.
“Sayang ...” Damar menoleh kepadanya dengan suara tertahan. “Kamu kasih obat kuat?”
Yulia tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati Damar dengan langkah santai.
“Mau di dalam, di halaman, atau di kamar yang kamu tempati bersama Nafisa?” tanyanya pelan, menatap wajah pria itu lekat-lekat.
“Di mana saja, Sayang,” jawab Damar lirih.
Yulia tersenyum tipis. “Kalau begitu, di kamar kalian saja. Bagaimana?”
Damar sontak menatapnya. Ia melirik ke arah pintu rumah sebelum kembali memandang Yulia.
“Jangan gila, Sayang. Bagaimana kalau Nafisa kebangun?” bisiknya.
Senyum Yulia perlahan memudar. Karena Damar menyebut nama putrinya.
Yulia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia sudah berusaha bersikap biasa sejak tadi, tetapi kecemburuan itu terus menggerogoti hatinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Damar, ia berbalik dan berjalan menuju pintu rumah.
“Sayang ...!” panggil Damar.
Yulia tidak menyahut ataupun memperdulikan panggilan Damar. Dirinya tetap melangkah masuk, membiarkan suara Damar terus memanggilnya.
. . .
Setibanya di depan kamar Nafisa, Yulia menghentikan langkahnya. Ia melirik ke arah pintu sejenak sebelum meraih gagangnya, lalu membukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Setelah memastikan pintu terbuka cukup lebar, Yulia melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada Nafisa yang sudah terbaring di atas Ranjang dengan mata terpejam. Napas putrinya terdengar teratur.
Untuk memastikan obat tidur yang ia campurkan ke dalam minuman tadi benar-benar bekerja maksimal, Yulia berjalan mendekat dengan hati-hati. Ia menjulurkan jari telunjuk dan mencubit pelan lengan Nafisa.
Tak ada reaksi apapun. Tubuh putrinya itu tetap diam.
Sudut bibir Yulia terangkat membentuk senyuman tipis. Namun, ketenangannya terusik saat terdengar langkah kaki berat dari arah pintu.
Ia menoleh, mendapati Damar berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sudah gelap oleh hasrat.
“Lakukan sekarang saja, Damar,” bisik Yulia, suaranya rendah namun penuh perintah.
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah mendekati pria itu, tangannya meraih lengan Damar dengan kuat dan mendorongnya hingga pria itu terhuyung jatuh ke atas kasur, tepat di samping tubuh Nafisa yang tertidur.
“Sayang—”
Yulia tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
“Damar, Ibu akan menghukum mu karena sudah berani bermesraan di depan ibu mertuamu,” ucap Yulia dengan nada mendominasi.
Terlihat jelas bagaimana mata Damar membesar, deru napasnya memburu drastis, dan keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Yulia tersenyum miring. Netranya kemudian beralih sejenak, menatap ke arah Nafisa yang masih tertidur pulas hanya beberapa sentimeter dari mereka.
. . .
Waktu berlalu tanpa terasa, suasana rumah kembali sunyi. Jam dinding telah menunjukkan pukul setengah dua malam, tetapi Yulia dan Damar masih berada di ruang tamu.
Yulia duduk bersandar di dada Damar dengan selimut yang menutupi tubuh mereka. Rasa lelah membuat kelopak matanya terasa berat. Sejak tadi, mereka telah menjelajahi hampir seluruh penjuru rumah untuk memuaskan hasrat masing-masing.
Namun saat Yulia ingin memejamkan matanya. Pikirannya seketika ucapan putrinya yang akan pindah ke rumah baru.
Pandangannya beralih kearah wajah Damar. Tangan Yulia terangkat lalu menyentuh pelan rahang pria itu.
“Dam,” panggilnya pelan.
“Hm?” Damar menyahut namun matanya masih terpejam.
“Kalau kamu dan Nafisa pindah ke rumah baru, kita bakal sulit bertemu, ya?” tanya Yulia.
Tak lama setelah dirinya mengatakan. Mata Damar yang terpejam kini perlahan terbuka. Tatapannya yang dingin, perlahan mengarah kepadanya.
Damar menggeleng santai. Tangannya yang merangkul bahunya kini berpindah ke pucuk kepalanya.
“Itu malah lebih bagus, Sayang,” jawab Damar.
Kening Yulia mengernyit. “Maksudnya apa, Dam?”
“Aku bisa datang ke ruma dan melakukan apa saja sesuka hati tanpa perlu khawatir ketahuan Nafisa.”
Setelah mendengar ucapan Damar yang ada benarnya juga.
Perlahan Yulia mengangkat senyum lebar. Tak ada yang harus di waspadai, apalagi takut ketahuan jika misalnya Nafisa tiba-tiba pulang.
“Benar juga, sih.” Yulia memainkan ujung selimut dengan jemarinya. “Tapi, tetap saja. Kalau kalian tinggal berdua, kamu pasti bakal sering bermesraan sama Nafisa.”
Damar terkekeh pelan, kemudian menunduk untuk menatapnya.
“Enggak akan, Sayang. Kamu gak perlu khawatir soal itu.”
“Benar, ya?” Yulia memastikan.
“Iya.” Damar mengangguk. “Kamu ini kenapa, sih? Cemburu sama anak sendiri?”
Yulia mengerucutkan bibir, lalu mencubit pelan lengan Damar.
“Siapa yang cemburu?”
Yulia membantah tuduhan Damar. Padahal memang benar, dirinya cemburu ketika putrinya bersama. Apalagi di rumah baru, tak ada siapapun kecuali sepasang suami istri itu.
Namun, suara Damar yang tertawa kecil mendengar jawabannya. Ia kemudian merapatkan pelukannya, membuat Yulia kembali menyandarkan kepala di dadanya.
Yulia pun memeluk tubuh pria itu erat-erat.
. . .
Waktu berlalu, malam mulai beranjak menuju pagi. Langit di luar jendela masih tampak gelap. Namun, suara azan subuh yang berkumandang dari masjid sekitar rumah pun membangunkan Nafisa dari tidurnya.
Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih menyelimuti dirinya. Dengan gerakan malas, Nafisa mengangkat tangan untuk mengusap wajahnya sebelum menoleh ke sisi ranjang.
Namun, tempat tidur di sebelahnya kosong.
Kening Nafisa berkerut tak menemukan keberadaan Damar.
“Mas Damar ke mana sepagi ini?”
Nafisa mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, berharap dirinya menemukan keberadaan Damar. Namun yang ada, ia sama sekali tak menemukan pria yang dirinya cari.
Akhirnya, ia menyingkap selimut dan perlahan bangkit dari ranjang. Dengan langkah sedikit gontai, Nafisa berjalan menuju pintu kamar untuk mencari keberadaan suaminya.
Namun, baru saja keluar, langkahnya mendadak terhenti.
Dari arah dapur, terdengar suara gelak tawa yang memecah keheningan.
“Damar ... jangan begitu, ih!”
Nafisa langsung mengernyitkan dahi. Ia mengenali suara wanita itu. Rasa kantuknya seketika bercampur dengan rasa penasaran.
Nafisa memiringkan sedikit kepala, dengan langkah perlahan, ia pun berjalan mengikuti sumber suara tersebut. Namun semakin dekat ia melangkah, semakin jelas pula suara mereka terdengar.
Tak lama kemudian, langkah Nafisa terhenti di ambang pintu dapur. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat punggung Damar yang menghalangi sebagian meja dapur.
Namun, sebelum sempat melihat dengan jelas, pria itu bergeser ke samping.
Saat itulah Nafisa mendapati ibunya. “Ibu ... ” gumamnya.
“Mas, Bu,” panggilnya sambil melangkah masuk.
Damar dan Bu Yulia langsung menoleh ke arahnya. Nafisa menangkap perubahan ekspresi mereka yang tampak terkejut sesaat.
“Eh, Naf. Ada apa?”
Nafisa tak membalas sapaan suaminya. Justru pandangannya bergantian menatap Damar dan ibunya.
“Mas sedang apa?” tanyanya, masih penasaran.
Damar dan Bu Yulia terlihat sempat saling pandang, sebelum ibunya buru-buru tersenyum kepadanya.
“Ibu sedang ngajarin Damar, Naf,” jawab Bu Yulia santai.
Nafisa mengangkat alis. “Ngajarin apa, Bu?”
Bu Yulia melirik Damar sekilas sebelum kembali menatap kearahnya. “Katanya, dia mau belajar masak diam-diam sama Ibu. Mau kasih kejutan buat kamu di hari anniversary pernikahan kalian nanti.”
Nafisa spontan mengalihkan pandangan kepada suaminya. “Serius, Mas?”
Damar mengangguk sambil menggaruk tengkuknya. Senyum canggung tersungging di bibirnya.
“Iya, Naf. Tadinya mau jadi kejutan, malah ketahuan deh.” Ia tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.
Nafisa tersenyum. Rasa hangat yang menjalar di dadanya begitu terasa saat mendengar penjelasan itu. Ia tak menyangka Damar sampai berniat belajar memasak demi memberikan kejutan untuknya.
“Ya ampun, Mas. Aku jadi gak enak. Maaf, ya, Mas, Bu. Aku kira kalian sedang ngapain tadi.”
“Enggak apa-apa, Naf.” Bu Yulia terkekeh sambil menggelengkan kepala. “Wajar kamu salah paham. Posisi kami tadi memang kayak sedang pacaran. Orang Damar pegang pisau saja nggak bisa.”
“Bu, jangan begitu, dong,” protes Damar, membuat Bu Yulia kembali tertawa.
Nafisa ikut tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
Yulia yang berhasil membuat putrinya tak curiga sedikitpun atas apa yang mereka lakukan tadi.
Pandangannya kemudian melirik ke arah Damar yang kini menatapnya dengan pandangan penuh arti. Saat memastikan Nafisa tidak memperhatikan mereka, Yulia perlahan mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Damar secara diam-diam, berusaha agar gerak-gerik mereka tidak menimbulkan kecurigaan.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.