"Catatan Akhir Sekolah” bercerita mengenai 4 orang yang merupakan sahabat, mereka selalu Membuat masalah di sekolah dan mereka selalu bersama-sama apa pun keadaannya, kisah yang mana suatu ketika salah satu dari mereka yang mempunyai wajah tampan.
Ia selalu memberi harapan palsu dan mempermainkan perasaan perempuan- perempuan yang suka dengannya, dan ketika salah satu dari perempuan itu ada yang benar-benar tulus mencintainya, tapi ia tetap saja memberi harapan palsu dan mempermainkan perasaan perempuan itu, hingga pada akhirnya ia menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridho pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan Akhir Sekolah 10
Setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung menarik Ipul dan Guntur, ke belakang kelas, untuk mengingatkan dia agar dia tidak meledek Al Fahri lagi.
"Tur, Pull lu jangan ledek Al Fahri lagi," tegasku.
"Kenapa emang?" tanya Ipul .
"Iya kenapa emang Do?" tanya Guntur.
"Tadi yang gua di panggil ke ruang bk, itu Ibu Al Fahri yang manggil gua!" geramku.
"Kenapa dia manggil lu?" tanya Ipul.
"Kangen kali dia?" tanya Guntur.
"Gara-gara lu ngeledek Al Fahri, jadi gua yang kena imbasnya!" betakku.
"Serius lu," jawab Ipul.
"Wah parah sih, Al Fahri mainnya aduan," jawab Guntur.
"Ingat jangan lagi!" tegasku.
"Oke deh," jawab Ipul.
"Siap," jawab Guntur.
Saat waktu mulai sore, dan sedikit lagi bel pulang akan berbunyi, aku ijin pergi ke toilet, lalu setelah aku selesai dari toilet, tiba-tiba Bu Lisa memanggilku, dia meminta aku untuk memarkirkan motornya.
"Do tolong ibu dong, parkirkan motor ibu soalnya ibu gak bisa?" tanya Bu Lisa.
"Iya bu," jawabku.
Setelah motor itu terparkir.
"Makasih ya Do," kata Bu Lisa.
Aku menganggukkan kepala dan pergi, lalu Bu Lisa berkata lagi kepadaku, saat aku mulai berjalan pergi.
"Do, kamu marah ya sama ibu?" tanya Bu Lisa.
"Enggak kok bu, santai," jawabku, tersenyum.
Meskipun guru BK itu tugasnya untuk menghukum murid-murid yang bermasalah, memang itu pekerjaannya, dan aku tidak pernah menyalahkannya, tapi semenjak ada masalah itu, aku jadi saling kenal dengan Bu Lisa.
Tapi itulah teman, meskipun saat itu aku berpikir mau menjauhi Al Fahri dan tidak mau berhubungan dengan dia lagi, tapi aku tetap berteman baik dan selalu bercanda setiap kali aku bertemu dengannya, dan melupakan masalah yang pernah terjadi di antara kita.
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat aku mengumpulkan laporan PKL bersama Alif, karena Guntur dan Ipul sudah mengumpulkan duluan.
Saat laporanku dan Alif di cek oleh guru pembimbing yaitu Pak Rahmat, ternyata di dalam laporanku masih banyak yang salah, dan harus di revisi ulang, begitu pun dengan laporan Guntur dan Ipul.
Setelah aku ingin membalikkan badan, ternyata di belakangku ada Lia yang sedang mengecek laporannya juga.
Aku saling tatap-tatapan dengannya, dia terlihat sangat cantik, hatiku berdetak sangat kencang, dan wajahku memerah, aku benar-benar menyesal, kenapa dulu aku bodoh sekali menyia-nyiakannya perempuan setulus Lia, demi perempuan yang belum tentu mencintaiku.
Setelah aku melihat Lia, aku kembali mengingat masa-masa dulu, saat dia memperjuangkan cintanya untukku dan aku rindu masa-masa itu.
Kalau pun waktu itu bisa di putar kembali, aku akan menerimanya dan mencintainya seperti dia mencintaiku.
Kalau seandainya saja, saat itu aku tidak pernah menyia-nyiakannya, mungkin saja sekarang dia masih bersamaku, tapi semua itu sudah tidak mungkin lagi terjadi dan mustahil.
Tapi yang aku lihat dari tatapan matanya saat dia menatap mataku, dia masih mencintaiku, namun dia sedang berusaha untuk melupakanku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ipul selalu pelit dengan uang, kecuali dengan Sumita dia selalu royal apa pun yang Sumita mau, akan dia beri selagi dia bisa dan mampu.
Semenjak Ipul dekat dengan Sumita, dia melupakan aku dan Guntur, dan dia lebih mementingkan Sumita dibandingkan dengan sahabatnya sendiri.
Saat aku dan Guntur pergi ke kantin, aku dan Guntur tidak lagi selalu bersama dengan Ipul, karena Ipul selalu sibuk dengan Sumita, dan Alif selalu sibuk dengan game nya.
Aku hanya berdua dengan Guntur, tapi terkadang aku mengajak Dimas untuk pergi ke kantin.
Dimas adalah teman yang sangat baik, dia selalu mengalah, dan yang paling aku suka darinya, dia mudah memaafkan kesalahan seseorang dan menerima semuanya dengan lapang dada.
Meskipun waktu itu aku, Guntur dan Ipul sering meledeknya, tapi dia tetap baik, dia juga anak yang lumayan cerdas, dan setiap ada temannya yang sedang mengalami kesulitan, dia akan senang hati membantunya.
Begitu pun dengan aku, Guntur dan Ipul yang selalu menyontek soal pelajaran dengannya.
Dimas juga anak yang lucu karena dia mempunyai badan yang besar tapi letoi, setiap dia berjalan atau pun dia bergerak, dia selalu lucu dan selalu membuat teman-teman satu kelasku tertawa.
Dia juga tidak pernah benci atau pun marah kepada kami, meskipun dia selalu menjadi bahan ledekan di kelas.
Aku ingat saat itu, waktu aku dan Ipul meminta Dimas untuk patungan membeli permen, tapi sebenarnya aku dan Ipul tidak mengeluarkan uang sepeser pun.
Setelah kami membeli permen dengan harga 2000, kami mendapatkan 8 buah permen, dan permen itu kami bagi menjadi 3 yaitu untuk aku, Ipul dan Dimas, aku dan Ipul masing- masing mendapatkan 3 dan sisanya untuk Dimas, meskipun aku membeli permen memakai uang Dimas, dan Dimas juga mendapat permen paling sedikit, tapi dia tidak marah, dan dia hanya tersenyum.
Lalu aku dan Ipul menertawakannya.
“Kenapa Dimas bodoh banget mau aja gua kerjain ha ha ha.” gumamku, sambil tertawa.
Tapi menurut kami dia mengetahui kalau kami mengerjainya, tapi dia lebih memilih untuk diam dan tersenyum.
Saat itu tempat makan istirahat kami berganti bukan di parkiran lagi, tapi di pinggir selokan kering, dan terkadang di kelas kosong, itulah kami unik Dan aneh, kami gak perlu mewah yang terpenting kebersamaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat itu kami selalu rutin melakukan latihan, untuk praktik Ujian Kompetensi yang akan di laksanakan di akhir kelas 12 nanti.
kami hampir setiap hari melakukan latihan praktik di sekolah, dan terkadang saat aku menunggu giliran untuk latihan, aku menunggunya sambil tidur-tiduran di lab bersama Guntur, Ipul, Noris, Nafis dan Toink, bahkan sampai Toink, Noris dan Guntur tertidur pulas di lab.
Setelah kami tidak dapat giliran untuk melakukan latihan Ujian Kompetensi karena kehabisan waktu, Toink dan Noris terbangun, tapi tidak dengan Guntur, dia masih tertidur pulas di lab.
Hingga pada akhirnya Bu Sri mengerjai dia dengan menguncikan dia di dalam lab, hingga dia terbangun.
Setelah beberapa menit.
Guntur terbangun dia tampak bingung karena di dalam lab sudah tidak ada siapa-siapa, karena semua murid sudah kembali ke kelas.
Lalu setelah itu Bu sri membuka kuncinya, dan Guntur di hukum membawa tas dan buku- buku Bu Sri ke dalam kelas.
Dan sesampainya dia di kelas, dia terlihat malu karena di tertawakan oleh teman-teman sekelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu itu saat kami latihan praktik di lab, temanku Denny tertidur pulas, aku langsung berinisiatif untuk memfotonya, setelah aku foto, aku post di story Whatsappku dengan Caption.
”Gak menyangka gua Den, ternyata lu pergi secepat itu.”
Lalu teman-teman sekelasku melihat isi story Whatsappku, mereka tertawa, dan menertawakan Denny yang terbangun dari tidurnya.