Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?
Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)
Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANUSIA SEPERTI SERIGALA
Leo menembak 2 serigala itu hingga terkapar di tanah.
Agatha dan Bianca membuka mata mereka ketika suara tembakan berhenti.
Keduanya saling berpelukan erat saat melihat Leo sudah berdiri didepan mereka dengan pandangan tajam.
"Kalian..kalian benar benar tidak tau terima kasih" ucap Leo begitu dingin.
"Maa..maafkan kami..saya yang salah, Sir. Adikku tidak salah. Bianca tidak tau apa apa..tolong lepaskan dia" mohon Agatha.
"MEMANG KAMU YANG SALAH!!! JADI KAKAK YANG TIDAK BISA MEMBERI KEAMANAN!" teriak Leo membuat kedua wanita itu menciut nyalinya.
Bianca menangis dipelukan Agatha.
"Tolong..tolong..Sir..lepaskan Bianca. Kembalikan dia ke Skotland dan pertemukan dengan keluarga kami yang tersisa. Saya rela, anda jadikan apapun yang anda mau" mohon Agatha lagi.
"Asal kamu tau ya, adikmu aku kurung sendiri di tempat yang nyaman, aku perlakukan dengan baik, hanya untuk membuatmu bertahan. Tapi nyatanya kamu benar benar tidak tau diuntung, Agatha" ujar Leo.
"AKU HANYA INGIN BERSAMA KAKAKKU!!" teriak Bianca membela diri.
Agatha langsung menutup mulut Bianca agar tidak membuat Leo semakin mengamuk.
Pria bermata biru itu terlihat menghembuskan nafas panjang sebelum menembakkan peluru keatas.
DOR!!
Tak lama kemudian, para penjaga rumah yaitu tentara yang datang menyergap Agatha beserta adiknya.
"Tuan Muda! Maaf kami terlambat datang!" seru salah satu pengawal kediaman Davarza itu.
"Tidak terlambat. Bawa anak perempuan ini pergi jauh dari London dan jangan pernah bawa kemari. Terserah mau kalian apakan" ucap Leo.
"Siap, Tuan!" seru mereka.
Bianca ditarik dengan paksa agar melepaskan pelukannya pada sang kakak.
"TIDAK!! JANGAN BAWA ADIKKU!!!" teriak Agatha.
"KAKAK!! TOLONG AKU!!" teriak Bianca minta tolong.
Namun Leo seperti tutup telinga.
Para pengawal berhasil melepaskan Bianca dari Agatha lalu langsung membawa anak perempuan itu pergi menjauh keluar hutan.
Sedangkan Leo memberikan isyarat kepada sisa pengawalnya untuk membiarkan dirinya serta Agatha di dalam hutan.
Leo mencengkram rahang Agatha cukup keras hingga wanita itu kesakitan.
"6 bulan ini sepertinya aku terlalu baik kepadamu, wanita pemberontak" ucap Leo.
"Bagaimana kamu bisa bisanya berfikir untuk kabur padahal aku sudah memberikan kenyamanan untukmu disini?" lanjutnya.
Leo mendorong rahang Agatha dengan kuat hingga wajah wanita itu tersungkur di tanah.
"Dan lagi kamu telah mengkhianati Eliza. Bagaimana kamu bisa mengkhianati temanmu sendiri hah? Dia berada disampingmu untuk menemanimu disini. Tapi kamu..." ujar Leo tak habis pikir.
Plak!
Leo menampar wajah Agatha saat wanita itu berusaha mengangkat tubuhnya.
"Kamu memang tidak bisa dikasihani!" ucap Leo.
Kreeek!!!
Langsung saja pria yang sedang mengamuk itu merobek pakaian Agatha bagian atas.
Krek!!!!
Lagi menyobek hingga terlihat pakaian inner yang menutupi aset kembar milik Agatha.
"Berhenti, Sir...sa..saya. minta maaf.." mohon Agatha yang sudah berlinang air mata. Sudut bibirnya sudah berdarah karena tamparan keras dari pria yang menangkapnya.
"Tidak ada maaf untukmu sekarang" sahut Leo.
Tanpa berbicara lagi, Leo langsung menikmati tubuh Agatha diatas tanah dalam hutan. Rintihan wanita itu tidak ia pedulikan lagi.
Ia bermain keras dan kasar sampai Agatha berteriak kesakitan dan teriakannya menggema di dalam hutan.
Bukannya puas dalam sekali tembak seperti prinsipnya, Leo semakin bringas mengeskplor tubuh Agatha dengan cara yang belum pernah ia lakukan dalam 6 bulan ini.
Bukan hanya merasakan dan menikmati, namun Leo juga meninggalkan jejak giginya dimana mana. Ia gigit bagian tubuh Agatha hingga membekas.
Agatha pun tidak tinggal diam, di cakar punggung Leo hingga menembus pakaian pria itu dan menancap di kulit.
Tapi Leo hanya memberikan senyuman smirk saja. Memang Agatha adalah wanita yang ia inginkan karena selalu memberikan perlawanan untuknya.
"Jika kamu menurut dan tidak kabur seperti ini, mungkin aku bisa melepaskanmu suatu hari nanti. Tapi ternyata.." ucap Leo disela sela permainannya.
"Mulai saat ini aku tidak akan membiarkanmu hidup nyaman lagi, Agatha" lanjutnya.
Hentakan setiap hentakan milik Leo benar benar ia lakukan sekuat mungkin hingga Agatha tidak bisa lagi merasakan dirinya sendiri.
Sampai rasa hangat menjalar kedalam dirinya pun, sudah ia abaikan.
Tubuhnya tak berdaya. Tidak ada tenaga lagi untuk melawan Leo seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Memang benar tadi ada 2 serigala yang siap memakannya, namun meskipun kedua hewan liar itu mati, ternyata ada manusia yang menjadi serigala jadi jadian dengan memangsanya.
Dipikirannya saat ini terbagi untuk dirinya dan nasib adiknya.
Hingga entah berapa kali pelepasan yang dilakukan Leo didalam diri Agatha, pada akhirnya Leo ambruk disamping tubuh wanita itu diatas tanah.
Nafasnya tersengal senggal, sedangkan Agatha hanya bisa menangis dengan tubuh yang hampir saja terekspos sepenuhnya jika tidak ada jaket Leo diatas tubuh.
"Aku tidak mau tubuhmu dimakan serigala hidup" celetuk Leo yang masih sempat sempatnya peduli setelah menyiksa.
"An..anda serigala hidup itu..Sir" sahut Agatha dengan sisa tenaganya, suaranya lemah namun masih bisa didengar oleh Leo.
"Hahahaha..kamu masih bisa menjawab juga" ujar pria itu sambil tertawa kecil.
"Lebih baik...anda membunuh saya sekarang" lirih Agatha lagi.
"Permintaanmu terlalu mudah. Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah" ujar Leo sambil menoleh kearah wanita disampingnya.
Leo bisa melihat air mata Agatha deras mengalir jatuh ketanah.
Keduanya menjadi hening beberapa saat.
"Kenapa kamu mencoba kabur hah? Apa perilaku ku kurang baik padamu maupun adikmu?" tanya Leo tiba tiba.
"Selama menjadi tawanan musuh, kami tidak bisa hidup dengan nyaman, Sir" jawab Agatha.
"Oh begitu..jika itu yang kalian pikirkan, yasudah, bukan urusanku. Dan aku memang musuh kalian, tapi jika kamu bisa merasakannya, apakah ada orang yang memperlakukan musuhnya dengan baik di kandangnya sendiri?" tanya Leo lagi.
"Memperlakukan musuh dengan baik?" tanya Agatha sambil akhirnya menoleh kearah Leo.
"Apakah dengan menikmati tubuh musuh mencari kepuasan, memaksa dan menyiksanya berlahan dinamakan memperlakukan dengan baik?" lanjut Agatha.
"Itu sudah konsekuensi kamu menjadi tawananku. Coba kamu pikirkan fasilitas yang lainnya, bayangkan saja aku memberikanmu pondok, memberikanmu teman yang akhirnya kamu khianati, lalu kupenuhi kebutuhanmu setiap hari? Aku yakin, keluarga pemberontak seperti kalian memperlakukan musuh dengan lebih kejam" balas Leo.
Agatha tersenyum kecut mendengarnya.
"Biarkan saya mati, Sir" lirihnya kemudian.
Leo mendudukan dirinya membenarkan celana serta bajunya.
"Tidak dan jangan harap. Adikmu tetap hidup jika kamu tetap hidup" ucap pria itu.
Agatha ikut mendudukan dirinya dan menahan jaket Leo untuk menutup tubuh.
"Lebih baik bunuh kami berdua" mintanya.
"Tidak. Aku tidak akan menuruti apa maumu" sahut Leo.
Lalu tanpa aba aba, ia menggendong Agatha dan membuat wanita itu terkejut dengan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Leo.
"Diam dan jangan banyak bergerak atau jaket diatas tubuhmu ini jatuh dan mengekspos tubuhmu di alam liar" peringatan Leo.
"BAJINGAN! BRENGSEK!! AKU SUNGGUH SUNGGUH INGIN MEMBUNUHMU" batin Agatha, keinginan hati yang tak terucap.
Lumayan berjalan jauh, tapi Leo tetap gagah mengendong wanita tawanannya hingga masuk pondok.
Sepertinya Eliza dan Zane sudah kembali ke rumah induk keluarga Davarza.
"Kamu besok harus meminta maaf kepada Eliza. Dia sudah seperti adikku" ucap Leo sebelum keluar pondok.
Agatha diam saja dan melihat Leo keluar dari pondoknya lalu menutup pintu.
Saat sudah sendiri, ia berjalan lemas menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya, menggosok muat tubuhnya apalagi dibagian jejak gigitan Leo.
Tanpa air mata lagi yang bisa keluar, Agatha menyakiti dirinya sendiri dengan cakaran dan gosokan kasar.
"KAMU AKAN MENDAPATKAN BALASANNYA, LEO!!! KAMU AKAN BERSUJUD PADAMU MEMOHON AMPUN!!" gumamnya.
Agatha bertekad mulai malam ini dirinya akan membuat Leo tunduk padanya dengan cara apapun.
"Jika kamu sangat takut aku hamil anakmu, maka ketakutan mu akan ku wujudkan" lanjutnya sambil mengepal penuh kebenciaan.
cerita nya seru👍