NovelToon NovelToon
ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

ISTRI CADANGAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Istri Cadangan Sang Mafia

Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.

Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.

Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Tuan Vincent..." Serina mengembuskan napas pendek. "Anda berjalan tanpa suara? Saya sama sekali tidak mendengar."

Vincent menyesap sedIkit air dari gelasnya.

"Aku memang tidak membuat keributan saat berjalan."

Tatapannya turun ke piring yang berada di tangan Serina. "Sudah larut. Apa yang sedang kamu lakukan di dapur?"

Serina mengangkat piring itu sedikit. "Lapar."

"Kamu belum makan malam?"

"Sudah. Tapi cuma sedikit."

Vincent memandangnya sesaat. Tatapannya bergeser ke piring dingin yang masih berada di tangan Serina.

"Soraya."

Suara Vincent tidak keras. Namun baru beberapa detik berlalu, langkah kaki tergesa terdengar dari arah lorong.

Soraya muncul di ambang pintu dengan pakaian yang masih rapi. "Ya, Tuan."

"Layani Nyonya. Dia lapar."

"Baik, Tuan."

Vincent meletakkan gelas kosongnya di atas meja dapur. "Jangan makan makanan yang masih dingin," ucapnya singkat tanpa menoleh lagi. Ia berbalik meninggalkan dapur dengan langkah tenang.

Serina mengikuti punggung pria itu dengan pandangan diam hingga sosoknya menghilang di balik lorong.

Soraya kemudian mendekat sambil tersenyum ramah. "Nyonya, silakan duduk. Biar saya yang menyiapkannya."

Serina masih memegang piring di tangannya beberapa saat sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Soraya. "Maaf jadi merepotkan."

Soraya menggeleng cepat. "Ini memang tugas saya, Nyonya."

Tak lama kemudian, suara peralatan dapur mulai terdengar pelan, memecah sunyi yang kembali menyelimuti mansion di tengah malam.

****************

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang makan mansion.

Serina turun setelah memastikan bekal Viren sudah masuk ke dalam tas kecil yang dibawanya. Di atas meja, sarapan telah tersaji rapi. Aroma roti panggang dan telur hangat memenuhi ruangan.

Viren sudah duduk di kursinya. Anak itu sedang menghabiskan segelas susu tanpa banyak bicara.

Serina menarik kursi di sampingnya. Matanya tanpa sadar melirik ke kursi di ujung meja yang masih kosong. "Tuan Vincent belum turun?"

Viren menggeleng pelan. "Ayah sudah pergi."

Serina sedikit terkejut. "Pergi ke mana? Sepagi ini ? "

Viren mengangkat bahu. "Aku bukan istrinya. Kenapa bertanya padaku?"

Serina terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menanggapi apa. Anak itu memang selalu menjawab dengan lugas. Ia kembali menatap kursi yang kosong.

Masih pagi. Namun suaminya sudah pergi entah ke mana tanpa sempat bertemu dengannya.

Tak lama kemudian, Soraya datang membawa teko teh hangat. "Nyonya."

"Ya, Soraya?"

"Tuan meninggalkan pesan. Hari ini Nyonya yang mengantar Tuan Muda Viren ke sekolah."

Serina menoleh. "Biasanya Tuan yang mengantar, bukan?"

Soraya mengangguk. "Benar. Tapi pagi ini Tuan harus berangkat lebih awal."

Serina tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk pelan.

"Baik."

Tak lama kemudian, mobil hitam keluar dari gerbang mansion.

Sepanjang perjalanan, Viren lebih banyak memandang ke luar jendela. Serina pun tidak berusaha memulai percakapan. Ia membiarkan anak itu menikmati pagi dengan caranya sendiri.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan taman kanak-kanak. Sopir turun lebih dulu membukakan pintu.

Serina mengambil tas sekolah Viren. "Bekalnya jangan lupa dimakan." Viren menerimanya tanpa komentar.

"Mari, Tuan Muda," ujar sopir.

"Tidak apa-apa," kata Serina. "Aku akan mengantarnya sampai gerbang." Mereka berjalan berdampingan melewati halaman sekolah yang mulai ramai oleh anak-anak dan orang tua.

Di depan gerbang, beberapa guru berdiri menyambut kedatangan murid. "Selamat pagi, Viren," sapa seorang guru dengan senyum hangat. Viren mengangguk kecil.

Pandangan guru itu kemudian beralih kepada Serina. Senyumnya tetap ramah, tetapi tampak ada sedikit rasa penasaran. "Maaf, Ibu... sepertinya kita belum pernah bertemu."

Serina merasakan jemarinya menegang di sisi tubuh. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya ragu. Ia tersenyum sopan. "Nama saya Serina."

Guru itu menunggu kelanjutan ucapannya. Serina menarik napas pelan. "Saya yang mulai mengantar Viren ke sekolah."

Kalimat itu keluar lebih dulu. Ia belum siap menjelaskan lebih banyak kepada orang yang baru pertama kali ditemuinya.

Setelah Serina memperkenalkan diri, guru itu tersenyum ramah. "Senang bertemu dengan Ibu. Saya Bu Maya, wali kelas Viren."

Serina membalas senyum tipis. "Senang bertemu dengan Ibu Maya."

"Selama ini yang selalu mengantar dan menjemput Viren adalah ayahnya." Bu Maya melirik ke arah Viren yang berdiri tenang di samping Serina. "Jadi saya sempat mengira Ibu masih kerabat."

Serina menatap Viren sesaat, lalu kembali kepada Bu Maya. "Saya istrinya Tuan Vincent."

Bu Maya tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. "Oh, begitu. Maaf, saya baru tahu."

"Tidak apa-apa."

Suasana hening sejenak sebelum Bu Maya kembali membuka percakapan. "Kebetulan sekali Ibu datang hari ini. Besok sekolah akan mengadakan Hari Keluarga. Kami mengundang orang tua untuk hadir dan mengikuti beberapa kegiatan bersama anak-anak."

Bu Maya mengambil selembar kertas dari map yang dibawanya, lalu menyerahkannya kepada Serina. "Undangannya baru akan kami bagikan hari ini."

Serina menerima kertas itu.

"Acaranya mulai pukul delapan pagi. Tidak lama, hanya sampai menjelang siang."

Ia membaca sekilas isi undangan tersebut. "Ayah atau Ibu yang hadir tidak masalah?"

"Tentu. Bahkan kalau keduanya bisa datang, anak-anak biasanya lebih senang."

Serina tersenyum tipis. "Saya mengerti."

Bu Maya menoleh kepada Viren. "Baik, Viren. Teman-temanmu sudah menunggu."

Viren mengangguk kecil. Sebelum berbalik menuju kelas, pandangannya sempat jatuh pada undangan yang masih berada di tangan Serina.

"Kalau Ayah sibuk, tidak usah memaksanya datang."

Serina menatap anak itu. "Kenapa bilang begitu?"

Viren memasukkan kedua tangannya ke saku seragam. "Ayah tidak suka acara seperti itu." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia berjalan menuju barisan murid tanpa menoleh lagi.

Serina memandang punggung kecil itu hingga menghilang ke dalam gedung sekolah. Jemarinya masih menggenggam undangan yang baru diterimanya.

Entah mengapa, kalimat Viren terus terngiang di kepalanya. "Ayah tidak suka acara seperti itu."

Serina mengembuskan napas pelan. Ia melipat undangan itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam tas. Baru beberapa hari menjalani peran sebagai istri Vincent, ia mulai menyadari bahwa mendekatkan seorang ayah dan anak mungkin jauh lebih sulit daripada yang dibayangkannya.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Mobil hitam berhenti di depan gedung perkantoran setinggi puluhan lantai.

Begitu Vincent turun, para petugas keamanan langsung menundukkan kepala. "Selamat pagi, Tuan."

Vincent hanya mengangguk tipis. Langkahnya mantap memasuki lobi. Para karyawan yang berpapasan segera memberi jalan.

Pintu lift khusus terbuka tanpa perlu ia sentuh. Dua pengawal masuk lebih dulu, memastikan lantai tujuan telah steril. Tak lama kemudian, pintu lift kembali terbuka di lantai paling atas.

Seorang pria berkacamata sudah menunggu di depan ruang kerja. "Selamat pagi, Tuan."

"Pagi."

Pria itu adalah Nathan, sekretaris pribadi Vincent.

"Hari ini ada rapat dengan direksi pukul sembilan. Setelah itu penandatanganan kerja sama dengan perusahaan logistik. Siang harinya, perwakilan investor dari luar negeri sudah mengonfirmasi kehadiran."

Vincent menerima tablet yang disodorkan Nathan. "Lalu apa lagi ?"

Nathan membuka berkas lain. "Dua proyek berjalan sesuai jadwal. Namun pembangunan gudang di kawasan pelabuhan mengalami sedikit keterlambatan."

Vincent menghentikan langkahnya. "Apa penyebabnya?"

"Kontraktor meminta tambahan waktu karena distribusi material terlambat."

"Beri mereka tiga hari." Nathan mencatat cepat.

"Kalau masih terlambat?"

Vincent menatap lurus ke depan. "Ganti kontraktornya."

"Baik, Tuan."

Mereka kembali berjalan. Begitu pintu ruang kerja terbuka, ruangan luas dengan jendela kaca setinggi langit-langit menyambut Vincent. Kota tampak membentang di bawah sana.

Di atas meja sudah tersusun dokumen yang harus ditandatangani hari itu. Vincent melepaskan jasnya, lalu duduk di kursi kerja.

Nathan meletakkan map terakhir di hadapannya.

"Seluruh direksi sudah menunggu di ruang rapat."

Vincent menutup map yang baru dibacanya.

"Ayo."

Nathan mengangguk.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Belasan direktur yang telah duduk di kursi masing-masing serempak berdiri menyambut kedatangan Vincent.

Tak seorang pun berbicara sebelum Vincent menempati kursi di ujung meja. "Silakan duduk."

Satu kalimat itu cukup untuk memulai rapat.

Beberapa menit sudah berlalu.

Satu notifikasi muncul beberapa detik. Seluruh isi ruangan sempat membacanya.

Tuan, aku mendapat undangan dari sekolah Viren. Katanya orang tua diminta hadir besok pagi...

Hening.

Nathan segera memutus sambungan proyektor.

Terlambat. Rahang Vincent mengeras. Urat di pelipisnya berdenyut. Tatapan tajamnya menyapu seluruh ruang rapat yang masih membeku.

Sebuah pesan sederhana... Namun cukup untuk memperlihatkan kehidupan pribadinya di hadapan semua orang. Sesuatu yang paling ia benci.

Vincent menggenggam ponselnya hingga nyaris retak. "Lanjutkan rapat." Suaranya rendah.

Tetapi Nathan mengenal suara itu. Semakin tenang Vincent, semakin besar amarah yang sedang ia tahan. Tak ada seorang pun berani menatap wajahnya lagi.

Di tempat lain, Serina masih menunggu balasan, tanpa menyadari bahwa satu pesan yang ia kirim telah menggores harga diri seorang bos mafia.

Dan Vincent Timothy bukan pria yang membiarkan siapa pun mempermalukannya... bahkan jika orang itu adalah istrinya sendiri.

Bersambung...

1
Kayla Rane
Vincent kayak gak suka Ibunya. apa jangan² ada sesuatu dibalik itu
Kam1la
ibu tirinya Vincent...kak
Kayla Rane
neneknya viren kah? orangtuanya ibunya viren🤭
Kayla Rane
serina mah tipe cewek yang gak kegatelan mandiri juga. mungkin itu yg di sukai vincent🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Anonim
Heeemmm😍😍
Anonim
Semakin menarik 🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪💪
Kayla Rane
kereen
Anonim
Lanjut 🤭🤭🤭
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Iya, iya, yuk.
Tio Buki
Iya lengkaplah, kan udah tersedia
Tio Buki
Iya sama sama.
Tio Buki
Jangan tanya aku, aku juga tidak tau
Tio Buki
Minumlah
Tio Buki
Itu cuma secara kebetulan saja
Tio Buki
Itu kamar namanya, kalau rumah, ada diluarnya🤣🤣
Tio Buki
Biarkanlah
Tio Buki
Oh begitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!