NovelToon NovelToon
Asisten Tak Terduga

Asisten Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."

Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.

Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.

Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan di Tengah Badai

Malam itu, hujan turun sangat deras, membasuh kaca-kaca jendela penthouse dengan suara yang berisik, seolah-olah alam sedang memperingatkan Nabila tentang bahaya yang mengintai. Di dalam ruang kendali, Kenzo berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, matanya tak lepas dari titik merah di layar monitor yang kini bergerak perlahan meninggalkan gedung tua di seberang kantor.

"Dia mulai bergerak," suara Kenzo terdengar rendah dan dingin. "Nabila, kau siap?"

Nabila menarik napas panjang, meremas jemarinya yang dingin. Ia mengenakan mantel tebal yang menyembunyikan kalung pelacak dari Kenzo di balik kerahnya. "Aku siap, Kenzo. Tapi bagaimana kalau dia tahu ini jebakan?"

Kenzo berbalik, melangkah mendekat dan memegang kedua bahu Nabila. Tatapannya yang biasanya keras kini sedikit melunak, meski masih ada otoritas yang kuat di sana. "Dia terlalu sombong untuk menyadari itu. Dia pikir kau ketakutan dan akan lari kepadanya untuk mencari jawaban tentang ayahmu. Ingat, tim keamananku ada di setiap sudut. Aku tidak akan membiarkan seujung rambutmu pun disentuh."

Rencana mereka sederhana namun mematikan: Nabila akan pergi ke sebuah kafe tua di pinggiran kota, tempat yang disebutkan dalam pesan terbaru si pengancam sebagai lokasi "pertukaran informasi". Kenzo akan memantau dari mobil yang terparkir tidak jauh dari sana, siap menyerbu saat target menampakkan diri.

Perjalanan menuju lokasi terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan bagi Nabila. Sesampainya di kafe yang remang-remang itu, ia duduk di pojok ruangan, memesan kopi yang tidak berniat ia minum. Setiap kali pintu terbuka dan lonceng berbunyi, jantungnya serasa mau copot.

Tiba-tiba, seorang pria dengan topi rendah duduk di depannya tanpa permisi. Nabila tersentak, tangannya refleks memegang liontin kalungnya.

"Jangan menyentuh kalung itu kalau kau ingin tahu di mana ayahmu sekarang," bisik pria itu. Suaranya serak, seperti suara orang yang sudah lama tidak bicara.

"Siapa kau? Dan apa hubungannya ayahku dengan kematian ayah Kenzo?" tanya Nabila, berusaha menjaga suaranya agar tidak gemetar.

Pria itu terkekeh sinis. "Kenzo Aditama hanya menceritakan setengah dari kebenarannya. Dia tidak memberitahumu bahwa ayahku juga menjadi korban di malam itu, bukan? Ayahmu tidak mencuri modal itu sendirian. Ada orang dalam di Aditama Group yang mengaturnya, dan sekarang Kenzo menggunakanmu untuk menutupi jejak keluarganya sendiri."

Nabila tertegun. "Maksudmu... Kenzo berbohong padaku?"

"Dia butuh kambing hitam, Nabila. Dan siapa yang lebih cocok selain anak dari rekan bisnis yang menghilang?" Pria itu menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Buka ini. Di dalamnya ada bukti bahwa sabotase rem mobil ayah Kenzo dilakukan oleh orang suruhan ibunya sendiri, Sofia Aditama."

Dunia Nabila serasa berputar. Ibu Sofia? Wanita elegan yang tadi pagi sarapan bersama mereka?

Tepat saat Nabila hendak meraih amplop itu, pintu kafe didobrak kasar. Kenzo masuk dengan pistol di tangan, diikuti oleh lima orang pengawal bertubuh tegap. Pria di depan Nabila bereaksi cepat, ia menarik pisau lipat dan menyandera Nabila, menempelkan bilah tajam itu di lehernya.

"Jangan mendekat, Aditama! Atau asisten kesayanganmu ini akan mati sekarang!" teriak pria itu.

Kenzo berhenti melangkah. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Rahangnya mengatup rapat. "Lepaskan dia, dan aku mungkin akan membiarkanmu hidup sampai pengadilan."

"Kau takut rahasiamu terbongkar, hah? Kau takut dia tahu bahwa ibumu yang membunuh ayahmu demi kekuasaan?!"

Kenzo terdiam sejenak, matanya melirik Nabila yang ketakutan. "Aku sudah tahu soal itu sejak lama. Itulah alasan kenapa aku butuh Nabila. Bukan sebagai kambing hitam, tapi sebagai satu-satunya orang yang tidak punya kepentingan dalam lingkaran iblis keluargaku."

Dalam satu gerakan kilat yang tidak terduga, Nabila menyikut perut pria itu sekuat tenaga menggunakan teknik pertahanan diri yang sempat diajarkan Kenzo di apartemen tempo hari. Pria itu terhuyung, dan dalam sekejap, Kenzo menerjang maju, melumpuhkan pria itu dengan satu pukulan telak ke rahangnya.

Kenzo langsung menarik Nabila ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat seolah-olah ia baru saja menemukan kembali hartanya yang hilang. Nabila bisa merasakan tubuh Kenzo yang gemetar hebat—bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang meluap.

"Kau tidak apa-apa? Maafkan aku... aku terlambat sedikit," bisik Kenzo di puncak kepala Nabila.

Nabila menangis di dada Kenzo, mencengkeram kemeja pria itu. Di tengah kekacauan itu, matanya tertuju pada amplop cokelat yang terjatuh di lantai. Rahasia besar baru saja terungkap, dan sekarang musuh mereka bukan lagi orang asing di balik ponsel, melainkan seseorang yang ada di dalam rumah mereka sendiri.

"Kenzo... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nabila lirih.

Kenzo melepaskan pelukannya, menatap mata Nabila dengan intensitas yang lebih dalam dari biasanya. "Sekarang, kita berhenti bermain defensif. Kita akan kembali ke rumah itu, dan kita akan membuat perhitungan dengan ibuku."

Malam itu, aliansi mereka bukan lagi karena paksaan atau sandiwara. Mereka terikat oleh nasib yang sama-sama dikhianati oleh keluarga sendiri. Dan di dalam mobil menuju pulang, Kenzo menggenggam tangan Nabila tanpa melepaskannya sedikit pun, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti gadis itu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!